
Tentang Athena yang sedang duduk di bangku pinggir jalan, di malam hari, seorang diri. Bersama buku gambar dan beberapa buah krayon dalam saku jaketnya. Membunuh kebosanan yang menyerang semasa ia di rumah.
Beruntung, udara malam sepakat untuk memberi izin Athena keluar rumah. Tidak terlalu dingin. Juga bonus dari sang malam berupa pendaran bintang yang bagai kismis diatas kue bolu, menyebar-bertaburan.
Saat sisa separuh keadaan jalan belum tuntas ia tuangkan ke atas kertas gambarnya, perhatian Athena pelan-pelan tersita oleh seorang ibu yang duduk di bangku berbeda berjarak 5 meter disampingnya. Ia sendiri, memeluk tubuhnya seperti sedang kedinginan. Ia mengenakan jaket terusan coklat dan syal coklat muda.
Matanya terpaku pada sosok laki-laki di seberang jalan, di tangga beranda milik rumah seseorang. Athena bertaruh, rumah tersebut bukan milik si lelaki. Sang ibu menatap dengan kuyu dan lesu. Tapi kilatan di matanya berbeda, penuh arti, penuh cinta. Athena membuka kertas gambarnya yang baru dan mulai menggambar ulang tentang apa yang ia perhatikan.
Si lelaki tak jauh berbeda, tangannya mengatung diatas lututnya yang ditekuk. Kepulan asap terus menguap dari mulutnya. Wajah dan penampilannya kusut masai. Sesekali ia menenggak sebuah minuman dari botol yang terduduk sendiri di anak tangga. Athena menebak, mungkin minuman orang dewasa. Sesekali pula ia memperhatikan benda yang ada di tangannya. Tak jelas, Athena tak mampu melihatnya.
Sambil terus melukiskan kisah di depan matanya, Athena kembali melemparkan pandangan pada si ibu. Ia terlihat menyeka air mata, dan terus membenarkan rambut halus terurainya yang terkadang menutupi sebagian wajahnya. Athena mulai mempercepat gambarnya.
Bermenit-menit kemudian, Athena mulai meniupkan serbuk biru dari kertasnya, merapikan, dan bergegas menghampiri sang ibu. Ia duduk pelan-pelan di sebelahnya, agar si ibu tak kaget.
"halo manis. Apa aku mengenalmu?," si ibu asing tersebut memiliki suara yang menenangkan, ramah, dan wajahnya sungguh rupawan ketika dari dekat. Wajahnya yang dirundung duka serta-merta berubah. Athena menggeleng, lalu ia merobek kertasnya dan memberikan hasil karyanya sambil tersenyum.
"wah, terima kasih nak. Mengapa kau membuat semua ini dengan krayon biru? Kau tidak membawa warna lain bersamamu?"
"aku suka warna biru, bu. Tapi tidak, bukan itu. Simpanlah ini untukmu. Biru itu menenangkan, seperti laut. Aku suka laut. Supaya hatimu tenang, bu. Jadi ibu tak perlu menangis lagi"
Si ibu terperangah mendapat kunjungan dari anak kecil ini, terlebih mendapat hadiah yang penuh arti. Lalu ia melanjutkan, "siapa namamu?"
"Athena, bu"
"nak, jika kau bertemu lelaki di seberang sana, katakan padanya, bahwa akan ada banyak sekali orang yang membutuhkannya. Aku ingin ia mengurangi kebiasaan buruk merusak tubuhnya. Sayang, tanganku tak bisa menggapainya lagi. Aku mencintainya, Athena. Sungguh,"
"akan ku sampaikan ketika ada kesempatan, bu. Maaf aku harus pulang. Kamarku pasti sudah merindukanku," Athena tersenyum dan menggenggam sebentar tangan sang ibu. Berharap si ibu sedikit lebih ceria. Athena pun berdiri dan segera memunggungi sang ibu tanpa pernah menoleh kembali.
Dalam hatinya, semoga sesuatu yang baik selalu melimpahi keduanya. Dan semoga Tuhan mau berbaik hati memberikan mereka kesempatan, setidaknya untuk bertegur sapa.
