Tuesday, July 09, 2013

Setengah Apel Di Teras Rumah

Pukul 16.05 WIB

Aku terbangun dari tidur panjang, dengan mimpi indah dalam perjalanan, dan hal-hal yang masih lekat dalam ingatan sebagai buah tangan. Tunggu, seseorang berkata bahwa ini mimpi paling nyata. Jadi, ini mimpi atau bukan?

Berratus juta jengkal yang membuat tunduk batin dan mengakui, bahwa aku resmi dinyatakan lumpuh. Lumpuh oleh jarak. Malu. Dan melalui puisi suka-suka tak tahu aturan (lagipula siapa yang butuh aturan?), aku membuang semua peluh suka, cinta dan duka dalam kata. 

Kalau aku katakan, aku rindu, kamu mau apa?

Aku sakit jiwa. Kamu sadar? Tapi kamu patut berlega hati, setidaknya aku menyadari. 

Ada suasana baru di luar sana, diantara riuh kendaraan dan asap yang mungkin mampu mengalihkan sejenak otakku yang telah memar, walaupun jadi makin lebam. Yah, setidaknya aku bisa bersyukur, bahwa otakku sebelumnya tidak terlalu parah. Apa yang ku dapat? Ah sudah, kamu tak perlu tahu.

Tanpa pesan -- kamu menjadikanku satu. Satu-sendiri. Berpikir dan menanti. Dini hari lalu, ku tinggalkan surat, yang ku tahu belum berbalas. Jadi, ku biarkan pena ada padamu. Aku menunggu surat cinta ke-sekianribu kalinya darimu. Lalu, diantara rentang jarum hitam yang berputar, keliaran pikiranku menjelajah hingga aku hampir limbung dan hilang keseimbangan. Jika semua itu salah, maafkan tingkah pikiranku yang jahat pada harimu. Jika memang itu benar, maafkan tingkah hatiku yang berani cemburu pada dirinya.

Ketidak-beranian ku menghadap kedua telapak tangan, karena banyak sekali yang bisa ku telusuri. Salah satunya bening kaca yang memberikan genangan diri yang lain. Egois. Tahukah kamu, atas kebersamaan ini, melahirkan rasa ego yang begitu dalam terpatri dan siap-siap memakanku kapan saja aku lengah. Ia bagai penyakit mematikan yang rasanya dalam hitungan waktu akan berubah menjadi virus tingkat tinggi. Hatimu milikku. Dan...

Surat kaleng -- banyak gelembung-gelembung kata yang ditiupkan oleh seorang perempuan ke udara. Di sela-sela waktu ketika Ia mampu menghadap langit. Satu penerima, dan hanya satu. Katanya, kamu. Ia memelukmu melalui hawa hangat diantara dingin yang kini menduduki bumi. Jauh jemarinya tak kuasa menyentuhmu, tapi cintanya yang melekat hingga menyatu pada sel-sel darahmu. "Hai gula, bahkan ketika kau merajukpun, aku masih mencintaimu," kata salah satu baris suratnya. Sudah ku silangkan kedua jari, ku katakan padanya aku takkan memberitahu siapa-siapa tentang surat-tanpa-pengirim yang tertuju padamu. Setelah itu, Ia tersenyum dan berlalu.

Aku masih merangkai gambar-gambar membingungkan dan akan selalu membingungkan di dalam pikiranku. Tentang hitam yang menjadi putih, dan putih yang menjadi abu-abu. Nantinya semua kembali menjadi tanya. Kapan aku berhenti bertanya? 


Kepada pembaca (jika ada yang membaca), jangan berlama-lama membaca tulisan ini. Akan selalu ada ketidak-mengertian kecuali yang mengalami. Karena aku tak menyediakan ruang bagi mereka yang memang tidak mengerti untuk menjadi mengerti. Mengapa? Aku pun terkadang tak mengerti. Banyak bagian-bagian yang ku tolak untuk ceritakan. Akhirnya, batu-bata yang bolong itu memberikan bangunan kopong yang tak punya rangka dan jika hancur nanti lagi-lagi meninggalkan....tanya.

Ketika fajar terlelap senja ini, disitulah terbit suara jiwa yang melantangkan cerita-cerita manis pahit yang tak mampu ku pungkiri keindahannya.
Senyum yang lahir di hati pada sore yang teduh ini menjadi payung untuk kisah-kisah selanjutnya, terlebih untuk memayungi jiwamu.



Sudah ya. Selamat sore, sayang :)

No comments:

Post a Comment