Thursday, June 19, 2014

15 Juni 2014

Jadi begitulah tanggal 15 Juni 2014 kemarin aku habiskan. Sederhana dan menyenangkan. Satu hal: bersyukur.

Dimulai pagi hari aku mengejutkan dikejutkan oleh 5 kawan Ganja yang sedang ada dalam kamar kosan (dimana pemiliknya sedang menginap di kamar temannya). Cukup satu kotak donat meleleh hangat yang terasa enak karena dicampur rasa syukur, senang, dan kekesalan dari pembuat kejutan, topi lucu, beserta lilin diatas donatnya.


Mungkin aku satu-satunya anggota Ganja yang dilumuri lelehan donat karena saking kesalnya dibuat menunggu selama 2 jam. 


Salah satu kawan, Yuniar berkata, "ini Ty kita hadiahin sendal biar kamu gak pake itu terus" sambil nunjuk sendal jepit keyboard kesayangan yang dipake kemanapun. Catat, kemanapun.


Sayangnya momen kebersamaan cepat sekali hilang hanya sampai jam 11 siang, karena kawan-kawan punya urusan masing-masing. Dan hawa kesepian mulai merasuk. Aku masih ingat rasanya seperti apa. 



Lalu aku hubungi salah satu kawan, Fallen. Aku bilang mau jalan-jalan, tolong bawa aku kemanapun. Habis dia berenang, kami baru pergi sekitar jam 3. Mendung menghias langit, aku bingung mau kemana. Akhirnya? Balon sabun sebagai pengobat sepi sekaligus sebuah perayaan. Senang, kenapa? Karena hujan ingin sekali turun tapi Tuhan berusaha menahannya, juga karena dengan siapa aku menghabiskan hari, juga karena balon sabun dan tawa anak-anak kecil yang juga gembira karena banyak gelembung sabun bertebaran di sekitaran mereka.




Hari mulai malam, dan aku berencana menghadiri sebuah acara jazz bersama Fallen. Tapi apa mau dikata, kami menghabiskan tenaga dan waktu hanya untuk tersasar berpetualang. Kami masuk ke wilayah Pecinan dan bertemu sebuah kondangan aneh dimana ada seorang wanita bernyanyi dan berjoget diatas panggung sambil memakai celana mini dan kaos tanpa lengan. Di sekitarannya hanya ada beberapa penonton namun semua seakan terhipnotis dengan si wanita tersebut. Sebagai catatan, penonton tersebut adalah para lelaki.

Setelah itu kami tersesat kembali hingga ke sebuah pasar malam. Aku dan Fallen saling bingung karena kami diantara para tukang jualan dan lalu lalang orang sedang kami terus melaju diatas motor. Ya, di tengah kerumunan. Kami tertawa bingung bersama.

Akhirnya kami sepakat, kami gagal. Dan akhirnya pulang.




Aku ingat doa seperti apa yang diucapkan keluarga dan kawan-kawan pada saat hariku itu. Tapi ada satu doa yang lekat diingatan, satu-satunya beda, satu-satunya doa yang seakan tahu aku seperti apa, dan menjadi motivasi di hati kecil ini.

"Semoga kamu bisa jadi penulis ya Ris. Kamu harus jadi penulis, minimal satu bukumu terbit. Nanti aku mau beli" - Fallen.


Sekali lagi, Alhamdulillah.
Tuhan tidak pernah memberikan kekecewaan padaku setiap bulan Juni.
Sampai bertemu di 15 Juni pada tahun selanjutnya.
Aamiin.

No comments:

Post a Comment