Suara dan kata yang dipilin dan dipintal,
terlahir dari lidah yang katanya selalu lapar akan kejujuran.
Telunjuknya senantiasa mengacung,
pada yang ia bilang "makanan yang harus di waspadai".
Padahal, lidah yang lapar itu siang malam beratap dari mulut seorang pendusta.
Ia lari kesana-kemari,
menganak-tirikan serta membela mereka yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri.
Tak jarang matanya mendadak buta,
akan baju yang ia kenakan, akan warna yang ia pegang.
Akan hati yang ia tambat.
Seolah seperti guru agama yang siap menjahit bahkan setitik niat buruk di kulit.
Dari corong bulat itu, ia teriak keadilan.
Ia lupa, yang didalam cermin itu, tak ubahnya seperti maling yang selalu ia perangi.
No comments:
Post a Comment