Pada suatu hari. Bukan di hari Minggu.
Terkenang hidup seseorang. Jiwa yang sedang dalam perjalanan.
Kau hancurkan tembok bata yang ku bangun dengan penuh cinta kasih.
Meriam dan peluru-peluru besimu, menyisakan asap. Asap kebencian.
Aku tak percaya.
Kau membunuhku.
Aku tak percaya..
Setiap orang dapat berubah. "Ternyata, kau juga", kata kaca.
Ku pikir aku seperti rumput ilalang. Tak berguna dan terabaikan.
Namun, aku senantiasa berdiri pada akar bahkan ketika hujan badai.
Tapi kini, kau cabut paksa aku.
Aku bertanya, mengapa?
Mengapa kau cabut aku lebih awal?
Kau memang seperti pemburu liar di hutan.
Menginjak, memangkas, mencabut, membakar.
Kau lupa satu hal.
Kau lupa, ilalang ini, juga makhluk hidup.
Di ujung jalan,
perempuan tak berwajah menyelami kekalnya doa.
Ia yang diasingkan siang, diceraikan malam.
Berpuisi dan merajut cinta dengan bumi dan rahasia.
Hingga kata dan sabda telah diucapkan.
Hingga kesedihan berlaku seperti musim.
Selalu berakhir.
Dan terangkatlah ia ke pangkuan ibu bumi.
Perempuan tak berwajah, melangkah dalam damai.
No comments:
Post a Comment