Tentang Athena yang dari kejauhan berlari menuju pohon cherry. Sekuat tenaga, ia ingin bisa melihat dunia dari atas sana. Satu sudut pandang yang jauh dari jangkauan orang biasa.
Matanya berbinar, takjub. Dua burung gereja ia temui diatas dahan. Ia tak bergerak, menatap penuh tanya. Ia enggan mengganggu, maka ia memperhatikan. Suara lirih yang dikeluarkan, tenggorokan yang bergerak cepat, dan darah yang mengalir dari pangkal sayap; salah satu burung gereja sedang sekarat. Athena berada dalam waktu yang tak tepat. Ia tak tahu harus apa. Sambil takut-takut, tangan kecilnya tetap memeluk batang pohon yang besar. Rambut coklat sebahunya terbang bertiup mengisahkan keheningan dari makhluk yang menunggu ajal.
Dua-tiga menit berlalu, mata burung gereja itu akhirnya menutup. Athena tak mampu membayangkan bagaimana perasaan burung lainnya, ditinggal pergi kawan terbaik untuk selamanya. Bulu mata lentiknya mengatup perlahan, ia berdoa untuk kepergian burung itu dan untuk kekuatan bagi burung yang masih bernyawa. Ia pun memutuskan pulang dan meninggalkan burung itu sendiri.
Siang malam berganti, Athena kembali ke pohon cherry. Kali ini ia membawa sekantung keceriaan, khawatir sang burung masih termenung mengingat kawan. Ternyata burung gereja itu masih diatas dahan, menatap mentari pagi. Entah apa yang dipikirkannya. Bersama sehelai sayap dari yang sudah meninggalkannya.
Athena tersenyum dan tak lupa meraih isi di saku dari balik celana pendeknya. Dengan lembut ia memberikan remah roti dalam selembar tissue yang ia kumpulkan saat sarapan tadi. Burung itu kian mendekat.
Akhir cerita, Athena menemani si burung gereja yang setia itu, berjalan santai menuju lembayung jingga di ujung petang.
No comments:
Post a Comment