Saya selalu membayangkan apa rasanya menjadi zombie. Mungkin kalaupun ada zombie di depan wajah ini, saya tak bisa mewawancarainya terlebih menanyakan perasaannya, toh mereka hanya seonggok mayat hidup. Namun kurang lebih seperti ini rasanya menjadi zombie, tidak punya rasa. Mati rasa. Menyedihkan.
Proses penyembuhan dari luka sedang saya alami, atau mungkin sudah dilewati? Saya tidak tahu persis. Saya bukan penganut "Move On-ers", saya adalah "Survivor". Saya sudah mengukur dan tahu pasti bahwa saya sudah mampu bertahan. Bertahan dalam kesendirian, berkawan dengan sepi, tidak terpengaruh dengan lagu-lagu galau penghanyut. Boleh jadi ini adalah prestasi terbesar saya, bisa menetralkan diri dalam beberapa bulan saja. Mungkin karena teringat momen terbesar dan terberat dalam hidup dimana saya menghabiskan waktu kurang lebih 1,5 tahun terpuruk dan merajuk dalam kehilangan dan patah hati yang rasanya tak pernah kunjung selesai. Dan saya pikir cukup bodoh jika saya tidak belajar dari semua itu.
Saya kembali menjadi perempuan independen. Kembali diberi kesempatan untuk memperbaiki diri menjadi perempuan yang lebih baik. Kembali diberi kesempatan untuk dipertemukan dengan laki-laki yang lebih baik. Saya selalu percaya, setiap perpisahan justru mengantarkan kita pada sebuah awalan, awalan dengan yang baru lagi. Begitu seterusnya. Hidup ini siklus, hidup ini roda, kadang diatas-kadang dibawah, dan selalu berputar. Dan saya tidak pernah menyesal "dipertemukan" dengan siapapun, karena semua hal terjadi tidak dengan tanpa alasan, termasuk sebuah pertemuan.
Balik lagi pada zombie, saya merasakan kembali ada yang aneh dalam diri. Ada yang beku, ada yang dingin. Saya melewati proses ini lagi. Beberapa waktu lalu saya diberitahu oleh kawan laki-laki saya, "Lu sih Ty liatnya 'kesana' mulu, gak tau aja ada yang diem-diem pengen merhatiin lu,". Lalu saya diam. Saya pikir terlalu rentan dan beresiko kembali menitip hati pada seseorang di waktu-waktu seperti ini. Saya tidak mau orang tersebut menjadi pelampiasan atau apapun namanya. Karena kita tidak akan pernah tahu dan sadar bagaimana perlakuan kita. Jadi saya pikir, sendiri adalah keputusan yang cukup baik. Tapi saya percaya suatu hari nanti, lagi, akan ada yang datang dan mengubah kembali hidup saya.
Namun ternyata, bertahan dari ombang-ambing proses penyembuhan tidak serta merta menghilangkan rasa. Maksudnya, rasa cinta. Saya juga tidak bisa mengukur pasti sudah sejauh mana perasaan saya merosot, namun, ada hal aneh yang saya rasakan ketika bertemu ia. Seringkali saya mendapati kecewa yang justru hinggap, entah datang darimana. Saya tidak lagi merasakan nyaman saat berdiskusi atau saat bertemu. Seperti tahu yang sudah lembek, justru makin hancur. Saya tidak bisa mendefinisikan dengan pasti bagaimana perasaan saya dengannya, yang saya tahu saya hanya sedih jika bertemu dengannya. Seperti percampuran antara harapan yang sudah kandas sejak lama, kenyataan bahwa ia sudah dengan yang lain, dan perasaan saya sudah merosot terlalu jauh, hingga saya tidak tahu lagi harus berpegang pada apa. Satu hal yang membuat saya semakin merasa sakit saat bertemu adalah, ketika saya seperti diperlakukan layaknya orang asing, seperti bukan siapa-siapa. Berbeda. Dalam keadaan tertentu saya merasa tidak aman karena merasa tidak dilindungi. Dan saya rasa sejak saat itu, bertemu kembali adalah bukan keputusan yang bijak.
Saya pikir sudah saatnya saya memberikan pengistirahatan kepada hati saya sendiri. Saya harus menghargai hati saya untuk rehat dari rasa sakit. Saya juga tidak tahu pasti ini pemikiran macam apa, tapi selama ini saya seperti berbuat semena-mena terhadap hati ini. Saya juga ikut andil memberinya rasa sakit, padahal mungkin ia sudah tak kuat. Mungkin ini mengapa saya begitu menghargai saat-saat kecil saya bisa tertawa, atau bahkan bisa sekedar mengagumi lawan jenis yang lain, saya ingin membuat hati saya bahagia.
Saya berharap semoga Tuhan masih memberikan kepercayaan kepada saya untuk merawat hati seseorang, dan sebaliknya. Dan saya berharap semoga Tuhan selalu menuntun saya ke jalan yang ia maksudkan.
Ada satu kalimat menginsipirasi dari Arswendo Atmowiloto yang masuk dalam mention di twitter saya,
"kita tak pernah kehabisan alasan untuk hidup, untuk mengarang, untuk jatuh cinta"
Dan ada satu pesan dari salah seorang kawan dekat yang akan selalu saya ingat,
"Terkadang, jalan berdampingan bukanlah yang seharusnya.
Dan terkadang, jalan sendirian adalah yang sebenarnya.
Menjadi pribadi yang mandiri, lepas dari ketergantungan dan ikatan.
Lepas dari kesedihan dan kebencian.
Menemukan jalan baru, tujuan baru, dan alasan baru memulai harimu."
Selamat malam.
No comments:
Post a Comment