Thursday, February 28, 2013

Tulisan Di Tengah Hujan

Rasanya sore ini perasaanku aneh. Pikiranku berputar memikirkan sesuatu, hatiku terpasung oleh seseorang.  Darinya, posting ini dipublikasikan.

Aku kembali berkaca. Apa yang telah ku lakukan, apa yang sedang aku rasakan, apa yang sedang aku lalui. Ini bicara soal cinta. Aku mencintai seseorang, aku menyayanginya, dan tak bisa dibohongi, sampai detik ini. Terlepas siapapun orang itu, aku bersyukur masih bisa merasakan rasa ini. Rasanya aku bisa pastikan, relung hatiku diisi olehnya.

Tapi yang baru pertama kali ku rasakan adalah, ketika aku mencintai dan tak mengharap apapun. Aku tak punya masa depan, dengan orang ini; ya walau aku tidak tahu bagaimana takdir nanti berpihak.

Dicintai olehnya juga adalah hal yang menakjubkan. Aku tak begitu peduli siapa dirinya, apa yang Ia kenakan, apa yang Ia punya, Ia kaya atau tidak, Ia pintar atau tidak, apa pandangan hidupnya. Aku hanya peduli pada bagaimana Ia memperlakukanku, bagaimana Ia memperlakukan orang lain, bagaimana Ia dengan Tuhannya, bagaimana Ia dengan orang tuanya, dan bagaimana Ia dengan orang-orang yang ada disekelilingku. Mungkin kelihatannya banyak, tapi buatku tidak.

Belahan dunia yang satu mungkin mengerti kedekatanku dengannya karena rasa nyaman yang teramat sangat, dan yang satunya lagi mungkin tak mau tau. Tapi di depannya, aku selalu merasa jadi diriku sendiri, aku bebas jadi anak kecil sesuai dengan semangat terdalamku, aku bebas tak punya rasa malu, cerita ini cerita itu. Aku suka ketika aku jadi bodoh atau jadi manja atau jadi apapun yang mungkin orang lain tak tau, kecuali sahabatku.

Rasanya aku baru menemukan seseorang yang memiliki begitu banyak kesamaan denganku. Aku merasakan banyak pertanda yang selalu mendukungku dengannya. Bagaimana kami berinteraksi. Pada kenyataannya, tulisan-tulisan yang kami buat dan lagu-lagu yang kami dengarkan juga membantu mengikatkan hati kami. Dibantu dengan momentum suka duka yang tidak sedikit. 

Yang aku tau, sampai hari ini Ia masih mencintaiku. Entah esok, entah suatu hari nanti.

Aku selalu mencoba menembus masa depan, tapi rasanya tak sampai. Atau mungkin aku terlalu terpaku pada hari ini. Atau memang masa depan itu tak pernah ada.


Sebagai penutup,
Walau aku tak tau "dimana dirimu saat ini", tapi ada yang harus kau tau, disini aku selalu merasakan rindu yang tak pernah habis akan cerita kita, dan rindu yang tak pernah habis akan dirimu.


Selamat petang wahai layang-layang. Derasnya hujan ini tak akan pernah menghalangi pandangan melihatmu terbang di angkasaku.

Saturday, February 23, 2013

Kursi Goyang

Ia melipat tangan dan duduk di kursi goyang.
Melewati beberapa lorong lampau.
Jemarinya meraba beberapa kata,
mengais sejuta makna.

Alisnya berkerut, ia kesulitan.
Tak satupun maksud, mudah diutarakan.

Kakinya bergerak naik turun.
Kursinya bergoyang semakin kalut.
Ia mual, rasanya ingin muntah.

Dengan lambat tangannya bergerak,
meraih sesuatu yang tak dilihat orang,
meraih sesuatu yang tak diyakini orang.

Dengan susah namun perlahan,
kursinya pun berhenti meradang.

Thursday, February 21, 2013

Kapal Kertas

Masih terngiang jelas rekaman kemarin sore.
Buliran air langit tak jadi turun.
Hausnya batin dan pergerakan roda,
membawa dua hati kembali ke rumah.

Aku dan kamu,
membeku ditelan suasana.
Sapaan alam yang ramah,
menghangatkan jiwa yang hampir koma.
Jendela indah panorama,
memperbaiki hati yang setengah porak poranda.

Dua pasang kertas sengaja ku bawa.
Aku bermaksud merangkai kapal,
untukmu, untukku.
Bersamaan dengan kapal yang dijalankan,
ada cinta dan cita yang ku alirkan.
Pasti kamu tak tahu.

Sampai pada senja yang mencolek pundakku,
tahu tidak,
kakiku terbenam di tanah sana;
mataku terpaku pada angkasa;
hatiku disandera ketenangannya.
Aku tak mau pulang.

Dan aku berjanji,
dengan riang hati akan berkunjung.
Dan satu asa,
semoga lagi bersamamu.

Tuesday, February 19, 2013

:|

Yasudah,
ketika kamu tak membutuhkanku lagi, 
nanti aku tinggal datang ke pulau kita,
dan bercerita dengan yang tak bernyawa.

Namun, 
ketika kamu tak mau menyebutnya sebagai "pulau kita" lagi, 
berarti aku datang ke pulau tak berpenghuni.

Cayman Island

In a melancholy evening,
you and I walked to somewhere else.
Searching on something we both don't know.
We took unknown path.

Then we arrived at a place.
Simply we drown in silence. Had a bit speechless.

A place where no one knows.
A place where hidden by others.
A place where our heart belong.

I stared at the universe. 
Following the flying birds, I can see the times that brought us.
Following the sky, I can see our hearts hold on tight.
Following the water, I can see the future's shadow waving.
Following the wind, I can see your eyes covering my view.

If only they could see,
if only they had been here,
they would understand.

We got our own home.
We're the only different.
We paddle our own canoe,
to the place that I call Caymand Island.

Sarapan Perasaan

Di pagi hari yang dingin ini, rasa yang timbul dari sebuah mimpi mengantarkanku sampai kesini. Rasanya aku mimpi indah. Aku melihatmu. Kau hadir di mimpiku, dan membungkus hati ini dalam balutan selimut yang hangat ketika aku bangun.

Atmosfer mimpi mengatakan, aku sebagai seseorang yang sangat mengenal dirimu. Kita makin terikat melalui mimpi. Melayangkan genggaman di udara, memandang langit cerah tanpa batas. Aku dan kamu, bermain sepeda di lapangan maha luas. Rasanya menyenangkan. Rasanya membahagiakan.

Aku kembali memutar reka adegan semalam. Apa yang aku katakan, apa yang aku rencanakan. Aku memang tidak tau pasti apa yang akan terjadi nanti, tapi biarlah jadi misteri. Aku tak mau lagi menerka-nerka. Sekarang aku biarkan semesta mengawasi, dan Yang Berkuasa melakukan apa yang sudah menjadi kuasanya, yang tentunya diluar batas kemampuanku. Aku percaya akan semua pertanda yang nanti datang, entah membentuk sinyal apapun.

Aku tidak tau ini akan menjadi akhir atau tidak. Keinginanku menyelamatkan beberapa pihak, sampai aku lupa bagaimana keselamatanku sendiri. Aku tidak berani mengukur kemampuanku sampai batas mana, aku hanya berusaha. Berusaha kuat dikala nanti aku mulai melemah.

Jika apa yang telah dilewati sampai detik semalam adalah sebuah kesalahan, aku bisa pastikan dan dengan bahagia aku akan katakan bahwa kesalahan ini adalah kesalahan terindah. Mengenalmu, sampai akhirnya merasa memilikimu. Membelah sisi lain dunia. Membuka sudut pandangku menjadi makin meluas.

Terkadang, aku bangga melihat 'kita'. Diantara kenyamanan yang membunuh, diantara rasa yang sebenarnya kita masih bisa menekan ego masing-masing, tapi kita masih memikirkan pihak lain, siapapun itu. Dan bagian paling membanggakan adalah, dimana kita sama-sama mendukung satu sama lain, menguatkan satu sama lain, untuk pada akhirnya menuju kerelaan dari pelepasan. Rasanya tidak mudah, dan aku tau itu terlalu melawan hati nurani, tapi memang itulah kenyataannya.




Satu hal yang bisa aku pastikan, aku akan merindukan dan menanti masa dimana kita bisa kembali membuat dunia menahan rasa iri dengan setumpuk canda tawa yang kita tebar; di danau sederhana yang tersembunyi.

:)

Suatu Hari

Sampai nanti, di suatu hari, entah kapan itu;
Aku,
hanya akan jadi tembok biru biasa,
yang kau abaikan kehadirannya,
dan tak lagi berarti.

Sampai nanti, di suatu hari, entah kapan itu;
Aku,
hanya akan bisa mendoakanmu,
menjamahmu melalui mimpi,
dan memendam habis kerinduanku.

Monday, February 18, 2013

Kenapa?

Kenapa?

Friday, February 15, 2013

Left By The Train

Entah ini takdir apa nasib, hari ini gue ketinggalan kereta di stasiun Pasar Senen. Jadi seharusnya kereta itu berangkat pukul 7.35, dan gue sampe di stasiun jam segitu juga.

Kronologi: jadi awalnya nyokap gue mikir jalanan bakal gak gitu macet, berdasarkan pengalaman naik pesawat dan harus pake damri katanya cuma makan waktu sejam. Bokap udah bilang padahal mending naik kereta. Perlu diketahui, perkiraan nyokap gak pernah meleset, dan sesuai perhitungan. Tapi tadi berangkat dari rumah jam setengah 6 lewat. Berasa rumah-stasiun tinggal kepleset. Akhirnya bener, masuk tol Timur udah mulai banyak mobil. Tapi disitu bisa dibilang ramai cukup lancar. At least gak berhenti lama, tapi tetep jalan. Nah sampe keluar tol tepatnya di Tanah Tinggi itu, anjir, disitu baru mulai dingin tangan gue. Dari awal juga udah (bilangnya sih) lowering expectation, tapi ternyata tetep aja masih bisa ngarep pengen naik keretanya. Oh iya gue seharusnya berangkat sama seorang kawan (terbaik) sejurusan.

Terus, gue memutuskan makan Beng-Beng, alih-alih buat ngilangin stress, yang ada itu coklat jadi gak ada rasanya. Akhirnya gak gue makan lagi. Terus cuma bisa ketawa-ketiwi, "yaudah masih ada hari esok haha", itu masih bisa ketawa. Tapi nyokap, masih aja optimis kalo kereta masih bisa diraih, akhirnya bangkitin harapan gue juga. Tapi jam udah menunjukkan pukul 7.30 pas gue udah di belokan masuk ke stasiun. Ada kereta Menoreh warna biru masih bertengger cantik, dan pintu gerbang belom ditutup.

Nah ini bagian menyakitkannya. Pas udah siap-siap turun dari mobil, sumpah gue udah setengah lari loh dibantu bokap juga, eh bunyi deh lonceng keretanya. Dan dengan sadis berangkat di depan muka gue, persis. Sumpah dengkul rasanya lemes, dan yang paling utama nyesek. Nyeseknya entah kenapa berasa sampe sekarang. Kecewa sih. Ini baru yang pertama kali seumur hidup. Sedih juga. Tapi ini masih bisa senyam-senyum walaupun udah gak enak dan kepikiran sana-sini, karena berasa dapet cahaya putih dari langit dikasih tau sama pihak KAI bilangnya kereta ada lagi ke Semarang jam setengah 10, sisa 1 seat tapi harus pesen di Gambir.

Akhirnya langsung cabut lagi, sengebut mungkin. Selama perjalanan gue udah planning, kalo yang jam segitu abis juga, yaudah sore aja yang penting tetep hari ini. Sampe sana, tau apa? Ternyata kereta yang jam setengah 10 itu bukan ke Semarang, tapi ke Pekalongan. Astaghfirullah, sempet-sempetnya di php-in orang. Pas cek yang sore, ternyata habis, sisa besok. Selesai udah, abis dari situ semua cengangas cengenges gue hilang ditelan bumi. Bawaannya fix mau nabok orang. Ditambah lagi handphone jatoh dan casenya pecah. Abis itu tiket yang udah hangus gue robek, juga case yang lama, semua gue lempar ke tempat sampah. Diliatin orang-orang kayanya karena muka udah gak berbentuk.

Abis itu nyokap beliin setengah lusin Dunkin Donut, katanya biar mood gue membaik karena makan coklat. Sedih aja pas denger nyokap sampe segitu baiknya. Tapi ternyata gak menyembuhkan. Gue gak napsu makan. Sama sekali. Selama di mobil cuma diem gak napsu ngomong. Cuma Paramore mood-boosternya, tapi saat itu untuk ambil headset aja juga males. Di rumah pun tadi, akhirnya mie goreng + sosis yang harusnya buat bekel, jadi gue makan sendiri, dan itupun gak habis karena gue makan bukan karena laper tapi karena maggnya aja. Makanan yang seharusnya di makan berdua. Yah gitu deh. Sedih beneran ya rasanya ternyata..

Finally, gue beli tiket eksekutif besok dengan harga Rp. 260.000. Gak berani ngambil eko-ac karena pintu toiletnya bikin dunia orang yang didalamnya kiamat karena kekunci.
In the end, teruntuk kawanku yang seharusnya satu seat sekarang, hati-hati di jalan dan maaf ya, lagi-lagi kamu mengalami kejadian yang sama kaya sebelumnya.


Dan teruntuk kereta hari esok, jangan tinggalin aku lagi ya :(

Wednesday, February 13, 2013

Mimpi Dalam Sampan - 2


Ada masa dimana aku bermimpi,
ada masa dimana mimpiku terjadi.
Aku bertemu pujaanku,
aku bertemu mimpiku.

Sebuah danau menyapaku sore ini.
Semilir angin dan air yang menari,
menggodaku untuk datang menghampiri.

Kesederhanaanya memperkaya jiwa,
kilauan cahayanya membasahi mata,
ketenangannya menghapus lara.

Bersama seseorang yang tak asing,
namun tanpa perahu sampan.
Kami tetap bergerak merengkuh senja,
berdua, bersama.

Romantisme kala itu nyata.
Ditemani bisikan air yang seirama gerak sampan,
disaksikan awan sore dan hewan-hewan yang sunyi bersembunyi,
dibelai lembut oleh angin yang mendayu kian kemari.

Bergetar hatiku memandanginya.
Surga duniawi di sisi lain pahitnya realita.

Aku memuja tempat itu, aku memuja saat itu.
Dan diantara jatuhnya satu-dua bintang,
terima kasih karena mempertemukanku dengan sang pujaan.

Kapak Emas dan Kapak Perak

Dahulu kala, hidup seorang penebang kayu.
Ia gendut, dan miskin.
Selepas bekerja, ia beristirahat.
Duduklah ia di tepi danau, dan memakan roti bekalnya.

Lalu ia menghampiri bibir danau dan membungkukkan badan,
ia minum, dan sesuatu terjadi.
Kapak yang diselipkan di pinggang celananya terjatuh ke dasar.

Sedih dan bingung.
Ia meratap dipinggir danau, ia tak bisa berenang.
Ia kehilangan kunci penyambung nyawa.

Seketika sesosok dewa penjaga danau muncul ke permukaan.
Lelaki tua terbalut dalam jubah putih.
Melayang anggun diatas air.
Janggut berwarna gading menyamai rambutnya yang terurai bebas.
Tangannya berkeriput menyembunyikan kekuatan tak terkira.

Penebang kayu yang malang ini ternganga.

"Apa yang terjadi, nak?"
"...aku... kehilangan kapakku, tuan. Tanpanya aku tak dapat bekerja "
"Dimana kapakmu jatuh?"
"Tepat di dasar danau ini....tuan.."
"Baik, tunggu sebentar"

Sang dewa melesat ke dalam dan tak lama membawakan sebuah kapak emas.
"Nak, ini kapakmu?"
"Bukan tuan.. Kapak ini terlalu indah untuk ku miliki. Kapakku hanya sebuah kapak besi biasa.."
"Baik kalau begitu, tunggu sebentar"

Sang dewa kembali menuju dasar, dan lekas ke permukaan bersama sebuah kapak perak yang bersinar.
"Pasti ini milikmu bukan?"
"Bu...bukan tuan. Kapakku tidak bersinar. Kapakku hanya kapak tua sederhana, bergagang kayu"
"Apa? Bukan ini? Hmm, baiklah"

Sang dewa lagi kembali ke dalam air. Butuh waktu kali ini. 
Beberapa saat ia kembali bersama kapak lusuh nan gagah.
"Itu milikku tuan! Itulah kapak milikku!"
"Barang buruk ini milikmu?"
"Iya tuan. Namun kapak ini telah berjasa membantuku hidup. Terima kasih tuan! Terima kasih banyak"
"Kau pemuda yang jujur. Kapak emas dan kapak perak ini pantas untuk kau miliki"
Sambil terharu bahagia, penebang yang jujur dan tak lagi malang ini akhirnya mendapatkan 3 kapak sekaligus.

Mendengar cerita si penebang jujur, lalu datanglah seorang penebang tamak.
Dengan sengaja ia melemparkan kapak lusuh miliknya ke dalam danau.
Berharap apa yang menimpa penebang jujur juga dialaminya.

Seketika dewa penjaga danau datang dan menanyakan hal yang sama.
"Kapakku...jatuh tepat di dasar danau ini tuan... Ibuku sakit. Tanpanya aku tak bisa bekerja,"
sambil menangis ia menceritakan kisah bohongnya.
Sang dewa mengetahui apa yang terjadi.
Ia masuk ke dalam air dan benar, ia kembali bersama kapak emas yang bersinar.
"Inikah kapak milikmu?"
Dengan mata berbinar ia mengulurkan tangan, "Benar tuan! Itulah kapak milikku! Kapak emas itu!"
Sang dewa pun marah dibuatnya, dan memunculkan kapak asli miliknya.
"Dasar penipu! Ini kapakmu yang buruk!"

Dewa penjaga melesat masuk ke danau bersama 2 buah kapak tersebut.
Dan ia tak kembali.
Penebang tamak penipu itu akhirnya benar-benar mengalami kehilangan.
Kehilangan kapak buruk yang berharga, sekaligus kehilangan pekerjaannya.

Untitled-3

Sore hari kala itu,
aku berbaur dalam keramaian kota.
Ingar bingarnya tak terelakkan.
Kota merayakan semua yang bisa dirayakan.
Kota mengundang seluruh lapisan.
Tapi aku tak mengerti,
mengapa mereka melupakanku.

Aku duduk sendiri,
di bangku kayu dekat trotoar.
Kata orang "bertengger sangat manis".
Aku tersenyum.

Rasanya saat itu jalanan penuh sekali,
tapi yang ku dengar hanyalah desahan napas sendiri.
Rasanya saat itu jalanan penuh sekali,
tapi yang ku lihat hanyalah lapangan tak berpenghuni.
Rasanya saat itu jalanan penuh sekali,
tapi yang menghampiriku hanyalah seekor burung nuri.

Ku sandarkan bahu dan ku pandang kembang gula biru.
Beberapa busur bening dan uap air laut berterbangan.
Aku menerawang dalam keheningan.
Aku menembus dimensi ruang.

Sejenak ku berpikir, dan mulai berdiri.
Langkah kakiku menjauhi bangku kayu.
Berjalan memperhatikan dunia yang sedang mengabaikanku,
bersama seekor burung nuri yang hinggap di pundakku.

Tuesday, February 12, 2013

Taman Safari Indonesia

So stocked! I got another amazing holiday yesterday. Jadi ceritanya gue sekeluarga, nyelip nenek gue, main ke Taman Safari. Entah kapan terakhir gue ke tempat ini. Terakhir kali ke Taman Safari itu yang ada di Malang, sekitar kelas 2 SMA.

Jadi dengan tiket Rp.140.000/orang kita bisa masuk kesana. So here are the pics, then you'll see what I saw :D



For you to know, ini Malayan Tapir. Inilah tapir. Hewan besar teraneh yang pernah gue tau. Moncongnya kaya tikus.

Bagi yang gak tau gajah, nah ini dia! :D Jadi gajah di taman ini enak banget diliatnya. Genduy-genduy gitu Alhamdulillah makannya teratur gak kaya gue.

The elephant's trunk seems like a snake; or vacuum cleaner rubber hose?

Bisa bayangin gak tanduknya ngebaretin mobil lo? Mau marah juga gimana kan......

Ini kudanil minta maem. Kudanil makan tanaman air. 


Sorry dude you're not invited to the party. You're too big, and you eat so many carrots.


Wah bapak keeper yang beruntung. Posenya bagus! Sayang gak punya facebooknya buat di tag.

Anyway, girrafe has a cute face. An adult giraffe has a kick so powerful, they can decapitate a lion.


Entrance of herd wild

Satu hal yang terbayang di otak gue adalah "apakabar kalo gue disepak ginian?" For you to know, badak bukanlah hewan pemarah yang asal main nyeruduk. Hewan ini hewan teritori, jadi mereka hanya bakal marah kalo kita masuk ke teritori mereka


Harimau Sumatra! Wah pasti dia jago bahasa daerah sana :3

Beruang ini adanya dijalan. Foto diambil dari dalem mobil. Salah-salah mobil kita bisa dihantam. Yah minimal baret dalem lah.

Risty, 19tahun, mau ke kampus naik harimau.

Anak macan ini harusnya bisa jadi objek foto, tapi akhirnya cuma di kerangkeng karena lagi nakal-nakalnya seneng bercanda. Dan melihara anak macan udah masuk dalam list cita-cita gue. Oke.

Bison! Tapi sayang bison terbang lebih lucu. Fix.

PIC OF THAT DAY! HAHA! Gila gue masih gak habis pikir sama warning yang satu ini. Lucu tapi sadis dan gak bisa dianggep sepele! Yakali gak lucu kan gue lagi dipinggir balkonnya melihat simpanse dengan sumringah tapi kebahagiaan semua binasa manakala dengan tanpa dosanya kita dilemparin bom fresh from their bottom. Perlu diketahui, pas lagi liat tempat ini, cuma ada gue dan kakak gue dan beberapa keeper yang berada agak jauh. Kami udah ketawa-ketiwi liat warningnya, ditambah lagi dengan seekor simpanse yang tangannya siap-siap dibawah tempat keluar bom itu. Dan komentar jenius keluar dari mulut kakak gue tersayang "Dek, kalo dia macem-macem lempar gituan, bales lempar punya kita,".



Puas liat-liat hewan dari dalam mobil, gue sama kakak gue juga ngebolang ke tempat pertunjukan singa laut + harimau Sumatra. Di singa laut, mereka lucu-lucu. Namanya Cinta Laura, Morgan, dan Syahrul Gunawan. Tapi ini belom seberapa. Sebenernya ada tempat pertunjukan untuk kawanan burung pemangsa, alias elang, tapi ternyata cuaca tidak mendukung. Dan yang menarik adalah pertunjukan harimaunya. Ada 2 keeper. Gue gak kebayang itu keeper nyawanya abis didalem kurungan bersama 3 harimau lapar. Harimau itu lucu-lucu banget. Yang keren adalah salah satu keeper mengakhiri show dengan nunggangin salah satu harimaunya. 

Dan gue tiba-tiba berpikir, jadi pawang hewan itu adalah tugas yang membahayakan. Ya semua pekerjaan emang berisiko sih, tapi ini beresiko parah bro. Lagi-lagi gak kebayang kalo kepala gue di kunyah harimau, atau tangan gue bolong dipatok elang, atau tiba-tiba gue disepak belalai gajah. Wah gila. Tapi di sisi lain, gue merasa tugas itu penuh damai. Perasaan lain gue diantara hewan-hewan itu adalah gue merasa damai. Hewan mungkin menyakiti kita secara fisik tapi percayalah, hati dan batin kita gak akan pernah disakiti :)

Oh iya, disana juga gue ketemu green anaconda. Dan baru tau ternyata anaconda itu ada jenis lainnya gak cuma yang besar kaya di film. Green anaconda ini kecil. Ada juga yellow anaconda. Malah masih lebih besar pyton untuk ukurannya. Anaconda ini ular yang gak bisa jinak. Anaconda yang besar cuma ada di Amazon. Tapi untuk keberadaannya sekarang ya gak tau deh.

Selain liat hewan, gue juga sempet main permainannya karena gratis dari tiketnya. Wah gak mau rugi, gue dan kakak cobain bianglala dan rumah hantu. Di rumah hantu kita naik kereta, pake kacamata 3 dimensi gitu lah kocak. Nah yang di bianglala ini yang bikin merinding sob. Mending naik giant swing yang di Transtudio atau halilintar di Dufan deh sumpah daripada naik ginian tinggi banget udah gitu kakak gue berat lagi kan takut jadinya -___-

Ternyata liburan ke area hewan begini itu bener-bener refreshing yang nyata. Kalo kita lihat lebih dekat, kita bisa perhatikan perasaannya. Semuanya menarik. Ciptaan Tuhan ini semuanya menarik untuk dipelajari dan dinikmati. Sayangnya sebagian orang masih milih liburan ke daerah mall atau ke tempat yang kurang mendidik lainnya.



It has been so long since I didn't write my trip. I'll try to be an amateur travelwriter again beside being a galau poem writer haha.

I'll see you on the next post. Hasta la vista!

Friday, February 08, 2013

The Woman In The Mirror

I stand in front of the mirror. I stare at a woman there. I look deeply into her, and see some things that I think 'the world' should know, but in fact 'the world' doesn't.

A woman there, is kinda childish. She naturally behaves like a child. She doesn't really love a baby anyway, she loves a kid, especially a boy. She always wonder having a little brother. But I know, she loves her big brother.

A woman there, is like a bird. She loves freedom, she flies away, she's independent. She behaves like the other good woman, but you won't know that a rebellion is planted in her soul. She thinks normally but when she feels someone bothers her freedom, she will do anything. She knows she can control her life, so she doesn't like to be controlled.

A woman there, is so curious. She'll find out what makes her curious. But you won't know, she's just pay attention to the attractive ones. She loves simplicity, but too simple sometimes not enough. She loves something unique which the others may not think

A woman there, is an anti-mainstream, and tend to break the rules. She doesn't like general things like other people like. When people park their motorcycle straightly, she thinks the opposite. When people generally do somethings regularly, she thinks differently, including do out of regulation.

A woman there, is so melancholic. She's so fragile. But the world only knows that she's a strong woman, and cheerful outside. She's a true cheerful person anyway, but she's not a barbie toy who keeps smiling whatever happens. But sometimes she learns how to be like that barbie.

A woman there, have so many dreams. Some are so impossible, some are the opposite. But you won't know, she's a type of less expectation. She seldom hope. What she do is only pray. She keeps pray for tomorrow could be better than today, she keeps pray for her family, she keeps pray for her friends. She prays nothing about her except strongness and betterness to keep alive for today.

A woman there, have a solid friendship. She places her bestfriends above all. Because she knows, bestfriends mean everything, while the world could forget her.

A woman there, sometimes refuse to remember the fact that bites her happiness. She easily get disapointed, by the way.

A woman there, knows everyone's character based on their talk, their story, their way of walk, their way of joking, their way to treat others, etc.


And now I know a woman there is a hidden one. She easily knows others, but others can't simply know "what exactly happens" with her. 

Wednesday, February 06, 2013

:)

Aku akan berusaha menerangi bulan sabitku sendiri (seperti dahulu), apapun yang terjadi di suatu hari nanti..

Tuesday, February 05, 2013

Sherina - Lihatlah Lebih Dekat

Hatiku sedih
Hatiku gundah
Tak ingin pergi berpisah
Hatiku bertanya
Hatiku curiga
Mungkinkah kutemui
kebahagiaan seperti disini
Sahabat yang selalu ada
Dalam suka dan duka
Tempat yang nyaman
Kala ku terjaga
Dalam tidurku yang lelap
Pergilah sedih
Pergilah resah

Jauhkanlah aku dari
Salah Prasangka
Pergilah gundah
Jauhkan resah
Lihat segalanya lebih dekat
Dan 'kubisa menilai lebih bijaksana
Mengapa bintang bersinar
Mengapa air mengalir
Mengapa dunia berputar
Lihat segalanya lebih dekat
Dan 'ku akan mengerti

Sunday, February 03, 2013

Mimpi

Berpikir ulang tentang bunga tidur semalam.
Memutar setiap reka adegan berulang kali.
Begitu jelas,
begitu nyata.

Sentuhanmu yang lembut,
hangat pelukmu.
Aku terbuai.
Kau diam, kau berbeda.

Tiada rindu untukmu sampai detik ini.
Kau hadir tanpa tanda,
membentuk tanya kecil.
Apa maksudnya?

Ceritamu saat ini enggan ku cari tahu.
Kisah baruku bak cat air edisi terbatas,
langka, penuh warna.

Baiklah kalau begitu,
satu sapaan tiada maksud,
"sampai bertemu (kembali) di dunia malam tanpa batas!"