Rasanya aneh.
Seperti ada sesuatu yang berhamburan, berhambaran.
Hambur dan hambar.
Rindu yang terbayar dan menghilang.
Tunggu, terbayar dan menghilang adalah dua hal yang berbeda.
Melihatnya tertawa mampu membuat rindu ini terbayar.
Namun ada yang lain disana,
dan seketika rindu itu hilang.
Rasanya aneh.
Bertemu denganmu seperti mencampurkan kecap dan sambal bersama.
Atau memegang bunga mawar? Ah entah apa analoginya.
Seperti senang dan sedih yang berlomba duduk di relung.
Bingung.
Pagi tadi, ku kemas segala pernik kalimat cerita.
Supaya ada yang bisa kita celotehkan bersama.
Tapi lidah ini pahit, kelu. Lalu aku cuma diam.
Kau juga diam.
Jadi tadi itu apa?
Kecewa yang ku bungkus dan ku bawa pulang ini,
mungkin hasil dari harapan yang ku bentuk dari semalam.
Aku tahu kau sedih. Kau tahu aku juga?
Jadi mungkin benar, dari sejak awal kau kurung dirimu.
Tadi, ku lihat tiang-tiang besi terpancang di sekitaranmu.
Kau kaku dan sulit bergerak.
Untuk apa? Supaya kita berjarak ya?
Jika memang harus seperti itu,
ku amini semua langkahmu.
Akan ku bawa novel tragedi ini,
supaya kau tak perih lagi. Kau tak perlu takut dan tak perlu mengurung diri.
Biar aku yang baca, biar aku yang bawa.
Biar aku yang selesaikan.
No comments:
Post a Comment