Friday, May 31, 2013

Athena dan Malam


Tentang Athena yang sedang duduk di bangku pinggir jalan, di malam hari, seorang diri. Bersama buku gambar dan beberapa buah krayon dalam saku jaketnya. Membunuh kebosanan yang menyerang semasa ia di rumah.

Beruntung, udara malam sepakat untuk memberi izin Athena keluar rumah. Tidak terlalu dingin. Juga bonus dari sang malam berupa pendaran bintang yang bagai kismis diatas kue bolu, menyebar-bertaburan.

Saat sisa separuh keadaan jalan belum tuntas ia tuangkan ke atas kertas gambarnya, perhatian Athena pelan-pelan tersita oleh seorang ibu yang duduk di bangku berbeda berjarak 5 meter disampingnya. Ia sendiri, memeluk tubuhnya seperti sedang kedinginan. Ia mengenakan jaket terusan coklat dan syal coklat muda.

Matanya terpaku pada sosok laki-laki di seberang jalan, di tangga beranda milik rumah seseorang. Athena bertaruh, rumah tersebut bukan milik si lelaki. Sang ibu menatap dengan kuyu dan lesu. Tapi kilatan di matanya berbeda, penuh arti, penuh cinta. Athena membuka kertas gambarnya yang baru dan mulai menggambar ulang tentang apa yang ia perhatikan.

Si lelaki tak jauh berbeda, tangannya mengatung diatas lututnya yang ditekuk. Kepulan asap terus menguap dari mulutnya. Wajah dan penampilannya kusut masai. Sesekali ia menenggak sebuah minuman dari botol yang terduduk sendiri di anak tangga. Athena menebak, mungkin minuman orang dewasa. Sesekali pula ia memperhatikan benda yang ada di tangannya. Tak jelas, Athena tak mampu melihatnya.

Sambil terus melukiskan kisah di depan matanya, Athena kembali melemparkan pandangan pada si ibu. Ia terlihat menyeka air mata, dan terus membenarkan rambut halus terurainya yang terkadang menutupi sebagian wajahnya. Athena mulai mempercepat gambarnya.

Bermenit-menit kemudian, Athena mulai meniupkan serbuk biru dari kertasnya, merapikan, dan bergegas menghampiri sang ibu. Ia duduk pelan-pelan di sebelahnya, agar si ibu tak kaget.

"halo manis. Apa aku mengenalmu?," si ibu asing tersebut memiliki suara yang menenangkan, ramah, dan wajahnya sungguh rupawan ketika dari dekat. Wajahnya yang dirundung duka serta-merta berubah. Athena menggeleng, lalu ia merobek kertasnya dan memberikan hasil karyanya sambil tersenyum. 

"wah, terima kasih nak. Mengapa kau membuat semua ini dengan krayon biru? Kau tidak membawa warna lain bersamamu?"
"aku suka warna biru, bu. Tapi tidak, bukan itu. Simpanlah ini untukmu. Biru itu menenangkan, seperti laut. Aku suka laut. Supaya hatimu tenang, bu. Jadi ibu tak perlu menangis lagi"
Si ibu terperangah mendapat kunjungan dari anak kecil ini, terlebih mendapat hadiah yang penuh arti. Lalu ia melanjutkan, "siapa namamu?"

"Athena, bu"
"nak, jika kau bertemu lelaki di seberang sana, katakan padanya, bahwa akan ada banyak sekali orang yang membutuhkannya. Aku ingin ia mengurangi kebiasaan buruk merusak tubuhnya. Sayang, tanganku tak bisa menggapainya lagi. Aku mencintainya, Athena. Sungguh,"
"akan ku sampaikan ketika ada kesempatan, bu. Maaf aku harus pulang. Kamarku pasti sudah merindukanku," Athena tersenyum dan menggenggam sebentar tangan sang ibu. Berharap si ibu sedikit lebih ceria. Athena pun berdiri dan segera memunggungi sang ibu tanpa pernah menoleh kembali.

Dalam hatinya, semoga sesuatu yang baik selalu melimpahi keduanya. Dan semoga Tuhan mau berbaik hati memberikan mereka kesempatan, setidaknya untuk bertegur sapa.

Thursday, May 30, 2013

Untitled-19


Beri ruang untukku bersembunyi, untuk menutupi malu yang membanjiri wajah ini.
Benang gelasmu yang hampir-hampir tak kasat mata, masih melingkar manis di pergelanganku.

Namun, masih bernyawakah benang itu?
Atau mungkin yang tertinggal hanyalah bayang layang-layang yang jiwanya memilih terbang dan meninggalkan kenang.

Wednesday, May 29, 2013

Untitled-18

Tuhan, Kau tahu aku tak pernah bermaksud untuk menyakiti hati orang lain, hati siapapun.
Tak terbesit setitikpun niat.

Jika ada yang tersakiti atas perbuatanku, ku mohon supaya Kau kuatkan hati mereka.
Jika ada yang tersakiti atas perbuatanku, ku mohon mungkin Kau mampu jauhkanku dari mereka.

Dan untuk dosa yang entah ku timbulkan, ku serahkan tindak lanjutnya semua pada-Mu.

:|

(Gedung C lantai 3, Fisip Undip)

R: kenapa mah? Tadi kuliah
M: ini mamah mau tanya
R: apa?
M: kabarmu gimana?
R: loh? Ya Alhamdulillah
M: sehat?
R: insya Allah
M: kamu ada masalah gak?
R: hah?
M: mamah mimpi sekali ini aneh, mimpi kamu murung di tempat gelap sendirian, mamah panggil tapi kamu gak mau nengok, tak samperin makin lama makin jauh. 2 kali mimpi kaya gini. Kok aneh ya? Kamu ada masalah?
R: ... ya insya Allah gak ada
M: terus papah nyuruh pulang. Pulang kapan?
R: masih lama, abis uas, bulan Juli
M: yaudah kalo gitu. De kalo ada apa-apa cerita ya
R: gak ada apa-apa
M: yaudah



Serapat apapun dalam menyembunyikan, kotak duka mu akan memberikan sinyal, bahkan hingga menuju orang yang tak kamu sangka-sangka.

Untitled-17

Jikalau ada untaian kata yang menyentuh hingga sekat jemarimu,
jikalau ada tatapan temu yang memeluk hingga palung hatimu,
jikalau ada kristal kenang yang mengecup kotak rindumu,


kan ku jawab, itulah aku yang dalam bisu mencintaimu.

Sunday, May 26, 2013

Duka

Kembali ke pangkuan jingga di tengah rumput, kembali menuju ibu pertiwi.
Melantangkan jutaan suara sekilat cahaya, semuanya larut disentuh udara.
Sungai di pelupuk mata, habis kata, tanpa beriak.
Jantung dunia mengering-menguning, kakinya beringsut rambutnya menggugur.
Peneduh alam diam membisu, mulutnya terkatup, surut cerita.
Terhuyung-huyung separuh sadar, bumi dalam perkabungan separuh jiwa.

Saturday, May 25, 2013

Bunch of Precipitate Words

Selamat pagi, wahai embun, burung kenari, dan semesta.

Beberapa hari ini, banyak sekali bahan pikiran yang menari sejadi-jadinya berputar dalam kepala, dan juga mengendap dalam hati sampai rasanya aku limbung dalam berjalan. Aku coba mengalihkannya kedalam hal-hal positif lain but this is me, the thinker, who'll always think anywhere and anytime.

Ada beberapa hal tanggapan yang sangat ingin ku lontarkan untuk menanggapi semua hal tersebut.

  1. Ini bukan soal apa yang dilihat oleh mata, ini soal keterikatan atau sambungan, yang bahkan gue sendiri belom nemu benang merahnya. Sejauh ini gue masih mencoba tapi sejauh ini pula semuanya gak berkembang. Terus gue harus apa? Yang jelas, gak ada dalam kamus gue untuk memaksakan atas hal-hal yang beresiko kaya gitu.
  2. Gue gak tau posisi diri sendiri ini ada dimana. Rasanya saat-saat ini gue harus mampu meraba beberapa variabel yang seharusnya gue raba lalu menerjemahkan semuanya untuk kebutuhan diri sendiri. Tidak ada asumsi, semuanya benar fakta. Tapi entah, rasanya jari-jari ini sedang mengalami kekebalan.
  3. Jadi 'bahan propaganda' seseorang, mungkin adalah kata-kata yang dirasa berlebihan, tapi gue belum menemukan kata lain yang cocok untuk mengartikan satu hal yang (sebenarnya) remeh tapi cukup bikin gue pengen bilang 'kok lo malesin sih?'
  4. Di seret kesana-kemari rasanya bikin gue pengen jongkok dan pegangan sama aspal atau tiduran dijalanan sekalian. Karena maksud semua orang ini cukup jelas, dan entah kenapa rasanya kayak dikejer waktu, walau sebenarnya gak juga.
  5. Kalo pinjem kosa katanya mamah untuk mewakili keadaan saat ini adalah "campleng"
  6. Mungkin bukan yang ini. Rasanya bukan yang ini.
  7. Entah apakah gue pernah melontarkan langsung sebuah penilaian terhadap orang yang gue nilai, tapi ternyata dinilai secara langsung oleh yang-semi-antah-berantah itu rasanya bikin gue pengen bilang, "hah? You don't even know me well. Why don't you just shut your mouth up, before I decide to quit,"
  8. I don't know you're a liar or not but my shield tells me to keep using it.
  9. I need some distraction. Jeda. Gue butuh sesuatu/seseorang yang membantu berpikir objektif. Karena sekarang-sekarang ini orang terdekat pun masih gak mampu memenuhi syarat sebagai 'yang objektif' itu sendiri.
  10. Terima kasih buku-buku yang membantu menggantikan posisi bahan pikiran itu sejenak dari otak gue.
  11. I miss someone. I do miss him. But so far what I did is only throw my face away. What else can I do?



Well, I'm done. So far I know my blogsy-worldsy always there whenever I need it.
Thank you my blog.

Good morning universe. Happy Saturday.

Tuesday, May 21, 2013

For A Friend :)


Did you know the people that are the strongest are usually the most sensitive? 
Did you know the people who exhibit the most kindness are the first to get mistreated?
Did you know the one who takes care of others all the time are usually the ones who need it the most? 
Did you know the 3 hardest things to say are I love you, I’m sorry, and Help me. 

Sometimes just because a person looks happy, you have to look past their smile and see how much pain they may be in. 

To all my friends who are going through some issues right now—Let’s start an intention avalanche. We all need positive intentions right now. If I don’t see your name, I’ll understand. May I ask my friends wherever you might be, to kindly copy and paste this status for one hour to give a moment of support to all those who have family problems, health struggles, job issues, worries of any kind and just need to know that someone cares. Do it for all of us, for nobody is immune. I hope to see this on the walls of all my friends just for moral support. I know some will!! I did it for a friend and you can too.

Saturday, May 18, 2013

:|

"Dia sendiri merasa seperti mesin rusak - seolah seseorang telah mencopot bagian kecil dari dirinya, dan kini takkan pernah utuh. Dia mungkin bisa bergerak, dia mungkin bisa bicara, dia mungkin bisa terus melaju dan melakukan pekerjaannya. Tapi dia akan selalu kurang seimbang, tak pernah benar-benar dikalibrasi dengan tepat" 



(The Lost Hero, tells what Leo Valdez feels)

Friday, May 17, 2013

Akhir Sang Serigala

Di atas daratan, di ujung tebing, seekor serigala merajuk dalam sendu.
Sinar perak menyinari sebagian tubuhnya yang berbulu coklat gelap memudar.
Bagian terluar bulunya mengerak diselimuti debu dan salju yang teraduk menjadi satu.
Terduduk diatas altar yang tak sengaja terbuat, serigala itu membaca langit malam.

Lolongannya yang melemah makin hilang ditelan keheningan.
Matanya kosong memancarkan kisah akhir yang lembab dan pilu.
Pejantan alfa kini sekarat ditinggal kawanannya.
Bermilenium-milenium sudah ia menunggu ajal datang menjemput.

Makin mengurus, makin menyusut, tubuh serigala itu meringsut.
Cahaya berpendar dari air mata yang tak kuasa ia teteskan.
Hidup berakhir nestapa tak pernah ia bayangkan.
Ditemani kesendirian dan meninggalkan bayang-bayang.

Satu-dua masa berlalu, alasan untuk hidup tiada ia genggam.
Dengan segenap hati si serigala mengemis kematian.
Sejenak dalam sekali pusaran malam dan tanpa aral melintang,
tinggallah jiwa serigala yang pernah gagah tidur lebih damai dari yang pernah ada.

Thursday, May 16, 2013

Untitled-16

Biarkan aku menerjemahkan bahasa alam di penghujung senja hari ini.

Karibku berkata bahwa matahari tetap bersinar namun gerimis tetap mengikuti.
Tentangku;
Matahari di sebelah kanan, ia memancarkan sinar mencoba menerangi masa depanku.
Namun gerimis tak berada di belakang. Aku yang gila, menempatkannya di sebelah kiri, ia bukanlah masa lalu, ia masih menghujani sebelah diriku.

Kurang lebih - beginilah aku sekarang.
Setengah kedinginan basah kuyup, dan setengah hangat menuju panas.

Katoptris

Aku tahu sesuatu tentang sebuah senjata tajam berjenis pisau, milik Helen dari Troya.

Pisau itu terbungkus sarung yang terbuat dari kulit yang sudah usang, dianyam dengan perunggu. Tidak keren, tidak mewah. Gagangnya terbuat dari kayu yang diampelas halus. Bilah segitiga sepanjang delapan belas inci - terbuat dari perunggu mengilap. Ujungnya amat tajam. Bilah belati yang mengilap mampu memberikan pantulan yang sempurna terhadap apapun yang menghadapnya.

Helen menamainya Katoptris, yang berarti cermin.

Tiba-tiba teringat pada masa dimana aku ternyata juga memiliki Katoptris. Aku mampu melihat diriku seutuhnya yang terpantul pada bilah belati. Ia bagaikan cermin, cerminku. Dimana rasanya ia mengupas habis dan mampu memberikan seluruh gambaran diriku darinya. 

Aku melihatnya bukan seperti pisau biasa yang mungkin mewah diluar. Ya, mungkin atau entahlah, ia terbalut sarung kulit yang juga usang, tapi aku meyakini, bahwa Katoptrisku adalah pisau yang kuat, dan tajam. Pisau ini memiliki nilai didalamnya, namun hanya segelintir orang yang mampu melihat. Pisauku berbeda, Katoptrisku berbeda. 

Dan aku juga menyadari, belati yang mampu menjadi cermin itu ternyata juga mampu menghunusku. Ujungnya yang tajam memastikan kekuatannya yang mampu menembus urat nadi dan menusuk hingga dasar jantung. Ku akui, Katoptrisku telah menghunusku (apapun alasannya).


Dan satu hal lagi yang harus ku akui, Katoptris(ku) itu, adalah dirimu.

Monday, May 13, 2013

Aku, Tidak Di Hari Ini

Entahlah, aku kehilangan makna dari adanya hari menyedihkan dalam hidup seseorang. 
Makna putih. Apa ada?

Proses pengasingan, menjadi seseorang yang asing apakah itu proses yang memang seharusnya?
Aku tak tahu pasti, tapi rasanya semua orang melewati proses itu.
Tapi sadarkah mereka, itu justru proses paling menyakitkan?

Melihat seseorang yang sebelumnya ku kenal baik, melangkah dengan kain pembungkus lain di hadapanku.
Aku, bahkan tak mampu menatapnya. Karena pandangan yang ku punya hanyalah rindu, rindu, rindu, dan asing.
Apa? Tak kau lihat seluruh kornea mataku dilapisi dinding rindu? Cahaya di mataku tak lagi jernih, air mataku kering.

Pada akhirnya, yang membisu menjadi sasaranku. Tembok, lantai, udara, awan, mereka yang tahu kekecewaan dan kesedihan batin yang tak tampak. Mungkin ketika lengah, mereka justru menertawakanku, di akhir cerita.

Aku tahu kau terluka. Aku tahu.

Dan aku heran mengapa ada bulan sabit malam ini. Milik siapa?
Jelas-jelas itu bukan milikku, atau mungkin milikmu?

Aku tak tahu apa di belahan bumi yang lain kau sedang berada dalam gemerlap cinta sejatimu,
atau, aku tak tahu apa sedang ada perayaan yang diimani seluruh lapisan yang berpijak selain aku yang remuk redam di ruang pesakitan,
sehingga... ya sehingga bulan sabit itu muncul dan bertengger manis di atap dunia.

Lalu, jejak yang satu itu. Kemana dia menghilang?
Padahal baru saja aku memikirkannya, apa iya sudah waktunya?

Aku tak mampu lagi mengerti atas hari ini. Jika esok menjadi pengikut, maka bertambahlah ketidakmengertianku dalam menjalani hari-hari di hidupku.
Rasanya kata-kata mutiara hanya akan menjadi mentah, maka sepertinya aku sedang tak butuh komentar siapapun atas hal-hal lucu di hari ini.

Sampai kapan?
Sampai kapan pengasingan ini terus berlanjut?
Mengapa tak sekalian kau sediakan gubuk untuk ku kau asingkan, mungkin dengan sedikit sentuhan modern di dalamnya.

Agar aku tak lagi jadi bisamu.
Agar aku  tak lagi jadi lukamu.


Maka untukmu, tak ada lagi bisa, tak ada lagi luka.

Sunday, May 12, 2013

Untitled-15

Apa rasanya jadi matahari,
manakala merahnya ia paksakan lahir dari ufuk barat?

Apa rasanya jadi malam,
manakala anak-anak menakutinya dan memimpikan surya di depan mata?

Apa rasanya jadi hujan,
manakala kehadirannya terkadang banyak di cerca orang?

Apa rasanya jadi aku,
manakala rindu yang kian padat harus ku simpan rapat-rapat?

Untitled-14

Takkan pernah ku hujat senja.
Walau tiap saat itu jingga tak pernah membawamu bersamanya,
walau tiap saat itu aku selalu mematung dalam penantian,
walau tiap saat itu aku selalu pulang tanpa genggam.

Saturday, May 11, 2013

Untitled-13

Aku berkawan dengan gelap, karena bayang tentangmu tak mampu lenyap.

Aku

Aku | Hanya telur biasa yang ditetaskan oleh yang luar biasa, aku tiada apanya

Aku | Hanya sebilah raga tanpa talenta, melenggang tanpa kata diantara banyak mata

Aku | Hanya sepetik bunga kamboja dalam sebuah kotak tua, keabadian sendu dalam lubang persembunyian

Aku | Hanya berikat-ikat kalimat tanya yang terbang menuju sumbu dunia

Aku | Hanya makhluk tak berdaya dibelenggu zat yang dipuja oleh seluruh turunan adam dan hawa

Aku | Hanya gas udara, berjalan, berada di sisi kalian, tanpa disadari pun diperhati

Aku | Hanya setitik nyala api yang menerangi malam dalam tingkat sekelas mimpi

Dan aku | Hanya pelawan grativasi yang berusaha membalikkan semua tadi menjadi tak berarti

Thursday, May 09, 2013

Sisa Asa

Tuhan, diantara kegetiran dan kegundahan yang menjalar hingga jari jemari, maka aku mohon sediakan aku surya untuk menggantikan purnama di malam hari.

Tuhan, diantara kebencian yang menyengat bagai panas matahari, maka aku mohon alaskan hatiku diatas permadani maaf yang mampu mendingin.

Tuhan, diantara iri yang terus mencekik dan memekakkan, maka aku mohon tutuplah mataku dengan jiwa Pandawa yang mensucikan.

Tuhan, diantara keegoisan yang menyesatkan bagai pintu neraka, maka aku mohon arahkan aku pada setitik embun kebijaksanaan.

Tuhan, diantara darah karena terlalu erat menggenggam hati yang patah, maka aku mohon bangunkan aku untuk kembali mencinta tanpa pernah meminta.

Tuhan, diantara jantung yang menderangkan gendang pilu, maka aku mohon rebahkan sejenak hatiku dalam peluk-Mu.

Wednesday, May 08, 2013

Untitled-12

Semoga diri ini cukup bijaksana dalam mempelajariku, kamu, dan kita.
Dalam diam, semoga.

Jengah

Seperti kehampaan yang sengaja tak dibiarkan penuh

Seperti kekosongan yang menakdirkan diri setia pada yang tak terisi

Seperti hidup yang menunggu mati

Terima saja kenyataan: kita tak pernah bertemu di satu titik nadir

Mengucap sumpah senyawa-sejiwa, sembari tak henti bersitegang tentang apa saja

Abaikan lelah mencinta atas dasar ingin tetap bersama

Kita lupa, bahwa hati pun punya masa

Dan kata ‘selamanya’, tak pernah benar-benar selamanya

Selebihnya,

Aku

Kamu

Hanyalah kesia-siaan yang terbiasa saling melukai

Hingga rasa ini memilih mati




Ruth Dian Kurniasari, 8 Mei 2012

Pada Akhirnya

Akhirnya segala yang pernah aku dan kamu takutkan terjadi juga

Seperti dipaksa memutar jarum jam ke arah berlawanan

Kembali pada kala kita belum saling berbagi rasa, saat tawa tiada arti apa-apa, ketika tangis bukan akhir segala

Berpura-pura saling tak mengenal, berperang tanpa pedang, berlomba menang atas kekalahan yang kita sendiri ciptakan

Lalu mulailah kita mencobai Tuhan

Mengukuh-buktikan apakah ungkapan “jodoh tiada ke mana” benar adanya

Kita salah

Aku dan kamu tetap berlari, namun kini kian menjauh, berlawan arah

Aku dan kamu masih berjalan, hanya kini tak lagi bersisian

Aku dan kamu terpaksa merangkak, mencoba samarkan luka yang kian mengerak

Setelah tak ada lagi kita, tetaplah temukan bahagia

Sekalipun bukan lagi aku dan kamu sebagai porosnya



Ruth Dian Kurniasari, 15 Agustus 2012

Athena dan Gelembung Sabun


Tentang Athena yang sedang berjalan-jalan tanpa teman di pinggir jembatan. Jembatan besar. Berbalut jaket panjang merah muda dan sepatu boots kecil yang cerah berwarna kuning, melindunginya dari hawa sore yang dingin.

Pikirannya terus berputar tanpa henti, potongan-potongan kisah pasang-surut dalam hidupnya. Athena kecil memikul cerita yang begitu besar, dimana orang tak akan pernah menyangka, tak akan pernah tahu, pun peduli.

Lambat-lambat ia menerawangi sungai, dengan matahari redup mengikutinya dari sebelah barat. Ia berhenti sejenak, dan melihat beberapa gelembung sabun berterbangan. Pikiran bocah itu seketika berhamburan. Athena menggelitik badan jalan bersama sepatu kecilnya yang bergerak menuju penjual gelembung sabun di ujung jembatan.

Sekarang ia tak sendiri, satu buah kotak sabun berada dalam genggaman. Ia mendapat akal.

Ia berjalan menuju bibir danau. Disini, tempat bercermin, dan tempat penyembuh batin.

Keceriaan yang tiba-tiba mengiringi hatinya, sesaat membuatnya larut bersama gelembung-gelembung yang melayang. Tertawalah ia di atas rumput-rumput hijau, disaksikan seorang dewa-dewi yang tak tampak sedang ikut berbahagia dari dasar danau.

Athena pun terdiam dan memejamkan mata. Banyak doa yang ingin ia sampaikan pada Tuhannya, tapi sungguh gadis kecil berhati putih ini memiliki cara yang lain untuk menyampaikan kebutuhan hatinya. Sesaat ia mengaduk-adukkan kawat bintang yang sengaja ia pilih, ke dalam cairan sabunnya. Lalu ia menyiapkan sebuah-sebuah doa sebelum meniupkannya. Dan sekarang Athena tidak bersama gelembung sabun biasa, melainkan gelembung sabun doa. Gelembung sabun harapan dari seorang anak kecil yang menyandu luka dalam.

Selesailah ia hingga senja menjemput. Setidaknya Athena sudah tahu cara untuk bertahan, paling tidak, untuk menyambung napas kebahagiaannya, di hari itu.

Harapan terakhir dalam gelembung terakhirnya adalah, semoga bintang-bintang itu tetap bertahan di angkasa, seperti bintang yang sebenarnya tak pernah benar-benar redup. Tetap terbang melindungi harapannya dalam balutan sabun yang bersinar, menuju Tuhannya yang menunggu di atas sana.

Life Cycle of Love

Manusia itu memiliki siklus hidup, dimana ia punya suatu proses berulang dalam hidupnya. Dan di tiap tahapannya itu terkadang memiliki penanganan yang berbeda. Aku juga mengalaminya, dan sekarang sedang ku alami.

Manusia akan cenderung lebih rapuh mengenai perasaan. Pun aku begitu. Lebih tepatnya, tentang hati dan cinta. Iya, cinta.

Aku berada di titik ini lagi. Rasanya baru kemarin, sekarang sudah disini lagi.

Suatu titik dimana aku harus mengosongkan segala pikiran dan hati dari apapun yang sebelumnya mengisinya. Suatu titik dimana mau tidak mau harus ku jalani, suka tidak suka, dan memang aku harus melaluinya, kuat tidak kuat. Suatu titik dimana aku harus berdiri setegak-tegaknya, dengan perlahan namun pasti. Suatu titik dimana aku harus berdiri, sendiri, dan menolak mencari bantuan dari "siapapun". Bukan karena tidak mau, tapi inilah penanganan dalam tahap yang sedang ku lalui. Kecuali, kecuali bantuan itu datang sendiri.

Dan yang selalu ku sadari, jika aku boleh mengatakan, proses ini adalah proses paling menyakitkan yang pernah ada. Proses menyakitkan yang dengan ikhlas harus ku terima. Proses dimana aku berada di tengah keseimbangan, diantara jurang kelabilan, dan jurang kedinginan. Jurang kelabilan adalah jurang dimana aku tidak berada di tengah titik, aku tidak berpikir jernih, terombang-ambing. Jurang kedinginan adalah jurang dimana aku mendinginkan seluruh emosi, aku mematikan sumbu emosiku sendiri untuk menghadapi ini semua; aku mati rasa. Tapi aku tak di keduanya. Ya inilah, proses dimana aku berdiri sendiri, perlahan, tetap di tengah. 

Jikalau ada hal yang menggoyahkanku adalah satu, arah. Arah mana yang harus ku lewati. Di setiap persimpangan aku selalu menemukan banyaknya cabang jalan. Aku hanya takut, takut salah jalan.

Dan diujung proses nanti, satu hal yang pasti adalah aku akan menarik napas lega, kepala yang tegak, dan tersenyum dengan segala kerendahan hati menengok kembali ke belakang untuk sesaat sebagai referensi hidupku selanjutnya. Aku kembali dengan hati yang baru namun seperti aku yang lama. Seperti Risty yang biasanya. Tidak ada yang berubah.







:)

Tuesday, May 07, 2013

Untitled-11

Aku mampu rasakan, sinar matahari yang berusaha keras menghangatkanku, dari pelukan dingin malam yang mensunyikan. Dengan mudahnya membuatku terbujur kaku, melangkah pasti menuju kematian paling menyedihkan yang tak pernah ku ingini.

Aku mampu rasakan, derasnya aliran darah yang mengandung gas-gas keegoisan dan kebencian, menjalar sampai ke ujung syaraf. Mempengaruhiku. Membiarkanku larut dalam amarah yang menari gembira menguasaiku. Namun aku mampu rasakan, kehadiran pemaafan yang selalu hadir bagai oksigen. Mampu menetralisir darahku, menjernihkan. Mengelurkan racun-racun berbahaya yang lagi-lagi mampu mematikan, mematikan hatiku.

Aku mampu rasakan, luka baru yang menganga begitu lebarnya. Warnanya merah kebiruan. Entahlah, mungkin akan membusuk. Aku selalu mencoba melawan rasa pedih yang selalu muncul dengan hebatnya, dan di saat yang bersamaan membuatku lemah tanpa daya. Namun aku mampu rasakan, kekuatan dari dalam diri, berusaha melepaskan rasa sakit yang terus menerus menyerang. Pasrah. Ku biarkan luka ini menggerogoti diri, karena ku tahu, semakin ku melawan semakin perih yang ku dapatkan.

Aku mampu rasakan, aliran hangat dari ujung mata dan berlari-lari kecil melewati pipiku. Namun aku mampu rasakan, angin disini ternyata begitu baik untuk mau menghilangkan, menerbangkan, dan mengeringkan bentuk lain dari duka yang tak tertahankan itu.


Maka, dalam kesendirian yang mengulum diriku dari subuh hingga surut, ku nikmati ngilu-ngilu yang terus mengoyak.

Dan sebagai doa usang yang tak diharapkan lagi, ku coba mendoakan diriku sebagai doa baru yang kembali dinyalakan, agar tak redup dipadamkan malam.

Kepada Wanita yang Menyandu Luka

Barangkali memang kedua ceruk bola matamu ditahbiskan untuk menampung lelehan duka sepanjang umur
Tanpa kau tahu, berkat genangan air matamulah padma hitam kian tumbuh subur, dan tanah tempat kaki lelakimu berpijak selalu gembur

Barangkali memang tak ada benang merah yang menakdirkan wajahmu merangkum senyum
Tanpa kau tahu, kerat luka-lukamulah yang menguatkanmu, menjadikan ketabahan sebagai kawan yang lebih karib daripada saudara

Barangkali memang kesetiaan kepada yang tak setia telah membuatmu kebal melumat caci maki bibir-bibir yang belum mengenal apa itu cinta
Cinta yang bagimu tak meraba kata berbalas
Cinta yang bagimu tak menyentuh kata memiliki
Cinta yang bagimu tak semanis gulali
Cinta yang bagimu berarti menyemai benih gandum, walau lelakimu menjadikannya taruk-taruk ilalang


Barangkali, kelak lelakimu akan menyadari, bahwa ada hati yang mencintainya dengan sungguh
Barangkali, kelak lelakimu akan menyadari, bahwa pertikaian yang ia sebabkan hanya akan menjadikannya dan dirimu tak lebih dari abu dan arang
Barangkali, kelak lelakimu akan menyadari, bahwa wanitanya telah lama memeluk duka


Dan ketika ia datang mengemis cinta, wanita yang menyandu luka ini, telah telanjur mati rasa



Ruth Dian Kurniasari, 28 Agustus 2012

Melepasmu

Melepasmu,
Seperti dipaksa mencongkel paksa kedua bola mata yang pernah menangkap gambar dirimu
Membuat tuli gendang telinga yang dulunya sanggup terima segala keluhmu
Menelan lidah dan segala kata yang pernah keluar dari mulutku
Mematahkan sendi sendi hingga tak lagi terasa ngilu mencintaimu
Mencabut paksa satu per satu tulang yang menyusun tubuhku
Membuang jantung yang pernah berdetak hanya untukmu
Merelakan tubuh kehilangan jiwanya yang hanya satu
Kini, aku siap terima pergimu



Ruth Dian Kurniasari, 16 Oktober 2012.

The Words

"Tunduk pada kebaikan yang mengecoh, sampai yang tepat jadi tak nampak. Kau jauh mencari-cari, tak pernah kau gali di dalam diri. Maaf. Terkadang kata-kata itu menyakiti, seperti tamparan. Ada tamparan yang untuk melukai, ada pula yang untuk menyadarkan. Maka dengan ini aku ingin merebut hatimu dari tangannya. Bukan maksud aku mencuri. Aku hanya ingin menyelamatkan hatimu untuk tidak diremasnya terus, supaya tidak dilukainya terus," - Zarry Hendrik

Saturday, May 04, 2013

The Family Journey - Day 1

Jalan-jalan men! Yeee~ Jalan-jalan! Yeee~

Okey fellas, so here I am trying to be an amateur travel-writer. From Atria Hotel at Magelang, I would like to tell you what me and my family did today.

Actually, the main destination of today's journey is Borobudur Temple. Yes, I haven't seen it before. Yes, I know I'm one of those katro people. We departed from Semarang around 10 AM, after had a breakfast at NJ House. It's a guesthouse actually.

So, if I have to tell ya, well.........there are a lot of people, and I felt like the sun flew right above my head. Can you imagine how I climbed those THOUSANDS of STAIRS and the sun helped to make me sweaty?! YES I HAD MY OWN PHYSICAL EXERCISE.

Back to the track, Borobudur Temple is a good place. There's stupa in every each of medium temple, I saw them. Moreover, so many sellers outside. Strong sellers, honestly. They kept ordering you what they sell, but all you can do is say "Engga mas maap ya" or perhaps you can try "Boten mas". Be careful if they reply with the same tounge, you could run then :p

After had a walk on Borobudur, then we spent the rest of the day at Mendut Temple which is inveresly different than before. I think Mendut Temple needs to be regenerated. Actually I don't know wether it's truly need or not but the construction of the building is not...we can say...good enough. Disposition? I don't know. And some bricks are missing.

Then I had sweet and sour shells for dinner. 

The last, I support #VISITINDONESIA2013. Explore this country first, and we'll know that we should be proud of our own culture, and we'll be proud for having it as Indonesians. Take care the national heritage :)

I won't tell you any further 'cause the clock warns me, and it also reminds that the next journey is already on the lineSo, I have to shut my eye down, and catch y'all later.


Coming up, JOGJAKARTA! See ya ;)


 





Untitled-10

Ada satu yang tertinggal dan tak sempat ku lahirkan ke dunia,
mimpiku.
Mengukir kata indahmu dan kata sederhanaku dalam dinding kertas,
sebuah layang-layang
Menerbangkannya bersama, 
lalu membebaskannya,
mengembalikannya untuk dipersatukan dengan alam raya.

Friday, May 03, 2013

Untitled-9

Jika kau ingin membinasakanku, maka jangan buat aku mencari silet kedua untuk mempercepat proses kematianku sendiri.

Thursday, May 02, 2013

Jessie The Yodeling Cowgirl


A few more days in this month, there will be a story about Jessie,
the cowgirl loitering in the street.
The last owner left her without any of cue.
She was shabby and dirty.

She'll see former owners celebrate the new day,
with the other beloved doll.
Laughter echoed in the sky,
Poor Jessie only able to wipe the tears with the edge of her shirt.

Then she look at her brown shoes,
still strong despite various asphalt roads hit so hard.
Jessie find inspiration,
as a form of reinforcement to her heart which such as cotton candy

Jessie walked away,
away from the owner.
With a set of prayer and gratitude, and tons stalks of happiness,
she was sent only to the owner who have made her so alive.

Cerita Pagi

Penulis itu seperti makhluk amphibi.
Mereka memiliki dua dunia, entah apa sebutannya.
Dunia darat-dunia air,
Dunia keras-dunia halus,
Dunia alami-dunia buatan,
Dunia nyata-dunia khayal.

Penulis itu mampu memvisualisasikan apapun sejelas-jelasnya, atau sebaliknya.
Lebih menarik, ia bisa mengalirkan rasa untuk seseorang melalui tulisannya.
Lebih jauh, ia bisa merangkai banyak ide-aspirasi menuju lintas bumi.

Penulis itu hidup dalam kolase kata.
Membentuk cerita, menyampaikan rasa, menyelundupkan makna.



Pah, Mah, aku mau jadi penulis..