Sunday, March 24, 2013

Mentari Rindu

Baris-baris memori tersusun kembali. Secara nyata rekaman perjalanan terputar lambat-lambat. Aku menemukan diriku terjebak dalam sebuah petualangan, petualangan kita.

Di suatu hari yang cerah, kaleng mesin berroda mengirim kita menuju rumah kedua. Kota persinggahan dimana kita pertama kali bertegur sapa. Ku pastikan saat itu akan menjadi perjalanan paling menyenangkan yang pernah ada.

Dibalut perbincangan yang menghangatkan, tanpa takut hari esok yang mungkin berubah kelam. Ku lihat jelas-jelas lengkung sabit di bibir kita berdua. Bercengkrama dibalik jendela dengan tangan mengunci satu sama lainnya. Ku tatap dua bola matamu, berbinar, memantulkan sinar matahari yang menyusup dari balik kaca. Kedamaian batiniah, dari seorang antah berantah. Aku jatuh cinta.

Rasa yang terjalin senyatanya semakin mengakar kuat. Aku merasakannya. Seolah-olah Tuhan mengawinkan perasaan kita, tanpa peduli pada masa depan yang menari penuh kekonyolan.

Ditariknya kembali menuju masa kini. Mentariku bicara cinta. Hati dan pikiranku dipeluk oleh bayang-bayang perjalanan kita. Tak ku sangka, juga tak kau rasakan, ku dapati diriku merindukanmu sejak pagi buta.

Saturday, March 23, 2013

Tanyaku

Akankah kau ikut menggenggam bunga mawar berduri ini bersamaku?

Friday, March 22, 2013

Untitled-5

Lagi, senja di waktu lalu menelanjangi pikiranku, begitu liar. Ditariknya diriku, dibenamkannya menuju palung langit paling dalam. Sekarat dalam tanya, mati sesaat.

Ku raba sekujur dinding paling rapuh yang ada dalam diri, ia terbujur kaku, membeku.

Darimu, linangan air mata berbalut kata meluncur penuh kegetiran. Ku sadari pisau tajam menghunus relung hatimu. Dengan mata tertutup, pisau itu terlempar. Tanganku bergetar. Ku tahu kau terluka. Sekarang tak ada lagi darah, yang ada hanya lubang-lubang.

Satu hal yang entah kau ketahui atau tidak, aku selalu menggenggam sebatang bunga mawar di balik saku. Aku suka mawar ini. Harum mewangi, namun berduri. Setiap hari ku cuci saku dan tangan, menghilangkan darah karena gesekan duri-duri. Itu harga yang harus ku bayar hanya untuk mencicipi harumnya bunga. Satu yang ku harap, semoga telapak tanganku tak habis karenanya.

Jika boleh ku berandai, ku ingin kau lantangkan bait-bait tanya pada kotak persegi panjang ini. Ia lah mata kedua dari Tuhan. Ia menerjemahkan segala bahasa tanya, lara, juga suka yang kau pun dunia tak cermat melihatnya. Aku tak perlu beralibi, ia kan bersaksi.

Di baris terakhir, jika kau ingin melangkah, aku tak akan menahan. Dan bunga mawar ini akan ku tanam, tak akan ku buang.

Tuesday, March 19, 2013

Untitled-4

Aku kirimkan tanya pada udara, karena disana tempat berkumun segala kata dari rasa yang tak pernah terjawab. Berharap gumpalan-gumpalan debu paling tidak menyuarakan pendapatnya membantuku mencari makna dari lorong hidup yang ku lalui, membantuku mencari makna dari setiap jejak yang ku tinggali.

Aku kirimkan senyum pada air di sungai, karena disana kau dapat melihat dirimu bercermin membentuk wajah diriku. Kau akan terpaku pada bayanganku dan membuahkan bongkah rindu yang akhirnya mengantarkanmu hanya padaku.

Aku kirimkan cinta pada setiap sentuhan, karena disana aku dapat meninggalkan sejuta asa nan halus untukmu dan masa depan. Pengharapan akan mengertinya dirimu untuk kata yang tak terucap. Pengharapan di suatu hari nanti kau mampu pahami yang mungkin tak kau pahami sekarang. Pengharapan akan mengertinya dirimu untuk segala rasa yang ku curahkan.

Aku kirimkan rindu pada semesta, karena di ruang itu kita dapat menghela napas yang sama. Kau dan aku bersatu dalam megahnya alam raya. Kehadiran Tuhan disana sebagai saksi terbesar akan hati dan cinta yang paling tulus. Burung maya yang ku rangkai akan terbang menujumu. Satu canda, satu kata, satu jiwa, satu cerita. Paling tidak, udara di sekitar menggaungkannya jika kau tiada di pelupuk mata.

Wednesday, March 13, 2013

Aku

Bagai telur monster laut,
kau akan terlihat kuat diluar,
didalamnya kau lemah seperti bayi.
Tapi tenang,
kau akan tumbuh lebih kuat dan anggun.

Bagai badut yang membawa beban hutang,
kau menghibur semua orang,
namun sebagian dirimu larut dalam keheningan.
Tapi tahu, tawa itu tidaklah palsu.

Bagai pengelana yang terhempas oleh musibah,
kau kebingungan mencari rumah tinggal.
Dimana rumahmu sekarang?

Bagai hujan yang membasahi bumi,
diam-diam ia menyejukkan rumah sang pujaan hati.
Kau akan terlihat berbaur dalam keramaian,
diam-diam kau menyimpan seseorang dalam hati.

Bagai tangan yang menggenggam angin,
kau meraih sesuatu kesana kemari.
Namun kau bertanya sendiri,
sebenarnya apa yang kau cari?

Tuesday, March 12, 2013

!?

Tiba-tiba dari relung hati terdalam aku bisa merasakan ketakutan yang luar biasa. Sampai rasanya aku ingin kabur namun entah kemana. Aku ingin bersembunyi tapi itu mustahil.

Ketakutan yang memasung keceriaan, ketakutan yang menjerat pikiran.

Ketakutan aneh yang sebelumnya tak pernah singgah, sekarang seperti pemburu yang kelaparan membabi buta mencari mangsa.

Aku akan berusaha melawan, atau di langkah yang tak terduga aku juga menerimanya.

Namun saat ini, di tengah kekalutan akan ketakutan ini, aku harus apa?

Sunday, March 10, 2013

Orang Ketiga Mahatahu

Ada sebuah kisah menarik yang saya perhatikan. Tak peduli ini kisahnya siapa, tapi saya yakin pasti banyak yang mengalami.

Ini cerita mengenai seseorang yang mencintai orang lain yang sudah dimiliki dan memiliki. Saya posisikan seseorang ini adalah seorang wanita.

Terlepas dari apakah lelaki yang ia cintai itu tahu atau tidak mengenai perasaannya, wanita ini tetap tidak akan bisa berbuat apa-apa. Sedalam apa ia mencintai, sedalam mana ia mengagumi.

Kalaupun lelaki itu mengetahui, memangnya ia mau bagaimana? Tetap ada bagian-bagian yang tak bisa ia bagi, ia ceritakan. Seperti ketakutan akan kehilangan. Kalau dipikir-pikir, rasanya terlalu naif menyoalkan kehilangan, karena dari awal ia mencintai, ia langsung berhadapan dengan cepat-atau-lambat tentang kehilangan. Ia tidak kehilangan lelaki tersebut sebagai teman, tapi kehilangan lelaki tersebut sebagai...

Saya buka lagi bagian selanjutnya, bagian menyedihkan (lainnya). Konsekwensi lain dari wanita ini adalah mengalami cemburu yang permanen. Saya merasa lucu ketika wanita ini mencemburui kekasih dari lelaki yang ia cintai. Sakitnya luar biasa. Saya coba telaah, sakitnya ini diperoleh karena perasaannya yang terlampau dalam, dan-atau rasa sedih yang tak bisa ia keluarkan. Benar, memangnya ia mau bagaimana? Memberitahu si lelaki kalau ia cemburu? Cemburu pada takdirnya? Memangnya wanita ini siapa? Mau marah, tidak bisa. Mau sedih, ya dimakan sendiri. Mau cemburu, ya ditelan sendiri. Mau ikut bahagia? Ah munafik.

Di sisi lain, wanita ini selalu mencoba memposisikan diri, baik jadi si lelaki atau si kekasihnya sendiri. Ternyata semuanya memiliki bagian-bagian menyedihkan dan menyenangkan masing-masing. Hanya saja, kesedihan dan kesenangan wanita ini akan selalu tersimpan dan tak mungkin terjamah orang lain. Saya tambahkan, begitu juga dengan lelaki yang mencintai wanita ini, jika memang keadaannya begitu.

Saya buka lembar berikutnya, mengenai kebahagiaan yang ia terima. Ia pasti akan bahagia ketika lelaki ini disampingnya. Pasti. Detail-detail menyenangkan yang mungkin tak terpikirkan si lelaki pasti akan sangat ia syukuri. Tapi saya coba posisikan diri, rasanya bisa dirasuki kesedihan ketika ia dihadapkan pada kenyataan "haram atau tidak". Aduh pasti rasanya rumit ya..

Kalau dipikir-pikir, setiap langkah yang bisa diambil oleh wanita ini semuanya adalah jurang. Yang satu adalah jurang terjal dengan hamburan batu-batu yang tajam, yang satu lagi adalah jurang agak landai dengan batu-batu yang berselimut pasir dan tanah. Semuanya menuju lubang. Semua jalan menuju dirinya yang terperosok. Ya begitulah.

Jadi, bagaimana menurut kalian? Pernah mengalami? Atau ingin coba mengalami?

Saturday, March 02, 2013

Cerita Kala Senja

Berjumpa lagi dengan sore, dimana alam terlihat begitu ramah dalam kesejukannya yang menenangkan. Aku memutuskan berjalan ke sudut kota, dan tidak sendiri. Aku berkelana bersama pikiranku yang sibuk bersuara tanpa mau diam bahkan untuk sepersekian detik.

Tanpa membawa sepotong benda di saku, aku melenggang dengan tenang. Seakan aku ini pengelana tak tahu arah dan memasrahkan seluruh nasib dan takdir hanya kepada angin yang berhembus.

Aku menengok ke lapangan milik para hewan bersayap, dan menemukan beberapa dari mereka mengudara, sambil menunjukkan padaku tempat yang layak untuk (benda di kepala)ku. 

Dengan takjub, mataku berbinar. Mereka mengantarku pada sebuah taman yang cukup jauh dari sentuhan asap kota. Ada kolam ikan besar dengan air mancur diatasnya, dikelilingi rumput-rumput hijau segar rapi. Bangku-bangku kayu menyebar terpisah layaknya kismis diatas kue bolu. Terdapat satu pohon besar yang dapat kurasakan denyut nadinya, seperti penjaga gerbang menuju dimensi khayalan. Aku duduk di salah satu bangku, menyandarkan bahu, dan menyapu keadaan sekitar. Suasananya tenang. Aroma khas pegunungan sepertinya baru saja ku hirup, atau aku hanya sedang berhalusinasi berlebihan. Dengan jelas aku bisa melihat butiran-butiran buah cherry tertidur manis di atas rumput, dilengkapi dengan para burung gereja yang seakan memperhatikan kedatanganku dan ingin mengenal siapa diriku.

Jika pikiranku adalah mesin otomatis, bisa ku pastikan untuk beberapa saat, ia berhenti sejenak secara tiba-tiba oleh sesuatu yang tak terduga, dan setelah itu secara otomatis kembali bekerja layaknya sedia kala. Ya, pikiranku (sempat) diam tersandera, dan tak lama ia kembali bersuara. Lalu aku tenggelam dalam lautan ingatan.

"Permisi mbak..", setitik suara yang berat membuyarkan lamunanku begitu cepat. Tiba-tiba seorang bapak paruh baya duduk disampingku sambil membawa sapunya. "Jangan melamun mbak, walau tempatnya enak buat melamun, hehe," kata si bapak sambil terkekeh. Aku tersenyum.

"Bapak yang suka nyapu disini?"
"Iya mbak. Saya suka sapu daerah sini tiap pagi dan sore. Saya baru lihat mbaknya main kesini. Baru pertama kali?"
"Iya pak. Saya baru tahu ada tempat kaya gini, hehe. Tempatnya menyenangkan ya pak. Dan menenangkan,"
"Betul mbak. Saya juga kadang lari kesini kalau lagi ada masalah, tapi saya juga enggak lupa untuk bagi kesenangan saya disini,"
"Tempat pelipur lara dan pembagi suka cita dong pak?"
"Iya bener. Mbaknya mukanya sendu banget,"

Aku terdiam sejenak, dan menghembuskan napas.
"Saya ada beberapa pikiran pak yang buat hari saya jadi abu-abu kaya tembok semen. Saya enggak pengen melakukan apapun. Saya enggak tahu apa saya sedih atau enggak, tapi yang saya bisa pastiin sekarang, saya sedang enggak bahagia, entah kenapa,"
"Wah mbak. Tenangkan diri. Saya emang enggak tahu masalah mbaknya, tapi yang bisa saya kasih cuma saran ini; mbak enggak perlu sibuk cari kebahagiaan untuk diri mbaknya sendiri, tapi coba buat orang lain senang dan bahagia. Rangkai tawa di wajah mereka, dan pasti mbak bisa rasakan kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan mbak juga, apalagi senyum mereka itu mbak yang buat. Seperti saya yang nyapu disini dengan senang hati, karena saya ingin lihat mereka yang berkunjung kesini bisa senang karena taman ini bersih. Contohnya kaya mbaknya yang kaget juga. Hehehe,"

Aku selami makna kata-kata tukang sapu tersebut. Bapak yang baik dan bijaksana. Ku lemparkan tatapanku dari mata bapak menuju udara. Bapak itu ada benarnya juga.
"Waduh pak. Saya berasa dapet ilham, beneran. Sampai enggak tahu balesnya mau gimana. Makasih pak!"
"Haha enggak usah makasih mbak. Lain kali kesini lagi. Tapi ingat, jangan pas susahnya saja mbak hehehe," bapak itu tertawa lepas. Bisa ku lihat, aku sedang berhadapan dengan orang asing yang menyenangkan, dan kebetulan atau tidak, ia memang ada untuk membenahi isi kepalaku yang sedang carut marut.
"Iya pasti pak tenang saja hahaha,"

Kalimat sederhana yang begitu penting. Ku tanamkan lekat-lekat di hatiku. Sambil menunggu senja padam, ku ayunkan sedikit pikiranku menuju hal lain, walau tersisa banyak yang masih terpasung.

Dan ku putuskan pada kesempatan itu, ku habiskan seluruh hidupku disana ditawan pemandangan. Aku sedang membahagiakan diriku dengan cara yang lain, mengikuti kata si bapak. Aku membahagiakan Pencipta karena mensyukuri keagungan-Nya, dan ternyata dari sanalah, aku bahagia.

Friday, March 01, 2013

..........

A tremor can cause friction then ended by fracture.