Monday, November 03, 2014

Dan Malam Ini, Aku Tumpah...

Ternyata saya rindu.
Rindu membicarakan banyak sekali hal. Dari, seperti, mengapa bangku bernama bangku? hingga kamu percaya surga dan neraka? Saya juga rindu diskusi mendalam tentang nasib, kebetulan-kebetulan lucu, hati, cinta, masa lalu, hingga takdir yang begitu senang memisahkan kami. 
Dan bagian ini yang paling saya rindukan.

Ternyata saya rindu.
Rindu berbagi lagu-lagu dengan lirik yang bermakna, atau lagu dengan lirik lucu sekalipun seperti Alcohol milik CSS. Rindu membicarakan musik apapun. Saya terima lagu atau musik apapun yang ia beritahukan, walau saya tidak tahu. Dan sebaliknya. 

Ternyata saya rindu.
Rindu kami dalam diam. Kalaupun ada hubungan paling aneh tapi nyata, itulah yang saya rasakan saat kami berdiam termenung di danau itu. Seperti kami yang disaksikan hewan dan tumbuhan disana. Dalam diam aku merangkai doa dan ceritaku sendiri, Ia juga diam seperti menerka namun tak pernah bisa. Saya selalu merasa mampu berbicara dengannya dalam hati. Mungkin ini berlebihan dan gila. Tapi ini nyata. Kunjungan di danau selalu berakhir dengan bunga yang saya sampirkan di dekat kaca spion motor miliknya. Dan saya senang Ia tak membuangnya.

Ternyata saya rindu.
Rindu seseorang yang bisa menerima seutuhnya. Utuh seperti adanya saya yang aneh, yang manja, yang maunya banyak, yang suka jalan-jalan, yang tahu semua keburukan sifat, yang bisa melihat kebaikan di diri saya, yang mau mendengar banyak cerita tidak penting yang saya lontarkan, yang sadar saya 'berbeda' dan tidak menjauh, yang bisa menjadi bapak-partner-kawan, yang menjadi kotak rahasia terbesar, yang menjadi kotak tertawa, yang tahu semua cerita masa lalu saya, yang bisa membuat saya merasa aman dan terlindungi, yang sadar saat saya sedih bahkan ketika tak berkata apapun dan pasang raut muka menipu, yang bisa jadi wikipedia berjalan pribadi, yang bisa tetap bijak sekalipun pada saat sulit, yang mau terima semua puisi-puisi amatiran, yang mau memuji hasil cerpen yang sebenarnya tidak jelas, yang begitu kuatnya ingin saya jadi penulis, yang mau membuka pikiran saya lebih luas lagi tentang dunia.

Mungkin kenangan kami sudah terlalu banyak, rasanya saya terjejal hingga remah-remah memori satu persatu menguap. Tapi saya masih banyak ingat yang manis, juga yang pahit, seperti:


  1. Ketika hujan badai mengguyur kota, kita pergi berjuang membawa setoples besar air gula yang sudah kita masak untuk dibawa dari tempatmu ke tempatku naik motor. Kita seperti power ranger, berjas hujan. Hujan memang amat kuat, tapi aku ingat jelas apa yang kamu teriakkan di tengah deras itu, "Ris, aku sayang sama kamu!"
  2. Di perjalanan pulang dari Solo ke Semarang, ada lagu tidak menyenangkan (karena bercerita tentang kisah kita) yang diputar di radio. Lalu kita diam, hanya diam. Sampai akhirnya kita sampai di Semarang dan kamu membicarakan hal itu dengan, "kamu denger lagu tadi? Aku benci lagu itu".
  3. Kita pernah berenang berdua di salah satu taman rekreasi air di Semarang. Berenang paling lucu karena kita bawa bekal satu plastik berisi gorengan dan rokokmu, yang kita simpan seperti harta karun dibalik batu dibawah jembatan di kolam renang. Kalau kita lapar, kita hampiri harta itu, dan sebaliknya.
  4. Dalam perjalanan petualangan menuju Pantai Bandengan - Jepara, kita diguyur gerimis yang agak keras. Kita hanya memiliki 1 jas hujan di bagasi motorku. Akhirnya kita membagi dua, dengan kamu memakai bajunya, aku celananya. Sampai di pantai kita dilihat banyak orang, seperti alien.
  5. Tahun lalu, perpisahan kita di bulan April. Lalu aku secara iseng membuka akun twitter kawanmu, dan menemukan kawanmu menulis hal-hal yang puitis, seperti dirimu. Ketika kita bersama lagi, lalu aku tanya, "Ternyata Planet puitis juga kaya kamu ya?", "maksudnya?", "waktu itu aku iseng buka twitternya kok isinya begitu", "hah? Itu aku tulis pesan buat kamu, tapi di twitter dia. Pertimbanganku, kalian gak follow-followan, jadi kamu gak mungkin tau", "tapi aku tau.....", "iya, dan aku bingung sama kebetulan yang aneh ini".
  6. Pesan singkat dini hari selalu berisi, "Ris, besok bangunin aku ya. Kalau kamu gak hampiri aku, aku gak mungkin sekolah." seperti anak kecil polos. Lalu aku datang dan melihatmu tergeletak di kasur. Tak jarang ketika aku membangunkanmu, aku pula yang dimarahi. Bahkan aku rindu pula membereskan kamarmu yang tak ubahnya kandang sapi. Melihatmu bergegas berpakaian sebelum kita ke kampus bersama. Seperti ibu yang mengurusi anak lelakinya, atau seorang istri yang melayani suaminya, entahlah semuanya sama. Sama-sama dengan cinta.
  7. Masih lekat di ingatan ketika kita tiba-tiba diatas motor yang sama sehari sebelum ulang tahunku. Juni lalu. Kau mengajakku tak tentu arah dan kita canggung dibawah langit malam. Karena hampir dua bulan kita tak bertemu. Obrolan hanya seputar mengingat dan merantai semua yang pernah kita lewati jadi satu. Dan aku sadar aku bahagia saat itu.
  8. Ketika kamu meneleponku pagi itu. Kamu di rumah di kotamu dan aku di perantauan. Kamu berharap kita bisa bercakap banyak, sedang aku tahu apa yang kamu perbuat semalam dengan seseorang lain. Kamu tahu ada yang tidak beres saat itu, dan kamu tahu aku melemparkan tweet bernada pisah ketika itu dan membalasnya dengan "salah paham berujung maut". Setelah itu aku tak melihatmu lagi berkeliaran di linimasa twitter. Sampai akhirnya ibu penjaga kosan memanggilku karena ada seorang lelaki mencariku di depan. Dan kudapati kamu yang lusuh dan lesu masih menggendong ransel kembali dari Purworejo menuju Semarang hanya untuk mengklarifikasi, dan sore itu pula kamu kembali. Menuju Solo.
  9. Ketika pasangan lain berpredikat "saling melengkapi", kita justru "saling menambahkan". Kamu dan aku sama-sama memiliki kemampuan yang dangkal menyoal arah jalan. Ingat ketika kita berniat ke Pecinan namun justru tersasar ke kondangan bahkan ke pasar malam? Bahkan aku masih ingat tawa akan kebodohan kita kala itu.
  10. Tak jarang kita mengobrol hingga berdebat ketika berdua. Kamu menganggap kita sedang beradu argumen, aku pangkas dua katamu menjadi berdebat. Pun ketika kita saling bercerita, dan aku tiba-tiba diam, kamu sesekali menyanyikan Mari Bercerita milik Payung Teduh. Dan aku selalu malu ketika kamu mulai bernyanyi lagu itu.
  11. Terlalu banyak takdir bernama "kebetulan" yang selalu membuat kita terganga. Terakhir adalah"kebetulan" saat pertemuan kita di Jogja. Ketika kamu dan teman-teman KKN mu begitu juga aku dengan teman-teman KKNku. Dengan keadaan kita yang berbeda kecamatan. Kita, di tempat nasi goreng itu, pertama kali aku kesana bersamamu. Sampai beranjak tidur aku tak habis pikir akan kecanggungan kita ketika bertegur sapa. Bisa-bisanya Tuhan mempertemukan kita bahkan di tempat sejauh itu?
  12. Kita bagai filsuf kelas teri. Atau aku yang kelas teri, dan kamu kelas moyangnya teri. Berdiskusi apapun. Terkadang kita terjerat dalam situasi obrolan dimana kita seperti mengobrol dengan cermin. Saling mengakali satu sama lain, dan saling waspada, serta takut "terjerumus", entah di lubang apa. Seringkali aku mendapati diri yang akhirnya kelaparan hebat sehabis mengobrol. Bisa dibayangkan seberapa berat bahan diskusi kita?
  13. Mungkin kita sepasang orang gila yang mengawali kedekatan dengan menghidupkan binatang buas imaji di benak kita. Kamu dengan nagamu, dan aku dengan bison terbang berbulu. Seperti keduanya hidup nyata di halaman rumah kita.
  14. Aku masih ingat bagaimana kita menyambung hidup kala itu ketika tak ada uang sepeserpun di dompet kita. Kamu dan aku sama-sama meraih receh-receh dari tempat-tempat tak terduga, untukmu membeli segelas kopi dan rokok di burjo dan aku untuk membeli makan. Namun kita tetap bahagia, dengan melabelkan diri kita sebagai "kere-hore".
  15. Ingat waktu kita sedang mencari tempat murah meriah yang nyaman hanya untuk tempat mengobrol? Dan kita masuk duduk di teras kosan teman kita tanpa ada teman kita disana. Santai aku membuatkanmu kopi, dan duduk sembari mengobrol. Kita memang sepaket manusia tidak punya malu.
  16. Penyakit dini hari masih menjangkitiku. Mencari-cari di tiap sudut jejakmu. Sudah jarang ku temui kau melagu dengan puisimu itu. Tentang apapun. Ku harap kau masih sama seperti penyair yang ku puja. Jangan pernah berubah.
Seringkali saya merasa pincang ketika berjalan. Berjalan mengarungi hari. Banyak sekali bagian diri yang rasanya terenggut paksa. Tentang kebiasaan, kebahagiaan, kepingan diri. Terkadang masih terasa ada yang mengerut dan perih, tiap teringat kebersamaan kami. Tak jarang saya menipu diri, mengulang kalimat bahwa saya utuh dan tak kehilangan suatu apapun. Demi untuk menenangkan diri. 

Saya tidak tahu harus peduli atau tidak menyoal perasaannya. Masih, hampir lupa, atau sudah punah. Saya tidak tahu. Dan saya tidak akan pernah tahu. Jika saya tahu pun saya tidak harus apa. Lagipula memang harus bagaimana?

Satu hal yang perlu kau tahu, saya tidak pernah sedih melihat segalanya yang berhubungan denganmu. Kau takkan pernah tahu lucunya bisa tersenyum saat melihat seseorang yang saya cinta bahagia. Saya tidak tahu apa itu cinta sejati, tapi itulah yang saya rasakan.

Saya tidak menyesal karena tidak menerimamu kembali kala itu, pun saya tidak menyesali keadaan ini. Saya cukup bahagia melihatmu akhirnya kembali pulang. Saya juga cukup bahagia kembali menapakki jalan dan bertualang sendiri, seperti dulu, tunawisma, tanpa arah.



Satu puisi milikmu sebagai penutup kerinduanku malam ini.

" Pencuri

Dulu ada dua pencuri yang saling melindungi dan saling mencuri
Mencuri tawa, kerling, cerita, duka resah dosa kelakar emas, hati
Hasilnya mereka gadaikan pada tuhan
Ditukar dengan arti yang kian tak dapat dimengerti." - FO.



I hope you good, Supertramp.

No comments:

Post a Comment