Thursday, October 10, 2013

Patah Hati

Jadi, patah hati itu bukan sesuatu yang mengenakkan pun mengasyikkan. Pun aku rasanya tidak ingin mengenal kata "patah hati".
Ia membuatmu sakit, tiba-tiba rindu rumah, tiba-tiba malas bergerak, tiba-tiba ingin sendiri, tiba-tiba hilang percaya, tiba-tiba tidak ingin bertemu orang tertentu, tiba-tiba ingin menghilang, tiba-tiba mual, tiba-tiba perih, tiba-tiba bimbang, tiba-tiba menyalahkan diri, dan yang lain-lain yang semuanya serba tiba-tiba.

Kali ini aku berusaha mencoba, dengan semua hal yang datang tiba-tiba itu; bagaimana caranya peristiwa patah hati bukan membuatmu sekarat tapi justru lebih hidup.


Bagaimana?

Tuesday, October 08, 2013

Surat Untuk Layang-Layang

Hai riasan langit,
sudah seberapa jauh kau terbang?
ku rasakan arah angin tak menentu musim ini,
dan ku lihat kau terombang-ambing diatas sana.
Kau mau kemana, sayang? Kau mau kemana?

Lihat tanganku, benang gelas ini mulai melonggar.
Kertas perakmu bergerak tak karuan, ketenanganmu terusik.
Bambu penopang itu masih kokoh, namun tidak dengan jiwanya.

Ku kaitkan benangnya makin erat, makin kencang hingga kau tak hilang arah?
Atau biar saja ku lepaskan? Agar kau leluasa menjelajah dunia, mencari pelari yang lebih hebat.

Kepada Layang-Layang,
ini, terima suratku.





Cayman Island, October 8th 2013
-Your Kite Runner-

Secangkir Cerita Lalu

Secangkir teh yang kau hidu pagi ini
Muasal telapak rindu yang berbekas menjadi jejak

Secangkir teh yang kau terima siang ini
Suguhan berulang yang kau harap dapat menghilang

Secangkir teh yang kau kaca sore ini
Gerimis pukul 4 tak mampu sapu bayang kenang

Secangkir teh yang kau minum malam ini
Penanda masa lalu yang tak bosan merayu ingatan

Hingga nanti kau jengah dan ambruk
terlelap dihantam kelelahan.

Thursday, September 19, 2013

Tiga Jendela

1. 

Seperti sebuah tayangan dalam sinetron di televisi. Lelaki itu menghunus sebilah belati, dan menikam sebuah daging yang masih berdenyut di genggamannya. Menancap, hingga darah merah yang terus menderas berubah menjadi hitam pekat. Sadar tak sadar, yang berlumur itu adalah jantung milik istri yang sangat mencintainya.

2.

Pukul 10 pagi gadis itu melewati sebuah lapangan di wilayah halaman sekolah. Dilihatnya seorang murid yang dihina oleh gurunya sendiri. Direndahkan, tanpa ampun. Hati gadis itu bergetar. Teringat di waktu lalu akan kejadian yang sama, tempat yang sama. Telapak tangannya berkeringat. Ia bersyukur, telah memutuskan berhenti dari masa itu, walaupun harus kehilangan waktunya merasakan duduk di bangku di tempat tersebut.

3.

Pada hari Jumat sore aku memberanikan diri untuk berjalan-jalan sendiri. Di antara riuh lalu lalang pinggir jalan, ada sepasang lelaki dan perempuan disana. Si perempuan, yang buta, menari mengikuti irama yang berasal dari radio miliknya. Si lelaki tak jauh dari sana asyik melukis perempuannya hanya dengan dua jari yang tersisa di tangan kanannya. Di tengah-tengah mereka sebuah kotak terduduk berisikan koin-koin dan berlembar-lembar uang dari para pejalan yang lewat. Aku ingin memberikan beberapa koin milikku tapi kursi rodaku tak mampu menjangkau daerah itu. Dan secara tiba-tiba, aku harus segera pulang manakala jantungku mulai terasa tak baik.

Tuesday, September 17, 2013

Athena dan Beberapa Potong Biskuit

Tentang Athena yang sedang menghisap ujung biskuit coklat yang berada dalam genggaman. Terlihat asik dengan mata nanarnya menghadap langit-langit serta keadaan jalanan di taman sore itu. Separuh biskuit di mulutnya sudah mulai basah, ia pun segera melumatnya dan kaki kecilnya yang tergantung tak sampai ke jalan serta merta berayun riang. Ia pun melahap biskuit selanjutnya dengan menjilat krim coklat membeku didalamnya. Athena senang memakan biskuit kesukaannya dengan berbagai cara.

"Kenapa aku cuma dapat lima kak?!"

"Kakak cuma punya sepuluh. Kan sudah kakak bagi rata. Sekarang punya kakak sudah habis."

"Bohong! Pasti kakak tadi makan lebih banyak!"

"Ya ampun Natasha kau ini kenapa sih? Masih untung kakak bagi tadi! Sudah, kakak mau pulang!"

Athena melirik pasangan kakak-beradik yang sedang bertengkar kala itu. Setelah sang kakak pergi, anak yang lebih kecil dari umur si adik tiba-tiba menghampirinya.

"Kak, aku boleh minta permennya?"

"Aku cuma punya lima. Kalau kau minta, nanti jatahku berkurang. Maaf ya."

Anak kecil itu merengut dan pergi berlalu. Athena mengangkat sebelah alisnya dan menghampiri si adik yang terlihat lebih muda dibandingkannya.

"Halo dik, siapa namamu?"

"Natasha, kak. Kakak siapa? Kata kakakku aku tak boleh sembarangan berbicara dengan orang asing"

"Hahaha, aku Athena. Kau mau menemaniku ke kolam ikan disana? Aku mau memberi ikannya makanan!"

"Hmm ayo. Aku mau lihat."

Athena dan Natasha pergi menghampiri kolam ikan di tengah taman. Athena mulai mengeluarkan plastik biskuit dari saku baju terusannya yang hanya tersisa tiga buah.

"Satu buah biskuit untuk para ikan-ikan." Athena melemparnya dan segera saja biskuit itu dilahap ramai-ramai oleh ikan-ikan yang ada disana.

"Kakak memberinya dengan biskuit itu? Biskuit kakak tinggal dua sekarang."

Athena tak menghiraukan perkataannya, dan ia segera memanggil anak kecil yang sempat menghampiri Natasha. Si anak kecil datang bersama kucing peliharannya. Athena membelah biskuit coklatnya menjadi dua dan memberikan satu potong untuk si kucing dan satu potong untuk si anak. Anak kecil itu tersenyum riang dan segera berlari ke kejauhan.

Athena membalikkan badannya kepada Natasha dan mengeluarkan satu buah biskuit terakhir untuknya.

"Ini, satu buah biskuit terakhir untukmu, yang masih utuh."

"Kenapa kakak berikan biskuit ini padaku? Punya kakak sudah habis sekarang."

"Bukan itu Natasha. Tapi kau lebih beruntung dari yang lain. Di saat ikan-ikan itu harus berebut satu buah biskuit, dan anak kecil tadi hanya mendapat satu potong saja, kau mendapat seutuhnya. Apa kau belum merasa cukup?"

Natasha kecil pelan-pelan melipat bibirnya ke dalam dan memandang permen coklat dalam genggamannya yang hampir-hampir meleleh.

"Aku pulang dulu ya Natasha. Jangan lupa hampiri kakakmu yang baik itu di rumah. Besok kita berbagi lagi."

Athena tersenyum manis dan beranjak pergi sambil memutar-mutar plastik biskuit yang sudah lagi tak berisi.

Sunday, August 18, 2013

Sepi Hingga Diam

Jemari kecil yang urung mengetikkan kata.
Kata hambar tanpa nada pun irama.
Jiwa yang bingung memasukkan nyawa ke dalam hampa.
Hatinya mondar-mandir meneriakkan gurat penuh tanya.

Pukul 3 pagi.
diantara puisi yang menguapkan makna,
lampu ruang yang menenggelamkan nyala,
serta getaran rindu yang kian pincang,
sekali lagi, sebuah hati memilih diam.

Saturday, August 17, 2013

Dirgahayu 68th RI

Hari ini adalah HUT RI yang ke 68, tapi kok perayaannya gak meriah? Paling gak, gak semeriah dulu. Kenapa?

Sebagai anak yang selalu memeriahkan hari 17an (di zamannya), gue merasa makin ke sini ritual lomba-lombaan tersebut makin menghilang, khususnya di RT dan RW gue.

Dulu, beberapa hari sebelum hari H bendera sudah banyak di pasang dimana-mana. Setiap pulang sekolah waktu SD, gue selalu senyam-senyum lihat bendera yang berkibar di setiap rumah warga. Terlebih ada bendera yang dijahit nyokap gue yang di pasang di sepanjang RT. Walaupun warna-warni gak merah putih, tapi tetep seneng, iyalah buatan nyokap!

Pas udah hari 17an, biasanya di RT ada acara lomba. Mulainya dari jam 10 dan biasanya sampai siang. Persiapannya dilakuin sama ibu-ibu dari jauh-jauh hari. Mereka beli hadiah, siapin lombanya apa aja, makanan-minuman. Bapak-bapak siapin sound system. Anak-anak tinggal berpartisipasi. Yang masih gue inget sampai sekarang adalah lomba paling fenomenal se-RT, itu lomba buldozer. Jadi buldozer itu dibuat dari kardus, kita masuk didalamnya terus muterin buldozer kardus itu sampe ngelilingin RT kita. Ini buldozer battle, jadi ada 2 tim, dan yang bikin seru adalah pesertanya yang para ABG dan remaja. Jadi yang bocah-bocah cuma pada liatin sambil ngiri gitu. Dua tim ini berjuang mati-matian, udah sampe jatuh-bangun, ketawa-ketiwi, yang depan belakang megangin kardus bagian atas dan yang tengah bagian gangguin lawan. Sampai di garis finish buldozer kardusnya udah sebagian robek-robek; dan masih juga dimainin anak-anak kecil.

Dulu itu juga masa kejayaan gue bersama kawan-kawan se-gank, sampai SMP. Karena kita yang paling eksis dan paling solid, kita selalu diutus jadi dancer perwakilan RT, iyak walaupun tingkatan teratasnya cuma sampai RW -_- tapi jangan salah, RT 5 (RT gue) itu termasuk RT yang diwaspadai sama RT-RT yang lain, karena selalu kompak, dan selalu jadi juara. Waktu gue dan kawan-kawan tari tarian tradisional "Sajojo", kita juara 2, dan rasanya lebih bangga daripada waktu kita tari tarian modern yang isi lagunya remix dari barat dan juara 1. Biasanya acara lomba nari ini diadain malam minggu di taman RT 9. Dan acara ini juga selalu jadi ajang..... cuci mata. Terakhir perform waktu SMP kelas 2 itu cuman di RT dan gue gak mau lagi karena merasa udah tua dan udah gak pantes diliat. Tapi seribu sayang yang hobi nari di RT cuma gank gue itu, dan kita gak punya penerus lagi.

Kalau dipikir-pikir semangat nasionalis dimiliki setiap anak loh. Dulu gue selalu semangat tiap ada 17an. Pernah suatu hari gue pengen banget ikutan karnaval sepeda hias, tapi gak dibolehin karena nanti sepedanya jadi jelek bekas lem-leman. Gue nangis dan bilang "kenapa sih cuma mau bela negara aja gak boleh?! Cuma mau ikutan gitu aja gak boleh?!," I'm pretty sure I don't really understand with what I talked about, especially this >> kenapa sih cuma mau bela negara aja gak boleh?! Dan akhirnya gue dibolehin ikutan karnaval :D

Sekarang gue lagi posting blog dalam keadaan RT gue yang bersih gak ada perayaan apapun. Sedih sih. Masa iya cuma karena gank gue + anak-anak cowok yang lain udah pada dewasa sekarang kebiasaannya jadi berhenti? Rasanya anak-anak kecil di RT juga masih ada kok. Ini kan tradisi, kenapa menghilang?

Tapi diantara semua itu, apalah artinya gembar-gembor kangen upacara 17an tapi kalau di setiap ikut upacara selalu ngeluh kepanasan dan kecapean padahal paling lama cuma 3 jam. Apalah artinya teriak-teriak cinta Indonesia tapi Pancasila aja masih gak hafal. Apalah artinya ngucapin "Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia!" tapi bilangnya pakai bahasa Inggris :-p

Semoga jiwa nasionalis dan patriotis tidak benar-benar pudar di hati para calon pembetul dan penerus bangsa. Tidak cuma meneruskan, tapi harus ada yang dibetulkan terutama dari mental-mentalnya. Semoga mental benih-benih bangsa ini selalu tumbuh bersih, tidak tumbuh sebagai mental yang bobrok sebobrok pihak-pihak yang seharusnya amanah tapi justru malah mengecewakan.

Semoga Indonesia tidak bertahan sebagai negara berkembang. Semoga Indonesia semakin dewasa, mampu memilah apa dan siapa yang harus dilawan juga apa dan siapa yang harus diajak berkawan.

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA YANG KE 68!


Saturday, July 20, 2013

Aku Pernah Jatuh Cinta pada Lelaki yang ...

.... sering menertawakan dan mengejek kawannya dari sebuah ujung balkon lantai 2 sekolah. Pernah menjejalkan kawat giginya didekatku dan meninggalkan rasa benci yang lambat laun terulum menjadi cinta. Suatu kali Ia pernah mengirimkan pesan, "aku suka sama ka... kausmu" ke ponselku, padahal aku saat itu tidak datang ke sekolah. Setelah aku bertanya maksudnya, setelah itu pula kami tak pernah dipertemukan kembali.

--------------------------------------------------------

.... menjadi raja tunggal nan rupawan digilai banyak wanita, termasuk aku. Pacarnya saat itu cantik, baik, dan aku tak pernah kenal dengannya. Terlebih aku pernah mengejeknya dan menyisakan permusuhan beberapa minggu diantara kami. Mungkin itu sebabnya Ia tak pernah mencintaiku balik.

-------------------------------------------------------


.... selalu menghampiriku di chat Facebook dengan segala permainan sulapnya. Aku tahu Ia ahli matematika dan senang mengajakku bermain hitung-hitungan. Suatu kali Ia menyatakan perasaannya padaku, setelah kami sering kali berbalas pesan di ponsel tanpa ada hubungan lebih lanjut. Aku tertancap penyesalan tak terperi hingga lulus SMA karena tak pernah mengutarakannya. Aku pernah berjanji pada Tuhan ingin mengejarnya hingga ke perguruan tinggi. Siang itu, ada adu senyum tanda rivalitas di tengah lapangan, yang ternyata menjadi sapaan terakhirku sebelum semua rasaku menguap.

-------------------------------------------------------

.... namanya tidak berbeda jauh dengan namaku. Menyebabkan absen kami berdekatan. Ia tak pernah menghubungiku lewat pesan apapun, tapi Ia selalu mendekatiku di sekolah. Aku menyadari perasaanku tapi aku tak menyadari perasaannya. Ketika ada jadwal piket sepulang sekolah, giliranku menghapus papan tulis, dan belakangan aku baru tahu Ia tak kunjung pulang karena ingin membantuku membersihkan kelas dan menemaniku pulang hingga ke ujung jalan.

-------------------------------------------------------

.... disebut 'anak mami' di kelas. Diantar-jemput oleh ibunya dengan motor skuter. Aku menyukainya setelah menyadari Ia telah menyukaiku. Matanya selalu menghilang ketika tawa mengembang di wajahnya, dan Ia selalu menengok kesana kemari mencariku ketika sehabis tertawa. Pada saat olahraga di lapangan itulah favoritku, karena saat itu selalu matanya dan mataku dipertemukan angin sore.

-------------------------------------------------------

.... akhirnya aku benci. Aku ingat saat itu Ia memasukkan hiasan berbentuk hati dan diselipkan di tas ku pada saat jam olahraga. Surat minta maaf dan "Selamat Hari Valentine" tak lupa Ia masukkan didalamnya. Pada saat itu juga rasanya hendak ku buang. Ia membalaskan cintanya dengan cara berpacaran dengan sahabatku.

-------------------------------------------------------

.... menurut setelah aku menegurnya untuk tidak bersms-an pada saat berkendara, padahal aku belum jadi pacarnya. Dia pernah memberiku bunga pada saat Hari Kartini dan saat itu juga mengaku tidak mampu membeli lebih banyak lagi karena uangnya tidak cukup. Dia pernah memeluk pinggangku didepan ibuku dan mengakibatkan aku malu setengah mati. Kami pernah berencana untuk bersama-sama membeli baju tim bola favoritnya yang berwarna pink-hitam. Terakhir, aku menitipkan setrika yang masih baru di kamarnya dan tak pernah lagi kembali.

-------------------------------------------------------

.... pernah bercanda mengajakku untuk ditraktir ulangtahun olehnya, padahal saat itu aku tidak terlalu mengenalnya. Dia adalah tempatku untuk bertukar lagu-lagu bagus dan kawanku dalam berimajinasi. Aku pernah kesulitan dalam belajar suatu mata kuliah, lalu aku bertanya padanya, dan Ia menjelaskan melalui pesan suara yang mengakibatkan teman-teman terdekatku menggodaku dengannya. Dia pernah tidak mengaku saat ku tebak mengenai perasaannya padaku, namun pada beberapa saat itu pula Ia membelikanku sate kambing ketika aku sakit. Dia pernah mengorbankan uangnya lebih dari Rp 50.000 untuk tidak jadi pulang ke rumah hanya karena ingin menemaniku agar tidak kesepian. Dia mencintai dunia politik, untung dia tidak mencintai poligami, dan beruntung aku masih mencintainya.





*Inspired by: hurufkecil

Tuesday, July 09, 2013

Setengah Apel Di Teras Rumah

Pukul 16.05 WIB

Aku terbangun dari tidur panjang, dengan mimpi indah dalam perjalanan, dan hal-hal yang masih lekat dalam ingatan sebagai buah tangan. Tunggu, seseorang berkata bahwa ini mimpi paling nyata. Jadi, ini mimpi atau bukan?

Berratus juta jengkal yang membuat tunduk batin dan mengakui, bahwa aku resmi dinyatakan lumpuh. Lumpuh oleh jarak. Malu. Dan melalui puisi suka-suka tak tahu aturan (lagipula siapa yang butuh aturan?), aku membuang semua peluh suka, cinta dan duka dalam kata. 

Kalau aku katakan, aku rindu, kamu mau apa?

Aku sakit jiwa. Kamu sadar? Tapi kamu patut berlega hati, setidaknya aku menyadari. 

Ada suasana baru di luar sana, diantara riuh kendaraan dan asap yang mungkin mampu mengalihkan sejenak otakku yang telah memar, walaupun jadi makin lebam. Yah, setidaknya aku bisa bersyukur, bahwa otakku sebelumnya tidak terlalu parah. Apa yang ku dapat? Ah sudah, kamu tak perlu tahu.

Tanpa pesan -- kamu menjadikanku satu. Satu-sendiri. Berpikir dan menanti. Dini hari lalu, ku tinggalkan surat, yang ku tahu belum berbalas. Jadi, ku biarkan pena ada padamu. Aku menunggu surat cinta ke-sekianribu kalinya darimu. Lalu, diantara rentang jarum hitam yang berputar, keliaran pikiranku menjelajah hingga aku hampir limbung dan hilang keseimbangan. Jika semua itu salah, maafkan tingkah pikiranku yang jahat pada harimu. Jika memang itu benar, maafkan tingkah hatiku yang berani cemburu pada dirinya.

Ketidak-beranian ku menghadap kedua telapak tangan, karena banyak sekali yang bisa ku telusuri. Salah satunya bening kaca yang memberikan genangan diri yang lain. Egois. Tahukah kamu, atas kebersamaan ini, melahirkan rasa ego yang begitu dalam terpatri dan siap-siap memakanku kapan saja aku lengah. Ia bagai penyakit mematikan yang rasanya dalam hitungan waktu akan berubah menjadi virus tingkat tinggi. Hatimu milikku. Dan...

Surat kaleng -- banyak gelembung-gelembung kata yang ditiupkan oleh seorang perempuan ke udara. Di sela-sela waktu ketika Ia mampu menghadap langit. Satu penerima, dan hanya satu. Katanya, kamu. Ia memelukmu melalui hawa hangat diantara dingin yang kini menduduki bumi. Jauh jemarinya tak kuasa menyentuhmu, tapi cintanya yang melekat hingga menyatu pada sel-sel darahmu. "Hai gula, bahkan ketika kau merajukpun, aku masih mencintaimu," kata salah satu baris suratnya. Sudah ku silangkan kedua jari, ku katakan padanya aku takkan memberitahu siapa-siapa tentang surat-tanpa-pengirim yang tertuju padamu. Setelah itu, Ia tersenyum dan berlalu.

Aku masih merangkai gambar-gambar membingungkan dan akan selalu membingungkan di dalam pikiranku. Tentang hitam yang menjadi putih, dan putih yang menjadi abu-abu. Nantinya semua kembali menjadi tanya. Kapan aku berhenti bertanya? 


Kepada pembaca (jika ada yang membaca), jangan berlama-lama membaca tulisan ini. Akan selalu ada ketidak-mengertian kecuali yang mengalami. Karena aku tak menyediakan ruang bagi mereka yang memang tidak mengerti untuk menjadi mengerti. Mengapa? Aku pun terkadang tak mengerti. Banyak bagian-bagian yang ku tolak untuk ceritakan. Akhirnya, batu-bata yang bolong itu memberikan bangunan kopong yang tak punya rangka dan jika hancur nanti lagi-lagi meninggalkan....tanya.

Ketika fajar terlelap senja ini, disitulah terbit suara jiwa yang melantangkan cerita-cerita manis pahit yang tak mampu ku pungkiri keindahannya.
Senyum yang lahir di hati pada sore yang teduh ini menjadi payung untuk kisah-kisah selanjutnya, terlebih untuk memayungi jiwamu.



Sudah ya. Selamat sore, sayang :)

Friday, June 28, 2013

Catatan Pagi

Sekitar pukul 7 pagi di hari Jumat.

Bukan sebuah rencana, aku memposisikan diri pagi ini diantara senyum raja ufuk timur dan pemandangan gunung di sebuah kota. Di dataran tak tinggi, angin dingin berhembus membuat tirai kulit meremang. Kemilau cahaya terpancar dari matanya yang tajam namun hangat, membuatku malu-malu untuk bertegur pandang.

Suara keheningan menggaung melahirkan bisu-seribu-bahasa dari bibirku. Seperti biasa, alam membuat pikiranku berperilaku seliar hewan hutan.

Lagi, tentang perjalanan yang masih ku lakukan hingga ke-hari dimana aku sudah tak mampu mengingat kapan tepatnya hari pertama kali semua ini bermulai. Ini hari ke berapa? Tentang jatuh-bangun yang nyata sayatannya hingga mampu membuat jiwa juga duniaku merunduk memohon ampun. Telaga penuh kisah kasih yang kedinamisannya ku akui mampu menenggelamkanku. Serbuk jelaga dan keping pelangi, semua merias membuat dinding pipi kau dan aku merona.

Kau sebut tak ada pilihan yang benar ataupun salah, cerdas atau tidak lah yang menentukan. Maka dari sanalah titik tanyaku berakar. Jika kebodohan adalah sebutan yang tepat, maka aku tahu kepada siapa aku harus menanyakan maaf. Hal yang rasanya sudah biasa, ketika homofon dalam bisa menjadi bisa. 

Kepada jalan yang menjauh, sol sepatuku berbicara. Aku tak mungkin lagi mencapai ketiadaan di ujung sana. Dalam lingkaran dilematis ini, aku masih memeluk besi gerbang mengayunkan pandangan tertuju pada ujung helai rambutmu. Memasang telinga berusaha menghapus ucapan kalau-kalau selamat tinggal itu datang.

Aku masih disini, memastikan, bahwa punggungmu itu tidak ingin menghadap wajahku.

Thursday, June 27, 2013

Di Dalam Kamu

Ada sesuatu didalam suaramu,
yang selalu membuatku lupa tentang bising kegetiran hidup. Pelepas lelah, pelipur lara. Jaring nada yang menggema, suaramu adalah lagu-sebelum-tidur favoritku.

Ada sesuatu didalam tawamu,
yang selalu membuatku ringan dalam melangkah. Bahwa masih banyak hal-hal lucu di dunia yang patut ku coba untuk tertawai. Seperti duka yang mencoba untuk mengkristal, getaran candamu lamat-lamat mencairkannya. Tak ada yang lebih menarik, daripada melihat bulan sabit milikku tertawa.

Ada sesuatu didalam genggamanmu,
yang selalu membuat jiwa hingga dasar relungku hangat. Lapis-lapis tanganmu melingkar memeluk batin yang kian renta. Kerapuhan diri, kau berdiri dibelakang sana, menengadahkan pertolongan bagiku yang mudah terbenam. 

Ada sesuatu didalam matamu,
yang selalu membuatku mampu berkaca. Bahwa kau dan aku memiliki beberapa kata penghubung yang sama. Lentera disana menyala, meneduhkan pandangan sembari menyuarakan kasih sayang. Senyum yang mengilat dari matamu bagai pedang melumpuhkan tungkai kaki, merunduk, aku bertekuk lutut.  Semakin hari buatku tersadar, dari matamu, aku selalu jatuh mencinta.

Saturday, June 15, 2013

15 Juni

Tentang 15 Juni 20 tahun yang lalu, seorang anak perempuan lahir dari rahim seorang ibu yang luar biasa. Muncul ke dunia sebagai anak ke dua dari dua bersaudara. Tumbuh besar sebagai anak yang berlimpah kasih sayang. Anak yang dikenal manja, cengeng, dan pemalu.

Tentang 15 Juni 20 tahun mendatang terhitung dari tahun 1993, terdapat seorang anak yang jiwanya terkungkung dalam tubuh perempuan dewasa. Menyatakan pada dunia bahwa jiwanya bebas selepas layang-layang. Bertekad menunjukkan bahwa bukan sebuah kerugian semesta memilikinya. Gambaran melankoli di sekat-sekat keceriaan yang tak pernah mati.

Dua puluh tahun - pencarian akan tanda-tanda diri semakin jelas. Pencapaian yang tiada batas masih terus dilakukan. Aku mengingat-ingat apa yang sudah ku berikan pada keluarga, para sahabat, orang lain, dan dunia. Keberadaan diriku untuk orang-orang terdekat. Sumbangsihku pada negara. Kedekatanku yang tak terhingga dengan Sang Pencipta.

Waktu yang tak singkat hingga mencapai angka ini, berjalan bersama cita-cita yang masih mengiringi di kanan-kiri. Dan aku masih bersyukur diberi kesempatan menjejakkan kaki hingga hari ini, hari perayaan kehidupan, yang kata orang-orang adalah hari yang istimewa.

Dengan tanpa permintaan-permintaan remeh, aku mensyukuri apa yang ku terima dan ku miliki hingga detik ini. Segala tangis duka juga bahagia yang menghampiri, aku berterima kasih karena semuanya meninggalkan arti

Harapan sederhana dan terdengar biasa masih ku panjatkan, tak ada yang istimewa. Semoga aku mampu menjadi wanita yang jauh lebih baik dari perkataan maupun perbuatan, semoga aku mampu menjadi lebih berguna bagi siapa saja yang membutuhkan. 

Terima kasih - ku ucapkan pada segalanya yang ada di dunia ini. Kepada Tuhanku, yang begitu luar biasa menciptakan dunia yang tak habis-habis ku selami ceritanya. Kepada orangtuaku, yang sampai saat ini masih mau menghidupku. Kepada kawan-kawanku, yang senantiasa hadir menjadi bahu disaat duka menjadi tawa disaat suka. Kepada siapa saja yang datang, yang begitu baiknya menjadi tamu, mengetuk pintu kehidupanku, dan mampir di rumah hatiku. Kepada siapa saja yang pergi, yang pelan-pelan ataupun dengan cepat meninggalkan rumahku, menaruh jejak sejuta kisah yang dirasa tak akan lekang dilahap lupa.

Semoga masih ada kesempatan menyentuh hari ke dua puluh satu.



Masih banyak yang bisa kau cari, kau gali, kau selami, dan kau pelajari.
Selamat merayakan hari lahir, Risty.

Saturday, June 08, 2013

Hujan Sore Hari

Ku terima hujan-Mu,
karena bersama derasnya, sunyi ruang tak mengekang menjadi-jadi.
Badai sepi yang menderu sedikit tertutupi.

Ku terima hujan-Mu,
karena paling tidak, ia menghapus sedikit luka tak punya asa.
Membangkitkan secercah terang untuk membangun sedikit harap.

Dan ku terima hujan-Mu,
karena dari sana, aku sedikit mencari.
Bahwa di ujung hari pelangi datang menemui.
Di piringan langit, ia jadikan hatiku sekejap berwarna-warni.

Wednesday, June 05, 2013

Fieldtrip to PT Djarum - Kudus

The amateur travel-writer is back again! Kali ini gue jalan-jalan (bahasa kerennya fieldtrip) ke PT Djarum di Kudus. This event is presented by (HUMAS) HMJ Administrasi Bisnis 2013. Gue bukan panitia disini tapi (kayanya) penghibur  peserta.

Sepengalaman gue ngurus fieldtrip tahun lalu, fieldtrip kali ini enak banget. Disini rundown segala macem udah diserahin ke pihak Djarum-nya sendiri. Destinasinya banyak, dapet ilmu banyak, dapet makanan banyak, yah worth banget lah dengan biaya Rp 75.000 yang belum terpotong dana PRKP. Dan gue cukup beruntung berkesempatan kesini :D

Jadi, destinasi pertama kita ke bagian Sigaret Kretek Tangan (SKT). Disini tempatnya rokok kretek dirakit langsung pake tangan. Ada 60.000 lebih pegawai disini, dengan 57.000 lebih sebagai buruh dan 4000 lebih bagian marketing, tapi katanya jumlahnya bisa naik-turun. Dan gilak banget, baru masuk aja udah bau tembakau kepala gue sampe pusing. Ada fasilitas masker cuma sayangnya karena peserta utamanya anak 2012 jadi gue memutuskan mengalah :')


Bisa diliat kan itu semua buruhnya wanita. SE-MU-A-NYA. Kenapa? Jadi dulu sebenernya pernah para buruhnya itu semua laki-laki, tapi ini masalah psikologis dimana kalo cowok dikasih tau sama mandornya (yang juga cowok) biasanya jadi emosi sendiri. Nanti bakal ngaruh ke pekerjaan bukan? Maka dari itu jadinya wanita semua. Lagipula kalo ngasih tau ke wanita juga lebih enak, katanya. Dan gokilnya lagi, gue beneran ketemu "ibu kepala gedeg" yang pernah diceritain dosen gue. Spontan gue ketawa dari jauh. Tapi kalo dipikir-pikir kasian juga. Soalnya itu efek dari mereka kerja disitu saking terbiasanya ngelakuin gerakan yang sama, makanya jadi gitu :|

FYI, PT Djarum ini adalah satu-satunya perusahaan rokok yang masih jadi perusahaan keluarga (Indonesia), karena yang lainnya udah dialih-kelola sama asing. Dan ternyata, para industri rokok ini dilarang buat menanam tembakau sendiri, alhasil yang diuntungkan (dan memang seharusnya begitu) adalah petani tembakau. Itu udah regulasi pemerintah. Omzet mereka udah triliunan, tapi gue lupa ini sehari atau seminggu. Kayaknya sehari deh. Ya gimana nggak, PT Djarum ini udah ekspor tembus ke seluruh benua. 

Noted ya, gue disini nggak buat promosiin Djarum apalagi buat menghimbau untuk merokok.  Dan gue bukan perokok. Boro-boro mau ngerokok, boro-boro mau ahli isep asap rokok, dikepung asap sate ayam aja gue udah semaput :V disini posisi gue sebagai si-ingin-tau dan sebagai pihak yang netral. 


Nah gambar diatas ini pas pengerjaan pengeleman tembakaunya. Di lemnya pake tapioka. Gue sempet coba praktek langsung dan ternyata ya nggak susah. Tapi emang harus rapih betul. Proses seluruhnya ada di SKT ini, dari pengeleman sampe pengepakan hingga berkardus-kardus.

Setelah dari SKT ini kita lanjut ke bagian rokok filter. Jelas nggak ada dokumentasi karena ponsel dan bentuk alat elektronik apapun dilarang disini, karena disini udah bagiannya mesin. Gue bisa liat rokok-rokok itu dibuat dan pack-pack rokoknya jalan-jalan diatas gue gitu ada jalurnya. Bener-bener diatas gue persis. Ruangan pabriknya besar dan mahaluas (sampe kepikiran gimana cara nyapu ngepelnya). Suhu ruangannya 20 derajat celcius. Kalo di SKT tadi itu panas banget. Mesin-mesinnya dibeli dari Jerman. Yaelah harganya paling berapa sih ya itu mah geli-geli doang rasanya :V 


Lalu setelah dari pabrik rokok filternya, kita ke Oasis. Disini tempat utamanya adalah tempat pembuangan limbah. Tapi ternyata lahannya luas banget sob. Masukkin 3 Dufan muat kali. 


Blame my i-pod. Foto diatas itu tempat semacam kolam gitu deh, itu berisi limbahnya. Baunya nggak gitu ketara sih.


Dan yang gue takjub di lahan Oasis ini, dibuat semacam miniatur bola kok besar banget. Dan ada replika piala-piala dari Thomas-Uber Cup, Sudirman Cup, All England, dan masih banyak lagi yang sayangnya nggak gue foto karena sungguh matahari seperti mengecup ubun-ubun.



Mungkin karena kelebihan lahan terus bingung mau dibuat apa, makanya dibuat rumah adat Kudus :S and yes, exactly semua orang pada baru tau kalo Kudus punya rumah adat.

Selesai dari Oasis, destinasi selanjutnya adalah bagian office, dan disediakan ballroom buat kita. Masuk sekitar jam setengah 11an dan selesai jam 3. Disini ISOMA-nya dan tentunya presentasi. 

Disinilah tempat dimana mbak yang presentasi jelas pro pada para perokok (dan dia juga perokok aktif), dan menurut pendapat gue ya dia atas nama pihak Djarum semacam mendoktrin bahwa merokok itu bukannya baik, tapi nggak buruk-buruk amat.



Yang lucu adalah, ketika si mbak bertanya "kalo memang rokok tidak aman, lalu apa yang bisa dikonsumsi secara aman, sehat, dan dalam jumlah yang banyak juga?" dan di slide bilangnya air putih. Ya betul. Tapi akhirnya statement "air putih = sehat + aman" itu terbantahkan karena ada data tentang yang meninggal karena keracunan kebanyakan minum air putih. Sebenernya menurut gue apapun yang dilakukan secara berlebihan itu tidak baik. Apapun. Semuanya bisa jadi racun. Tapi kalo dibandingkan dalam kadar yang seimbang, hehehe tetep aja rokok itu tidak baik dibanding air putih (kecuali air putihnya nggak steril).

But who am I to forbid? Semua punya pilihan masing-masing. Perkara sakit atau nggak ya sebenernya orang nggak merokok pun punya potensi sakit berat yang lain entah itu ada kontribusi dari asap rokok atau yang lainnya. Kalo ditanya gue pro rokok atau nggak, ya sebenernya sih nggak. Karena buat gue pribadi, jaga badan yang sehat tanpa rokok pun udah susah gimana ditambah rokok? Kalo mau sok-sokan bawa-bawa alasan global warming, hahaha I have to admit parfum gue aja masih parfum semprot. Ya jadi sejujurnya ini masih lingkup diri sendiri. Hal yang lain, (terserah mau bilang katro atau gimana), gue masih menganggap bahwa perempuan merokok adalah sesuatu yang tidak baik. Gue berada di lingkungan dimana kawan-kawan gue pun juga perokok. Yang masih gue bingung, jadi sebenarnya dalam kasus ini, jika merokok dan tidak merokok merupakan pilihan, maka siapa yang menghormati siapa? Kalo di tempat umum, si yang bukan perokok menghormati dengan cara tutup hidung atau menjauh atau kipas-kipas meanwhile para perokok kaya sepur; terus para perokok menghormati mereka dengan cara apa? From the bottom of my heart, I'm purely asking :D

Back on the track, gue mau kasih tau kenapa ada yang namanya rokok kretek. Rokok kretek itu terbuat dari campuran cengkeh. Jadi awalnya, (if I'm not mistaken) pak Haji Djamihari itu punya sakit sesak napas. Dia yang pertama kali coba meredakan sesak napasnya itu dengan pake tanaman cengkeh tapi cuma dari luar badannya aja. Lalu dia berpikir, gimana caranya cengkeh ini bisa sampe ke paru-paru, intinya bisa dikonsumsi lebih mudah lagi. Nah akhirnya dibuat deh jadi campuran rokok. Rokok kretek adalah campuran tembakau dan cengkeh. Sedangkan nama kretek sendiri berasal dari sumber suara yang dihasilkan ketika rokok tersebut dibakar. Makanya, pak Haji Djamihari adalah pencetus rokok kretek, dan itulah mengapa Indonesia bangga punya kretek, karena merupakan temuan anak bangsa. 

Satu lagi sejarah yang baru gue tau. Kalian tau siapa perempuan yang jadi ikon SPG rokok? Bukan, bukan Cinta Laura :V dia adalah Roro Mendut. Lemme tell you the history. Jadi, Roro Mendut ini adalah perempuan yang terkenal karena kecantikannya. Cantik banget sampe akhirnya panglima besar kerajaan Mataram ingin meminangnya. Tapi Roro Mendut menolak, karena dia udah punya kekasih hati, dan selain itu dia cuma bakal dijadikan selir sama panglima ini. Terus akhirnya, si panglima ini marah kalo Roro Mendut nggak mau nikah sama doi, maka Roro Mendut harus membayar sejumlah pajak harian yang sangat besar. Roro Mendut emang miskin, tapi ternyata dia cerdik. Dia memanfaatkan kecantikannya buat jualan rokok di pasar. Tapi caranya nggak sama dengan para penjual rokok yang lain, walau yang lain juga sama-sama perempuan. Roro Mendut menjualnya dengan cara menawarkan rokok tersebut secara sensual, yaitu rokoknya di lem dengan jilatan darinya. Tambahan akal, ia juga menghisap rokok tersebut sekali-dua kali. Jadi, rokok yang dijual tersebut langsung dari mulut Roro Mendut sendiri. Praktis, siapa sih laki-laki yang nggak mau? Gue pribadi sih tetep aje ogah beli barang ada air ludah laki-laki walau ganteng sekalipun -_- Akhirnya dari situlah, Roro Mendut jual rokoknya dengan harga tinggi, dan berhasil deh buat bayar pajaknya. Dari situ pula Roro Mendut disebut SPG rokok pertama di Indonesia.


Rokok ini adalah rokok limited edition. Selain rasanya yang rasa buah, rokok ini hanya dipasarkan di luar negeri, (kalo nggak salah) Australi. Ada rasa cherri dan vanilla, tapi gambar diatas adalah rasa cherri. Tadinya sih mau ambil satu buat seseorang tapi nggak enak. Rokok ini sebenernya di jual di pasar luar untuk memenuhi demand dari konsumen wanitanya lho. Dan harganya muahal. FYI rokok-rokok yang di ekspor itu harganya mencapai Rp 70.000 lebih. Nggak mungkin dijual disini. Kalo mahal nggak ada yang beli, selain merugi untuk perusahaan, perekonomian Indonesia fix banget anjlok karena industri rokok penyumbang perekonomian terbesar. I'm wondering kalo penyumbang perekonomian terbesar kedua adalah beneran dari pulsa :V

 

Selesai dari office, the last but not least adalah GOR PB Djarum. Disini nggak ngapa-ngapain sih cuma liat ada calon atlet bulutangkis lagi pada latihan. Dari yang masih kecil udah jago banget, sampe yang gede-gede juga ada. And I officially pengen banget main badminton.






Then, we're now at the end of the show. I had a great time today. And I've done my work to report for the reader.


So, I'll catch y'all later on the next journey!

Sunday, June 02, 2013

The Heroes of Olympus: The Son of Neptune

I promise for the 2nd one, and taa-daa I come!


Okay, I'm back for The Son of Neptune. The 2nd book tells from Roman's side. There are Percy Jackson (actually from Greek), Hazel, and Frank. Yap, they're the other choosen Demigod. The Son of Neptune tells about Percy Jackson, he's son of Neptune-in Roman, or Poseidon-in Greek.

Actually, in Indonesia, the cover is the three who ride Arion-the special horse. This pic I got from www.rickriordan.com

Honestly, I got a kind of trouble in reading the second book, because all Gods name changed. I've been familiar with Greek names, now from the Roman's. Pretty confused.

It tells the story of the mission of the three. Mission against Gaea's child, Alcyoneus, a creepy huge-giant. (Can you imagine a-huge-giant?). But the most important figure here isn't Percy Jackson but Frank Zhang, son of Mars-in Roman, Ares in Greek, the God of war. Frank is the leader of this mission. But somehow, I think their strength in this second book is really "fantasy". That is, when I compared to the first book, the power of Jason, Piper, and Leo, are more realistic. Every each Percy, Hazel, and Frank use their strengths, I always say "Wow Gilak!" or "Shit dude, no way!"

Surely this mission also given by Juno (Hera), and obviously the three of them successfully completed. Again, the ending is hanging. Ended by the arrival of Leo's warship with his friends to the Romans to join Percy and the gang.

But somehow I prefer the first book, I get more emotional. Don't forget, the love story too, hahaha.

That's all I can give. Well, #1st NYT Best Seller won't dissapointed you :D


See ya on the next babblement. Hasta La Vista!

The Heroes of Olympus: The Lost Hero

WOW it's been a long-long time since I didn't make any comment or synopsis or whatever it is from the book I read. Well, here it goes.

I've read The Lost Hero, this is the 1st book of The Heroes of Olympus. It's Rick Riordan's. For you or those who love fantasy, Riordan will bring and drown you. It's kinda greek mythology. What I love is, when he tries to push us to think, imagine, and keep guessing what will happen. You know, you should buy a book which makes you think not just read and that's all. You'll got nothing, I bet.

The 1st book tells you from Greek's side. I knew anything. Their myth, their paradigm, their way of life. And the interesting one is I can learn much from this book. At least a lot of knowledge increases, hahaha. For you to know, I finished it in just 4 days. 586 pages in just 4 days?! Is it cool, isn't it?! 

Jason (actually from Roman), Piper, and Leo are the main character here. They're actually the 3 of 7 chosen Demigod who will fight Gaea and the-what will I say-crossbred (?) who want to destroy Olympus. Gaea is the mother earth, she takes evil position. These special Demigod are formed by Hera who wants the Demigod and Olympus Gods unite against Gaea and the gang. However, the imperious Zeus closed his eyes about their power. Therefore, Hera makes a mission that must be endured by the three, in order to make Zeus realize, the demigod can't be underestimated. Jason is the son of Zeus, the oldest God in Olympus.

Anyway, the main character of all is Jason, but somehow I prefer Leo. Leo Valdez. He's humorous and witty. Yap, I choose him.

In each book, which essentially tells the story of a mission undertaken by the choosen Demigod. And Riordan successfully made ​​my heart stopped because of an hanging ending. And it becomes the strongest reason for me to bought the 2nd book immediately.

So.........what are you waiting for?! Go and get it!


Errh actually I'm not here to be such a SPG (Sales Promotion Girl not Super Power Girl). But I really recommend you for this book. Guys, it's #1 New York Times Bestseller. You know people's taste.


Coming up for the 2nd one, I'll see ya!

Friday, May 31, 2013

Athena dan Malam


Tentang Athena yang sedang duduk di bangku pinggir jalan, di malam hari, seorang diri. Bersama buku gambar dan beberapa buah krayon dalam saku jaketnya. Membunuh kebosanan yang menyerang semasa ia di rumah.

Beruntung, udara malam sepakat untuk memberi izin Athena keluar rumah. Tidak terlalu dingin. Juga bonus dari sang malam berupa pendaran bintang yang bagai kismis diatas kue bolu, menyebar-bertaburan.

Saat sisa separuh keadaan jalan belum tuntas ia tuangkan ke atas kertas gambarnya, perhatian Athena pelan-pelan tersita oleh seorang ibu yang duduk di bangku berbeda berjarak 5 meter disampingnya. Ia sendiri, memeluk tubuhnya seperti sedang kedinginan. Ia mengenakan jaket terusan coklat dan syal coklat muda.

Matanya terpaku pada sosok laki-laki di seberang jalan, di tangga beranda milik rumah seseorang. Athena bertaruh, rumah tersebut bukan milik si lelaki. Sang ibu menatap dengan kuyu dan lesu. Tapi kilatan di matanya berbeda, penuh arti, penuh cinta. Athena membuka kertas gambarnya yang baru dan mulai menggambar ulang tentang apa yang ia perhatikan.

Si lelaki tak jauh berbeda, tangannya mengatung diatas lututnya yang ditekuk. Kepulan asap terus menguap dari mulutnya. Wajah dan penampilannya kusut masai. Sesekali ia menenggak sebuah minuman dari botol yang terduduk sendiri di anak tangga. Athena menebak, mungkin minuman orang dewasa. Sesekali pula ia memperhatikan benda yang ada di tangannya. Tak jelas, Athena tak mampu melihatnya.

Sambil terus melukiskan kisah di depan matanya, Athena kembali melemparkan pandangan pada si ibu. Ia terlihat menyeka air mata, dan terus membenarkan rambut halus terurainya yang terkadang menutupi sebagian wajahnya. Athena mulai mempercepat gambarnya.

Bermenit-menit kemudian, Athena mulai meniupkan serbuk biru dari kertasnya, merapikan, dan bergegas menghampiri sang ibu. Ia duduk pelan-pelan di sebelahnya, agar si ibu tak kaget.

"halo manis. Apa aku mengenalmu?," si ibu asing tersebut memiliki suara yang menenangkan, ramah, dan wajahnya sungguh rupawan ketika dari dekat. Wajahnya yang dirundung duka serta-merta berubah. Athena menggeleng, lalu ia merobek kertasnya dan memberikan hasil karyanya sambil tersenyum. 

"wah, terima kasih nak. Mengapa kau membuat semua ini dengan krayon biru? Kau tidak membawa warna lain bersamamu?"
"aku suka warna biru, bu. Tapi tidak, bukan itu. Simpanlah ini untukmu. Biru itu menenangkan, seperti laut. Aku suka laut. Supaya hatimu tenang, bu. Jadi ibu tak perlu menangis lagi"
Si ibu terperangah mendapat kunjungan dari anak kecil ini, terlebih mendapat hadiah yang penuh arti. Lalu ia melanjutkan, "siapa namamu?"

"Athena, bu"
"nak, jika kau bertemu lelaki di seberang sana, katakan padanya, bahwa akan ada banyak sekali orang yang membutuhkannya. Aku ingin ia mengurangi kebiasaan buruk merusak tubuhnya. Sayang, tanganku tak bisa menggapainya lagi. Aku mencintainya, Athena. Sungguh,"
"akan ku sampaikan ketika ada kesempatan, bu. Maaf aku harus pulang. Kamarku pasti sudah merindukanku," Athena tersenyum dan menggenggam sebentar tangan sang ibu. Berharap si ibu sedikit lebih ceria. Athena pun berdiri dan segera memunggungi sang ibu tanpa pernah menoleh kembali.

Dalam hatinya, semoga sesuatu yang baik selalu melimpahi keduanya. Dan semoga Tuhan mau berbaik hati memberikan mereka kesempatan, setidaknya untuk bertegur sapa.

Thursday, May 30, 2013

Untitled-19


Beri ruang untukku bersembunyi, untuk menutupi malu yang membanjiri wajah ini.
Benang gelasmu yang hampir-hampir tak kasat mata, masih melingkar manis di pergelanganku.

Namun, masih bernyawakah benang itu?
Atau mungkin yang tertinggal hanyalah bayang layang-layang yang jiwanya memilih terbang dan meninggalkan kenang.

Wednesday, May 29, 2013

Untitled-18

Tuhan, Kau tahu aku tak pernah bermaksud untuk menyakiti hati orang lain, hati siapapun.
Tak terbesit setitikpun niat.

Jika ada yang tersakiti atas perbuatanku, ku mohon supaya Kau kuatkan hati mereka.
Jika ada yang tersakiti atas perbuatanku, ku mohon mungkin Kau mampu jauhkanku dari mereka.

Dan untuk dosa yang entah ku timbulkan, ku serahkan tindak lanjutnya semua pada-Mu.

:|

(Gedung C lantai 3, Fisip Undip)

R: kenapa mah? Tadi kuliah
M: ini mamah mau tanya
R: apa?
M: kabarmu gimana?
R: loh? Ya Alhamdulillah
M: sehat?
R: insya Allah
M: kamu ada masalah gak?
R: hah?
M: mamah mimpi sekali ini aneh, mimpi kamu murung di tempat gelap sendirian, mamah panggil tapi kamu gak mau nengok, tak samperin makin lama makin jauh. 2 kali mimpi kaya gini. Kok aneh ya? Kamu ada masalah?
R: ... ya insya Allah gak ada
M: terus papah nyuruh pulang. Pulang kapan?
R: masih lama, abis uas, bulan Juli
M: yaudah kalo gitu. De kalo ada apa-apa cerita ya
R: gak ada apa-apa
M: yaudah



Serapat apapun dalam menyembunyikan, kotak duka mu akan memberikan sinyal, bahkan hingga menuju orang yang tak kamu sangka-sangka.