Wednesday, January 30, 2013

Hujanmu

Ramainya butiran air langit yang jatuh,
menyamarkan detak jantung yang berdegup tak menentu.

Aroma tanah yang menyeruak,
seakan menenangkan batinku yang kehilangan aroma tubuhmu.

Embun dingin diluar sana menyelimuti pikiranku,
yang dalam sendu menjamah bayangmu.

Derasnya aliran diatas bumi,
membantuku merangkai paduan nada membentuk suaramu.

Kurasa ini hujanmu;
Kurasa ini untukmu.

Selamat tidur, rindu.

Friday, January 25, 2013

Kotak Pilu

Saat ini, sebuah kotak yang ku bawa semakin menganggu.
Kotak besar, gelap, dan penuh pilu.
Awalnya aku mudah menaklukkan.
Mengelusnya perlahan, membelainya lembut.
Dengan mudah ia menjinak, dengan mudah ia melunak.

Semakin hari semakin buas.
Terkadang berhasil menguasainya,
walau berakhir dengan goresan;
terkadang menyerah dibuatnya,
dan diakhiri selimut air mata.

Aku tak punya kuasa, aku tak punya apa-apa.
Tanganku hampa oleh daya, hatiku hampa oleh asa.

Teriakan ku terlalu pelan,
tak akan ada yang mendengar.

Ku sadari, tiada sandaran ku miliki,
seutuhnya.
Benar, tak ada yang melindungi.
Benar, aku berjuang sendiri.

Aku berjuang bangkit dengan kakiku sendiri.
Aku berjuang mencari obat perihku sendiri.
Aku berjuang menyembuhkan sakitku sendiri.
Dan aku berjuang kembangkan senyumku sendiri.

Ku tundukkan kepala dan ku peluk kain pelapis satu-satunya,
sedalam-dalamnya aku memejamkan mata.

Akhirnya, dalam isakan, aku berdoa,
memohon genggaman,
memohon pelukan
memohon kekuatan.

Wednesday, January 23, 2013

Mimpi Dalam Sampan

Ada masa dimana aku bermimpi,
bersama seseorang yang tak asing.
Seseorang yang hadirnya kurindukan di masa depan,
seseorang yang kelak menjadi pemimpin buah hati,
seseorang yang ku cinta.

Kami berada dalam sebuah perahu sampan,
bergerak merengkuh senja,
berdua, bersama.
Berbagi suka tawa, canda merayu, dan cacian mesra.

Romantisme kala itu nyata.
Ditemani bisikan air yang seirama gerak sampan,
disaksikan awan sore dan hewan-hewan yang sunyi bersembunyi,
dibelai lembut oleh angin yang mendayu kian kemari.

Bergetar hatiku memikirkannya,
surga duniawi di sisi lain keruhnya realita.

Aku memuja tempat itu, aku memuja saat itu.
Dan diantara jatuhnya satu-dua bintang,
semoga sang pemuja dapat bertemu pujaannya.

Monday, January 21, 2013

Untitled-2

Ketika "Aku sangat mencintaimu" menjadi sesuatu hal yang paling sulit aku katakan, aku minta angin untuk merekamnya.
Ketika "Aku sangat mencintaimu" menjadi sesuatu hal yang paling sulit aku katakan, aku minta angin untuk merekamnya, dan menyimpannya.
Ketika "Aku sangat mencintaimu" menjadi sesuatu hal yang paling sulit aku katakan, aku minta angin untuk merekamnya, menyimpannya, dan membawanya.
Dan ketika suatu hari nanti aku tiada lagi di benakmu, aku minta angin untuk menyampaikan apa yang ia bawa dan mengatakannya berkali-kali sebagai rekaman apa yang ada hari ini..

Untitled

Takdir yang sesungguhnya berada dalam keabu-abuan,
kian jelas dengan jalan yang dipilih.
Aku kembali berpikir,
kembali terdiam,
kemana luapan 'kepedulian' akan bermuara?

Mungkin ini ke-sekian kali aku ingkar janji;
atas konsistensi untuk bertahan di hari ini.
Namun bukan tanpa sebab aku melirik esok hari.

Canda tawa pangeran berkuda dan sang putri,
yang telah berjanji hidup setia kini, esok, dan sampai mati
Semuanya sungguh menyayat hati.
Dan masih tak habis pikir,
bibir ini masih mampu tersenyum memalsukan perih.

Maafkan aku, tuan.
Aku hanya tahanan yang kau pelihara dan tahu suatu saat akan dibuang,
dan dilupakan.

Maafkan aku, tuan
Jika kehilangan adalah proses mencintai,
maka seharusnya aku berani kehilangan mu,
karena aku berani mencintai.

Diantara redup daun putri malu,
aku yang paling berani mencintaimu,
tapi maafkan aku tuan,
ternyata aku tak berani kehilangan dirimu.

Saturday, January 19, 2013

Sadturday


I'm pretending to smile, I'm pretending to laugh.
I hold my tears, then my heart beats faster.
I can't even breathe
I feel alone in the crowd.
I feel cold tonight.
I got no one to talk to,
I got no one to share,
'cause I can't even find a way to start.

I see a movement of explosion.
Yes, I see a massive explosion gonna be.
I'm gonna explode. And it's massive.

The most fragile part of mine is completely broken, tonight.
Some people are still in war, someone lied to me.

Now that fragile thing turns into dust.
How can you fix it?

Anybody can fix it?

Friday, January 18, 2013

Elegi Seorang Saksi

Aku bingung,
melirik ke fenomena sebuah pertalian dari yang dulunya sepasang kekasih;
Apa yang sebenarnya dulu mereka janjikan?
Apa yang sebenarnya dulu mereka lihat?
Mereka buta? Tidak?

Di awal peradaban, kumbang dan kupu-kupu begitu riang menghinggapi bunga cantik nan harum.
Siang malam berganti, seharusnya bunga masih cerah, tetapi perlahan gugur.
Belum waktunya kiamat, bunga itu sudah hancur,
tinggalah batang yang kurus kering, bersama anak lebah yang enggan mendekat.

Dengan mata telanjang, aku menjadi saksi
perang tiada henti,
penjajahan tak terkendali,
penyiksaan batin, pembunuhan karakter, pembatasan ruang gerak;
juga seperangkat kalimat meluncur membombardir bagian terrapuh seorang jiwa.
Aku menjadi saksi, tapi aku tak bersaksi.

Serangan halimun dikeluarkan Kutub Utara,
sungguh mensunyikan.
Kutub Selatan tak berkutik.
Bumi kehilangan sang surya, tak ada cahaya.
Dari radio rusak, nada berbahasa sengaja digaungkan.

Aku sedih.
Dua kata konklusi ini cukup menjadi penutup.
Semoga nanti tak ada lagi yang tersakiti. Walau rasanya tidak mungkin

Tuesday, January 15, 2013

:):

Ada gumpalan kerisauan yang terus menyesakkan dada. Ini bukan sajak, ini curahan.
Tak pernah aku seapatis ini. Aku mengapatiskan diri pada suatu hal yang tak bisa aku tangani. Semua diluar kekuasaanku, dan suaraku tak dibutuhkan

Ini tentang kehidupan kami. 

Aku mengenakan topeng ketidakpedulian dan berkicau ceria. Ku buang jauh-jauh rasa gundah yang hampir-hampir merusak ukiran topeng ini. Aku menyumbat telingaku kuat-kuat. Aku tahan linangan air mata yang sewaktu-waktu meronta keluar. Aku sendiri di baris belakang, menjadi pengamat. Aku mengamati, dan berdoa akan adanya pergerakan. Kesedihan melanda ketika ternyata pergerakan belum juga menandakan keberadaan.

Aku risau, gundah, sesak. Mereka bercerita kegundahannya pada seseorang yang berusaha menelan habis kegundahannya sendiri. Mereka tidak tahu bahwa mereka bercerita pada seseorang yang setiap hari terus berusaha mengendalikan nafasnya agar tetap bertahan dari kehidupan, tetap bertahan dari rasa abu-abu yang selalu mencoba mematikan. Seseorang ini menelan dua buah bongkah karang resah, bulat-bulat, seorang diri.

Jika boleh meminjam pintu, aku ingin pergi ke suatu tempat tak ada siapapun. Hanya aku dan alam, hanya aku dan binatang tak berakal, hanya aku dan tumbuhan penuh warna. Itulah mengapa kesendirian kadang menyenangkan. Itulah mengapa terkadang aku menyukai kesendirian. Walau dibalik kesendirian aku disiksa bayangan keresahan, tapi dibalik kesendirian itu pula aku didamaikan oleh kekosongan.

Pertanyaanku, jiwa mana yang bisa mendengar suara lirih ini dengan jelas?

Never Ending High School Memories

Diantara dinginnya kamar, nyamannya kasur, dan tenangnya hari di Selasa sore ini, gue berpikiran untuk posting tentang masa-masa SMA. Tetiba keinget karena selesai nonton You're The Apple of My Eye.

Masih terekam jelas gimana gue bisa menghabiskan masa-masa kelas 1 SMA. Dengan segala suka duka yang ada. Gue enggak pernah nganggep semuanya duka; semuanya suka. Suka cita. Gue bukan anak bandel pada saat itu. Ya cuma belajar, main. Cerita lainnya paling cerita persahabatan yang keren banget, dan cerita cinta pastinya :p

Masih enggak habis pikir sampai detik ini sewaktu kelas 1 SMA gue punya geng bernama "D'Jambaners". Plis banget jangan tanya gue tentang filosofinya. Jadi geng dengan sebutan "Jembi" ini berisikan 10 orang dengan nama masing-masing yang sangat memalukan, sama kaya kelakuan orang-orangnya. Jembi ini suatu saat bisa berubah nama jadi "Pasukan Berani Jajan". Pasukan ini bekerja ketika di jam-jam kosong enggak ada guru atau pas gurunya lagi keluar kelas sebentar, kita langsung ngacir ke kantin dan bawa jajanan masuk ke kelas padahal sang kalas (re: kacung ketua kelas) udah wanti-wanti biar pada makan diluar, tapi teteeep aja. Dan yang gue enggak habis pikir, temen-temen yang lain mendaulat gue sebagai ketua PBJ. Prestasi (tidak) membanggakan.

Kalo melirik ke kisah cinta nih, ada satu orang yang dulu tanpa disadari menjadi spy. Wah itu salah satu moment ter-gak-nyangka juga sih. Berlangsung beberapa bulan lamanya tanpa ada peresmian. Dia menyatakan. Sebenernya gue juga cukup nyesel kenapa dulu juga enggak bilang. Yah intinya gitu deh. Lalu kami hilang kontak dan ketemu tiba-tiba di chat facebook. Masih inget moment kelas 2 SMA dimana kelas dia menang lawan pertandingan dari kelas gue. Karena sebelumnya kita tebak-tebakkan siapa yang menang, lewat chat itu juga. Senyum simpul gaya khasnya rasanya kaya nampar gue di seberang lapangan, dan kami beradu pandang sambil tertawa. Enggak ada yang sadar. Dan gue masih inget semuanya. Gue menyebutnya "moment lapangan".

Berbeda di kelas 2, gue berpisah sama Jembi. 2 dari 10 memutuskan ke IPS, sisanya ke IPA. Dari sejak itu kita jarang main. Udah enggak ada lagi yang namanya tiap pulang cepet langsung enggak pake mikir cabut ke XXI. Jadwal kita udah beda. Dan teman bergaul juga beda. Dan lucunya di kelas 2 ini gue kayanya enggak deket sama siapa-siapa ahaha. Risty siswa baru yang waktu itu di kelas 1 SMA, dalam kurun waktu setahun banyak banget deket sama cowok. Dari kakak kelas sampe seangkatan. Anjir gue aja bingung. Dan kakak kelas itu semuanya 2009 yang notabene beda 2 tahun. Okelah never mind.

Di kelas 3 SMA ada orang lain yang sudah merebut hati, dan ini resmi. Setahun perjalanan kelas 3 ini ditemani dia hingga gue kuliah. Jatuh bangun urusan mental gue alamin di tahun ini. Permasalahannya enggak jauh-jauh dari urusan perguruan tinggi. Capeknya fisik dan batin juga ada. Tapi disini juga enggak terlupakan. Ini tahun terakhir dimana Alience semua berubah jadi kekanak-kanakan. Kaya enggak mau jadi dewasa, tiap jam istirahat sekolah ada aja ulahnya. Yang paling bikin kangen ya itu sih, nyebur-nyeburin anak-anak. Niatnya nyeburin yang ulang tahun, tapi lama-lama merembet yang lagi cengo enggak salah apa-apa tau-tau ditarik, diangkut, diceburin ke kolam depan health center. Yang ranking 1 juga diceburin. Yang ulangan dapet bagus juga suka dapet ancaman diceburin. Wah gila hidup enggak aman banget. Kami, Alience, minoritas dominan. 42 orang rasa 80 orang; ya powernya; ya bacotnya. Dan gue bangga banget bisa jadi bagian dari mereka, calon-calon orang sukses :)

Dan kuliah? Wah harus gue akuin hidup gue berubah 180 derajat disini. Terlalu banyak rasanya buat bisa diceritain. Dari hidupnya, temen-temennya, rasa kekeluargaannya, dosen-dosennya, kampusnya, love life-nya. Semuanya.

Kalo boleh berangan-angan, gue mau balik ke SMA lagi. Kalo ngikutin teori di Organisasi Manajemen Bisnis, disitulah tahap gue berkembang, dan mulai berubah di tahap perkuliahan ini. Cheers for high school memories! :D

Saturday, January 12, 2013

10 Januari 2013

Tanggal 10 Januari 2013 kemarin entah kenapa jadi salah satu dari sekian banyak hari menyenangkan yang gue alami. Mungkin karena jadi hari terakhir UAS juga di smester 3. Tapi kayaknya enggak se-sederhana itu deh.

2 hari perubahan terlalu ekstrim sempat gue lewatin di sebelum tanggal 10 itu. Mungkin karena udah terlalu terbiasa dan rasa nyaman yang dirasa, yang akhirnya ngebuat gue jadi kacau dan kehilangan dan nelangsa dan menyedihkan dan sedikit malu-maluin kayaknya. I have to admit, I'm lost

Mungkin orang lain enggak tau apa yang terjadi, ya enggak penting juga sih mau tau atau enggak. Tapi gue yang ngalamin, ngerasa beberapa hari kemarin itu kaya jungkir balik. Dan di tanggal 10 itu semua kembali dan rasanya bersyukur dan bahagia enggak ketulungan. Beberapa pihak yang enggak ngerasain mungkin nganggep semuanya berlebihan; tapi enggak perlu lah ditanggapin.

Menyadari bahwa proses kehilangan adalah salah satu hal dari sekian banyak hal yang menyakitkan. Kemarin-kemarin gue coba menghalau segala cara buat menolak rasa kehilangan yang datang, tapi enggak bisa, sama sekali :') sepintar-pintarnya gue menutupi apa yang dirasa, tapi pasti ada bagian dimana gue enggak bisa memungkiri untuk menutupi dan jadi kaya dead woman walking. Lalu ketika akhirnya kami kembali, gue bisa ngerasain rasa kayak seorang Ibu yang udah lama kehilangan anaknya, atau seorang sahabat yang atas nama waktu harus berpisah dan atas nama waktu pula mereka kembali, atau mungkin seorang pasangan yang udah lama pacaran terus putus terus menemukan jalan lagi; seneng banget; informal tapi terikat.

Ada beberapa hal yang gue rasa selama satu hari itu, macem-macem dan semua kumpul jadi satu. Tapi yang gue enggak habis pikir sih tentang beberapa kebetulan. Kebetulan yang lucu namun direncanakan.Ya bukan direncanain gue yang jelas -_-

Pada hari itu semesta berkonspirasi, mengaitkan kami. Mulai dari mimpi yang jadi kenyataan; buka pager kosan dan cengo tapi pura-pura kalem karena baju kita warnanya sama; langit yang kayanya enggak tahan pengen bocorin hujan tapi karena ada kita seakan mereka jadi menahan semuanya; surat dengan pena pinjaman darinya yang seharusnya enggak diketahui malah entah kenapa bisa sampe di gue; dan kayanya masih ada tapi itu yang paling mencolok.

Mungkin keliatannya sederhana, tapi menurut gue sih enggak. Terlalu banyak kebetulan hanya dalam sehari, gimana gak gue amazing coba? Sekarang semuanya kembali. Gue kembali ceria, kembali seperti sedia kala, dan entah sampai kapan. Semuanya balik lagi jadi lucu, setelah beberapa hari dunia seakan kehilangan hal-hal yang bisa ditertawakan.

And I officially thank to the universe. That day really belongs to me.We belong to that day! :D