Tuesday, March 11, 2014

Tyson dan Bulan Maret

Siapa yang tak sedih ditinggalkan yang tersayang pergi ke haribaan Sang Pencipta?

Gue berkali-kali bangun saat tidur semalam dan setiap tidur lagi gue selalu mimpi buruk. Sampai pagi hari pun gue gak berminat kuliah. Dan gue gak sangka kalau 11 Maret 2014 ini, kucing kesayangan yang udah gue anggap seperti adik kecil gue sendiri telah pergi untuk yang selama-lamanya.

Memasukki 40 hari sebelum kepergian Tyson, dia udah gak mau makan. Muntah-muntah terus dan tingkahnya selalu aneh. Tyson udah gak bisa manjat pagar rumah untuk pipis diluar, akhirnya gak jarang dia pipis di dalam rumah. Yang gue sedihin, sering gue dengar Tyson dimarahi mamah atau papah karena pipis sembarangan. Biasanya gue yang berada di garda depan kalau-kalau Tyson dimarahi berlebihan.

Tyson adalah kucing yang gue rawat sejak dia baru lahir. Tyson itu anak ke 3 dari 3 bersaudara. Kakak-kakaknya gak ada yang bertahan pas kecil, cuma Tyson yang kuat. Tyson dan kakak-kakaknya sempat mengalami masa suram. Mereka dibuang di pasar karena mamah sempat gak membolehkan pelihara kucing lagi. Sebelumnya Meng-Meng, ibunya Tyson, gue rawat. Setelah Tyson besar, Meng-Meng pergi.


Karena gue sempet sakit soal Tyson dan saudaranya yang dibuang, akhirnya dipungut lagi. Tyson bertahan sampai besar. Dari sejak gue SMA kelas 1, sampai semalam sebelum dia meninggal. 

Yang paling gue ingat dari Tyson jaman dulu adalah, Tyson selalu gangguin gue kalau lagi belajar. Dulu waktu SMA, kalau gue beresin buku pelajaran buat besok, Tyson selalu ikutan duduk diatas buku-buku yang bertebaran. Selain buku, Tyson itu senang sama plastik (re: kantung kresek); jadi kalau ada kantong kresek bunyi-bunyi, dia pasti langsung dateng; kalau plastiknya terbuka, dia suka main masuk aja terus duduk diam disana. Lainnya, Tyson itu suka nimbrung sama orang yang lagi ngobrol seru. Pokoknya kalau ada orang ngobrol, Tyson selalu main dateng dan duduk dengerin, walaupun yang lagi ngobrol itu ada di kamar atau di ruang tv. Lainnya lagi, Tyson itu senang nyeruduk kepala gue kalau gue lagi iseng nunduk sujud. Terus, kalau mamah habis pulang dari pasar, Tyson suka nyambut mamah di pintu, nungguin oleh-oleh organ dalam ikan yang mamah dapat dari pasar. Dan masih banyak lagi tingkahnya yang selalu bikin damai hati.


Tyson juga kucing yang mungkin mirip manusia banget. Dia itu senang makan roti, makan telur, makan kue, makan martabak keju. Yang paling aneh, dia pernah jilat ampas dari kopi bekas mamah minum, dan pernah minum minyak. Tyson juga suka ayam. Beda sama Meng-Meng yang makannya makanan kucing modern dari Swalayan, Tyson lebih mau makan kalau menunya nasi hangat + ikan cue yang dicampur. Dia emang kucing tradisional, sukanya ikan murni yang masih segar.

Tyson juga kucing paling terkenal di kalangan angkatan gue pas SMA. Sampai-sampai kalau lagi disapa teman dipanggilnya bukan Risty tapi, "hai Tyson!". Teman-teman waktu SMA sering banget main ke rumah cuma mau main sama Tyson. 

Hal yang paling mengharukan dan akan selalu gue inget sampai kapanpun adalah, ketika gue beranjak kuliah di Semarang dan kakak gue di Bandung, lalu mamah harus ikut papah yang kerja di Jawa Timur, yang akhirnya mengharuskan rumah ditinggal kosong dan Tyson ditinggal sendirian. Gue dan keluarga udah pesimis dan ikhlas kalau-kalau Tyson mati atau pergi dari rumah karena udah gak ada yang urus. Pernah suatu kali ditinggal sampai 2 bulan lamanya, dan pas saat mamah pulang ke rumah, ternyata Tyson masih ada disana. Tyson gak pergi kemanapun dan masih setia nunggu rumah. Gue terharu banget karena punya peliharaan yang setia kaya gitu.


6 tahun Tyson hidup di bumi, 6 tahun pula Tyson masuk ke bagian keluarga gue. Dia jadi penghibur kalau suasana di rumah lagi gak menyenangkan. Dia yang selalu jadi penghibur kalau ada salah satu anggota keluarga yang lagi galau. Tyson pencair suasana. Keberadaannya diperhitungkan di rumah. Tyson juga motivasi terbesar gue kenapa selalu rindu rumah dan kenapa selalu gak sabar pulang ke rumah. Rasanya kaya punya adik kecil beneran.

Masih gak sangka, Tyson pergi saat gue jauh. Mungkin maksudnya biar gue gak sedih karena lihat jenazahnya secara langsung.


Terima kasih adik kecilku, udah setia sampai hari ini. Aku ikhlas Tyson pergi. Mungkin disana lebih banyak ikan dan ayam dan kue-kue enak yang bisa Tyson makan. Mungkin Tyson udah gak cocok sama makanan di bumi makanya Tyson udah gak suka makan belakangan ini. Kalau nanti aku sedih kesepian di rumah, semoga Tyson samperin aku di mimpi :'(

Tenang aja, Tyson sekarang aman. Ada Allah yang jagain Tyson. Allah aja bisa jagain aku dan bumi ini, Tyson pasti dijagain juga :)


Selamat jalan.

Aku sayang Tyson..

No comments:

Post a Comment