Friday, March 22, 2013

Untitled-5

Lagi, senja di waktu lalu menelanjangi pikiranku, begitu liar. Ditariknya diriku, dibenamkannya menuju palung langit paling dalam. Sekarat dalam tanya, mati sesaat.

Ku raba sekujur dinding paling rapuh yang ada dalam diri, ia terbujur kaku, membeku.

Darimu, linangan air mata berbalut kata meluncur penuh kegetiran. Ku sadari pisau tajam menghunus relung hatimu. Dengan mata tertutup, pisau itu terlempar. Tanganku bergetar. Ku tahu kau terluka. Sekarang tak ada lagi darah, yang ada hanya lubang-lubang.

Satu hal yang entah kau ketahui atau tidak, aku selalu menggenggam sebatang bunga mawar di balik saku. Aku suka mawar ini. Harum mewangi, namun berduri. Setiap hari ku cuci saku dan tangan, menghilangkan darah karena gesekan duri-duri. Itu harga yang harus ku bayar hanya untuk mencicipi harumnya bunga. Satu yang ku harap, semoga telapak tanganku tak habis karenanya.

Jika boleh ku berandai, ku ingin kau lantangkan bait-bait tanya pada kotak persegi panjang ini. Ia lah mata kedua dari Tuhan. Ia menerjemahkan segala bahasa tanya, lara, juga suka yang kau pun dunia tak cermat melihatnya. Aku tak perlu beralibi, ia kan bersaksi.

Di baris terakhir, jika kau ingin melangkah, aku tak akan menahan. Dan bunga mawar ini akan ku tanam, tak akan ku buang.

No comments:

Post a Comment