menjadi musim tidaklah menyenangkan.
Ia hanya sementara, terkadang diinginkan, terkadang tidak.
Ketika membawa badai, Ia dicaci.
Ketika membawa sejuk, Ia dipuji.
Aku? Aku tidak pernah bermimpi menjadi musim.
Harus tegar dan kokoh disaat orang-orang membicarakan atau menginginkan musim lainnya.
Namun sepersekian detik melayang dibuai kata-kata manis memuji.
Ketika musim memiliki perasaan, apa iya Ia merasa dipermainkan?
Diantara ketiada-abadian, setidaknya masih ada teman sepanjang waktu, sepanjang hidup.
Udara?
Diinginkan atau tidak, Ia tetap dibutuhkan.
"Sang Surya Menyinari Dunia" pun memiliki masa untuk menghilang.
Aku rasa tidak dengan udara.
Keberadaannya tidak terlalu nyata, tapi dapat dirasakan.
Lalu aku ingin jadi apa? Tidak tahu.
Aku ingin menjadi nyata. Senyata-nyatanya, untuk seseorang.
Ada, sampai akhir hayat, selamanya.
Bukan hadir, untuk dilupakan.
No comments:
Post a Comment