Monday, June 01, 2015

Dongeng Untuk Juni yang Baru Lahir

Obstacles down.
Life goes on.
I survived.

Selamat pagi, Juni.
Banyak cerita dan pelajaran baru ketika gue menginjak di hari ini. Segala pernak-pernik suka-duka menghias kurang lebih 1-2 bulan terakhir.

Cerita jerih payah yang akhirnya terbayar lunas, cita-cita membanggakan kedua orang tua yang sama sekali tak pernah diharapkan sebelumnya karena takut tidak tercapai, hubungan persahabatan yang setiap hari membuat diri ini merasa beruntung karena dicintai, kapal cerita cinta yang masih juga bingung mencari pelabuhannya.

20 Mei 2015.
Hari tonggak bersejarah dalam perjalanan pendidikan yang selama ini gue tempuh.
Sekitar pukul 13.00 WIB gue diberi kepercayaan oleh 3 dosen yang sangat baik untuk menyertakan gelar S, Ab dibelakang nama panjang gue.
Kilas balik perjuangan, segala peluh, tangis, harapan, yang sebelumnya dirasakan semuanya luruh menguap tergantikan dengan kebahagiaan yang bahkan gue juga susah untuk menjelaskan. Perjuangan sebar kuesioner di tempat objek penelitian, ditanyain satpam karena dicurigai, menahan lapar dan lelah selama proses bimbingan, diberi harapan palsu oleh dosen pembimbing setelah 7 jam menunggu di ruang jurusan. Juga tidak lupa, rasa senangnya setiap berhasil untuk bimbingan. Masih lekat juga diingatan ketika di kedua buku bimbingan tertulis "acc siap diujikan". Takut, tegang, tangan tremor, bahkan hingga sakit yang disinyalir karena stress, pun ikut menerpa. Sidang skripsi adalah sebuah rintangan paling menegangkan yang pernah ada. Cerita-cerita semasa kuliah, belajar untuk UAS dan UTS, tugas-tugas yang berlomba dilimpahkan, hampir-hampir tak berpengaruh karena puncak perjuangan sesungguhnya ditentukan hanya dalam satu hari. Bahkan hanya dalam 1,5 jam. Sindrom susah tidur hingga jantung yang terasa kencang sudah dirasakan beberapa jam sebelum sidang. Penyerahan diri pada Yang Maha Kuasa setiap waktu dilakukan sebagai bentuk kepasrahan tingkat akhir. Pada akhirnya semuanya terbayar tanpa tersisa hutang. Rasanya mengucapkan "Alhamdulillah" berkali-kali dan sujud syukur tidaklah cukup. Jika Allah SWT memiliki wujud, pasti gue peluk. Rasanya juga ingin mengucapkan terima kasih berkali-kali atas dukungan tak henti dan doa-doa yang dipanjatkan oleh mamah, papah, kakak, para sahabat, kawan-kawan kampus, dan semuanya. 

Tak ketinggalan cerita persahabatan yang cukup banyak dipenuhi bumbu manis dan pedas belakangan ini. Intinya, semakin hari gue merasa sangat amat beruntung memiliki sahabat seperti mereka. Ternyata ada orang-orang yang begitu perhatian sama gue, yang begitu takut kehilangan gue. Gue bahagia dan beryukur bisa begitu berharga dan memiliki tempat di hati orang lain. Gue jadi menyadari bahwa gue punya nilai, dan ada orang-orang yang menyadari itu. Semakin hari semakin memotivasi gue untuk terus melakukan hal baik dan menghargai keberadaan mereka untuk tetap di dalam kehidupan gue. Sekarang sampai akhir nanti.

Terhadap cerita cinta yang sampai saat ini masih buram jalannya. Menghadapi seseorang yang membuat gue menerka-nerka harus melakukan apa, membuat gue mengerahkan seluruh kesabaran, membuat gue mempelajari pelan-pelan dan menerima karakternya, sampai akhirnya pelan-pelan jatuh dalam cinta. Pada akhirnya, paling tidak sampai saat ini, gue mengalami proses menyukai seseorang, tanpa berharap perasaan yang berbalas. Karena menurut gue, setiap perasaan yang muncul baik hanya kekaguman, suka, bahkan hingga sayang, itu semua dimunculkan oleh Allah SWT. Sebenarnya segala perasaan tersebut bukan milik gue, tapi milik-Nya, maka kepada-Nya lah perasaan tersebut semuanya kembali. Gue masih dan akan terus percaya, kalau memang kita diperuntukkan pada sesuatu, pasti kita akan menemukan jalan sepanjang dan sebesar apapun rintangannya, begitupun sebaliknya.

Segala jatuh-bangun yang gue alami belakangan ini, membuat gue sadar dan membentuk gue menjadi pribadi yang lebih dewasa lagi. Bijaksana dalam melihat segala kejadian, mencoba menatap orang lain dari sudut pandang berbeda, menghargai permintaan tolong yang datang, berusaha mengurangi kecurigaan atas niat orang lain terhadap kita. Semakin hari hanya membuat gue mau membersihkan hati dan berperilaku lebih baik lagi. Karena gue sempat merasakan diberikan perlakuan yang tidak menyenangkan, maka dari itu gue berupaya tidak berlaku serupa terhadap orang lain.


Besok gue sudah berada di kota yang berbeda dan pertama kali sebagai seseorang dengan status yang berbeda pula. Selesainya masa-masa kuliah, seperti telah selesai dalam perang. Besok saatnya proses penjajakan sebagai warga sipil. Kembali menyiapkan diri untuk peperangan yang selanjutnya. Peperangan yang lebih terbuka dan dihantam berbatalion-batalion musuh yang juga memiliki kemampuan yang luar biasa.


But,
I'm stronger and tougher than yesterday.
I have the biggest ability that not all the people have.


I have faith.




Sampai jumpa.

No comments:

Post a Comment