Thursday, June 19, 2014

Ini Misiku, Apa Misimu?

Mungkin memang benar teknologi memiliki efek samping. Menjadi candu dan belenggu bagi manusia. Saya contohnya, termasuk seseorang yang susah bila jauh dari handphone. Padahal kalau pegang handphone pun hanya membuka media sosial yang tidak penting. Seperti ketergantungan. Sungguh mengerikan.

Saya pun juga memperhatikan, kecenderungan ini mulai merasuki anak-anak. Tangan kecil mereka sibuk dengan benda kotak penuh radiasi yang mereka genggam erat. Matanya terpaku, dari yang matanya masih sehat, hingga mata yang sudah butuh bantuan.

Saya suka membaca. Mungkin bisa dibilang memiliki gangguan mental, karena lebih memiliki tendensi pembelian impuls di dalam toko buku dibanding toko baju, tidak seperti perempuan lainnya. Tapi saya sedih jika melihat anak kecil, yang masih bersih pemikirannya dan butuh digali dan diasah bakatnya hanya terpentok di sebuah handphone, tablet, kapsul, puyer, apalah namanya itu. Imajinasinya kurang berkembang. Saya punya contoh kasus dari seorang teman. Dalam pembuatan tugas akhir, ia kesulitan dalam menemukan buku untuk menggali teori berkaitan dengan penelitiannya. Dia bilang, "aku tuh gak seneng baca Ty. Kamu seneng baca ya, enak." berbicara sambil matanya yang terpaku pada game di handphone-nya. Saya tertawa meringis sambil berpikir. Fatal juga dampak tidak suka membaca, bukan?

Saya pun juga memilih kalau mau membaca buku. Tidak suka yang serius ala orang dewasa, seperti bau pencampuran ruangan kantor, bapak-bapak berkumis, beserta kemeja dan pulpennya, serius. Saya tidak suka. Tapi kesenangan membaca paling tidak memudahkan kita untuk hal-hal penting seperti itu.

Saya penggila genre fantasi, film maupun buku. Penyuka fiksi yang bukan picisan. Saya penulis yang tingkatnya bahkan masih dibawah amatir. Berkali-kali menulis novel tapi selalu gagal karena banyaknya distraksi. Pernah membuat banyak sekali cerita pendek tapi dibuang begitu saja oleh ibu saya (dan saya akan selalu ingat kesedihan yang satu ini, sampai kapanpun). Tapi saya punya misi, mengenalkan budaya membaca pada anak-anak dengan jalan membuat cerita fantasi, yang sekaligus membuka imajinasi mereka. Walau saya belum tahu eksekusinya bagaimana karena status "mahasiswi tingkat akhir" yang cukup menganggu ini.


Tapi yang paling penting, semoga dengan keluarnya tulisan ini, ada banyak orang yang tergerak hatinya untuk sama-sama membantu mencerdaskan bibit bangsa. Apapun misinya, bagaimanapun caranya, seberapa kecil atau besar dampaknya, pasti akan bermanfaat.
Selamatkan generasi bangsa dengan caramu.

Ini misiku, mana misimu?

15 Juni 2014

Jadi begitulah tanggal 15 Juni 2014 kemarin aku habiskan. Sederhana dan menyenangkan. Satu hal: bersyukur.

Dimulai pagi hari aku mengejutkan dikejutkan oleh 5 kawan Ganja yang sedang ada dalam kamar kosan (dimana pemiliknya sedang menginap di kamar temannya). Cukup satu kotak donat meleleh hangat yang terasa enak karena dicampur rasa syukur, senang, dan kekesalan dari pembuat kejutan, topi lucu, beserta lilin diatas donatnya.


Mungkin aku satu-satunya anggota Ganja yang dilumuri lelehan donat karena saking kesalnya dibuat menunggu selama 2 jam. 


Salah satu kawan, Yuniar berkata, "ini Ty kita hadiahin sendal biar kamu gak pake itu terus" sambil nunjuk sendal jepit keyboard kesayangan yang dipake kemanapun. Catat, kemanapun.


Sayangnya momen kebersamaan cepat sekali hilang hanya sampai jam 11 siang, karena kawan-kawan punya urusan masing-masing. Dan hawa kesepian mulai merasuk. Aku masih ingat rasanya seperti apa. 



Lalu aku hubungi salah satu kawan, Fallen. Aku bilang mau jalan-jalan, tolong bawa aku kemanapun. Habis dia berenang, kami baru pergi sekitar jam 3. Mendung menghias langit, aku bingung mau kemana. Akhirnya? Balon sabun sebagai pengobat sepi sekaligus sebuah perayaan. Senang, kenapa? Karena hujan ingin sekali turun tapi Tuhan berusaha menahannya, juga karena dengan siapa aku menghabiskan hari, juga karena balon sabun dan tawa anak-anak kecil yang juga gembira karena banyak gelembung sabun bertebaran di sekitaran mereka.




Hari mulai malam, dan aku berencana menghadiri sebuah acara jazz bersama Fallen. Tapi apa mau dikata, kami menghabiskan tenaga dan waktu hanya untuk tersasar berpetualang. Kami masuk ke wilayah Pecinan dan bertemu sebuah kondangan aneh dimana ada seorang wanita bernyanyi dan berjoget diatas panggung sambil memakai celana mini dan kaos tanpa lengan. Di sekitarannya hanya ada beberapa penonton namun semua seakan terhipnotis dengan si wanita tersebut. Sebagai catatan, penonton tersebut adalah para lelaki.

Setelah itu kami tersesat kembali hingga ke sebuah pasar malam. Aku dan Fallen saling bingung karena kami diantara para tukang jualan dan lalu lalang orang sedang kami terus melaju diatas motor. Ya, di tengah kerumunan. Kami tertawa bingung bersama.

Akhirnya kami sepakat, kami gagal. Dan akhirnya pulang.




Aku ingat doa seperti apa yang diucapkan keluarga dan kawan-kawan pada saat hariku itu. Tapi ada satu doa yang lekat diingatan, satu-satunya beda, satu-satunya doa yang seakan tahu aku seperti apa, dan menjadi motivasi di hati kecil ini.

"Semoga kamu bisa jadi penulis ya Ris. Kamu harus jadi penulis, minimal satu bukumu terbit. Nanti aku mau beli" - Fallen.


Sekali lagi, Alhamdulillah.
Tuhan tidak pernah memberikan kekecewaan padaku setiap bulan Juni.
Sampai bertemu di 15 Juni pada tahun selanjutnya.
Aamiin.

Catatan Pada 20 Tahun

Saya punya catatan di malam menjelang hari ulang tahun tanggal 14 Juni kemarin. Yang akhirnya saya lupa publikasikan karena diajak seseorang menghabiskan malam menuju pergantian usia. Jadi, ini tulisannya.


21.

Apa arti 21? Banyak. Bisa nama bioskop, bisa angka abad yang sering disebut di film Doraemon. Tapi tidak, ini menyoal...usia. Usiaku.

"Time flies when you're having fun. You wake up, another year is gone. You're twenty-one" (The Click Five - Happy Birthday)

Hari esok aku menginjak 21 tahun. Sudah melebihi jari-jari yang ku punya. Sudah lama juga aku hidup, atau mungkin yang lebih tepatnya berapa lama lagi waktuku untuk hidup?

Tahun ini berbeda. Belenggu yang pernah hinggap sekarang sudah seutuhnya lepas. Pergantian tahun pun berbeda dengan tahun sebelumnya. Aku masih ingat bagaimana menghabiskan hari pertama di umur 20 waktu itu. Aku dan empat kawan pergi berlibur ke luar kota. Magelang. Beberapa hari setelah itu aku diberi kejutan (re: balas dendam tradisi) dengan cara diikat di pohon dan disiram berbagai ramuan.

Perayaan tahun 2012 pun masih lekat dalam ingatan. Aku dikerjai lagi-lagi di kampus. Namun yang satu ini dengan banyak sekali pasukan. Kepalaku dibungkus kantung plastik hitam, badanku diikat tali rafia, dan digiring dengan sangat hewaniawi. Sadar saat itu yang membawaku pasti laki-laki semua, kalaupun ada perempuan itu adalah kawan perempuan bertenaga kuda. Karena tahu aku akan disiksa, aku meronta-ronta seperti sapi mau dikurban. Masih ingat juga aku mencakar tangan salah satu kawan laki-laki ku. Kasihan. Akhirnya aku dibawa ke belakang kampus dan diberikan cairan yang lebih mirip muntahan dengan penuh kebrutalan kasih sayang.

Dan tahun ini, entah kenapa, tapi harus ku akui hawanya berbeda. Ini bukan menyoal hari ulang tahun saja, tapi rasanya seperti menginjak ke hari baru. Ini tentang hidupku. Beberapa minggu belakangan ada yang berbeda dan berkembang. Ada suatu pencapaian yang aku lakukan, dan aku menganggap itu adalah pencapaian yang dilakukan orang dewasa. Dan aku memilih untuk menjadi dewasa; tentunya dengan tidak menghilangkan keceriaan ala bocah yang lekat pada karakterku. Ada kepasrahan dalam diri yang aku juga tidak tahu datang darimana. Aku mulai melepaskan kekhawatiran akan hal-hal di luar kuasa, seperti masa depan, juga perasaan. Segala bentuk perasaan: sedih, senang, cinta, sakit, semua aku serahkan dan lebih milih ku kembalikan pada-Nya. Karena semua perasaan itu hanya sementara, Ia yang berikan, maka kepada-Nya pula seharusnya kembali. Masa depan yang berada diluar jangkauanku, aku mulai memasrahkan pada Mpu takdir. Dan kakiku mulai ringan. Aku memang sendiri, tapi ternyata tidak sendiri.

Ada satu permintaan yang setiap kali aku layangkan pada Tuhanku. Aku berharap semoga Allah tahu apa yang ku minta adalah apa yang ku butuhkan, bukan saja yang ku inginkan. Dan jikalau Ia berkenan mengabulkan, maka itulah hadiah terindah yang aku dapatkan di tahun ini.



Aku bersyukur masih memiliki teman-teman yang begitu lucu dan baik dan masih setia sampai hari ini ku hidup. Teman-teman dimanapun.
Aku bersyukur masih memiliki keluarga, rumah, yang selalu menjadi tempatku kembali, tempatku melarung duka.
Aku bersyukur masih diberi napas hingga hari ini, detik ini. 


Semoga aku bisa jadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain, dalam bentuk apapun, sekecil apapun. Itu adalah harapan terbesar tahun ini, dan setiap tahunnya.