Dalam hidup ini pasti ada orang-orang yang berpengaruh dalam hidup kita. Dan gue habis merekap beberapa orang yang gue petik kebaikannya dan sangat berpengaruh dalam hidup gue sampai saat ini.
1. Mamah
Ini sudah pasti. Banyak banget yang diajarkan sampai gue nggak tau mau ngomong apa. Beliau yang mengajari tentang ilmu ikhlas, bukan ustad atau ustadzah atau siapapun. Beliau yang mengajari tentang ramah dengan siapa aja. Beliau yang mengajari tentang kreativitas bahkan ketika gue sendirian sekalipun. Beliau yang mengajari kalau jadi perempuan harus berani dan independen, biar mandiri dan para pria nggak suka sama perempuan manja. Beliau yang dulu suka nyuruh gue ngerjain pekerjaan rumah macem nyapu, nyuci piring, dan segala macemnya yang gue kira itu cuma kerjaan pembantu rumah tangga tapi ternyata bener-bener terpakai di masa depan. Beliau sumber inspirasi semua keceriaan gue hingga hari ini. Beliau adalah orang yang mau belajar bahkan sampai detail-detail perbengkelan sekalipun. Katanya, "belajar itu bisa darimana aja. Jangan tutup mata. Apa yang bisa kita pelajari maka pelajarilah. Nggak ada pelajaran yang sia-sia,"
2. Kakak
Hal yang paling gue inget dari kakak gue jaman dulu adalah dimana dia marah-marahin gue karena gue nanya mulu tentang arti bahasa inggris pas main playstation. Dia sampai cariin kamus dan ngasihin kamusnya ke gue sambil bilang, "tuh cari sendiri!". Belum selesai disitu, gue males pakai kamus, akhirnya gue pakai alfalink. Terus dia bertindak lagi, "kakak kasih tahu ya, pakai alfalink itu cuma bikin males, nggak ada usahanya, cepet lupa. Kalau kamus itu kan kamu nyari-nyari, sekalian nemuin vocab lain juga. Lebih inget kata-katanya sampai lama,". Terus gue nangis, kenapa kakak gue suka sok bener -_- Kakak gue juga termasuk yang berjasa dalam pelajaran bahasa inggris gue. Satu lagi, beliau yang dulu paling serius sama penanganan pembentukan badan gue. Dulu badan gue bungkuk dan bentuk kaki gue menyerupai "X", dan beliau yang mati-matian sambil marahin taruh beberapa buku diatas kepala biar duduk dan jalan gue tegap. Kalau dibonceng naik motor pun dia suka nengok-nengok ke belakang mau liat apa gue bungkuk atau nggak. Dan dulu gue pernah berantem di jalan karena diancem bakal diturunin kalau duduknya nggak mau tegap. Emang agak mengerikan, tapi tujuannya baik.
3. Adinda Kartika Putri
Dinda adalah sahabat gue sejak masuk XI IPS. Anaknya asik, bisa diajak curhat tentang apapun (note it, apapun), pendengar dan pemberi saran yang baik, punya selera humor yang baik yang setara sama gue, pintar, rajin, dan masih banyak lagi. Dinda jadi siswa berprestasi pas kelulusan dari jurusan IPS. Dinda adalah kawan yang sangat amat baik sepanjang gue punya kawan. Dia sangat peduli. Hal yang membekas di ingatan gue adalah saat dia udah lolos SNMPTN Undangan jurusan Manajemen di Universitas Indonesia, tapi dia masih mau bimbel bareng gue dan teman-teman yang lain cuma karena pengen bantuin ajarin kita. Gue dan yang lain saat itu kondisinya belum dapet tempat kuliah. Kalau gue jadi dia jelas banget gue udah males juga dateng ke bimbel apalagi tempatnya jauh. Dari Dinda gue juga belajar tentang pengertian sama teman dan mengerti keadaan orang tua. Dinda yang ngajarin gue buat nggak suka boros dan nggak suka nuntut ini-itu sama orang tua. Dinda itu patuh sama orang tuanya, makanya jalannya selalu lurus. Gue termasuk salah seorang yang beruntung bisa bersahabat sama Dinda.
4. Missfala Rahmatina
Missfala adalah kawan bro gue banget dari sejak smester 1 di masa kuliah. Dia kawan yang berbeda menurut gue. Pandangannya terhadap sesuatu selalu bikin gue kagum. Missfala yang bikin gue perhatiin "kemasan" pada saat mau ketemu Allah, mau sholat. Waktu itu gue pernah pakai mukena yang atas bawahnya berbeda, karena memang pada saat itu mukena yang lain habis. Terus dia bilang, "nggak tunggu mukena yang lain aja Ty?" gue jawab, "ah sama aja kan yang penting niatnya.", lalu dia jawab dengan nada yang tajem, "giliran ketemu manusia aja di matching-matchingin sampai rapih banget, kok ketemu Allah malah ngasal?" dan gue diem sampai sholat dan selesai sholat pun nggak konsen. Rasanya malu sendiri. Sampai sekarang gue selalu berusaha tampil yang baik ketika mau sholat. Missfala juga yang meginspirasi kalau jadi perempuan jangan cengeng. Missfala selalu ceria apapun keadaannya bahkan ketika galau sekalipun.
5. Ibu Sri Suryoko
Bu Sur adalah dosen gue. Beliau termasuk dosen favorit yang (kalau di kelas) sangat baik. Cara mengajarnya enak dan kalau ujian nggak macem-macem. Mungkin banyak temen gue yang justru meremehkan kebaikan dia, kayak ngobrol pas di kelas atau mungkin tidur atau bahkan titip absen. Tapi kalau di kelas, beliau itu tetep ceria, tetep ngasih yang terbaik yang beliau bisa kasih, mau gimanapun mahasiswanya. Tetep ngajar dengan baik dan total walau dalam keadaan sakit sekalipun. Pernah suatu waktu beliau susah payah berbicara di depan padahal saat itu dia sedang sakit. Beliau susah payah mengajar dan masih saja tetap ceria. Gue duduk paling depan dan tetap memperhatikan. Lalu sejenak gue lihat ke baris belakang, banyak yang absen dan beberapa yang hadir pada ngobrol. Nggak tahu sih pikiran mahasiswa yang lain gimana, tapi gue sedih aja. Dari beliau gue belajar untuk tetap ceria dan berikan yang terbaik ke orang lain bagaimanapun keadaan kita, bagaimanapun orang lain itu bersikap terhadap kita; intinya kita harus tetap baik. Dan tulus. Bu Sur itu contoh orang yang tulus. Bu Sur selalu mengingatkan gue sama mamah. Semoga beliau selalu diberi kesehatan.
6. Abi Rafdi Fadhilah
Abi adalah kakak kelas gue waktu SMA, waktu gue kelas X dia kelas XII. Orangnya asik, nggak jaim sama sekali, pendengar-pemberi saran-penyemangat yang total, dan masih banyak lagi. Pelajaran yang gue ambil sepanjang gue kenal dia dan sangat berpengaruh di hidup gue sampai sekarang adalah "membeli mimpi". Dari dia gue belajar yang namanya kalau mau sesuatu ya kita harus berusaha. Kak Abi itu kolektor sepatu, dan suka beli gadget. Dia bakal nabung dan jual barang yang emang mending dijual buat barang yang dia impiin. Dia nggak pernah beli handphone dan sepatu pakai uang orang tuanya. Dari dia gue belajar buat beli barang yang gue pengenin pakai uang sendiri. Kayak i-pod dan Blackberry Torch, itu semua adalah hasil dari gue nabung sendiri. Terbukti, rasanya lebih puas dan nagih banget buat nantang diri sendiri beli yang lain lagi. Kak Abi pernah bilang, "kalau emang pengen barang A, ya kejar. Kalau emang mesti jual salah satu barang kita ya nggak apa-apa, tapi yang kira-kira emang udah nggak butuh banget. Kan akan selalu ada yang datang, tapi juga selalu ada yang pergi"
7. Fallen Oktafian
Fallen adalah kawan sejurusan gue di masa kuliah. Gue baru kenal banget sama dia sekitar smester 3. Kawan diskusi yang baik, pendengar dan pemberi saran yang objektif, pengetahuannya luas, selalu bijak dalam menanggapi sesuatu dan seseorang. Objektivitas dan kebijakannya itulah yang berpengaruh dalam hidup gue menyoal cara pandang terhadap sesuatu dan seseorang. Dalam memandang suatu hal, terkadang gue pakai 2 sudut pandang yang berbeda, dan seperti dapet materi tambahan, cara Fallen menanggapi sesuatu itu bisa gue pakai sebagai "bantuan". Pemikirannya berbeda, yang jujur terkadang gue nggak bisa mengerti sekaligus gue kagumi. Fallen juga yang ngebuat gue jadi suka nonton berita. Kayanya dia selalu haus dengan berita masa kini. Maka gue juga nggak mau ketinggalan. Motivasinya sih sederhana, biar nyambung kalo diajak ngomong. Motivasi lainnya, biar gantian bisa kasih "pengetahuan" lain yang dia nggak tahu, kan bosen kalo gue mulu yang nggak tahu (walaupun sampe sekarang gue mulu yang nggak tahu apa-apa).
Kepada Tuhan dan waktu, gue berterima kasih karena telah dipertemukan dengan orang-orang tersebut. Semoga mereka-mereka ini selalu dalam perlindungan Tuhan.