Suara dan kata yang dipilin dan dipintal,
terlahir dari lidah yang katanya selalu lapar akan kejujuran.
Telunjuknya senantiasa mengacung,
pada yang ia bilang "makanan yang harus di waspadai".
Padahal, lidah yang lapar itu siang malam beratap dari mulut seorang pendusta.
Ia lari kesana-kemari,
menganak-tirikan serta membela mereka yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri.
Tak jarang matanya mendadak buta,
akan baju yang ia kenakan, akan warna yang ia pegang.
Akan hati yang ia tambat.
Seolah seperti guru agama yang siap menjahit bahkan setitik niat buruk di kulit.
Dari corong bulat itu, ia teriak keadilan.
Ia lupa, yang didalam cermin itu, tak ubahnya seperti maling yang selalu ia perangi.
“Writing, then, was a substitute for myself: if you don't love me, love my writing & love me for my writing." ― Sylvia Plath, The Unabridged Journals of Sylvia Plath
Saturday, April 12, 2014
Rindu yang Tidak Bisa Tidur
Sudah ku larungkan semua yg kau minta
Tiada setitik jasad darimu yang ku punya
Selain nyawa kenang yang masih membayang
Membayang penuh bekas
Tiada setitik jasad darimu yang ku punya
Selain nyawa kenang yang masih membayang
Membayang penuh bekas
Aku mau satu
Mungkin sehelai rambut atau secuil kotoran
Sebagai pelabuhan pertemuan
Supaya rindu yang masih mengilau,
tidak ubah jadi arang
Mungkin sehelai rambut atau secuil kotoran
Sebagai pelabuhan pertemuan
Supaya rindu yang masih mengilau,
tidak ubah jadi arang
Tolong, aku mau satu, pah
Tuesday, April 01, 2014
Cayman Island
In a melancholy evening,
you and I walked to somewhere else.
Searching on something we both don't know.
We took unknown path.
Then we arrived at a place.
Then we arrived at a place.
Simply we drown in silence. Had a bit speechless.
A place where no one knows.
A place where no one knows.
A place where hidden by others.
A place where our heart belong.
I stared at the universe.
I stared at the universe.
Following the flying birds, I can see the times that brought us.
Following the sky, I can see our hearts hold on tight.
Following the water, I can see the future's shadow waving.
Following the wind, I can see your eyes covering my view.
If only they could see,
If only they could see,
if only they had been here,
they would understand.
We got our own home.
We got our own home.
We're the only different.
We paddle our own canoe,
to the place that I call Caymand Island.
20 Februari 2013 - Danau (yang disembunyikan Tuhan)
"KAPAL KERTAS
Masih terngiang jelas rekaman kemarin sore.
Buliran air langit tak jadi turun.
Hausnya batin dan pergerakan roda,
membawa dua hati kembali ke rumah.
Aku dan kamu,
membeku ditelan suasana.
Sapaan alam yang ramah,
menghangatkan jiwa yang hampir koma.
Jendela indah panorama,
memperbaiki hati yang setengah porak poranda.
Dua pasang kertas sengaja ku bawa.
Aku bermaksud merangkai kapal,
untukmu, untukku.
Bersamaan dengan kapal yang dijalankan,
ada cinta dan cita yang ku alirkan.
Pasti kamu tak tahu.
Sampai pada senja yang mencolek pundakku,
tahu tidak,
kakiku terbenam di tanah sana;
mataku terpaku pada angkasa;
hatiku disandera ketenangannya.
Aku tak mau pulang.
Dan aku berjanji,
dengan riang hati akan berkunjung.
Dan satu asa,
semoga lagi bersamamu."
Masih terngiang jelas rekaman kemarin sore.
Buliran air langit tak jadi turun.
Hausnya batin dan pergerakan roda,
membawa dua hati kembali ke rumah.
Aku dan kamu,
membeku ditelan suasana.
Sapaan alam yang ramah,
menghangatkan jiwa yang hampir koma.
Jendela indah panorama,
memperbaiki hati yang setengah porak poranda.
Dua pasang kertas sengaja ku bawa.
Aku bermaksud merangkai kapal,
untukmu, untukku.
Bersamaan dengan kapal yang dijalankan,
ada cinta dan cita yang ku alirkan.
Pasti kamu tak tahu.
Sampai pada senja yang mencolek pundakku,
tahu tidak,
kakiku terbenam di tanah sana;
mataku terpaku pada angkasa;
hatiku disandera ketenangannya.
Aku tak mau pulang.
Dan aku berjanji,
dengan riang hati akan berkunjung.
Dan satu asa,
semoga lagi bersamamu."
Subscribe to:
Posts (Atom)
