Tuesday, April 30, 2013

Athena dan Padang Rumput

Tentang Athena yang menghabiskan waktu duduk sendiri di padang rumput. Terdiam, termangu, membisu. Matanya memantulkan kisah dari selembar kertas gambar yang ia genggam, yang ia pandang. Tentang kawan yang mengisahkan sebuah cerita.

"Mengapa kamu gambar perahu?"
"Agar kita bisa mengarungi lautan mana yang kita mau. Katanya kamu suka laut?"
"Iya betul. Lalu, dua tempat duduk?"
"Jelas hanya untuk kamu dan aku. Nanti aku jadi nakhoda, kamu jadi pendampingnya ya. Jangan kemana-mana tetap disampingku"
"Siap pak kapten!"

Belaian lembut rumput hijau mengantarkan Athena ke masa itu. Hangat, bersama kawan di masa lalu. Memori menggambar dan mewarnai bersama, menaiki balon udara, memasak panekuk hangus, lempar-melempar madu, surat-menyurat, berkejaran di tengah salju, bermain layang-layang, dan masih banyak lagi yang tak mampu ia ingat sendiri.

Atap langit yang mendung kelabu mendukung perasaan kala itu, hawa dingin menusuk relung hatinya membuyarkan semua lamunannya. Tanpa tangis, tanpa suara. Athena kecil merindukan kawannya yang tanpa titik meninggalkan tanya. Kawan yang selalu menyuguhkan sepiring semangat yang tak pernah habis untuk dimakan, segelas keceriaan yang tak pernah habis untuk melarutkan remahan duka, dan bagai selimut yang selalu menghangatkan jiwa. Cerminan sebuah nama, seorang anak lelaki bak seperti malaikat.

"Pak Nakhoda, seharusnya aku juga mengatakan hal yang sama padamu, jangan kemana-mana,"

Lelah dalam liang penggalauan yang tak pernah merapat, Athena beranjak menuju rumah.



"Hai Angevin, dimana kini dirimu berada?"

No comments:

Post a Comment