Seperti sebuah tayangan dalam sinetron di televisi. Lelaki itu menghunus sebilah belati, dan menikam sebuah daging yang masih berdenyut di genggamannya. Menancap, hingga darah merah yang terus menderas berubah menjadi hitam pekat. Sadar tak sadar, yang berlumur itu adalah jantung milik istri yang sangat mencintainya.
2.
Pukul 10 pagi gadis itu melewati sebuah lapangan di wilayah halaman sekolah. Dilihatnya seorang murid yang dihina oleh gurunya sendiri. Direndahkan, tanpa ampun. Hati gadis itu bergetar. Teringat di waktu lalu akan kejadian yang sama, tempat yang sama. Telapak tangannya berkeringat. Ia bersyukur, telah memutuskan berhenti dari masa itu, walaupun harus kehilangan waktunya merasakan duduk di bangku di tempat tersebut.
3.
Pada hari Jumat sore aku memberanikan diri untuk berjalan-jalan sendiri. Di antara riuh lalu lalang pinggir jalan, ada sepasang lelaki dan perempuan disana. Si perempuan, yang buta, menari mengikuti irama yang berasal dari radio miliknya. Si lelaki tak jauh dari sana asyik melukis perempuannya hanya dengan dua jari yang tersisa di tangan kanannya. Di tengah-tengah mereka sebuah kotak terduduk berisikan koin-koin dan berlembar-lembar uang dari para pejalan yang lewat. Aku ingin memberikan beberapa koin milikku tapi kursi rodaku tak mampu menjangkau daerah itu. Dan secara tiba-tiba, aku harus segera pulang manakala jantungku mulai terasa tak baik.
No comments:
Post a Comment