Saturday, July 20, 2013

Aku Pernah Jatuh Cinta pada Lelaki yang ...

.... sering menertawakan dan mengejek kawannya dari sebuah ujung balkon lantai 2 sekolah. Pernah menjejalkan kawat giginya didekatku dan meninggalkan rasa benci yang lambat laun terulum menjadi cinta. Suatu kali Ia pernah mengirimkan pesan, "aku suka sama ka... kausmu" ke ponselku, padahal aku saat itu tidak datang ke sekolah. Setelah aku bertanya maksudnya, setelah itu pula kami tak pernah dipertemukan kembali.

--------------------------------------------------------

.... menjadi raja tunggal nan rupawan digilai banyak wanita, termasuk aku. Pacarnya saat itu cantik, baik, dan aku tak pernah kenal dengannya. Terlebih aku pernah mengejeknya dan menyisakan permusuhan beberapa minggu diantara kami. Mungkin itu sebabnya Ia tak pernah mencintaiku balik.

-------------------------------------------------------


.... selalu menghampiriku di chat Facebook dengan segala permainan sulapnya. Aku tahu Ia ahli matematika dan senang mengajakku bermain hitung-hitungan. Suatu kali Ia menyatakan perasaannya padaku, setelah kami sering kali berbalas pesan di ponsel tanpa ada hubungan lebih lanjut. Aku tertancap penyesalan tak terperi hingga lulus SMA karena tak pernah mengutarakannya. Aku pernah berjanji pada Tuhan ingin mengejarnya hingga ke perguruan tinggi. Siang itu, ada adu senyum tanda rivalitas di tengah lapangan, yang ternyata menjadi sapaan terakhirku sebelum semua rasaku menguap.

-------------------------------------------------------

.... namanya tidak berbeda jauh dengan namaku. Menyebabkan absen kami berdekatan. Ia tak pernah menghubungiku lewat pesan apapun, tapi Ia selalu mendekatiku di sekolah. Aku menyadari perasaanku tapi aku tak menyadari perasaannya. Ketika ada jadwal piket sepulang sekolah, giliranku menghapus papan tulis, dan belakangan aku baru tahu Ia tak kunjung pulang karena ingin membantuku membersihkan kelas dan menemaniku pulang hingga ke ujung jalan.

-------------------------------------------------------

.... disebut 'anak mami' di kelas. Diantar-jemput oleh ibunya dengan motor skuter. Aku menyukainya setelah menyadari Ia telah menyukaiku. Matanya selalu menghilang ketika tawa mengembang di wajahnya, dan Ia selalu menengok kesana kemari mencariku ketika sehabis tertawa. Pada saat olahraga di lapangan itulah favoritku, karena saat itu selalu matanya dan mataku dipertemukan angin sore.

-------------------------------------------------------

.... akhirnya aku benci. Aku ingat saat itu Ia memasukkan hiasan berbentuk hati dan diselipkan di tas ku pada saat jam olahraga. Surat minta maaf dan "Selamat Hari Valentine" tak lupa Ia masukkan didalamnya. Pada saat itu juga rasanya hendak ku buang. Ia membalaskan cintanya dengan cara berpacaran dengan sahabatku.

-------------------------------------------------------

.... menurut setelah aku menegurnya untuk tidak bersms-an pada saat berkendara, padahal aku belum jadi pacarnya. Dia pernah memberiku bunga pada saat Hari Kartini dan saat itu juga mengaku tidak mampu membeli lebih banyak lagi karena uangnya tidak cukup. Dia pernah memeluk pinggangku didepan ibuku dan mengakibatkan aku malu setengah mati. Kami pernah berencana untuk bersama-sama membeli baju tim bola favoritnya yang berwarna pink-hitam. Terakhir, aku menitipkan setrika yang masih baru di kamarnya dan tak pernah lagi kembali.

-------------------------------------------------------

.... pernah bercanda mengajakku untuk ditraktir ulangtahun olehnya, padahal saat itu aku tidak terlalu mengenalnya. Dia adalah tempatku untuk bertukar lagu-lagu bagus dan kawanku dalam berimajinasi. Aku pernah kesulitan dalam belajar suatu mata kuliah, lalu aku bertanya padanya, dan Ia menjelaskan melalui pesan suara yang mengakibatkan teman-teman terdekatku menggodaku dengannya. Dia pernah tidak mengaku saat ku tebak mengenai perasaannya padaku, namun pada beberapa saat itu pula Ia membelikanku sate kambing ketika aku sakit. Dia pernah mengorbankan uangnya lebih dari Rp 50.000 untuk tidak jadi pulang ke rumah hanya karena ingin menemaniku agar tidak kesepian. Dia mencintai dunia politik, untung dia tidak mencintai poligami, dan beruntung aku masih mencintainya.





*Inspired by: hurufkecil

Tuesday, July 09, 2013

Setengah Apel Di Teras Rumah

Pukul 16.05 WIB

Aku terbangun dari tidur panjang, dengan mimpi indah dalam perjalanan, dan hal-hal yang masih lekat dalam ingatan sebagai buah tangan. Tunggu, seseorang berkata bahwa ini mimpi paling nyata. Jadi, ini mimpi atau bukan?

Berratus juta jengkal yang membuat tunduk batin dan mengakui, bahwa aku resmi dinyatakan lumpuh. Lumpuh oleh jarak. Malu. Dan melalui puisi suka-suka tak tahu aturan (lagipula siapa yang butuh aturan?), aku membuang semua peluh suka, cinta dan duka dalam kata. 

Kalau aku katakan, aku rindu, kamu mau apa?

Aku sakit jiwa. Kamu sadar? Tapi kamu patut berlega hati, setidaknya aku menyadari. 

Ada suasana baru di luar sana, diantara riuh kendaraan dan asap yang mungkin mampu mengalihkan sejenak otakku yang telah memar, walaupun jadi makin lebam. Yah, setidaknya aku bisa bersyukur, bahwa otakku sebelumnya tidak terlalu parah. Apa yang ku dapat? Ah sudah, kamu tak perlu tahu.

Tanpa pesan -- kamu menjadikanku satu. Satu-sendiri. Berpikir dan menanti. Dini hari lalu, ku tinggalkan surat, yang ku tahu belum berbalas. Jadi, ku biarkan pena ada padamu. Aku menunggu surat cinta ke-sekianribu kalinya darimu. Lalu, diantara rentang jarum hitam yang berputar, keliaran pikiranku menjelajah hingga aku hampir limbung dan hilang keseimbangan. Jika semua itu salah, maafkan tingkah pikiranku yang jahat pada harimu. Jika memang itu benar, maafkan tingkah hatiku yang berani cemburu pada dirinya.

Ketidak-beranian ku menghadap kedua telapak tangan, karena banyak sekali yang bisa ku telusuri. Salah satunya bening kaca yang memberikan genangan diri yang lain. Egois. Tahukah kamu, atas kebersamaan ini, melahirkan rasa ego yang begitu dalam terpatri dan siap-siap memakanku kapan saja aku lengah. Ia bagai penyakit mematikan yang rasanya dalam hitungan waktu akan berubah menjadi virus tingkat tinggi. Hatimu milikku. Dan...

Surat kaleng -- banyak gelembung-gelembung kata yang ditiupkan oleh seorang perempuan ke udara. Di sela-sela waktu ketika Ia mampu menghadap langit. Satu penerima, dan hanya satu. Katanya, kamu. Ia memelukmu melalui hawa hangat diantara dingin yang kini menduduki bumi. Jauh jemarinya tak kuasa menyentuhmu, tapi cintanya yang melekat hingga menyatu pada sel-sel darahmu. "Hai gula, bahkan ketika kau merajukpun, aku masih mencintaimu," kata salah satu baris suratnya. Sudah ku silangkan kedua jari, ku katakan padanya aku takkan memberitahu siapa-siapa tentang surat-tanpa-pengirim yang tertuju padamu. Setelah itu, Ia tersenyum dan berlalu.

Aku masih merangkai gambar-gambar membingungkan dan akan selalu membingungkan di dalam pikiranku. Tentang hitam yang menjadi putih, dan putih yang menjadi abu-abu. Nantinya semua kembali menjadi tanya. Kapan aku berhenti bertanya? 


Kepada pembaca (jika ada yang membaca), jangan berlama-lama membaca tulisan ini. Akan selalu ada ketidak-mengertian kecuali yang mengalami. Karena aku tak menyediakan ruang bagi mereka yang memang tidak mengerti untuk menjadi mengerti. Mengapa? Aku pun terkadang tak mengerti. Banyak bagian-bagian yang ku tolak untuk ceritakan. Akhirnya, batu-bata yang bolong itu memberikan bangunan kopong yang tak punya rangka dan jika hancur nanti lagi-lagi meninggalkan....tanya.

Ketika fajar terlelap senja ini, disitulah terbit suara jiwa yang melantangkan cerita-cerita manis pahit yang tak mampu ku pungkiri keindahannya.
Senyum yang lahir di hati pada sore yang teduh ini menjadi payung untuk kisah-kisah selanjutnya, terlebih untuk memayungi jiwamu.



Sudah ya. Selamat sore, sayang :)