Thursday, September 19, 2013

Tiga Jendela

1. 

Seperti sebuah tayangan dalam sinetron di televisi. Lelaki itu menghunus sebilah belati, dan menikam sebuah daging yang masih berdenyut di genggamannya. Menancap, hingga darah merah yang terus menderas berubah menjadi hitam pekat. Sadar tak sadar, yang berlumur itu adalah jantung milik istri yang sangat mencintainya.

2.

Pukul 10 pagi gadis itu melewati sebuah lapangan di wilayah halaman sekolah. Dilihatnya seorang murid yang dihina oleh gurunya sendiri. Direndahkan, tanpa ampun. Hati gadis itu bergetar. Teringat di waktu lalu akan kejadian yang sama, tempat yang sama. Telapak tangannya berkeringat. Ia bersyukur, telah memutuskan berhenti dari masa itu, walaupun harus kehilangan waktunya merasakan duduk di bangku di tempat tersebut.

3.

Pada hari Jumat sore aku memberanikan diri untuk berjalan-jalan sendiri. Di antara riuh lalu lalang pinggir jalan, ada sepasang lelaki dan perempuan disana. Si perempuan, yang buta, menari mengikuti irama yang berasal dari radio miliknya. Si lelaki tak jauh dari sana asyik melukis perempuannya hanya dengan dua jari yang tersisa di tangan kanannya. Di tengah-tengah mereka sebuah kotak terduduk berisikan koin-koin dan berlembar-lembar uang dari para pejalan yang lewat. Aku ingin memberikan beberapa koin milikku tapi kursi rodaku tak mampu menjangkau daerah itu. Dan secara tiba-tiba, aku harus segera pulang manakala jantungku mulai terasa tak baik.

Tuesday, September 17, 2013

Athena dan Beberapa Potong Biskuit

Tentang Athena yang sedang menghisap ujung biskuit coklat yang berada dalam genggaman. Terlihat asik dengan mata nanarnya menghadap langit-langit serta keadaan jalanan di taman sore itu. Separuh biskuit di mulutnya sudah mulai basah, ia pun segera melumatnya dan kaki kecilnya yang tergantung tak sampai ke jalan serta merta berayun riang. Ia pun melahap biskuit selanjutnya dengan menjilat krim coklat membeku didalamnya. Athena senang memakan biskuit kesukaannya dengan berbagai cara.

"Kenapa aku cuma dapat lima kak?!"

"Kakak cuma punya sepuluh. Kan sudah kakak bagi rata. Sekarang punya kakak sudah habis."

"Bohong! Pasti kakak tadi makan lebih banyak!"

"Ya ampun Natasha kau ini kenapa sih? Masih untung kakak bagi tadi! Sudah, kakak mau pulang!"

Athena melirik pasangan kakak-beradik yang sedang bertengkar kala itu. Setelah sang kakak pergi, anak yang lebih kecil dari umur si adik tiba-tiba menghampirinya.

"Kak, aku boleh minta permennya?"

"Aku cuma punya lima. Kalau kau minta, nanti jatahku berkurang. Maaf ya."

Anak kecil itu merengut dan pergi berlalu. Athena mengangkat sebelah alisnya dan menghampiri si adik yang terlihat lebih muda dibandingkannya.

"Halo dik, siapa namamu?"

"Natasha, kak. Kakak siapa? Kata kakakku aku tak boleh sembarangan berbicara dengan orang asing"

"Hahaha, aku Athena. Kau mau menemaniku ke kolam ikan disana? Aku mau memberi ikannya makanan!"

"Hmm ayo. Aku mau lihat."

Athena dan Natasha pergi menghampiri kolam ikan di tengah taman. Athena mulai mengeluarkan plastik biskuit dari saku baju terusannya yang hanya tersisa tiga buah.

"Satu buah biskuit untuk para ikan-ikan." Athena melemparnya dan segera saja biskuit itu dilahap ramai-ramai oleh ikan-ikan yang ada disana.

"Kakak memberinya dengan biskuit itu? Biskuit kakak tinggal dua sekarang."

Athena tak menghiraukan perkataannya, dan ia segera memanggil anak kecil yang sempat menghampiri Natasha. Si anak kecil datang bersama kucing peliharannya. Athena membelah biskuit coklatnya menjadi dua dan memberikan satu potong untuk si kucing dan satu potong untuk si anak. Anak kecil itu tersenyum riang dan segera berlari ke kejauhan.

Athena membalikkan badannya kepada Natasha dan mengeluarkan satu buah biskuit terakhir untuknya.

"Ini, satu buah biskuit terakhir untukmu, yang masih utuh."

"Kenapa kakak berikan biskuit ini padaku? Punya kakak sudah habis sekarang."

"Bukan itu Natasha. Tapi kau lebih beruntung dari yang lain. Di saat ikan-ikan itu harus berebut satu buah biskuit, dan anak kecil tadi hanya mendapat satu potong saja, kau mendapat seutuhnya. Apa kau belum merasa cukup?"

Natasha kecil pelan-pelan melipat bibirnya ke dalam dan memandang permen coklat dalam genggamannya yang hampir-hampir meleleh.

"Aku pulang dulu ya Natasha. Jangan lupa hampiri kakakmu yang baik itu di rumah. Besok kita berbagi lagi."

Athena tersenyum manis dan beranjak pergi sambil memutar-mutar plastik biskuit yang sudah lagi tak berisi.