Kamu mungkin sebilah bambu kaku, bagi para awam. Tapi ada bayang kertas mengkilap yang membentang di tengahnya. Warna perak dan bening itu. Pantas saja mereka tidak tahu, mereka hanya tidak melihat dari dekat.
Kamu adalah buku yang lain. Buku cerita sekaligus buku harian. Dimana aku bisa membentangkan cakrawala dan menyadari bahwa aku tak tahu apa-apa. Lalu ku tuliskan apa yang aku tahu didalammu. Tidak jarang yang ku tahu sudah kamu ketahui. Lalu seringkali pula aku menuliskan hanya beberapa pilah kata-kata tak penting atau gambar-gambar tak jelas dalam lembaranmu. Sederhana, supaya kamu tahu aku, supaya kamu ingat aku.
Kamu juga, hati mungil yang dibungkus keangkuhan, keegoisan. Aku kenal dirimu. Aku kenal sosok itu. Pernah diantara malam ku lihat kau merenung di kegelapan. Perkataan mereka tentangmu yang segala rupa tak benar, semua meluruh, kau telanjang. Ingin ku duduk disampingmu dan memeluk menemani sepimu. Dan aku berharap supaya mereka bisa melihat ini.
Kamu seekor rubah. Aku tahu ini bukanlah gambaran yang baik. Hewan apa yang menyeramkan karena kecerdikannya? Aku seringkali takut dipermainkan. Kecerdikanmu seolah membawaku mundur, mundur dan mundur dan mampu menghimpitku. Sehingga terkadang aku takut terhadapmu. Kekhawatiran yang tak mungkin aku katakan. Lalu, menurutmu, aku ini hewan apa? Semoga kau menjawab apel.
Kamu sebuah pesawat ulang-alik yang mampu membawaku menembus batas. Kemanapun. Sampai terkadang aku takut kau tak membawaku pulang. Kau membawaku menembus batas lintas dunia, entah dunia mana saja. Terima kasih pernah mengajakku terbang. Aku harap suatu hari kau mau membawaku pergi lagi. Mungkin pesawat adalah kata yang terlalu mewah, aku lebih senang yang sederhana. Layang-layang.
Percayalah, aku selalu bahagia melihatmu tertawa. Sekalipun kau menertawai kebodohan atau kekurangan atau kejelekanku. Aku lebih sedih ketika kau bersedih, karena aku tak tahu harus lakukan apa untuk paling tidak membantumu mengangkat beban-bebanmu.
Percayalah, aku selalu senang melihatmu tertidur. Wajah yang akhirnya sejenak menemukan kedamaian di tengah karung keresahan yang akan kau temui ketika kau terbangun. Aku selalu mengecupkan doa kala itu. Kau tak pernah tahu.
Dan aku selalu senang membuat catatan tentang seseorang.
Apalagi, tentangmu.
No comments:
Post a Comment