Friday, April 19, 2013

Menanti Hari

Pagi ini, aku masih mendapati suara kelam lahir dari langit. Kesenduan menghantui setiap jari jemari. Kekecewaan di waktu lalu dan pencarian setitik senyum masih mengejar sejak tadi. Aku memandang dunia dan berharap setiap orang dapat tersengat akan kepedihan bertubi-tubi dan kesendirian yang terus hinggapi diri.

Cerita pencarian akan bulan sabit yang tak kunjung bersinar, hingga bunga yang kelihatannya enggan untuk mengembang. Semuanya pahit. Pengemis ini mengulurkan tangan, memohon bantuan, kesana-kemari. Setengah daya satu upaya, tapi apa? Ku sodorkan sebuah mangkuk kosong, dan kembali dengan beberapa bangkai semut. Oh Tuhan, aku ingin pulang. Ku berangan menyodorkan sebuah mangkuk kosong, dan ibu memberi sup hangat berhias jagung kuning. Indah, seindah langit senja. Manis, semanis kembang gula.

Tentang tambahan-tambahan yang menambah kesakitan, penuh kekecewaan. Perasaan paling aneh perusak harga diri. Rasa kepedulian yang terjahit rapih, secara tiba-tiba kusut mempertanyakan arti. Aku merasa konyol. Pada akhirnya semua rasa itu berujung pada keraguan untuk menghitung langkah kaki, menempatkan diriku merutuk tanpa mampu berbuat lebih banyak. Keinginan hati mengutuk diri atas rasa yang yang tak tahu hak dan tak tahu tempat. Ku perkenalkan padamu, rasa itu bernama "cemburu".

Bagai bom waktu yang hidup dalam tanah. Menyesakkan. Nantinya bulir-bulir air mata lah yang rasanya akan meledak. Aku tak pernah menemukan kata, selalu tak pernah. Pelukan menyelamatkan dari yang paling tulus akan menyembuhkan seluruh sayatan hati. Aku menanti, menanti hari.

Kepada tangan-tangan yang telah memetik daun bunga, harapan dariku merenda. Semoga daun bunga ini kembali bermekar, menghijau, dan tumbuh serta menumbuhkan cerita dibalik senyum orang yang melihatnya.

No comments:

Post a Comment