First, I don't know why I should post at this time (5.09 AM). Second, I don't know why (again) those damn things such as thoughts attack my whole mind and I can't possibly continue my sleep and have to throw it all away -_-
Semakin hari gue semakin menyadari bahwa, tidak banyak orang bisa mengerti apa yang gue rasakan. Gue enggak tau apa ini rumit aja apa rumit banget atau enggak ada rumit-rumitnya acan, tapi maksudnya..apa yang gue alami sekarang adalah masalah psikologis yang gue sadari sendiri (barusan) itu kacau banget.
Gue baru saja menyadari bahwa ternyata gue memang move tapi bayang-bayang itu susah lepas. Masalahnya yang keinget bukan yang manis tapi yang pait, gimana dong? Semua tindakan orang lain, siapapun itu, bisa bikin otak gue konslet sendiri dan keinget bahwa apa yang dilakukan orang tersebut pernah dilakukan seseorang di masa lalu. Catat, perlakuan pait. Di sisi lain gue menantang diri sendiri untuk bisa lawan itu semua. Iya kok gue lawan. Dan di sisi lain gue jadi kaya, "kok rasanya gue pernah diginiin". Gue udah enggak ada urusan dengan kenangan manis masa lalu, tapi orang sakit cacar emang bekasnya cepet hilang? Ya walaupun gue enggak pernah cacar sih -___- okedeh analogi yang lain. Lo dilempar pake batako segede gaban dan itu tepat kena di dada lo. Bolong, sakit. Ya itu. Ketika gue pake analogi "batako", percayalah gue sama sekali enggak hiperbola.
Tapi sekali lagi, luka lebamnya itu di kulit dan cacat sampe dalem, maksudnya ya masih bisa ditutupin baju. Ya kan? Dan gue mencoba pake baju baja, yang enggak tau beli dimana.
Bayang-bayang itu kaya dementor yang selalu ngikutin, kecuali gue tidur, dan kecuali gue sama dia. Kita suka ketawa, kita suka diskusi, kita berimajinasi, kita lucu. Dementor itu kerjanya menyedot kenangan manis, sedangkan dementor yang ini mengeluarkan kenangan buruk yang bisa bikin :) jadi :( atau jadi :| juga bisa.
Gue udah lakuin hal-hal itu. Gue udah pasrah (saat itu), dan berdamai dengan keadaan, berdamai dengan waktu dan rasa sakit. Gue udah berdamai dengan duka. Gue membiarkan mereka masuk karena rasa sakit semakin kita melawan semakin dia menjadi-jadi. Tapi itu kemarin. Gue tau saatnya sekarang bukan waktunya lagi gue menya-menye diisengin dementor. And I'm on my way to fight it.
Ada perasaan bersalah ketika gue merasa diluar kontrol, membandingkan secara enggak sadar orang yang saat ini dengan yang dulu. Karena gue tau rasanya nyakitin banget. For you to know, I apologize for what I've done, I didn't mean to do that.
Di sisi lain, ada semacam monolog yang selalu muncul disaat orang mungkin merendahkan atau menganggap sepele, "Kalian enggak pernah ngerti apa yang aku rasain. Semuanya. Sedalam apa, sehitam apa, selebam apa. Kalian enggak akan pernah mengerti. Karena kalian hanya melihat permukaannya. Mungkin sebagian mengerti, sebagian tidak (mau) mengerti. Tapi percayalah, aku mencoba melepaskan diri dari itu semua. Aku mencoba menyembuhkan diriku sendiri. Dan pada akhirnya kalian enggak akan pernah tau hasil nanti seperti apa. Yang jelas, aku enggak akan ngecewain seseorang selanjutnya dengan 'hal bodoh semacam itu'. Dan aku harap kalian mendukungku,".
Well, half of my godamn thoughts has just came out. Sleepy slowly comes and attacks.
And for the epilogue.. umm it might be a little off topic..
Thank you for staying beside me. Thank you for helping me.
Good morning, the-cold-one.
Good morning, universe!
No comments:
Post a Comment