Sunday, March 10, 2013

Orang Ketiga Mahatahu

Ada sebuah kisah menarik yang saya perhatikan. Tak peduli ini kisahnya siapa, tapi saya yakin pasti banyak yang mengalami.

Ini cerita mengenai seseorang yang mencintai orang lain yang sudah dimiliki dan memiliki. Saya posisikan seseorang ini adalah seorang wanita.

Terlepas dari apakah lelaki yang ia cintai itu tahu atau tidak mengenai perasaannya, wanita ini tetap tidak akan bisa berbuat apa-apa. Sedalam apa ia mencintai, sedalam mana ia mengagumi.

Kalaupun lelaki itu mengetahui, memangnya ia mau bagaimana? Tetap ada bagian-bagian yang tak bisa ia bagi, ia ceritakan. Seperti ketakutan akan kehilangan. Kalau dipikir-pikir, rasanya terlalu naif menyoalkan kehilangan, karena dari awal ia mencintai, ia langsung berhadapan dengan cepat-atau-lambat tentang kehilangan. Ia tidak kehilangan lelaki tersebut sebagai teman, tapi kehilangan lelaki tersebut sebagai...

Saya buka lagi bagian selanjutnya, bagian menyedihkan (lainnya). Konsekwensi lain dari wanita ini adalah mengalami cemburu yang permanen. Saya merasa lucu ketika wanita ini mencemburui kekasih dari lelaki yang ia cintai. Sakitnya luar biasa. Saya coba telaah, sakitnya ini diperoleh karena perasaannya yang terlampau dalam, dan-atau rasa sedih yang tak bisa ia keluarkan. Benar, memangnya ia mau bagaimana? Memberitahu si lelaki kalau ia cemburu? Cemburu pada takdirnya? Memangnya wanita ini siapa? Mau marah, tidak bisa. Mau sedih, ya dimakan sendiri. Mau cemburu, ya ditelan sendiri. Mau ikut bahagia? Ah munafik.

Di sisi lain, wanita ini selalu mencoba memposisikan diri, baik jadi si lelaki atau si kekasihnya sendiri. Ternyata semuanya memiliki bagian-bagian menyedihkan dan menyenangkan masing-masing. Hanya saja, kesedihan dan kesenangan wanita ini akan selalu tersimpan dan tak mungkin terjamah orang lain. Saya tambahkan, begitu juga dengan lelaki yang mencintai wanita ini, jika memang keadaannya begitu.

Saya buka lembar berikutnya, mengenai kebahagiaan yang ia terima. Ia pasti akan bahagia ketika lelaki ini disampingnya. Pasti. Detail-detail menyenangkan yang mungkin tak terpikirkan si lelaki pasti akan sangat ia syukuri. Tapi saya coba posisikan diri, rasanya bisa dirasuki kesedihan ketika ia dihadapkan pada kenyataan "haram atau tidak". Aduh pasti rasanya rumit ya..

Kalau dipikir-pikir, setiap langkah yang bisa diambil oleh wanita ini semuanya adalah jurang. Yang satu adalah jurang terjal dengan hamburan batu-batu yang tajam, yang satu lagi adalah jurang agak landai dengan batu-batu yang berselimut pasir dan tanah. Semuanya menuju lubang. Semua jalan menuju dirinya yang terperosok. Ya begitulah.

Jadi, bagaimana menurut kalian? Pernah mengalami? Atau ingin coba mengalami?

No comments:

Post a Comment