Suatu hari, kau mendapatkan sebuah rumah. Pernah membayangkan kau didatangi rumahmu sendiri? Aku mengalaminya.
Pintu coklat kayu yang harum, dengan gagang yang terbuat dari emas putih, berkilau. Kau masuk didalamnya. Lukisan-lukisan abstrak penuh arti menggantung di dinding. Baru beberapa langkah kau menginjakkan kaki, tiba-tiba sebuah planet melintas di langit-langit rumah barumu. Kau menganga, penuh tanya. Rumah macam apa ini? Tak lama kemudian berbuah-buah potong lagu mengalun indah mengelilingi seantero ruangan. Rumahmu penuh suara, suara lagu yang asing namun tak asing.
Kau menyelinap ke dapur, keringnya kerongkongan menggugahmu mencari penghilang dahaga. Gemericik air yang tak henti-henti dialirkan oleh gading gajah berlubang, entah berasal darimana. Batuan kristal menghiasi lantai bawah. Air yang kau minum ternyata memiliki rasa gurih dan menyegarkan. Potongan cerita menarik dari sudut yang tak terjamah kawan.
Lambat-lambat kau berjalan menuju koridor, ditemani cahaya biru dari lampu-lampu kecil yang berada di atapnya. Belum habis takjub akan air gurih tadi, kau sudah kembali terkaget dengan taman minimalis yang luar biasa menakjubkan. Jalan setapak yang kau pijak bertabur permen-permen mungil berwarna-warni. Jalan itu menuju ayunan beralaskan bantal-bantal besar berbulu nan empuk dengan buku-buku yang beberapa sudah terbuka berserakan rapi diatasnya. Taman itu dikelilingi sebuah pohon apel serta kincir angin dengan sebuah angklung terpaut disebelahnya. Taman dengan langit malam diatasnya. Langit dengan taburan layang-layang yang menyala indah layaknya lampion. Bisa kau bayangkan ada layang-layang dengan ukiran puisi di tubuh kertasnya dan meliuk indah di angkasa? Lucunya, beberapa layang-layang ada yang berhias rumus-rumus.
Sambil memungut permen tersebut, kakimu membawamu kepada ayunan. Kau mengistirahatkan batin, membaca buku-buku sambil sesekali menatap gemintang. Kincir angin terus berputar. Badanmu mulai merebah, matamu kian mengatup, kau mulai tertidur. Selimut berbahan bludru yang lembut terbang menghampiri dan memelukmu.
Berbulan-bulan lamanya kau tinggal di rumah itu. Rumah misterius yang setiap hari menawarkan kisah kasih yang tak mampu kau ragukan. Pergi menjauh darinya membuatmu tak sabar ingin kembali. Tak peduli apa yang sekitaran caci dan maki, kau tahu yang terbaik dari rumah itu. Tak peduli beberapa sudut kamar yang hitam kelam sisa cerita masa lalu, yang kau lihat adalah wujud nyata saat ini dan paling tidak esok hari. Rumah itu hidup, hanya kau yang mengerti. Kau pun hidup, dan rumah itu pun mengerti.
Kau menjadi dirimu sendiri di dalam rumah itu. Rumahmu memahami segala tindak-tanduk, tingkah-pola mu bak anak kecil yang lompat-lompat kegirangan di satu waktu, dan sendu terpuruk di waktu lainnya. Kau memahami rumahmu yang tiba-tiba mampu berubah menjadi langit siang Sahara, dan selanjutnya berubah menjadi langit aurora.
Namun entah meteor darimana menghantammu, memaksamu keluar dari rumah. Kau tak mau. Kau tak mampu memberontak, kau berurai air mata. Dilema akan suatu hal membayang-bayangi dirimu. Beberapa orang asing mulai menawarkan rumahnya padamu, namun rasanya kau tak ingin. Kau menyayangi rumahmu sepenuh hati.
Kau memperhatikan pigura di ujung rumah. Ada foto seorang gadis kecil, lugu, tak berdosa. Kau memperhatikannya, dan (kembali) tersadar, ternyata ia lah sang pemilik rumah. Daya tahan kakimu mulai melemah, kau jatuh tersungkur. Kau tak bisa selamanya di rumah yang kau angankan menjadi tempat terakhirmu beristirahat. Jauh khayalmu. Kau tertipu.
Akhirnya, sambil enggan kau pun melangkahkan kaki keluar rumah. Kau duduk termangu di depan pintu. Masih terduduk hingga kini. Tak tahu arah. Berharap pintu itu membukakannya untuk sekali-kali minta kau kunjungi. Atau jika tak akan lagi terbuka, maka mungkin kau yang harus pergi.
Coba sekarang kau bayangkan, bagaimana rasanya mengistirahatkan hatimu di dalam rumah yang ternyata bukan milikmu?