Thursday, June 19, 2014

Catatan Pada 20 Tahun

Saya punya catatan di malam menjelang hari ulang tahun tanggal 14 Juni kemarin. Yang akhirnya saya lupa publikasikan karena diajak seseorang menghabiskan malam menuju pergantian usia. Jadi, ini tulisannya.


21.

Apa arti 21? Banyak. Bisa nama bioskop, bisa angka abad yang sering disebut di film Doraemon. Tapi tidak, ini menyoal...usia. Usiaku.

"Time flies when you're having fun. You wake up, another year is gone. You're twenty-one" (The Click Five - Happy Birthday)

Hari esok aku menginjak 21 tahun. Sudah melebihi jari-jari yang ku punya. Sudah lama juga aku hidup, atau mungkin yang lebih tepatnya berapa lama lagi waktuku untuk hidup?

Tahun ini berbeda. Belenggu yang pernah hinggap sekarang sudah seutuhnya lepas. Pergantian tahun pun berbeda dengan tahun sebelumnya. Aku masih ingat bagaimana menghabiskan hari pertama di umur 20 waktu itu. Aku dan empat kawan pergi berlibur ke luar kota. Magelang. Beberapa hari setelah itu aku diberi kejutan (re: balas dendam tradisi) dengan cara diikat di pohon dan disiram berbagai ramuan.

Perayaan tahun 2012 pun masih lekat dalam ingatan. Aku dikerjai lagi-lagi di kampus. Namun yang satu ini dengan banyak sekali pasukan. Kepalaku dibungkus kantung plastik hitam, badanku diikat tali rafia, dan digiring dengan sangat hewaniawi. Sadar saat itu yang membawaku pasti laki-laki semua, kalaupun ada perempuan itu adalah kawan perempuan bertenaga kuda. Karena tahu aku akan disiksa, aku meronta-ronta seperti sapi mau dikurban. Masih ingat juga aku mencakar tangan salah satu kawan laki-laki ku. Kasihan. Akhirnya aku dibawa ke belakang kampus dan diberikan cairan yang lebih mirip muntahan dengan penuh kebrutalan kasih sayang.

Dan tahun ini, entah kenapa, tapi harus ku akui hawanya berbeda. Ini bukan menyoal hari ulang tahun saja, tapi rasanya seperti menginjak ke hari baru. Ini tentang hidupku. Beberapa minggu belakangan ada yang berbeda dan berkembang. Ada suatu pencapaian yang aku lakukan, dan aku menganggap itu adalah pencapaian yang dilakukan orang dewasa. Dan aku memilih untuk menjadi dewasa; tentunya dengan tidak menghilangkan keceriaan ala bocah yang lekat pada karakterku. Ada kepasrahan dalam diri yang aku juga tidak tahu datang darimana. Aku mulai melepaskan kekhawatiran akan hal-hal di luar kuasa, seperti masa depan, juga perasaan. Segala bentuk perasaan: sedih, senang, cinta, sakit, semua aku serahkan dan lebih milih ku kembalikan pada-Nya. Karena semua perasaan itu hanya sementara, Ia yang berikan, maka kepada-Nya pula seharusnya kembali. Masa depan yang berada diluar jangkauanku, aku mulai memasrahkan pada Mpu takdir. Dan kakiku mulai ringan. Aku memang sendiri, tapi ternyata tidak sendiri.

Ada satu permintaan yang setiap kali aku layangkan pada Tuhanku. Aku berharap semoga Allah tahu apa yang ku minta adalah apa yang ku butuhkan, bukan saja yang ku inginkan. Dan jikalau Ia berkenan mengabulkan, maka itulah hadiah terindah yang aku dapatkan di tahun ini.



Aku bersyukur masih memiliki teman-teman yang begitu lucu dan baik dan masih setia sampai hari ini ku hidup. Teman-teman dimanapun.
Aku bersyukur masih memiliki keluarga, rumah, yang selalu menjadi tempatku kembali, tempatku melarung duka.
Aku bersyukur masih diberi napas hingga hari ini, detik ini. 


Semoga aku bisa jadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain, dalam bentuk apapun, sekecil apapun. Itu adalah harapan terbesar tahun ini, dan setiap tahunnya.

Monday, May 26, 2014

Akhirnya

Sampai akhirnya kaki ini memilih lelah dan berlutut di hadapan luka. Aku menyerah untuk lagi peduli dan mencari tahu. Aku harap pengasingan di kampung kecilku ini membawa penyembuhan yang nyata.

Sudah beberapa langkah sejak subuh tadi aku meinggalkan segala pernik dan koper tentang kita.
Jangan coba kau buka atau lagi kau datang.

Sedikit-sedikit aku rangkai kata perpisahan.
Jika ada beberapa potong kalimat yang tertangkap oleh matamu,
itulah sapaan terbaik sebelum aku benar-benar menghilang.


Jangan percaya pada gemuruh yang selalu muncul akhir-akhir ini diatas atapmu.
Ia hanya menyembunyikan sebuah perayaan.
Perayaan aku yang siap melupakanmu.

Friday, May 09, 2014

Saya, Hidup Saya, dan 20 Menit Untuk Bercerita

Saya selalu membayangkan apa rasanya menjadi zombie. Mungkin kalaupun ada zombie di depan wajah ini, saya tak bisa mewawancarainya terlebih menanyakan perasaannya, toh mereka hanya seonggok mayat hidup. Namun kurang lebih seperti ini rasanya menjadi zombie, tidak punya rasa. Mati rasa. Menyedihkan.

Proses penyembuhan dari luka sedang saya alami, atau mungkin sudah dilewati? Saya tidak tahu persis. Saya bukan penganut "Move On-ers", saya adalah "Survivor". Saya sudah mengukur dan tahu pasti bahwa saya sudah mampu bertahan. Bertahan dalam kesendirian, berkawan dengan sepi, tidak terpengaruh dengan lagu-lagu galau penghanyut. Boleh jadi ini adalah prestasi terbesar saya, bisa menetralkan diri dalam beberapa bulan saja. Mungkin karena teringat momen terbesar dan terberat dalam hidup dimana saya menghabiskan waktu kurang lebih 1,5 tahun terpuruk dan merajuk dalam kehilangan dan patah hati yang rasanya tak pernah kunjung selesai. Dan saya pikir cukup bodoh jika saya tidak belajar dari semua itu.

Saya kembali menjadi perempuan independen. Kembali diberi kesempatan untuk memperbaiki diri menjadi perempuan yang lebih baik. Kembali diberi kesempatan untuk dipertemukan dengan laki-laki yang lebih baik. Saya selalu percaya, setiap perpisahan justru mengantarkan kita pada sebuah awalan, awalan dengan yang baru lagi. Begitu seterusnya. Hidup ini siklus, hidup ini roda, kadang diatas-kadang dibawah, dan selalu berputar. Dan saya tidak pernah menyesal "dipertemukan" dengan siapapun, karena semua hal terjadi tidak dengan tanpa alasan, termasuk sebuah pertemuan.

Balik lagi pada zombie, saya merasakan kembali ada yang aneh dalam diri. Ada yang beku, ada yang dingin. Saya melewati proses ini lagi. Beberapa waktu lalu saya diberitahu oleh kawan laki-laki saya, "Lu sih Ty liatnya 'kesana' mulu, gak tau aja ada yang diem-diem pengen merhatiin lu,". Lalu saya diam. Saya pikir terlalu rentan dan beresiko kembali menitip hati pada seseorang di waktu-waktu seperti ini. Saya tidak mau orang tersebut menjadi pelampiasan atau apapun namanya. Karena kita tidak akan pernah tahu dan sadar bagaimana perlakuan kita. Jadi saya pikir, sendiri adalah keputusan yang cukup baik. Tapi saya percaya suatu hari nanti, lagi, akan ada yang datang dan mengubah kembali hidup saya.

Namun ternyata, bertahan dari ombang-ambing proses penyembuhan tidak serta merta menghilangkan rasa. Maksudnya, rasa cinta. Saya juga tidak bisa mengukur pasti sudah sejauh mana perasaan saya merosot, namun, ada hal aneh yang saya rasakan ketika bertemu ia. Seringkali saya mendapati kecewa yang justru hinggap, entah datang darimana. Saya tidak lagi merasakan nyaman saat berdiskusi atau saat bertemu. Seperti tahu yang sudah lembek, justru makin hancur. Saya tidak bisa mendefinisikan dengan pasti bagaimana perasaan saya dengannya, yang saya tahu saya hanya sedih jika bertemu dengannya. Seperti percampuran antara harapan yang sudah kandas sejak lama, kenyataan bahwa ia sudah dengan yang lain, dan perasaan saya sudah merosot terlalu jauh, hingga saya tidak tahu lagi harus berpegang pada apa. Satu hal yang membuat saya semakin merasa sakit saat bertemu adalah, ketika saya seperti diperlakukan layaknya orang asing, seperti bukan siapa-siapa. Berbeda. Dalam keadaan tertentu saya merasa tidak aman karena merasa tidak dilindungi. Dan saya rasa sejak saat itu, bertemu kembali adalah bukan keputusan yang bijak.

Saya pikir sudah saatnya saya memberikan pengistirahatan kepada hati saya sendiri. Saya harus menghargai hati saya untuk rehat dari rasa sakit. Saya juga tidak tahu pasti ini pemikiran macam apa, tapi selama ini saya seperti berbuat semena-mena terhadap hati ini. Saya juga ikut andil memberinya rasa sakit, padahal mungkin ia sudah tak kuat. Mungkin ini mengapa saya begitu menghargai saat-saat kecil saya bisa tertawa, atau bahkan bisa sekedar mengagumi lawan jenis yang lain, saya ingin membuat hati saya bahagia.

Saya berharap semoga Tuhan masih memberikan kepercayaan kepada saya untuk merawat hati seseorang, dan sebaliknya. Dan saya berharap semoga Tuhan selalu menuntun saya ke jalan yang ia maksudkan.

Ada satu kalimat menginsipirasi dari Arswendo Atmowiloto yang masuk dalam mention di twitter saya, 

"kita tak pernah kehabisan alasan untuk hidup, untuk mengarang, untuk jatuh cinta"

Dan ada satu pesan dari salah seorang kawan dekat yang akan selalu saya ingat,

"Terkadang, jalan berdampingan bukanlah yang seharusnya. 
Dan terkadang, jalan sendirian adalah yang sebenarnya.
Menjadi pribadi yang mandiri, lepas dari ketergantungan dan ikatan.
Lepas dari kesedihan dan kebencian.
Menemukan jalan baru, tujuan baru, dan alasan baru memulai harimu."


Selamat malam.

Saturday, April 12, 2014

Teka-Teki

Suara dan kata yang dipilin dan dipintal,
terlahir dari lidah yang katanya selalu lapar akan kejujuran.
Telunjuknya senantiasa mengacung,
pada yang ia bilang "makanan yang harus di waspadai".
Padahal, lidah yang lapar itu siang malam beratap dari mulut seorang pendusta.

Ia lari kesana-kemari,
menganak-tirikan serta membela mereka yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri.
Tak jarang matanya mendadak buta,
akan baju yang ia kenakan, akan warna yang ia pegang.
Akan hati yang ia tambat.

Seolah seperti guru agama yang siap menjahit bahkan setitik niat buruk di kulit.

Dari corong bulat itu, ia teriak keadilan.
Ia lupa, yang didalam cermin itu, tak ubahnya seperti maling yang selalu ia perangi.

Rindu yang Tidak Bisa Tidur

Sudah ku larungkan semua yg kau minta
Tiada setitik jasad darimu yang ku punya
Selain nyawa kenang yang masih membayang
Membayang penuh bekas

Aku mau satu
Mungkin sehelai rambut atau secuil kotoran
Sebagai pelabuhan pertemuan
Supaya rindu yang masih mengilau,
tidak ubah jadi arang

Tolong, aku mau satu, pah

Tuesday, April 01, 2014

Cayman Island


In a melancholy evening,
you and I walked to somewhere else.
Searching on something we both don't know.
We took unknown path.

Then we arrived at a place.
Simply we drown in silence. Had a bit speechless.

A place where no one knows.
A place where hidden by others.
A place where our heart belong.

I stared at the universe. 
Following the flying birds, I can see the times that brought us.
Following the sky, I can see our hearts hold on tight.
Following the water, I can see the future's shadow waving.
Following the wind, I can see your eyes covering my view.

If only they could see,
if only they had been here,
they would understand.

We got our own home.
We're the only different.
We paddle our own canoe,
to the place that I call Caymand Island.

20 Februari 2013 - Danau (yang disembunyikan Tuhan)

"KAPAL KERTAS

Masih terngiang jelas rekaman kemarin sore.
Buliran air langit tak jadi turun.
Hausnya batin dan pergerakan roda,
membawa dua hati kembali ke rumah.

Aku dan kamu,

membeku ditelan suasana.
Sapaan alam yang ramah,
menghangatkan jiwa yang hampir koma.
Jendela indah panorama,
memperbaiki hati yang setengah porak poranda.

Dua pasang kertas sengaja ku bawa.

Aku bermaksud merangkai kapal,
untukmu, untukku.
Bersamaan dengan kapal yang dijalankan,
ada cinta dan cita yang ku alirkan.
Pasti kamu tak tahu.

Sampai pada senja yang mencolek pundakku,

tahu tidak,
kakiku terbenam di tanah sana;
mataku terpaku pada angkasa;
hatiku disandera ketenangannya.
Aku tak mau pulang.

Dan aku berjanji,

dengan riang hati akan berkunjung.
Dan satu asa,
semoga lagi bersamamu."