Tuesday, September 22, 2015

Roman Ketiga

Bagi ku, memiliki hati yang mudah retas adalah anugerah sekaligus kutukan. Ia adalah buah radar yang mengawali keresahan, dan tak jarang bermuara pada tanda yang seringkali tanya.

Mengenalmu, merupakan kata kerja yang tak kunjung berubah hingga hari ini. Separuh diriku nyaris tandas mempelajari lembar-lembar abu tak berkata. Kesalahanku adalah mengubah mengenal menjadi membaca. Sementara kau tak suka dibaca. Aku larut dalam getir tanpa akhir karena kau yang tak sudi terkikir, menjadi penyebab dari segala ketir.

Bersamamu, seperti dibiarkan merangkak diatas atap tanpa tali pengait. Langkah kakiku yang gontai, menjadikan bahuku kian menegang, tungkaiku kian waspada. Aku ingin berpegang padamu, namun tak jarang ku lihat kau enggan. Lambat laun aku sadar, kau bisa saja mendorongku jatuh sewaktu-waktu.

Pelan-pelan aku menyemai cinta layaknya menyemai gandum, sementara lelakiku kadang menjadikannya ilalang. Cinta bagiku yang tak kenal kata berbalas. Cinta bagimu yang tak kenal tarian pelangi. Keraguan dan ketakutan yang tak pernah juga rebah. Tapi ku ingat sumpah pada semesta. Padamu, ku kan tetap setia.

Dan di akhir bait ini ku rajut benang merah.
Bersamamu sama sulitnya seperti memelihara hati ini.
Ada anugerah dan kutukan yang terlumat,
hingga rasa di dalamnya kian hikmat.