Sunday, February 12, 2017

Carousel

She can't hide no matter how hard she tries
Her secret disguised behind the lies
And at night she cries away her pride

With eyes shut tight staring at her inside
All her friends wondering why she can't sleep at night
All her family asking if she's alright

All she wants to do is get rid of this hell
Well all she's got to do is stop kidding herself
She can only fool herself for so long

The pain is worse cause she can never even tell to her mates
Tries to slow down the problem she's got
But can't get off the carousel until she makes it stop




Wednesday, November 25, 2015

Seorang Perempuan dalam Sebuah Perayaan

Hari ini aku putuskan untuk memulai hari pada jam 4 sore. Jangan tanya kenapa atau bagaimana, karena katanya perempuan tidak suka ditanya. Aku pergi berjalan-jalan bersama Ceki. Ceki adalah sebuah kawan. Dia memang kawan, yang selama aku sudah resmi pindah ke rumah ini, selalu menemaniku kemanapun. Sebuah adalah sebutanku untuk sesuatu benda hidup, namun tidak berakal dan tidak berperasaan. Lain halnya dengan seekor, ku sebut untuk sesuatu yang berakal namun tidak berperasaan. Mudah-mudahan kamu bukan sebuah apalagi seekor.

Aku berlalu menyusuri jalan. Mereka bilang, jangan pernah menaruh sesal pada apapun yang sudah terlewati. Aku tidak sama sekali. Lalu aku arahkan kaca Ceki menghadap ke atas, karena aku tidak berniat menengok ke belakang.

Selalu ada alasan di setiap pertemuan dalam perjalanan, kata mereka yang pernah patah hati. Termasuk dalam perjalananku bersama Ceki. Aku bertemu dengan dua orang anak SMP yang mengendarai motornya masing-masing. Keduanya terlihat senang, bersemangat menggerungkan mesin motornya. Mereka mengebut tanpa kendali, berlalu melewati ku. Padahal mereka tidak tahu, ibu mereka sudah berfirasat di rumah, menunggu dengan kalut kedatangan anaknya yang sudah sore belum kunjung tiba. Sama seperti kekhawatiranku yang dulu seringkali memikirkanmu di tempat lain. Firasat akan kau yang telah pergi lepas kendali, jauh lupa kembali. Bukan salah si ibu, karena ia telah menjaga dan menasihatinya dengan baik. Dan aku sudah berusaha seluruh upaya untuk menjagamu, sebaik mungkin yang bisa dilakukan seseorang dari jauh.

Aku masih menikmati semilir angin sore bersama Ceki. Pelan tapi pasti. Ku lempar segala lelah dan kekalutan yang pernah hinggap, pelan-pelan ku buang di jalanan.

Lalu tiba-tiba di ujung sana, samar-samar ku lihat goresan putih yang tebal di aspal jalan. Semakin aku mendekat ku lihat ada sayup-sayup lambaian tangan. Semakin Ceki membawaku lebih dekat, bisa ku lihat itu adalah anak tadi, salah seorang diantara mereka jatuh dan terluka. Ada beberapa orang yang menolong si anak. Aku memilih tidak ikut menolong. 

Aku mengambil pelajaran dari pengalaman siapapun termasuk dari cerita kebut-kebutan dua anak SMP. Aku harap kau tidak jatuh karena permainanmu sendiri. Bahwa sesuatu yang diluar kendali dan berlebihan tidaklah baik. Dan yang terpenting, semoga aku tidak melihatmu jatuh. 

Lalu aku hanya bisa menyimpan senyum, dan berlalu melewati mereka.

Aku berjalan kembali pulang. Tepat sampai di rumah hujan mengguyur tanah daerahku. Hujan selalu menjadi penutup yang tepat untuk setiap perjalanan. Atau menjadi penutup yang tepat di setiap perayaan. Aku yakin Tuhan kali ini memberikan hujan untuk penutup atas keduanya. Perjalananku tentangmu, dan perayaanku yang siap melupakanmu.

"Seluruh yang kau miliki bukan yang kau mau. Seluruh yang kau mau bukan yang kau butuh. Seluruh yang kau butuh bukan yang mampu kau jangkau. Seluruh yang mampu kau jangkau luruh dan sia-sia belaka" - Aan Mansyur.

Aku pulang.
Aku pulang dengan perasaan yang begitu penuh.

Tuesday, September 22, 2015

Roman Ketiga

Bagi ku, memiliki hati yang mudah retas adalah anugerah sekaligus kutukan. Ia adalah buah radar yang mengawali keresahan, dan tak jarang bermuara pada tanda yang seringkali tanya.

Mengenalmu, merupakan kata kerja yang tak kunjung berubah hingga hari ini. Separuh diriku nyaris tandas mempelajari lembar-lembar abu tak berkata. Kesalahanku adalah mengubah mengenal menjadi membaca. Sementara kau tak suka dibaca. Aku larut dalam getir tanpa akhir karena kau yang tak sudi terkikir, menjadi penyebab dari segala ketir.

Bersamamu, seperti dibiarkan merangkak diatas atap tanpa tali pengait. Langkah kakiku yang gontai, menjadikan bahuku kian menegang, tungkaiku kian waspada. Aku ingin berpegang padamu, namun tak jarang ku lihat kau enggan. Lambat laun aku sadar, kau bisa saja mendorongku jatuh sewaktu-waktu.

Pelan-pelan aku menyemai cinta layaknya menyemai gandum, sementara lelakiku kadang menjadikannya ilalang. Cinta bagiku yang tak kenal kata berbalas. Cinta bagimu yang tak kenal tarian pelangi. Keraguan dan ketakutan yang tak pernah juga rebah. Tapi ku ingat sumpah pada semesta. Padamu, ku kan tetap setia.

Dan di akhir bait ini ku rajut benang merah.
Bersamamu sama sulitnya seperti memelihara hati ini.
Ada anugerah dan kutukan yang terlumat,
hingga rasa di dalamnya kian hikmat.

Monday, June 01, 2015

Dongeng Untuk Juni yang Baru Lahir

Obstacles down.
Life goes on.
I survived.

Selamat pagi, Juni.
Banyak cerita dan pelajaran baru ketika gue menginjak di hari ini. Segala pernak-pernik suka-duka menghias kurang lebih 1-2 bulan terakhir.

Cerita jerih payah yang akhirnya terbayar lunas, cita-cita membanggakan kedua orang tua yang sama sekali tak pernah diharapkan sebelumnya karena takut tidak tercapai, hubungan persahabatan yang setiap hari membuat diri ini merasa beruntung karena dicintai, kapal cerita cinta yang masih juga bingung mencari pelabuhannya.

20 Mei 2015.
Hari tonggak bersejarah dalam perjalanan pendidikan yang selama ini gue tempuh.
Sekitar pukul 13.00 WIB gue diberi kepercayaan oleh 3 dosen yang sangat baik untuk menyertakan gelar S, Ab dibelakang nama panjang gue.
Kilas balik perjuangan, segala peluh, tangis, harapan, yang sebelumnya dirasakan semuanya luruh menguap tergantikan dengan kebahagiaan yang bahkan gue juga susah untuk menjelaskan. Perjuangan sebar kuesioner di tempat objek penelitian, ditanyain satpam karena dicurigai, menahan lapar dan lelah selama proses bimbingan, diberi harapan palsu oleh dosen pembimbing setelah 7 jam menunggu di ruang jurusan. Juga tidak lupa, rasa senangnya setiap berhasil untuk bimbingan. Masih lekat juga diingatan ketika di kedua buku bimbingan tertulis "acc siap diujikan". Takut, tegang, tangan tremor, bahkan hingga sakit yang disinyalir karena stress, pun ikut menerpa. Sidang skripsi adalah sebuah rintangan paling menegangkan yang pernah ada. Cerita-cerita semasa kuliah, belajar untuk UAS dan UTS, tugas-tugas yang berlomba dilimpahkan, hampir-hampir tak berpengaruh karena puncak perjuangan sesungguhnya ditentukan hanya dalam satu hari. Bahkan hanya dalam 1,5 jam. Sindrom susah tidur hingga jantung yang terasa kencang sudah dirasakan beberapa jam sebelum sidang. Penyerahan diri pada Yang Maha Kuasa setiap waktu dilakukan sebagai bentuk kepasrahan tingkat akhir. Pada akhirnya semuanya terbayar tanpa tersisa hutang. Rasanya mengucapkan "Alhamdulillah" berkali-kali dan sujud syukur tidaklah cukup. Jika Allah SWT memiliki wujud, pasti gue peluk. Rasanya juga ingin mengucapkan terima kasih berkali-kali atas dukungan tak henti dan doa-doa yang dipanjatkan oleh mamah, papah, kakak, para sahabat, kawan-kawan kampus, dan semuanya. 

Tak ketinggalan cerita persahabatan yang cukup banyak dipenuhi bumbu manis dan pedas belakangan ini. Intinya, semakin hari gue merasa sangat amat beruntung memiliki sahabat seperti mereka. Ternyata ada orang-orang yang begitu perhatian sama gue, yang begitu takut kehilangan gue. Gue bahagia dan beryukur bisa begitu berharga dan memiliki tempat di hati orang lain. Gue jadi menyadari bahwa gue punya nilai, dan ada orang-orang yang menyadari itu. Semakin hari semakin memotivasi gue untuk terus melakukan hal baik dan menghargai keberadaan mereka untuk tetap di dalam kehidupan gue. Sekarang sampai akhir nanti.

Terhadap cerita cinta yang sampai saat ini masih buram jalannya. Menghadapi seseorang yang membuat gue menerka-nerka harus melakukan apa, membuat gue mengerahkan seluruh kesabaran, membuat gue mempelajari pelan-pelan dan menerima karakternya, sampai akhirnya pelan-pelan jatuh dalam cinta. Pada akhirnya, paling tidak sampai saat ini, gue mengalami proses menyukai seseorang, tanpa berharap perasaan yang berbalas. Karena menurut gue, setiap perasaan yang muncul baik hanya kekaguman, suka, bahkan hingga sayang, itu semua dimunculkan oleh Allah SWT. Sebenarnya segala perasaan tersebut bukan milik gue, tapi milik-Nya, maka kepada-Nya lah perasaan tersebut semuanya kembali. Gue masih dan akan terus percaya, kalau memang kita diperuntukkan pada sesuatu, pasti kita akan menemukan jalan sepanjang dan sebesar apapun rintangannya, begitupun sebaliknya.

Segala jatuh-bangun yang gue alami belakangan ini, membuat gue sadar dan membentuk gue menjadi pribadi yang lebih dewasa lagi. Bijaksana dalam melihat segala kejadian, mencoba menatap orang lain dari sudut pandang berbeda, menghargai permintaan tolong yang datang, berusaha mengurangi kecurigaan atas niat orang lain terhadap kita. Semakin hari hanya membuat gue mau membersihkan hati dan berperilaku lebih baik lagi. Karena gue sempat merasakan diberikan perlakuan yang tidak menyenangkan, maka dari itu gue berupaya tidak berlaku serupa terhadap orang lain.


Besok gue sudah berada di kota yang berbeda dan pertama kali sebagai seseorang dengan status yang berbeda pula. Selesainya masa-masa kuliah, seperti telah selesai dalam perang. Besok saatnya proses penjajakan sebagai warga sipil. Kembali menyiapkan diri untuk peperangan yang selanjutnya. Peperangan yang lebih terbuka dan dihantam berbatalion-batalion musuh yang juga memiliki kemampuan yang luar biasa.


But,
I'm stronger and tougher than yesterday.
I have the biggest ability that not all the people have.


I have faith.




Sampai jumpa.

Tuesday, April 28, 2015

Patah-dan-Jatuh di Pagi Hari

Pukul 7.18 pagi hari Kamis,
Ia sudah duduk diatas alas yang setiap waktu menanggung bebannya.

Diantara kedua jendelanya mengalir bait puisi,
dari kekasih yang bahkan Ia tidak tahu asal usulnya.
Pilu yang Ia redam hingga membiru,
ditambah puisi yang seolah berubah menjadi cermin dengan tajam di ujung patahannya,
membuat dadanya memar lagi dan sekali lagi.

Gelas kopi yang hangat dalam peluk jemarinya,
menyisakan ampas yang menunggu dicuci dengan air mata.

Ciri-ciri perempuan yang kucari-cari adalah yang gampang berduka.
Begitu kata kekasihnya.
Perempuan itu, kembali jatuh dalam cinta.

Ia merenggut kain di tengah dadanya karena tak kuat merasakan sesak yang berlomba membuat jantungnya menjadi dua.

Ketika jantungnya benar-benar menjadi dua kelak,
akan Ia hadiahkan pada dua kekasihnya.
Satu di masa lalu, dan satu di masa depan.

Monday, November 24, 2014

Ragu

Ia melangkah separuh pincang. Tertatih-tatih meniti arah.

Melantangkan kekuatan yang bahkan ia tidak tahu sebesar apa, atau sekecil apa.

Hatinya gamang dilimpahi hadiah(-hadiah) oleh Tuhannya.

Kata Tuhan, "Temukan yang sesuai, dan gunakan baik-baik,".

Ia beku dalam bimbang, menyeka pikiran yang hampir surut dari sadar.

Meragu pada Tuhan yang mungkin saja membawakannya sepaket pecundang.

Ambruk dalam kekecewaan, kakinya ngilu, hatinya kelu.

Bulir air di pelupuk mulai hangat mengalir.

"Tuhan, kembalikan yang hilang itu padaku,"

Dalam redup dan degup nadi yang saling menyahut,

Tuhannya hanya diam kali ini.

Monday, November 03, 2014

Dan Malam Ini, Aku Tumpah...

Ternyata saya rindu.
Rindu membicarakan banyak sekali hal. Dari, seperti, mengapa bangku bernama bangku? hingga kamu percaya surga dan neraka? Saya juga rindu diskusi mendalam tentang nasib, kebetulan-kebetulan lucu, hati, cinta, masa lalu, hingga takdir yang begitu senang memisahkan kami. 
Dan bagian ini yang paling saya rindukan.

Ternyata saya rindu.
Rindu berbagi lagu-lagu dengan lirik yang bermakna, atau lagu dengan lirik lucu sekalipun seperti Alcohol milik CSS. Rindu membicarakan musik apapun. Saya terima lagu atau musik apapun yang ia beritahukan, walau saya tidak tahu. Dan sebaliknya. 

Ternyata saya rindu.
Rindu kami dalam diam. Kalaupun ada hubungan paling aneh tapi nyata, itulah yang saya rasakan saat kami berdiam termenung di danau itu. Seperti kami yang disaksikan hewan dan tumbuhan disana. Dalam diam aku merangkai doa dan ceritaku sendiri, Ia juga diam seperti menerka namun tak pernah bisa. Saya selalu merasa mampu berbicara dengannya dalam hati. Mungkin ini berlebihan dan gila. Tapi ini nyata. Kunjungan di danau selalu berakhir dengan bunga yang saya sampirkan di dekat kaca spion motor miliknya. Dan saya senang Ia tak membuangnya.

Ternyata saya rindu.
Rindu seseorang yang bisa menerima seutuhnya. Utuh seperti adanya saya yang aneh, yang manja, yang maunya banyak, yang suka jalan-jalan, yang tahu semua keburukan sifat, yang bisa melihat kebaikan di diri saya, yang mau mendengar banyak cerita tidak penting yang saya lontarkan, yang sadar saya 'berbeda' dan tidak menjauh, yang bisa menjadi bapak-partner-kawan, yang menjadi kotak rahasia terbesar, yang menjadi kotak tertawa, yang tahu semua cerita masa lalu saya, yang bisa membuat saya merasa aman dan terlindungi, yang sadar saat saya sedih bahkan ketika tak berkata apapun dan pasang raut muka menipu, yang bisa jadi wikipedia berjalan pribadi, yang bisa tetap bijak sekalipun pada saat sulit, yang mau terima semua puisi-puisi amatiran, yang mau memuji hasil cerpen yang sebenarnya tidak jelas, yang begitu kuatnya ingin saya jadi penulis, yang mau membuka pikiran saya lebih luas lagi tentang dunia.

Mungkin kenangan kami sudah terlalu banyak, rasanya saya terjejal hingga remah-remah memori satu persatu menguap. Tapi saya masih banyak ingat yang manis, juga yang pahit, seperti:


  1. Ketika hujan badai mengguyur kota, kita pergi berjuang membawa setoples besar air gula yang sudah kita masak untuk dibawa dari tempatmu ke tempatku naik motor. Kita seperti power ranger, berjas hujan. Hujan memang amat kuat, tapi aku ingat jelas apa yang kamu teriakkan di tengah deras itu, "Ris, aku sayang sama kamu!"
  2. Di perjalanan pulang dari Solo ke Semarang, ada lagu tidak menyenangkan (karena bercerita tentang kisah kita) yang diputar di radio. Lalu kita diam, hanya diam. Sampai akhirnya kita sampai di Semarang dan kamu membicarakan hal itu dengan, "kamu denger lagu tadi? Aku benci lagu itu".
  3. Kita pernah berenang berdua di salah satu taman rekreasi air di Semarang. Berenang paling lucu karena kita bawa bekal satu plastik berisi gorengan dan rokokmu, yang kita simpan seperti harta karun dibalik batu dibawah jembatan di kolam renang. Kalau kita lapar, kita hampiri harta itu, dan sebaliknya.
  4. Dalam perjalanan petualangan menuju Pantai Bandengan - Jepara, kita diguyur gerimis yang agak keras. Kita hanya memiliki 1 jas hujan di bagasi motorku. Akhirnya kita membagi dua, dengan kamu memakai bajunya, aku celananya. Sampai di pantai kita dilihat banyak orang, seperti alien.
  5. Tahun lalu, perpisahan kita di bulan April. Lalu aku secara iseng membuka akun twitter kawanmu, dan menemukan kawanmu menulis hal-hal yang puitis, seperti dirimu. Ketika kita bersama lagi, lalu aku tanya, "Ternyata Planet puitis juga kaya kamu ya?", "maksudnya?", "waktu itu aku iseng buka twitternya kok isinya begitu", "hah? Itu aku tulis pesan buat kamu, tapi di twitter dia. Pertimbanganku, kalian gak follow-followan, jadi kamu gak mungkin tau", "tapi aku tau.....", "iya, dan aku bingung sama kebetulan yang aneh ini".
  6. Pesan singkat dini hari selalu berisi, "Ris, besok bangunin aku ya. Kalau kamu gak hampiri aku, aku gak mungkin sekolah." seperti anak kecil polos. Lalu aku datang dan melihatmu tergeletak di kasur. Tak jarang ketika aku membangunkanmu, aku pula yang dimarahi. Bahkan aku rindu pula membereskan kamarmu yang tak ubahnya kandang sapi. Melihatmu bergegas berpakaian sebelum kita ke kampus bersama. Seperti ibu yang mengurusi anak lelakinya, atau seorang istri yang melayani suaminya, entahlah semuanya sama. Sama-sama dengan cinta.
  7. Masih lekat di ingatan ketika kita tiba-tiba diatas motor yang sama sehari sebelum ulang tahunku. Juni lalu. Kau mengajakku tak tentu arah dan kita canggung dibawah langit malam. Karena hampir dua bulan kita tak bertemu. Obrolan hanya seputar mengingat dan merantai semua yang pernah kita lewati jadi satu. Dan aku sadar aku bahagia saat itu.
  8. Ketika kamu meneleponku pagi itu. Kamu di rumah di kotamu dan aku di perantauan. Kamu berharap kita bisa bercakap banyak, sedang aku tahu apa yang kamu perbuat semalam dengan seseorang lain. Kamu tahu ada yang tidak beres saat itu, dan kamu tahu aku melemparkan tweet bernada pisah ketika itu dan membalasnya dengan "salah paham berujung maut". Setelah itu aku tak melihatmu lagi berkeliaran di linimasa twitter. Sampai akhirnya ibu penjaga kosan memanggilku karena ada seorang lelaki mencariku di depan. Dan kudapati kamu yang lusuh dan lesu masih menggendong ransel kembali dari Purworejo menuju Semarang hanya untuk mengklarifikasi, dan sore itu pula kamu kembali. Menuju Solo.
  9. Ketika pasangan lain berpredikat "saling melengkapi", kita justru "saling menambahkan". Kamu dan aku sama-sama memiliki kemampuan yang dangkal menyoal arah jalan. Ingat ketika kita berniat ke Pecinan namun justru tersasar ke kondangan bahkan ke pasar malam? Bahkan aku masih ingat tawa akan kebodohan kita kala itu.
  10. Tak jarang kita mengobrol hingga berdebat ketika berdua. Kamu menganggap kita sedang beradu argumen, aku pangkas dua katamu menjadi berdebat. Pun ketika kita saling bercerita, dan aku tiba-tiba diam, kamu sesekali menyanyikan Mari Bercerita milik Payung Teduh. Dan aku selalu malu ketika kamu mulai bernyanyi lagu itu.
  11. Terlalu banyak takdir bernama "kebetulan" yang selalu membuat kita terganga. Terakhir adalah"kebetulan" saat pertemuan kita di Jogja. Ketika kamu dan teman-teman KKN mu begitu juga aku dengan teman-teman KKNku. Dengan keadaan kita yang berbeda kecamatan. Kita, di tempat nasi goreng itu, pertama kali aku kesana bersamamu. Sampai beranjak tidur aku tak habis pikir akan kecanggungan kita ketika bertegur sapa. Bisa-bisanya Tuhan mempertemukan kita bahkan di tempat sejauh itu?
  12. Kita bagai filsuf kelas teri. Atau aku yang kelas teri, dan kamu kelas moyangnya teri. Berdiskusi apapun. Terkadang kita terjerat dalam situasi obrolan dimana kita seperti mengobrol dengan cermin. Saling mengakali satu sama lain, dan saling waspada, serta takut "terjerumus", entah di lubang apa. Seringkali aku mendapati diri yang akhirnya kelaparan hebat sehabis mengobrol. Bisa dibayangkan seberapa berat bahan diskusi kita?
  13. Mungkin kita sepasang orang gila yang mengawali kedekatan dengan menghidupkan binatang buas imaji di benak kita. Kamu dengan nagamu, dan aku dengan bison terbang berbulu. Seperti keduanya hidup nyata di halaman rumah kita.
  14. Aku masih ingat bagaimana kita menyambung hidup kala itu ketika tak ada uang sepeserpun di dompet kita. Kamu dan aku sama-sama meraih receh-receh dari tempat-tempat tak terduga, untukmu membeli segelas kopi dan rokok di burjo dan aku untuk membeli makan. Namun kita tetap bahagia, dengan melabelkan diri kita sebagai "kere-hore".
  15. Ingat waktu kita sedang mencari tempat murah meriah yang nyaman hanya untuk tempat mengobrol? Dan kita masuk duduk di teras kosan teman kita tanpa ada teman kita disana. Santai aku membuatkanmu kopi, dan duduk sembari mengobrol. Kita memang sepaket manusia tidak punya malu.
  16. Penyakit dini hari masih menjangkitiku. Mencari-cari di tiap sudut jejakmu. Sudah jarang ku temui kau melagu dengan puisimu itu. Tentang apapun. Ku harap kau masih sama seperti penyair yang ku puja. Jangan pernah berubah.
Seringkali saya merasa pincang ketika berjalan. Berjalan mengarungi hari. Banyak sekali bagian diri yang rasanya terenggut paksa. Tentang kebiasaan, kebahagiaan, kepingan diri. Terkadang masih terasa ada yang mengerut dan perih, tiap teringat kebersamaan kami. Tak jarang saya menipu diri, mengulang kalimat bahwa saya utuh dan tak kehilangan suatu apapun. Demi untuk menenangkan diri. 

Saya tidak tahu harus peduli atau tidak menyoal perasaannya. Masih, hampir lupa, atau sudah punah. Saya tidak tahu. Dan saya tidak akan pernah tahu. Jika saya tahu pun saya tidak harus apa. Lagipula memang harus bagaimana?

Satu hal yang perlu kau tahu, saya tidak pernah sedih melihat segalanya yang berhubungan denganmu. Kau takkan pernah tahu lucunya bisa tersenyum saat melihat seseorang yang saya cinta bahagia. Saya tidak tahu apa itu cinta sejati, tapi itulah yang saya rasakan.

Saya tidak menyesal karena tidak menerimamu kembali kala itu, pun saya tidak menyesali keadaan ini. Saya cukup bahagia melihatmu akhirnya kembali pulang. Saya juga cukup bahagia kembali menapakki jalan dan bertualang sendiri, seperti dulu, tunawisma, tanpa arah.



Satu puisi milikmu sebagai penutup kerinduanku malam ini.

" Pencuri

Dulu ada dua pencuri yang saling melindungi dan saling mencuri
Mencuri tawa, kerling, cerita, duka resah dosa kelakar emas, hati
Hasilnya mereka gadaikan pada tuhan
Ditukar dengan arti yang kian tak dapat dimengerti." - FO.



I hope you good, Supertramp.