Monday, November 24, 2014

Ragu

Ia melangkah separuh pincang. Tertatih-tatih meniti arah.

Melantangkan kekuatan yang bahkan ia tidak tahu sebesar apa, atau sekecil apa.

Hatinya gamang dilimpahi hadiah(-hadiah) oleh Tuhannya.

Kata Tuhan, "Temukan yang sesuai, dan gunakan baik-baik,".

Ia beku dalam bimbang, menyeka pikiran yang hampir surut dari sadar.

Meragu pada Tuhan yang mungkin saja membawakannya sepaket pecundang.

Ambruk dalam kekecewaan, kakinya ngilu, hatinya kelu.

Bulir air di pelupuk mulai hangat mengalir.

"Tuhan, kembalikan yang hilang itu padaku,"

Dalam redup dan degup nadi yang saling menyahut,

Tuhannya hanya diam kali ini.

Monday, November 03, 2014

Dan Malam Ini, Aku Tumpah...

Ternyata saya rindu.
Rindu membicarakan banyak sekali hal. Dari, seperti, mengapa bangku bernama bangku? hingga kamu percaya surga dan neraka? Saya juga rindu diskusi mendalam tentang nasib, kebetulan-kebetulan lucu, hati, cinta, masa lalu, hingga takdir yang begitu senang memisahkan kami. 
Dan bagian ini yang paling saya rindukan.

Ternyata saya rindu.
Rindu berbagi lagu-lagu dengan lirik yang bermakna, atau lagu dengan lirik lucu sekalipun seperti Alcohol milik CSS. Rindu membicarakan musik apapun. Saya terima lagu atau musik apapun yang ia beritahukan, walau saya tidak tahu. Dan sebaliknya. 

Ternyata saya rindu.
Rindu kami dalam diam. Kalaupun ada hubungan paling aneh tapi nyata, itulah yang saya rasakan saat kami berdiam termenung di danau itu. Seperti kami yang disaksikan hewan dan tumbuhan disana. Dalam diam aku merangkai doa dan ceritaku sendiri, Ia juga diam seperti menerka namun tak pernah bisa. Saya selalu merasa mampu berbicara dengannya dalam hati. Mungkin ini berlebihan dan gila. Tapi ini nyata. Kunjungan di danau selalu berakhir dengan bunga yang saya sampirkan di dekat kaca spion motor miliknya. Dan saya senang Ia tak membuangnya.

Ternyata saya rindu.
Rindu seseorang yang bisa menerima seutuhnya. Utuh seperti adanya saya yang aneh, yang manja, yang maunya banyak, yang suka jalan-jalan, yang tahu semua keburukan sifat, yang bisa melihat kebaikan di diri saya, yang mau mendengar banyak cerita tidak penting yang saya lontarkan, yang sadar saya 'berbeda' dan tidak menjauh, yang bisa menjadi bapak-partner-kawan, yang menjadi kotak rahasia terbesar, yang menjadi kotak tertawa, yang tahu semua cerita masa lalu saya, yang bisa membuat saya merasa aman dan terlindungi, yang sadar saat saya sedih bahkan ketika tak berkata apapun dan pasang raut muka menipu, yang bisa jadi wikipedia berjalan pribadi, yang bisa tetap bijak sekalipun pada saat sulit, yang mau terima semua puisi-puisi amatiran, yang mau memuji hasil cerpen yang sebenarnya tidak jelas, yang begitu kuatnya ingin saya jadi penulis, yang mau membuka pikiran saya lebih luas lagi tentang dunia.

Mungkin kenangan kami sudah terlalu banyak, rasanya saya terjejal hingga remah-remah memori satu persatu menguap. Tapi saya masih banyak ingat yang manis, juga yang pahit, seperti:


  1. Ketika hujan badai mengguyur kota, kita pergi berjuang membawa setoples besar air gula yang sudah kita masak untuk dibawa dari tempatmu ke tempatku naik motor. Kita seperti power ranger, berjas hujan. Hujan memang amat kuat, tapi aku ingat jelas apa yang kamu teriakkan di tengah deras itu, "Ris, aku sayang sama kamu!"
  2. Di perjalanan pulang dari Solo ke Semarang, ada lagu tidak menyenangkan (karena bercerita tentang kisah kita) yang diputar di radio. Lalu kita diam, hanya diam. Sampai akhirnya kita sampai di Semarang dan kamu membicarakan hal itu dengan, "kamu denger lagu tadi? Aku benci lagu itu".
  3. Kita pernah berenang berdua di salah satu taman rekreasi air di Semarang. Berenang paling lucu karena kita bawa bekal satu plastik berisi gorengan dan rokokmu, yang kita simpan seperti harta karun dibalik batu dibawah jembatan di kolam renang. Kalau kita lapar, kita hampiri harta itu, dan sebaliknya.
  4. Dalam perjalanan petualangan menuju Pantai Bandengan - Jepara, kita diguyur gerimis yang agak keras. Kita hanya memiliki 1 jas hujan di bagasi motorku. Akhirnya kita membagi dua, dengan kamu memakai bajunya, aku celananya. Sampai di pantai kita dilihat banyak orang, seperti alien.
  5. Tahun lalu, perpisahan kita di bulan April. Lalu aku secara iseng membuka akun twitter kawanmu, dan menemukan kawanmu menulis hal-hal yang puitis, seperti dirimu. Ketika kita bersama lagi, lalu aku tanya, "Ternyata Planet puitis juga kaya kamu ya?", "maksudnya?", "waktu itu aku iseng buka twitternya kok isinya begitu", "hah? Itu aku tulis pesan buat kamu, tapi di twitter dia. Pertimbanganku, kalian gak follow-followan, jadi kamu gak mungkin tau", "tapi aku tau.....", "iya, dan aku bingung sama kebetulan yang aneh ini".
  6. Pesan singkat dini hari selalu berisi, "Ris, besok bangunin aku ya. Kalau kamu gak hampiri aku, aku gak mungkin sekolah." seperti anak kecil polos. Lalu aku datang dan melihatmu tergeletak di kasur. Tak jarang ketika aku membangunkanmu, aku pula yang dimarahi. Bahkan aku rindu pula membereskan kamarmu yang tak ubahnya kandang sapi. Melihatmu bergegas berpakaian sebelum kita ke kampus bersama. Seperti ibu yang mengurusi anak lelakinya, atau seorang istri yang melayani suaminya, entahlah semuanya sama. Sama-sama dengan cinta.
  7. Masih lekat di ingatan ketika kita tiba-tiba diatas motor yang sama sehari sebelum ulang tahunku. Juni lalu. Kau mengajakku tak tentu arah dan kita canggung dibawah langit malam. Karena hampir dua bulan kita tak bertemu. Obrolan hanya seputar mengingat dan merantai semua yang pernah kita lewati jadi satu. Dan aku sadar aku bahagia saat itu.
  8. Ketika kamu meneleponku pagi itu. Kamu di rumah di kotamu dan aku di perantauan. Kamu berharap kita bisa bercakap banyak, sedang aku tahu apa yang kamu perbuat semalam dengan seseorang lain. Kamu tahu ada yang tidak beres saat itu, dan kamu tahu aku melemparkan tweet bernada pisah ketika itu dan membalasnya dengan "salah paham berujung maut". Setelah itu aku tak melihatmu lagi berkeliaran di linimasa twitter. Sampai akhirnya ibu penjaga kosan memanggilku karena ada seorang lelaki mencariku di depan. Dan kudapati kamu yang lusuh dan lesu masih menggendong ransel kembali dari Purworejo menuju Semarang hanya untuk mengklarifikasi, dan sore itu pula kamu kembali. Menuju Solo.
  9. Ketika pasangan lain berpredikat "saling melengkapi", kita justru "saling menambahkan". Kamu dan aku sama-sama memiliki kemampuan yang dangkal menyoal arah jalan. Ingat ketika kita berniat ke Pecinan namun justru tersasar ke kondangan bahkan ke pasar malam? Bahkan aku masih ingat tawa akan kebodohan kita kala itu.
  10. Tak jarang kita mengobrol hingga berdebat ketika berdua. Kamu menganggap kita sedang beradu argumen, aku pangkas dua katamu menjadi berdebat. Pun ketika kita saling bercerita, dan aku tiba-tiba diam, kamu sesekali menyanyikan Mari Bercerita milik Payung Teduh. Dan aku selalu malu ketika kamu mulai bernyanyi lagu itu.
  11. Terlalu banyak takdir bernama "kebetulan" yang selalu membuat kita terganga. Terakhir adalah"kebetulan" saat pertemuan kita di Jogja. Ketika kamu dan teman-teman KKN mu begitu juga aku dengan teman-teman KKNku. Dengan keadaan kita yang berbeda kecamatan. Kita, di tempat nasi goreng itu, pertama kali aku kesana bersamamu. Sampai beranjak tidur aku tak habis pikir akan kecanggungan kita ketika bertegur sapa. Bisa-bisanya Tuhan mempertemukan kita bahkan di tempat sejauh itu?
  12. Kita bagai filsuf kelas teri. Atau aku yang kelas teri, dan kamu kelas moyangnya teri. Berdiskusi apapun. Terkadang kita terjerat dalam situasi obrolan dimana kita seperti mengobrol dengan cermin. Saling mengakali satu sama lain, dan saling waspada, serta takut "terjerumus", entah di lubang apa. Seringkali aku mendapati diri yang akhirnya kelaparan hebat sehabis mengobrol. Bisa dibayangkan seberapa berat bahan diskusi kita?
  13. Mungkin kita sepasang orang gila yang mengawali kedekatan dengan menghidupkan binatang buas imaji di benak kita. Kamu dengan nagamu, dan aku dengan bison terbang berbulu. Seperti keduanya hidup nyata di halaman rumah kita.
  14. Aku masih ingat bagaimana kita menyambung hidup kala itu ketika tak ada uang sepeserpun di dompet kita. Kamu dan aku sama-sama meraih receh-receh dari tempat-tempat tak terduga, untukmu membeli segelas kopi dan rokok di burjo dan aku untuk membeli makan. Namun kita tetap bahagia, dengan melabelkan diri kita sebagai "kere-hore".
  15. Ingat waktu kita sedang mencari tempat murah meriah yang nyaman hanya untuk tempat mengobrol? Dan kita masuk duduk di teras kosan teman kita tanpa ada teman kita disana. Santai aku membuatkanmu kopi, dan duduk sembari mengobrol. Kita memang sepaket manusia tidak punya malu.
  16. Penyakit dini hari masih menjangkitiku. Mencari-cari di tiap sudut jejakmu. Sudah jarang ku temui kau melagu dengan puisimu itu. Tentang apapun. Ku harap kau masih sama seperti penyair yang ku puja. Jangan pernah berubah.
Seringkali saya merasa pincang ketika berjalan. Berjalan mengarungi hari. Banyak sekali bagian diri yang rasanya terenggut paksa. Tentang kebiasaan, kebahagiaan, kepingan diri. Terkadang masih terasa ada yang mengerut dan perih, tiap teringat kebersamaan kami. Tak jarang saya menipu diri, mengulang kalimat bahwa saya utuh dan tak kehilangan suatu apapun. Demi untuk menenangkan diri. 

Saya tidak tahu harus peduli atau tidak menyoal perasaannya. Masih, hampir lupa, atau sudah punah. Saya tidak tahu. Dan saya tidak akan pernah tahu. Jika saya tahu pun saya tidak harus apa. Lagipula memang harus bagaimana?

Satu hal yang perlu kau tahu, saya tidak pernah sedih melihat segalanya yang berhubungan denganmu. Kau takkan pernah tahu lucunya bisa tersenyum saat melihat seseorang yang saya cinta bahagia. Saya tidak tahu apa itu cinta sejati, tapi itulah yang saya rasakan.

Saya tidak menyesal karena tidak menerimamu kembali kala itu, pun saya tidak menyesali keadaan ini. Saya cukup bahagia melihatmu akhirnya kembali pulang. Saya juga cukup bahagia kembali menapakki jalan dan bertualang sendiri, seperti dulu, tunawisma, tanpa arah.



Satu puisi milikmu sebagai penutup kerinduanku malam ini.

" Pencuri

Dulu ada dua pencuri yang saling melindungi dan saling mencuri
Mencuri tawa, kerling, cerita, duka resah dosa kelakar emas, hati
Hasilnya mereka gadaikan pada tuhan
Ditukar dengan arti yang kian tak dapat dimengerti." - FO.



I hope you good, Supertramp.

Thursday, October 16, 2014

Bukan Matahari

Mungkin beginilah akhirnya.
Sinar yang awalnya ku kira sebagai matahari, ternyata kembali membuatku mati

Matihari

Kembali, ada yg terbagi dua. Perempuan itu, hatinya.
Ke sekian kali

Patah


Sebelumnya rekat

Sekarang patah lagi

Rekat lagi

Patah lagi

Rekat lagi

Patah lagi

Patah lagi

Patah lagi

Sampai tiada lagi yang mampu direkatkan pun dipatahkan



Semarang, 1.21 AM

Saturday, September 13, 2014

Jatuh Pada Cinta

Mukanya malu-malu, bersemu sendu.
Lidahnya kelu, hatinya hancur.

Perempuan itu,
melepas pilu, lalu dirundung rindu.

Pilu akan masa lalu,
rindu dengan cinta baru.

Hidupnya hanya didatangi kehilangan,
yang tega membunuhnya berkali-kali.

Dan Semesta mengasihaninya,
Ia kembali jatuh hati.
Tapi Ia takut,
namun Ia jatuh.
Tapi masih takut,
namun sudah jatuh.

Padanya,
yang mampu mengubah matihari,
menjadi matahari.

Monday, August 25, 2014

Curug Lawe

I'm back as a travel writer, everyone! Kali ini cerita jalan-jalan datang dari Curug Lawe (16 Agustus 2014) yang terletak di Desa Muncar, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung.

Jadi, kenapa gue bisa mental ke Temanggung? Karena gue lagi ikut KKN (Kuliah Kerja Nyata) dan dibuang ditempatkan di Temanggung selama satu bulan. Di saat nganggur tanpa program kerja, akhirnya gue dan kawan-kawan langsung berangkat kesana. Satu hal yang sangat penting adalah tidak ada dari kami yang tahu kaya apa medan menuju air terjun tersebut.

Sekitar jam 2 siang, kalau gak salah, kita berangkat. Desanya dekat dari desa yang gue tempatin. Jalanannya sih sudah beraspal. Awalnya excited kaya biasanya. Antusias banget karena mau jelajah alam. Karena gak ada parkiran motor akhirnya kita titip motor di rumah warga. 

Habis itu kita jalan menembus tengah sawah. Dan akhirnya sampai di jalan pembuka,  jalan setapak yang mengantarkan gue pada kelelahan tiada akhir.

Jalan setapak ini benar-benar jalan setapak gais. Setapak = Se-tapak, Sebuah-tapak. Yes, satu tapak orang saja. Intinya? Benar-benar jalan yang hanya bisa dilalui satu tapak  kaki seseorang saja, saking sempitnya. Jalanan beralas tanah jadi bikin kaki suka kepleset kalau gak hati-hati. Semua anak hanya pakai sendal jepit, termasuk gue. Kira-kira setengah jam bahkan lebih kita masih juga belum sampai, bahkan suara gemericik airnya aja gak kedengeran. Gue mulai gedeg dalam hati karena jalanan yang menurun terus, jauh, dan gak kunjung sampai. Satu hal yang terbayang di otak gue hanya: ini apa kabar pulangnya? Kalau pas berangkat jalannya turun terus, kebayang dong baliknya kaya gimana? :')

Singkat cerita, sampailah kita di Curug Lawe. Senang sih, karena akhirnya paling gak punya tambahan daftar alam yang pernah dikunjungi selama hidup. Tapi sayangnya entah kenapa menurut gue kurang berkesan karena airnya yang kurang jernih dan suara air terjun pun kurang jelas. Jadi, rasanya rasa capek yang sebelumnya gilak aja (karena perjalanan setelahnya itu gilak banget) kurang terbayarkan. Mungkin cuma foto-foto (yang niatnya pengen dipamerin) yang bisa jadi moodbooster.

Berasa poster film. "5 km".

Diantara tahap perjalanan Curug Lawe, tahap pulangnya lah yang paling menguras emosi dan tentu saja tenaga. Medan yang naik terus dan jalanan yang tinggi dari satu undakan ke undakan yang lainnya jadi bikin tenaga lebih banyak terkuras. Keadaan sekitar dimana sebelahnya jurang dan sebelahnya tebing tinggi agak bikin lumayan was-was. Tapi yang lebih bikin was-was sebenernya adalah kondisi fisik diri sendiri. Gak pernah olahraga dan darah rendah langsung aja duet bikin gue hampir nyerah. Berkali-kali mandek karena gak kuat, muka gue yang katanya pucat dan pipi gue merah, jantung yang sakit, mulut sama hidung ga sinkron karena susah napas gegara capek dan suhu sore yang mulai mendingin, bikin gue jadi pusat perhatian diantara kawan-kawan. Beruntung banget mereka semua baik mau nungguin, mau maklumin orang yang kepayahan ini. Sejak saat itu gue sepakat gue gak cocok naik gunung. Fix banget.

Sampai rumah, dapet laporan muka gue udah kaya zombie saking capeknya. Dan yang paling konyol adalah karena ke Curug Lawe pula, kita ber12 sama sekali gak ada yang ikut upacara karena jaket KKN yang kotor dan dicuci.



The last, tau lagu Mahameru - Dewa 19? Lagu itu yang selalu dinyanyiin salah satu temen gue, Adit, pas lagi naik balik dari Curug. And it always takes me back to that time when I hear it, and I love the song anyway. 

Saturday, July 26, 2014

Semoga Malam Mampu Menguliti Ketidakbisaanku

Malam selalu tega menelanjangimu. Kesedihan berlapis kulit, kerinduan berlapis daging, kesalahan berlapis tulang. Malam mampu menguliti hingga kerut urat nadimu.


Athena, telapak tangannya beradu dengan duri mawar.
Harap yang terisak pecah di balik punggungnya.
Kalbu entah darimana bertanya, tak bosankah ia bertahan pada kembang itu.
Dengan darah yang mengering hingga lagi basah.

Tapi itu kemarin..
Sebelum melihat anak burung parkit itu berani terbang.
Berani terbang tanpa induknya.

Iya.
Sesederhana itu.

Friday, July 18, 2014

Laporan Akhir Smester Genap

Selamat malam rakyat dunia maya yang bermata pencaharian sebagai peselancar!

Gue melanjutkan hidup. Beberapa minggu kemarin menjadi waktu-waktu yang paling melelahkan sepanjang riwayat perkuliahan gue. Smester 6 adalah smester paling berat. Dari kuliah, tugas kuliah, sempro (ini paling menguras tenaga jasmani dan rohani), UAS, sidang sempro, LRK untuk KKN, survey untuk KKN. Semuanya gak berhenti bergantian minta diurus. Gilak smester 6 joss gandos!!!

Masih inget rasanya begadang ngerjain salah satu dari itu, mumet tiap abis bimbingan, pertama kali bikin kartu perpus sampe ibu penjaganya heran, bolak-balik rajin ke perpus, tiap online kerjanya buka google scholar atau portal garuda, ngeluh tiada akhir soal ketidaktertarikan akan KKN, nangis gulang-guling di kamar karena homesick mau pulang tapi kepentok segala tanggungan, survey ke Temanggung tapi bablas gak sahur (rasanya kering kek zombie) (padahal belom pernah jadi zombie), senengnya cover sempro ada tulisan acc, dan paling seneng adalah selesai sidang dan sempro gue berhasil di jilid dan diterima bapak dosbing, sekaligus LRK yang sudah beres dan besok malam siap pulang.

Kalo mundur sedikit ke seminggu yang lalu aja, masih inget juga tuh capeknya kaya apa dan kebayang-bayang hari semuanya akhirnya beres. Maksudnya ngebayangin hari ini. Akhirnya blogging dengan santai setelah kemarin-kemarin pengen blogging tapi gak napsu.

Tapi ini bukan akhir, justru gue udah membayangkan sebentar lagi masuk ke pintu dunia yang bisa bikin gue lebih hancur-lebur lagi dari ini. Skripsi.

Rabu 16 Juli kemarin memang patut diingat. Kebahagiaan absolut.


Selesai sidang

Buka puasa bersama ganja


Sampai bertemu smester 7. Semoga hasil akhir smester ini sama baiknya dengan smester lalu :)

Thursday, June 19, 2014

Ini Misiku, Apa Misimu?

Mungkin memang benar teknologi memiliki efek samping. Menjadi candu dan belenggu bagi manusia. Saya contohnya, termasuk seseorang yang susah bila jauh dari handphone. Padahal kalau pegang handphone pun hanya membuka media sosial yang tidak penting. Seperti ketergantungan. Sungguh mengerikan.

Saya pun juga memperhatikan, kecenderungan ini mulai merasuki anak-anak. Tangan kecil mereka sibuk dengan benda kotak penuh radiasi yang mereka genggam erat. Matanya terpaku, dari yang matanya masih sehat, hingga mata yang sudah butuh bantuan.

Saya suka membaca. Mungkin bisa dibilang memiliki gangguan mental, karena lebih memiliki tendensi pembelian impuls di dalam toko buku dibanding toko baju, tidak seperti perempuan lainnya. Tapi saya sedih jika melihat anak kecil, yang masih bersih pemikirannya dan butuh digali dan diasah bakatnya hanya terpentok di sebuah handphone, tablet, kapsul, puyer, apalah namanya itu. Imajinasinya kurang berkembang. Saya punya contoh kasus dari seorang teman. Dalam pembuatan tugas akhir, ia kesulitan dalam menemukan buku untuk menggali teori berkaitan dengan penelitiannya. Dia bilang, "aku tuh gak seneng baca Ty. Kamu seneng baca ya, enak." berbicara sambil matanya yang terpaku pada game di handphone-nya. Saya tertawa meringis sambil berpikir. Fatal juga dampak tidak suka membaca, bukan?

Saya pun juga memilih kalau mau membaca buku. Tidak suka yang serius ala orang dewasa, seperti bau pencampuran ruangan kantor, bapak-bapak berkumis, beserta kemeja dan pulpennya, serius. Saya tidak suka. Tapi kesenangan membaca paling tidak memudahkan kita untuk hal-hal penting seperti itu.

Saya penggila genre fantasi, film maupun buku. Penyuka fiksi yang bukan picisan. Saya penulis yang tingkatnya bahkan masih dibawah amatir. Berkali-kali menulis novel tapi selalu gagal karena banyaknya distraksi. Pernah membuat banyak sekali cerita pendek tapi dibuang begitu saja oleh ibu saya (dan saya akan selalu ingat kesedihan yang satu ini, sampai kapanpun). Tapi saya punya misi, mengenalkan budaya membaca pada anak-anak dengan jalan membuat cerita fantasi, yang sekaligus membuka imajinasi mereka. Walau saya belum tahu eksekusinya bagaimana karena status "mahasiswi tingkat akhir" yang cukup menganggu ini.


Tapi yang paling penting, semoga dengan keluarnya tulisan ini, ada banyak orang yang tergerak hatinya untuk sama-sama membantu mencerdaskan bibit bangsa. Apapun misinya, bagaimanapun caranya, seberapa kecil atau besar dampaknya, pasti akan bermanfaat.
Selamatkan generasi bangsa dengan caramu.

Ini misiku, mana misimu?

15 Juni 2014

Jadi begitulah tanggal 15 Juni 2014 kemarin aku habiskan. Sederhana dan menyenangkan. Satu hal: bersyukur.

Dimulai pagi hari aku mengejutkan dikejutkan oleh 5 kawan Ganja yang sedang ada dalam kamar kosan (dimana pemiliknya sedang menginap di kamar temannya). Cukup satu kotak donat meleleh hangat yang terasa enak karena dicampur rasa syukur, senang, dan kekesalan dari pembuat kejutan, topi lucu, beserta lilin diatas donatnya.


Mungkin aku satu-satunya anggota Ganja yang dilumuri lelehan donat karena saking kesalnya dibuat menunggu selama 2 jam. 


Salah satu kawan, Yuniar berkata, "ini Ty kita hadiahin sendal biar kamu gak pake itu terus" sambil nunjuk sendal jepit keyboard kesayangan yang dipake kemanapun. Catat, kemanapun.


Sayangnya momen kebersamaan cepat sekali hilang hanya sampai jam 11 siang, karena kawan-kawan punya urusan masing-masing. Dan hawa kesepian mulai merasuk. Aku masih ingat rasanya seperti apa. 



Lalu aku hubungi salah satu kawan, Fallen. Aku bilang mau jalan-jalan, tolong bawa aku kemanapun. Habis dia berenang, kami baru pergi sekitar jam 3. Mendung menghias langit, aku bingung mau kemana. Akhirnya? Balon sabun sebagai pengobat sepi sekaligus sebuah perayaan. Senang, kenapa? Karena hujan ingin sekali turun tapi Tuhan berusaha menahannya, juga karena dengan siapa aku menghabiskan hari, juga karena balon sabun dan tawa anak-anak kecil yang juga gembira karena banyak gelembung sabun bertebaran di sekitaran mereka.




Hari mulai malam, dan aku berencana menghadiri sebuah acara jazz bersama Fallen. Tapi apa mau dikata, kami menghabiskan tenaga dan waktu hanya untuk tersasar berpetualang. Kami masuk ke wilayah Pecinan dan bertemu sebuah kondangan aneh dimana ada seorang wanita bernyanyi dan berjoget diatas panggung sambil memakai celana mini dan kaos tanpa lengan. Di sekitarannya hanya ada beberapa penonton namun semua seakan terhipnotis dengan si wanita tersebut. Sebagai catatan, penonton tersebut adalah para lelaki.

Setelah itu kami tersesat kembali hingga ke sebuah pasar malam. Aku dan Fallen saling bingung karena kami diantara para tukang jualan dan lalu lalang orang sedang kami terus melaju diatas motor. Ya, di tengah kerumunan. Kami tertawa bingung bersama.

Akhirnya kami sepakat, kami gagal. Dan akhirnya pulang.




Aku ingat doa seperti apa yang diucapkan keluarga dan kawan-kawan pada saat hariku itu. Tapi ada satu doa yang lekat diingatan, satu-satunya beda, satu-satunya doa yang seakan tahu aku seperti apa, dan menjadi motivasi di hati kecil ini.

"Semoga kamu bisa jadi penulis ya Ris. Kamu harus jadi penulis, minimal satu bukumu terbit. Nanti aku mau beli" - Fallen.


Sekali lagi, Alhamdulillah.
Tuhan tidak pernah memberikan kekecewaan padaku setiap bulan Juni.
Sampai bertemu di 15 Juni pada tahun selanjutnya.
Aamiin.

Catatan Pada 20 Tahun

Saya punya catatan di malam menjelang hari ulang tahun tanggal 14 Juni kemarin. Yang akhirnya saya lupa publikasikan karena diajak seseorang menghabiskan malam menuju pergantian usia. Jadi, ini tulisannya.


21.

Apa arti 21? Banyak. Bisa nama bioskop, bisa angka abad yang sering disebut di film Doraemon. Tapi tidak, ini menyoal...usia. Usiaku.

"Time flies when you're having fun. You wake up, another year is gone. You're twenty-one" (The Click Five - Happy Birthday)

Hari esok aku menginjak 21 tahun. Sudah melebihi jari-jari yang ku punya. Sudah lama juga aku hidup, atau mungkin yang lebih tepatnya berapa lama lagi waktuku untuk hidup?

Tahun ini berbeda. Belenggu yang pernah hinggap sekarang sudah seutuhnya lepas. Pergantian tahun pun berbeda dengan tahun sebelumnya. Aku masih ingat bagaimana menghabiskan hari pertama di umur 20 waktu itu. Aku dan empat kawan pergi berlibur ke luar kota. Magelang. Beberapa hari setelah itu aku diberi kejutan (re: balas dendam tradisi) dengan cara diikat di pohon dan disiram berbagai ramuan.

Perayaan tahun 2012 pun masih lekat dalam ingatan. Aku dikerjai lagi-lagi di kampus. Namun yang satu ini dengan banyak sekali pasukan. Kepalaku dibungkus kantung plastik hitam, badanku diikat tali rafia, dan digiring dengan sangat hewaniawi. Sadar saat itu yang membawaku pasti laki-laki semua, kalaupun ada perempuan itu adalah kawan perempuan bertenaga kuda. Karena tahu aku akan disiksa, aku meronta-ronta seperti sapi mau dikurban. Masih ingat juga aku mencakar tangan salah satu kawan laki-laki ku. Kasihan. Akhirnya aku dibawa ke belakang kampus dan diberikan cairan yang lebih mirip muntahan dengan penuh kebrutalan kasih sayang.

Dan tahun ini, entah kenapa, tapi harus ku akui hawanya berbeda. Ini bukan menyoal hari ulang tahun saja, tapi rasanya seperti menginjak ke hari baru. Ini tentang hidupku. Beberapa minggu belakangan ada yang berbeda dan berkembang. Ada suatu pencapaian yang aku lakukan, dan aku menganggap itu adalah pencapaian yang dilakukan orang dewasa. Dan aku memilih untuk menjadi dewasa; tentunya dengan tidak menghilangkan keceriaan ala bocah yang lekat pada karakterku. Ada kepasrahan dalam diri yang aku juga tidak tahu datang darimana. Aku mulai melepaskan kekhawatiran akan hal-hal di luar kuasa, seperti masa depan, juga perasaan. Segala bentuk perasaan: sedih, senang, cinta, sakit, semua aku serahkan dan lebih milih ku kembalikan pada-Nya. Karena semua perasaan itu hanya sementara, Ia yang berikan, maka kepada-Nya pula seharusnya kembali. Masa depan yang berada diluar jangkauanku, aku mulai memasrahkan pada Mpu takdir. Dan kakiku mulai ringan. Aku memang sendiri, tapi ternyata tidak sendiri.

Ada satu permintaan yang setiap kali aku layangkan pada Tuhanku. Aku berharap semoga Allah tahu apa yang ku minta adalah apa yang ku butuhkan, bukan saja yang ku inginkan. Dan jikalau Ia berkenan mengabulkan, maka itulah hadiah terindah yang aku dapatkan di tahun ini.



Aku bersyukur masih memiliki teman-teman yang begitu lucu dan baik dan masih setia sampai hari ini ku hidup. Teman-teman dimanapun.
Aku bersyukur masih memiliki keluarga, rumah, yang selalu menjadi tempatku kembali, tempatku melarung duka.
Aku bersyukur masih diberi napas hingga hari ini, detik ini. 


Semoga aku bisa jadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain, dalam bentuk apapun, sekecil apapun. Itu adalah harapan terbesar tahun ini, dan setiap tahunnya.

Monday, May 26, 2014

Akhirnya

Sampai akhirnya kaki ini memilih lelah dan berlutut di hadapan luka. Aku menyerah untuk lagi peduli dan mencari tahu. Aku harap pengasingan di kampung kecilku ini membawa penyembuhan yang nyata.

Sudah beberapa langkah sejak subuh tadi aku meinggalkan segala pernik dan koper tentang kita.
Jangan coba kau buka atau lagi kau datang.

Sedikit-sedikit aku rangkai kata perpisahan.
Jika ada beberapa potong kalimat yang tertangkap oleh matamu,
itulah sapaan terbaik sebelum aku benar-benar menghilang.


Jangan percaya pada gemuruh yang selalu muncul akhir-akhir ini diatas atapmu.
Ia hanya menyembunyikan sebuah perayaan.
Perayaan aku yang siap melupakanmu.

Friday, May 09, 2014

Saya, Hidup Saya, dan 20 Menit Untuk Bercerita

Saya selalu membayangkan apa rasanya menjadi zombie. Mungkin kalaupun ada zombie di depan wajah ini, saya tak bisa mewawancarainya terlebih menanyakan perasaannya, toh mereka hanya seonggok mayat hidup. Namun kurang lebih seperti ini rasanya menjadi zombie, tidak punya rasa. Mati rasa. Menyedihkan.

Proses penyembuhan dari luka sedang saya alami, atau mungkin sudah dilewati? Saya tidak tahu persis. Saya bukan penganut "Move On-ers", saya adalah "Survivor". Saya sudah mengukur dan tahu pasti bahwa saya sudah mampu bertahan. Bertahan dalam kesendirian, berkawan dengan sepi, tidak terpengaruh dengan lagu-lagu galau penghanyut. Boleh jadi ini adalah prestasi terbesar saya, bisa menetralkan diri dalam beberapa bulan saja. Mungkin karena teringat momen terbesar dan terberat dalam hidup dimana saya menghabiskan waktu kurang lebih 1,5 tahun terpuruk dan merajuk dalam kehilangan dan patah hati yang rasanya tak pernah kunjung selesai. Dan saya pikir cukup bodoh jika saya tidak belajar dari semua itu.

Saya kembali menjadi perempuan independen. Kembali diberi kesempatan untuk memperbaiki diri menjadi perempuan yang lebih baik. Kembali diberi kesempatan untuk dipertemukan dengan laki-laki yang lebih baik. Saya selalu percaya, setiap perpisahan justru mengantarkan kita pada sebuah awalan, awalan dengan yang baru lagi. Begitu seterusnya. Hidup ini siklus, hidup ini roda, kadang diatas-kadang dibawah, dan selalu berputar. Dan saya tidak pernah menyesal "dipertemukan" dengan siapapun, karena semua hal terjadi tidak dengan tanpa alasan, termasuk sebuah pertemuan.

Balik lagi pada zombie, saya merasakan kembali ada yang aneh dalam diri. Ada yang beku, ada yang dingin. Saya melewati proses ini lagi. Beberapa waktu lalu saya diberitahu oleh kawan laki-laki saya, "Lu sih Ty liatnya 'kesana' mulu, gak tau aja ada yang diem-diem pengen merhatiin lu,". Lalu saya diam. Saya pikir terlalu rentan dan beresiko kembali menitip hati pada seseorang di waktu-waktu seperti ini. Saya tidak mau orang tersebut menjadi pelampiasan atau apapun namanya. Karena kita tidak akan pernah tahu dan sadar bagaimana perlakuan kita. Jadi saya pikir, sendiri adalah keputusan yang cukup baik. Tapi saya percaya suatu hari nanti, lagi, akan ada yang datang dan mengubah kembali hidup saya.

Namun ternyata, bertahan dari ombang-ambing proses penyembuhan tidak serta merta menghilangkan rasa. Maksudnya, rasa cinta. Saya juga tidak bisa mengukur pasti sudah sejauh mana perasaan saya merosot, namun, ada hal aneh yang saya rasakan ketika bertemu ia. Seringkali saya mendapati kecewa yang justru hinggap, entah datang darimana. Saya tidak lagi merasakan nyaman saat berdiskusi atau saat bertemu. Seperti tahu yang sudah lembek, justru makin hancur. Saya tidak bisa mendefinisikan dengan pasti bagaimana perasaan saya dengannya, yang saya tahu saya hanya sedih jika bertemu dengannya. Seperti percampuran antara harapan yang sudah kandas sejak lama, kenyataan bahwa ia sudah dengan yang lain, dan perasaan saya sudah merosot terlalu jauh, hingga saya tidak tahu lagi harus berpegang pada apa. Satu hal yang membuat saya semakin merasa sakit saat bertemu adalah, ketika saya seperti diperlakukan layaknya orang asing, seperti bukan siapa-siapa. Berbeda. Dalam keadaan tertentu saya merasa tidak aman karena merasa tidak dilindungi. Dan saya rasa sejak saat itu, bertemu kembali adalah bukan keputusan yang bijak.

Saya pikir sudah saatnya saya memberikan pengistirahatan kepada hati saya sendiri. Saya harus menghargai hati saya untuk rehat dari rasa sakit. Saya juga tidak tahu pasti ini pemikiran macam apa, tapi selama ini saya seperti berbuat semena-mena terhadap hati ini. Saya juga ikut andil memberinya rasa sakit, padahal mungkin ia sudah tak kuat. Mungkin ini mengapa saya begitu menghargai saat-saat kecil saya bisa tertawa, atau bahkan bisa sekedar mengagumi lawan jenis yang lain, saya ingin membuat hati saya bahagia.

Saya berharap semoga Tuhan masih memberikan kepercayaan kepada saya untuk merawat hati seseorang, dan sebaliknya. Dan saya berharap semoga Tuhan selalu menuntun saya ke jalan yang ia maksudkan.

Ada satu kalimat menginsipirasi dari Arswendo Atmowiloto yang masuk dalam mention di twitter saya, 

"kita tak pernah kehabisan alasan untuk hidup, untuk mengarang, untuk jatuh cinta"

Dan ada satu pesan dari salah seorang kawan dekat yang akan selalu saya ingat,

"Terkadang, jalan berdampingan bukanlah yang seharusnya. 
Dan terkadang, jalan sendirian adalah yang sebenarnya.
Menjadi pribadi yang mandiri, lepas dari ketergantungan dan ikatan.
Lepas dari kesedihan dan kebencian.
Menemukan jalan baru, tujuan baru, dan alasan baru memulai harimu."


Selamat malam.

Saturday, April 12, 2014

Teka-Teki

Suara dan kata yang dipilin dan dipintal,
terlahir dari lidah yang katanya selalu lapar akan kejujuran.
Telunjuknya senantiasa mengacung,
pada yang ia bilang "makanan yang harus di waspadai".
Padahal, lidah yang lapar itu siang malam beratap dari mulut seorang pendusta.

Ia lari kesana-kemari,
menganak-tirikan serta membela mereka yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri.
Tak jarang matanya mendadak buta,
akan baju yang ia kenakan, akan warna yang ia pegang.
Akan hati yang ia tambat.

Seolah seperti guru agama yang siap menjahit bahkan setitik niat buruk di kulit.

Dari corong bulat itu, ia teriak keadilan.
Ia lupa, yang didalam cermin itu, tak ubahnya seperti maling yang selalu ia perangi.

Rindu yang Tidak Bisa Tidur

Sudah ku larungkan semua yg kau minta
Tiada setitik jasad darimu yang ku punya
Selain nyawa kenang yang masih membayang
Membayang penuh bekas

Aku mau satu
Mungkin sehelai rambut atau secuil kotoran
Sebagai pelabuhan pertemuan
Supaya rindu yang masih mengilau,
tidak ubah jadi arang

Tolong, aku mau satu, pah

Tuesday, April 01, 2014

Cayman Island


In a melancholy evening,
you and I walked to somewhere else.
Searching on something we both don't know.
We took unknown path.

Then we arrived at a place.
Simply we drown in silence. Had a bit speechless.

A place where no one knows.
A place where hidden by others.
A place where our heart belong.

I stared at the universe. 
Following the flying birds, I can see the times that brought us.
Following the sky, I can see our hearts hold on tight.
Following the water, I can see the future's shadow waving.
Following the wind, I can see your eyes covering my view.

If only they could see,
if only they had been here,
they would understand.

We got our own home.
We're the only different.
We paddle our own canoe,
to the place that I call Caymand Island.

20 Februari 2013 - Danau (yang disembunyikan Tuhan)

"KAPAL KERTAS

Masih terngiang jelas rekaman kemarin sore.
Buliran air langit tak jadi turun.
Hausnya batin dan pergerakan roda,
membawa dua hati kembali ke rumah.

Aku dan kamu,

membeku ditelan suasana.
Sapaan alam yang ramah,
menghangatkan jiwa yang hampir koma.
Jendela indah panorama,
memperbaiki hati yang setengah porak poranda.

Dua pasang kertas sengaja ku bawa.

Aku bermaksud merangkai kapal,
untukmu, untukku.
Bersamaan dengan kapal yang dijalankan,
ada cinta dan cita yang ku alirkan.
Pasti kamu tak tahu.

Sampai pada senja yang mencolek pundakku,

tahu tidak,
kakiku terbenam di tanah sana;
mataku terpaku pada angkasa;
hatiku disandera ketenangannya.
Aku tak mau pulang.

Dan aku berjanji,

dengan riang hati akan berkunjung.
Dan satu asa,
semoga lagi bersamamu."

Wednesday, March 26, 2014

Perayaan

Mungkin seperti sekarang ini dan berhari-hari sebelumnya yang sudah dilewati, berdiam di sebuah kotak berlapis bata menjadi sebuah pilihan diantara banyak pilihan, yang selalu saya pilih.

Merindu alih-alih menenangkan diri.

Menyendiri, kian lama seperti sebuah perayaan. Saya merayakan rindu tak bertepi, ketika alam tak menghadirkannya di sisi. Lantunan ayat suci, serta ayat cinta dari pengeras suara. Berharap semua bermuara menjadi doa dan terjabah. Atau berharap tertidur lelap, dan terbangun dengan lupa yang tumpah ruah.

Menyendiri, kian lama seperti sebuah perayaan. Saya lebih dekat dengan Tuhan dan ia secara bersamaan. Ketika menggapai ketiadaannya lebih sulit dari menggapai Tuhan. 

Merindunya, merindumu, akan selalu berakhir pada sebuah perayaan.
Perayaan dengan lilin yang kekal.
Merayakan rindu yang tak kunjung padam.

Saya dan ketiadaannya.
Saya dan ketiadaanmu.

Tuesday, March 11, 2014

Tyson dan Bulan Maret

Siapa yang tak sedih ditinggalkan yang tersayang pergi ke haribaan Sang Pencipta?

Gue berkali-kali bangun saat tidur semalam dan setiap tidur lagi gue selalu mimpi buruk. Sampai pagi hari pun gue gak berminat kuliah. Dan gue gak sangka kalau 11 Maret 2014 ini, kucing kesayangan yang udah gue anggap seperti adik kecil gue sendiri telah pergi untuk yang selama-lamanya.

Memasukki 40 hari sebelum kepergian Tyson, dia udah gak mau makan. Muntah-muntah terus dan tingkahnya selalu aneh. Tyson udah gak bisa manjat pagar rumah untuk pipis diluar, akhirnya gak jarang dia pipis di dalam rumah. Yang gue sedihin, sering gue dengar Tyson dimarahi mamah atau papah karena pipis sembarangan. Biasanya gue yang berada di garda depan kalau-kalau Tyson dimarahi berlebihan.

Tyson adalah kucing yang gue rawat sejak dia baru lahir. Tyson itu anak ke 3 dari 3 bersaudara. Kakak-kakaknya gak ada yang bertahan pas kecil, cuma Tyson yang kuat. Tyson dan kakak-kakaknya sempat mengalami masa suram. Mereka dibuang di pasar karena mamah sempat gak membolehkan pelihara kucing lagi. Sebelumnya Meng-Meng, ibunya Tyson, gue rawat. Setelah Tyson besar, Meng-Meng pergi.


Karena gue sempet sakit soal Tyson dan saudaranya yang dibuang, akhirnya dipungut lagi. Tyson bertahan sampai besar. Dari sejak gue SMA kelas 1, sampai semalam sebelum dia meninggal. 

Yang paling gue ingat dari Tyson jaman dulu adalah, Tyson selalu gangguin gue kalau lagi belajar. Dulu waktu SMA, kalau gue beresin buku pelajaran buat besok, Tyson selalu ikutan duduk diatas buku-buku yang bertebaran. Selain buku, Tyson itu senang sama plastik (re: kantung kresek); jadi kalau ada kantong kresek bunyi-bunyi, dia pasti langsung dateng; kalau plastiknya terbuka, dia suka main masuk aja terus duduk diam disana. Lainnya, Tyson itu suka nimbrung sama orang yang lagi ngobrol seru. Pokoknya kalau ada orang ngobrol, Tyson selalu main dateng dan duduk dengerin, walaupun yang lagi ngobrol itu ada di kamar atau di ruang tv. Lainnya lagi, Tyson itu senang nyeruduk kepala gue kalau gue lagi iseng nunduk sujud. Terus, kalau mamah habis pulang dari pasar, Tyson suka nyambut mamah di pintu, nungguin oleh-oleh organ dalam ikan yang mamah dapat dari pasar. Dan masih banyak lagi tingkahnya yang selalu bikin damai hati.


Tyson juga kucing yang mungkin mirip manusia banget. Dia itu senang makan roti, makan telur, makan kue, makan martabak keju. Yang paling aneh, dia pernah jilat ampas dari kopi bekas mamah minum, dan pernah minum minyak. Tyson juga suka ayam. Beda sama Meng-Meng yang makannya makanan kucing modern dari Swalayan, Tyson lebih mau makan kalau menunya nasi hangat + ikan cue yang dicampur. Dia emang kucing tradisional, sukanya ikan murni yang masih segar.

Tyson juga kucing paling terkenal di kalangan angkatan gue pas SMA. Sampai-sampai kalau lagi disapa teman dipanggilnya bukan Risty tapi, "hai Tyson!". Teman-teman waktu SMA sering banget main ke rumah cuma mau main sama Tyson. 

Hal yang paling mengharukan dan akan selalu gue inget sampai kapanpun adalah, ketika gue beranjak kuliah di Semarang dan kakak gue di Bandung, lalu mamah harus ikut papah yang kerja di Jawa Timur, yang akhirnya mengharuskan rumah ditinggal kosong dan Tyson ditinggal sendirian. Gue dan keluarga udah pesimis dan ikhlas kalau-kalau Tyson mati atau pergi dari rumah karena udah gak ada yang urus. Pernah suatu kali ditinggal sampai 2 bulan lamanya, dan pas saat mamah pulang ke rumah, ternyata Tyson masih ada disana. Tyson gak pergi kemanapun dan masih setia nunggu rumah. Gue terharu banget karena punya peliharaan yang setia kaya gitu.


6 tahun Tyson hidup di bumi, 6 tahun pula Tyson masuk ke bagian keluarga gue. Dia jadi penghibur kalau suasana di rumah lagi gak menyenangkan. Dia yang selalu jadi penghibur kalau ada salah satu anggota keluarga yang lagi galau. Tyson pencair suasana. Keberadaannya diperhitungkan di rumah. Tyson juga motivasi terbesar gue kenapa selalu rindu rumah dan kenapa selalu gak sabar pulang ke rumah. Rasanya kaya punya adik kecil beneran.

Masih gak sangka, Tyson pergi saat gue jauh. Mungkin maksudnya biar gue gak sedih karena lihat jenazahnya secara langsung.


Terima kasih adik kecilku, udah setia sampai hari ini. Aku ikhlas Tyson pergi. Mungkin disana lebih banyak ikan dan ayam dan kue-kue enak yang bisa Tyson makan. Mungkin Tyson udah gak cocok sama makanan di bumi makanya Tyson udah gak suka makan belakangan ini. Kalau nanti aku sedih kesepian di rumah, semoga Tyson samperin aku di mimpi :'(

Tenang aja, Tyson sekarang aman. Ada Allah yang jagain Tyson. Allah aja bisa jagain aku dan bumi ini, Tyson pasti dijagain juga :)


Selamat jalan.

Aku sayang Tyson..