Berjumpa lagi dengan sore, dimana alam terlihat begitu ramah dalam kesejukannya yang menenangkan. Aku memutuskan berjalan ke sudut kota, dan tidak sendiri. Aku berkelana bersama pikiranku yang sibuk bersuara tanpa mau diam bahkan untuk sepersekian detik.
Tanpa membawa sepotong benda di saku, aku melenggang dengan tenang. Seakan aku ini pengelana tak tahu arah dan memasrahkan seluruh nasib dan takdir hanya kepada angin yang berhembus.
Aku menengok ke lapangan milik para hewan bersayap, dan menemukan beberapa dari mereka mengudara, sambil menunjukkan padaku tempat yang layak untuk (benda di kepala)ku.
Dengan takjub, mataku berbinar. Mereka mengantarku pada sebuah taman yang cukup jauh dari sentuhan asap kota. Ada kolam ikan besar dengan air mancur diatasnya, dikelilingi rumput-rumput hijau segar rapi. Bangku-bangku kayu menyebar terpisah layaknya kismis diatas kue bolu. Terdapat satu pohon besar yang dapat kurasakan denyut nadinya, seperti penjaga gerbang menuju dimensi khayalan. Aku duduk di salah satu bangku, menyandarkan bahu, dan menyapu keadaan sekitar. Suasananya tenang. Aroma khas pegunungan sepertinya baru saja ku hirup, atau aku hanya sedang berhalusinasi berlebihan. Dengan jelas aku bisa melihat butiran-butiran buah cherry tertidur manis di atas rumput, dilengkapi dengan para burung gereja yang seakan memperhatikan kedatanganku dan ingin mengenal siapa diriku.
Jika pikiranku adalah mesin otomatis, bisa ku pastikan untuk beberapa saat, ia berhenti sejenak secara tiba-tiba oleh sesuatu yang tak terduga, dan setelah itu secara otomatis kembali bekerja layaknya sedia kala. Ya, pikiranku (sempat) diam tersandera, dan tak lama ia kembali bersuara. Lalu aku tenggelam dalam lautan ingatan.
"Permisi mbak..", setitik suara yang berat membuyarkan lamunanku begitu cepat. Tiba-tiba seorang bapak paruh baya duduk disampingku sambil membawa sapunya. "Jangan melamun mbak, walau tempatnya enak buat melamun, hehe," kata si bapak sambil terkekeh. Aku tersenyum.
"Bapak yang suka nyapu disini?"
"Iya mbak. Saya suka sapu daerah sini tiap pagi dan sore. Saya baru lihat mbaknya main kesini. Baru pertama kali?"
"Iya pak. Saya baru tahu ada tempat kaya gini, hehe. Tempatnya menyenangkan ya pak. Dan menenangkan,"
"Betul mbak. Saya juga kadang lari kesini kalau lagi ada masalah, tapi saya juga enggak lupa untuk bagi kesenangan saya disini,"
"Tempat pelipur lara dan pembagi suka cita dong pak?"
"Iya bener. Mbaknya mukanya sendu banget,"
Aku terdiam sejenak, dan menghembuskan napas.
"Saya ada beberapa pikiran pak yang buat hari saya jadi abu-abu kaya tembok semen. Saya enggak pengen melakukan apapun. Saya enggak tahu apa saya sedih atau enggak, tapi yang saya bisa pastiin sekarang, saya sedang enggak bahagia, entah kenapa,"
"Wah mbak. Tenangkan diri. Saya emang enggak tahu masalah mbaknya, tapi yang bisa saya kasih cuma saran ini; mbak enggak perlu sibuk cari kebahagiaan untuk diri mbaknya sendiri, tapi coba buat orang lain senang dan bahagia. Rangkai tawa di wajah mereka, dan pasti mbak bisa rasakan kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan mbak juga, apalagi senyum mereka itu mbak yang buat. Seperti saya yang nyapu disini dengan senang hati, karena saya ingin lihat mereka yang berkunjung kesini bisa senang karena taman ini bersih. Contohnya kaya mbaknya yang kaget juga. Hehehe,"
Aku selami makna kata-kata tukang sapu tersebut. Bapak yang baik dan bijaksana. Ku lemparkan tatapanku dari mata bapak menuju udara. Bapak itu ada benarnya juga.
"Waduh pak. Saya berasa dapet ilham, beneran. Sampai enggak tahu balesnya mau gimana. Makasih pak!"
"Haha enggak usah makasih mbak. Lain kali kesini lagi. Tapi ingat, jangan pas susahnya saja mbak hehehe," bapak itu tertawa lepas. Bisa ku lihat, aku sedang berhadapan dengan orang asing yang menyenangkan, dan kebetulan atau tidak, ia memang ada untuk membenahi isi kepalaku yang sedang carut marut.
"Iya pasti pak tenang saja hahaha,"
Kalimat sederhana yang begitu penting. Ku tanamkan lekat-lekat di hatiku. Sambil menunggu senja padam, ku ayunkan sedikit pikiranku menuju hal lain, walau tersisa banyak yang masih terpasung.
Dan ku putuskan pada kesempatan itu, ku habiskan seluruh hidupku disana ditawan pemandangan. Aku sedang membahagiakan diriku dengan cara yang lain, mengikuti kata si bapak. Aku membahagiakan Pencipta karena mensyukuri keagungan-Nya, dan ternyata dari sanalah, aku bahagia.