Mungkin memang benar teknologi memiliki efek samping. Menjadi candu dan belenggu bagi manusia. Saya contohnya, termasuk seseorang yang susah bila jauh dari handphone. Padahal kalau pegang handphone pun hanya membuka media sosial yang tidak penting. Seperti ketergantungan. Sungguh mengerikan.
Saya pun juga memperhatikan, kecenderungan ini mulai merasuki anak-anak. Tangan kecil mereka sibuk dengan benda kotak penuh radiasi yang mereka genggam erat. Matanya terpaku, dari yang matanya masih sehat, hingga mata yang sudah butuh bantuan.
Saya suka membaca. Mungkin bisa dibilang memiliki gangguan mental, karena lebih memiliki tendensi pembelian impuls di dalam toko buku dibanding toko baju, tidak seperti perempuan lainnya. Tapi saya sedih jika melihat anak kecil, yang masih bersih pemikirannya dan butuh digali dan diasah bakatnya hanya terpentok di sebuah handphone, tablet, kapsul, puyer, apalah namanya itu. Imajinasinya kurang berkembang. Saya punya contoh kasus dari seorang teman. Dalam pembuatan tugas akhir, ia kesulitan dalam menemukan buku untuk menggali teori berkaitan dengan penelitiannya. Dia bilang, "aku tuh gak seneng baca Ty. Kamu seneng baca ya, enak." berbicara sambil matanya yang terpaku pada game di handphone-nya. Saya tertawa meringis sambil berpikir. Fatal juga dampak tidak suka membaca, bukan?
Saya pun juga memilih kalau mau membaca buku. Tidak suka yang serius ala orang dewasa, seperti bau pencampuran ruangan kantor, bapak-bapak berkumis, beserta kemeja dan pulpennya, serius. Saya tidak suka. Tapi kesenangan membaca paling tidak memudahkan kita untuk hal-hal penting seperti itu.
Saya penggila genre fantasi, film maupun buku. Penyuka fiksi yang bukan picisan. Saya penulis yang tingkatnya bahkan masih dibawah amatir. Berkali-kali menulis novel tapi selalu gagal karena banyaknya distraksi. Pernah membuat banyak sekali cerita pendek tapi dibuang begitu saja oleh ibu saya (dan saya akan selalu ingat kesedihan yang satu ini, sampai kapanpun). Tapi saya punya misi, mengenalkan budaya membaca pada anak-anak dengan jalan membuat cerita fantasi, yang sekaligus membuka imajinasi mereka. Walau saya belum tahu eksekusinya bagaimana karena status "mahasiswi tingkat akhir" yang cukup menganggu ini.
Tapi yang paling penting, semoga dengan keluarnya tulisan ini, ada banyak orang yang tergerak hatinya untuk sama-sama membantu mencerdaskan bibit bangsa. Apapun misinya, bagaimanapun caranya, seberapa kecil atau besar dampaknya, pasti akan bermanfaat.
Selamatkan generasi bangsa dengan caramu.
Ini misiku, mana misimu?
No comments:
Post a Comment