Monday, August 25, 2014

Curug Lawe

I'm back as a travel writer, everyone! Kali ini cerita jalan-jalan datang dari Curug Lawe (16 Agustus 2014) yang terletak di Desa Muncar, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung.

Jadi, kenapa gue bisa mental ke Temanggung? Karena gue lagi ikut KKN (Kuliah Kerja Nyata) dan dibuang ditempatkan di Temanggung selama satu bulan. Di saat nganggur tanpa program kerja, akhirnya gue dan kawan-kawan langsung berangkat kesana. Satu hal yang sangat penting adalah tidak ada dari kami yang tahu kaya apa medan menuju air terjun tersebut.

Sekitar jam 2 siang, kalau gak salah, kita berangkat. Desanya dekat dari desa yang gue tempatin. Jalanannya sih sudah beraspal. Awalnya excited kaya biasanya. Antusias banget karena mau jelajah alam. Karena gak ada parkiran motor akhirnya kita titip motor di rumah warga. 

Habis itu kita jalan menembus tengah sawah. Dan akhirnya sampai di jalan pembuka,  jalan setapak yang mengantarkan gue pada kelelahan tiada akhir.

Jalan setapak ini benar-benar jalan setapak gais. Setapak = Se-tapak, Sebuah-tapak. Yes, satu tapak orang saja. Intinya? Benar-benar jalan yang hanya bisa dilalui satu tapak  kaki seseorang saja, saking sempitnya. Jalanan beralas tanah jadi bikin kaki suka kepleset kalau gak hati-hati. Semua anak hanya pakai sendal jepit, termasuk gue. Kira-kira setengah jam bahkan lebih kita masih juga belum sampai, bahkan suara gemericik airnya aja gak kedengeran. Gue mulai gedeg dalam hati karena jalanan yang menurun terus, jauh, dan gak kunjung sampai. Satu hal yang terbayang di otak gue hanya: ini apa kabar pulangnya? Kalau pas berangkat jalannya turun terus, kebayang dong baliknya kaya gimana? :')

Singkat cerita, sampailah kita di Curug Lawe. Senang sih, karena akhirnya paling gak punya tambahan daftar alam yang pernah dikunjungi selama hidup. Tapi sayangnya entah kenapa menurut gue kurang berkesan karena airnya yang kurang jernih dan suara air terjun pun kurang jelas. Jadi, rasanya rasa capek yang sebelumnya gilak aja (karena perjalanan setelahnya itu gilak banget) kurang terbayarkan. Mungkin cuma foto-foto (yang niatnya pengen dipamerin) yang bisa jadi moodbooster.

Berasa poster film. "5 km".

Diantara tahap perjalanan Curug Lawe, tahap pulangnya lah yang paling menguras emosi dan tentu saja tenaga. Medan yang naik terus dan jalanan yang tinggi dari satu undakan ke undakan yang lainnya jadi bikin tenaga lebih banyak terkuras. Keadaan sekitar dimana sebelahnya jurang dan sebelahnya tebing tinggi agak bikin lumayan was-was. Tapi yang lebih bikin was-was sebenernya adalah kondisi fisik diri sendiri. Gak pernah olahraga dan darah rendah langsung aja duet bikin gue hampir nyerah. Berkali-kali mandek karena gak kuat, muka gue yang katanya pucat dan pipi gue merah, jantung yang sakit, mulut sama hidung ga sinkron karena susah napas gegara capek dan suhu sore yang mulai mendingin, bikin gue jadi pusat perhatian diantara kawan-kawan. Beruntung banget mereka semua baik mau nungguin, mau maklumin orang yang kepayahan ini. Sejak saat itu gue sepakat gue gak cocok naik gunung. Fix banget.

Sampai rumah, dapet laporan muka gue udah kaya zombie saking capeknya. Dan yang paling konyol adalah karena ke Curug Lawe pula, kita ber12 sama sekali gak ada yang ikut upacara karena jaket KKN yang kotor dan dicuci.



The last, tau lagu Mahameru - Dewa 19? Lagu itu yang selalu dinyanyiin salah satu temen gue, Adit, pas lagi naik balik dari Curug. And it always takes me back to that time when I hear it, and I love the song anyway. 

No comments:

Post a Comment