Wednesday, November 25, 2015

Seorang Perempuan dalam Sebuah Perayaan

Hari ini aku putuskan untuk memulai hari pada jam 4 sore. Jangan tanya kenapa atau bagaimana, karena katanya perempuan tidak suka ditanya. Aku pergi berjalan-jalan bersama Ceki. Ceki adalah sebuah kawan. Dia memang kawan, yang selama aku sudah resmi pindah ke rumah ini, selalu menemaniku kemanapun. Sebuah adalah sebutanku untuk sesuatu benda hidup, namun tidak berakal dan tidak berperasaan. Lain halnya dengan seekor, ku sebut untuk sesuatu yang berakal namun tidak berperasaan. Mudah-mudahan kamu bukan sebuah apalagi seekor.

Aku berlalu menyusuri jalan. Mereka bilang, jangan pernah menaruh sesal pada apapun yang sudah terlewati. Aku tidak sama sekali. Lalu aku arahkan kaca Ceki menghadap ke atas, karena aku tidak berniat menengok ke belakang.

Selalu ada alasan di setiap pertemuan dalam perjalanan, kata mereka yang pernah patah hati. Termasuk dalam perjalananku bersama Ceki. Aku bertemu dengan dua orang anak SMP yang mengendarai motornya masing-masing. Keduanya terlihat senang, bersemangat menggerungkan mesin motornya. Mereka mengebut tanpa kendali, berlalu melewati ku. Padahal mereka tidak tahu, ibu mereka sudah berfirasat di rumah, menunggu dengan kalut kedatangan anaknya yang sudah sore belum kunjung tiba. Sama seperti kekhawatiranku yang dulu seringkali memikirkanmu di tempat lain. Firasat akan kau yang telah pergi lepas kendali, jauh lupa kembali. Bukan salah si ibu, karena ia telah menjaga dan menasihatinya dengan baik. Dan aku sudah berusaha seluruh upaya untuk menjagamu, sebaik mungkin yang bisa dilakukan seseorang dari jauh.

Aku masih menikmati semilir angin sore bersama Ceki. Pelan tapi pasti. Ku lempar segala lelah dan kekalutan yang pernah hinggap, pelan-pelan ku buang di jalanan.

Lalu tiba-tiba di ujung sana, samar-samar ku lihat goresan putih yang tebal di aspal jalan. Semakin aku mendekat ku lihat ada sayup-sayup lambaian tangan. Semakin Ceki membawaku lebih dekat, bisa ku lihat itu adalah anak tadi, salah seorang diantara mereka jatuh dan terluka. Ada beberapa orang yang menolong si anak. Aku memilih tidak ikut menolong. 

Aku mengambil pelajaran dari pengalaman siapapun termasuk dari cerita kebut-kebutan dua anak SMP. Aku harap kau tidak jatuh karena permainanmu sendiri. Bahwa sesuatu yang diluar kendali dan berlebihan tidaklah baik. Dan yang terpenting, semoga aku tidak melihatmu jatuh. 

Lalu aku hanya bisa menyimpan senyum, dan berlalu melewati mereka.

Aku berjalan kembali pulang. Tepat sampai di rumah hujan mengguyur tanah daerahku. Hujan selalu menjadi penutup yang tepat untuk setiap perjalanan. Atau menjadi penutup yang tepat di setiap perayaan. Aku yakin Tuhan kali ini memberikan hujan untuk penutup atas keduanya. Perjalananku tentangmu, dan perayaanku yang siap melupakanmu.

"Seluruh yang kau miliki bukan yang kau mau. Seluruh yang kau mau bukan yang kau butuh. Seluruh yang kau butuh bukan yang mampu kau jangkau. Seluruh yang mampu kau jangkau luruh dan sia-sia belaka" - Aan Mansyur.

Aku pulang.
Aku pulang dengan perasaan yang begitu penuh.

No comments:

Post a Comment