Aku berdiri di tengah laut menahan debur ombak
dengan tangan hampa penuh doa
Gelombang pasang berbalik pulang
dan nyawa ini masih terpasang
Tak mungkin kedatangannya dapat dikelabui
Beramai-ramai ombak itu kembali
Siapa sangka batu karang tak kuasa menahan?
Aku tenggelam dalam pelukannya
Pelukan samudra
Butiran kata tak terucap
terkunci manis dalam kotak tak bertuan
kotaknya berlapis baja
Hanya alunan nada terbang mengawan terlalu indah di angkasa
Namun sisanya membisu terbaring lemah tak berdaya
Bagai ingin melihat harimau berkulit buaya
Bagai ingin melihat diriku bersarjanakan DR
Bagai ingin melihat jemariku menyentuh kapas biru milik Yang Kuasa
Aku bertanya pada semesta
Semesta hanya meneteskan satu makna
Satu makna penuh tanya dalam asa
Menunggu
Ya, aku harus menunggu
Menunggu waktu mengantarkan
ke dalam tempat yang bahkan belum saatnya aku tahu
Kita menyebutnya... masa depan
No comments:
Post a Comment