Sunday, August 18, 2013

Sepi Hingga Diam

Jemari kecil yang urung mengetikkan kata.
Kata hambar tanpa nada pun irama.
Jiwa yang bingung memasukkan nyawa ke dalam hampa.
Hatinya mondar-mandir meneriakkan gurat penuh tanya.

Pukul 3 pagi.
diantara puisi yang menguapkan makna,
lampu ruang yang menenggelamkan nyala,
serta getaran rindu yang kian pincang,
sekali lagi, sebuah hati memilih diam.

Saturday, August 17, 2013

Dirgahayu 68th RI

Hari ini adalah HUT RI yang ke 68, tapi kok perayaannya gak meriah? Paling gak, gak semeriah dulu. Kenapa?

Sebagai anak yang selalu memeriahkan hari 17an (di zamannya), gue merasa makin ke sini ritual lomba-lombaan tersebut makin menghilang, khususnya di RT dan RW gue.

Dulu, beberapa hari sebelum hari H bendera sudah banyak di pasang dimana-mana. Setiap pulang sekolah waktu SD, gue selalu senyam-senyum lihat bendera yang berkibar di setiap rumah warga. Terlebih ada bendera yang dijahit nyokap gue yang di pasang di sepanjang RT. Walaupun warna-warni gak merah putih, tapi tetep seneng, iyalah buatan nyokap!

Pas udah hari 17an, biasanya di RT ada acara lomba. Mulainya dari jam 10 dan biasanya sampai siang. Persiapannya dilakuin sama ibu-ibu dari jauh-jauh hari. Mereka beli hadiah, siapin lombanya apa aja, makanan-minuman. Bapak-bapak siapin sound system. Anak-anak tinggal berpartisipasi. Yang masih gue inget sampai sekarang adalah lomba paling fenomenal se-RT, itu lomba buldozer. Jadi buldozer itu dibuat dari kardus, kita masuk didalamnya terus muterin buldozer kardus itu sampe ngelilingin RT kita. Ini buldozer battle, jadi ada 2 tim, dan yang bikin seru adalah pesertanya yang para ABG dan remaja. Jadi yang bocah-bocah cuma pada liatin sambil ngiri gitu. Dua tim ini berjuang mati-matian, udah sampe jatuh-bangun, ketawa-ketiwi, yang depan belakang megangin kardus bagian atas dan yang tengah bagian gangguin lawan. Sampai di garis finish buldozer kardusnya udah sebagian robek-robek; dan masih juga dimainin anak-anak kecil.

Dulu itu juga masa kejayaan gue bersama kawan-kawan se-gank, sampai SMP. Karena kita yang paling eksis dan paling solid, kita selalu diutus jadi dancer perwakilan RT, iyak walaupun tingkatan teratasnya cuma sampai RW -_- tapi jangan salah, RT 5 (RT gue) itu termasuk RT yang diwaspadai sama RT-RT yang lain, karena selalu kompak, dan selalu jadi juara. Waktu gue dan kawan-kawan tari tarian tradisional "Sajojo", kita juara 2, dan rasanya lebih bangga daripada waktu kita tari tarian modern yang isi lagunya remix dari barat dan juara 1. Biasanya acara lomba nari ini diadain malam minggu di taman RT 9. Dan acara ini juga selalu jadi ajang..... cuci mata. Terakhir perform waktu SMP kelas 2 itu cuman di RT dan gue gak mau lagi karena merasa udah tua dan udah gak pantes diliat. Tapi seribu sayang yang hobi nari di RT cuma gank gue itu, dan kita gak punya penerus lagi.

Kalau dipikir-pikir semangat nasionalis dimiliki setiap anak loh. Dulu gue selalu semangat tiap ada 17an. Pernah suatu hari gue pengen banget ikutan karnaval sepeda hias, tapi gak dibolehin karena nanti sepedanya jadi jelek bekas lem-leman. Gue nangis dan bilang "kenapa sih cuma mau bela negara aja gak boleh?! Cuma mau ikutan gitu aja gak boleh?!," I'm pretty sure I don't really understand with what I talked about, especially this >> kenapa sih cuma mau bela negara aja gak boleh?! Dan akhirnya gue dibolehin ikutan karnaval :D

Sekarang gue lagi posting blog dalam keadaan RT gue yang bersih gak ada perayaan apapun. Sedih sih. Masa iya cuma karena gank gue + anak-anak cowok yang lain udah pada dewasa sekarang kebiasaannya jadi berhenti? Rasanya anak-anak kecil di RT juga masih ada kok. Ini kan tradisi, kenapa menghilang?

Tapi diantara semua itu, apalah artinya gembar-gembor kangen upacara 17an tapi kalau di setiap ikut upacara selalu ngeluh kepanasan dan kecapean padahal paling lama cuma 3 jam. Apalah artinya teriak-teriak cinta Indonesia tapi Pancasila aja masih gak hafal. Apalah artinya ngucapin "Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia!" tapi bilangnya pakai bahasa Inggris :-p

Semoga jiwa nasionalis dan patriotis tidak benar-benar pudar di hati para calon pembetul dan penerus bangsa. Tidak cuma meneruskan, tapi harus ada yang dibetulkan terutama dari mental-mentalnya. Semoga mental benih-benih bangsa ini selalu tumbuh bersih, tidak tumbuh sebagai mental yang bobrok sebobrok pihak-pihak yang seharusnya amanah tapi justru malah mengecewakan.

Semoga Indonesia tidak bertahan sebagai negara berkembang. Semoga Indonesia semakin dewasa, mampu memilah apa dan siapa yang harus dilawan juga apa dan siapa yang harus diajak berkawan.

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA YANG KE 68!


Saturday, July 20, 2013

Aku Pernah Jatuh Cinta pada Lelaki yang ...

.... sering menertawakan dan mengejek kawannya dari sebuah ujung balkon lantai 2 sekolah. Pernah menjejalkan kawat giginya didekatku dan meninggalkan rasa benci yang lambat laun terulum menjadi cinta. Suatu kali Ia pernah mengirimkan pesan, "aku suka sama ka... kausmu" ke ponselku, padahal aku saat itu tidak datang ke sekolah. Setelah aku bertanya maksudnya, setelah itu pula kami tak pernah dipertemukan kembali.

--------------------------------------------------------

.... menjadi raja tunggal nan rupawan digilai banyak wanita, termasuk aku. Pacarnya saat itu cantik, baik, dan aku tak pernah kenal dengannya. Terlebih aku pernah mengejeknya dan menyisakan permusuhan beberapa minggu diantara kami. Mungkin itu sebabnya Ia tak pernah mencintaiku balik.

-------------------------------------------------------


.... selalu menghampiriku di chat Facebook dengan segala permainan sulapnya. Aku tahu Ia ahli matematika dan senang mengajakku bermain hitung-hitungan. Suatu kali Ia menyatakan perasaannya padaku, setelah kami sering kali berbalas pesan di ponsel tanpa ada hubungan lebih lanjut. Aku tertancap penyesalan tak terperi hingga lulus SMA karena tak pernah mengutarakannya. Aku pernah berjanji pada Tuhan ingin mengejarnya hingga ke perguruan tinggi. Siang itu, ada adu senyum tanda rivalitas di tengah lapangan, yang ternyata menjadi sapaan terakhirku sebelum semua rasaku menguap.

-------------------------------------------------------

.... namanya tidak berbeda jauh dengan namaku. Menyebabkan absen kami berdekatan. Ia tak pernah menghubungiku lewat pesan apapun, tapi Ia selalu mendekatiku di sekolah. Aku menyadari perasaanku tapi aku tak menyadari perasaannya. Ketika ada jadwal piket sepulang sekolah, giliranku menghapus papan tulis, dan belakangan aku baru tahu Ia tak kunjung pulang karena ingin membantuku membersihkan kelas dan menemaniku pulang hingga ke ujung jalan.

-------------------------------------------------------

.... disebut 'anak mami' di kelas. Diantar-jemput oleh ibunya dengan motor skuter. Aku menyukainya setelah menyadari Ia telah menyukaiku. Matanya selalu menghilang ketika tawa mengembang di wajahnya, dan Ia selalu menengok kesana kemari mencariku ketika sehabis tertawa. Pada saat olahraga di lapangan itulah favoritku, karena saat itu selalu matanya dan mataku dipertemukan angin sore.

-------------------------------------------------------

.... akhirnya aku benci. Aku ingat saat itu Ia memasukkan hiasan berbentuk hati dan diselipkan di tas ku pada saat jam olahraga. Surat minta maaf dan "Selamat Hari Valentine" tak lupa Ia masukkan didalamnya. Pada saat itu juga rasanya hendak ku buang. Ia membalaskan cintanya dengan cara berpacaran dengan sahabatku.

-------------------------------------------------------

.... menurut setelah aku menegurnya untuk tidak bersms-an pada saat berkendara, padahal aku belum jadi pacarnya. Dia pernah memberiku bunga pada saat Hari Kartini dan saat itu juga mengaku tidak mampu membeli lebih banyak lagi karena uangnya tidak cukup. Dia pernah memeluk pinggangku didepan ibuku dan mengakibatkan aku malu setengah mati. Kami pernah berencana untuk bersama-sama membeli baju tim bola favoritnya yang berwarna pink-hitam. Terakhir, aku menitipkan setrika yang masih baru di kamarnya dan tak pernah lagi kembali.

-------------------------------------------------------

.... pernah bercanda mengajakku untuk ditraktir ulangtahun olehnya, padahal saat itu aku tidak terlalu mengenalnya. Dia adalah tempatku untuk bertukar lagu-lagu bagus dan kawanku dalam berimajinasi. Aku pernah kesulitan dalam belajar suatu mata kuliah, lalu aku bertanya padanya, dan Ia menjelaskan melalui pesan suara yang mengakibatkan teman-teman terdekatku menggodaku dengannya. Dia pernah tidak mengaku saat ku tebak mengenai perasaannya padaku, namun pada beberapa saat itu pula Ia membelikanku sate kambing ketika aku sakit. Dia pernah mengorbankan uangnya lebih dari Rp 50.000 untuk tidak jadi pulang ke rumah hanya karena ingin menemaniku agar tidak kesepian. Dia mencintai dunia politik, untung dia tidak mencintai poligami, dan beruntung aku masih mencintainya.





*Inspired by: hurufkecil

Tuesday, July 09, 2013

Setengah Apel Di Teras Rumah

Pukul 16.05 WIB

Aku terbangun dari tidur panjang, dengan mimpi indah dalam perjalanan, dan hal-hal yang masih lekat dalam ingatan sebagai buah tangan. Tunggu, seseorang berkata bahwa ini mimpi paling nyata. Jadi, ini mimpi atau bukan?

Berratus juta jengkal yang membuat tunduk batin dan mengakui, bahwa aku resmi dinyatakan lumpuh. Lumpuh oleh jarak. Malu. Dan melalui puisi suka-suka tak tahu aturan (lagipula siapa yang butuh aturan?), aku membuang semua peluh suka, cinta dan duka dalam kata. 

Kalau aku katakan, aku rindu, kamu mau apa?

Aku sakit jiwa. Kamu sadar? Tapi kamu patut berlega hati, setidaknya aku menyadari. 

Ada suasana baru di luar sana, diantara riuh kendaraan dan asap yang mungkin mampu mengalihkan sejenak otakku yang telah memar, walaupun jadi makin lebam. Yah, setidaknya aku bisa bersyukur, bahwa otakku sebelumnya tidak terlalu parah. Apa yang ku dapat? Ah sudah, kamu tak perlu tahu.

Tanpa pesan -- kamu menjadikanku satu. Satu-sendiri. Berpikir dan menanti. Dini hari lalu, ku tinggalkan surat, yang ku tahu belum berbalas. Jadi, ku biarkan pena ada padamu. Aku menunggu surat cinta ke-sekianribu kalinya darimu. Lalu, diantara rentang jarum hitam yang berputar, keliaran pikiranku menjelajah hingga aku hampir limbung dan hilang keseimbangan. Jika semua itu salah, maafkan tingkah pikiranku yang jahat pada harimu. Jika memang itu benar, maafkan tingkah hatiku yang berani cemburu pada dirinya.

Ketidak-beranian ku menghadap kedua telapak tangan, karena banyak sekali yang bisa ku telusuri. Salah satunya bening kaca yang memberikan genangan diri yang lain. Egois. Tahukah kamu, atas kebersamaan ini, melahirkan rasa ego yang begitu dalam terpatri dan siap-siap memakanku kapan saja aku lengah. Ia bagai penyakit mematikan yang rasanya dalam hitungan waktu akan berubah menjadi virus tingkat tinggi. Hatimu milikku. Dan...

Surat kaleng -- banyak gelembung-gelembung kata yang ditiupkan oleh seorang perempuan ke udara. Di sela-sela waktu ketika Ia mampu menghadap langit. Satu penerima, dan hanya satu. Katanya, kamu. Ia memelukmu melalui hawa hangat diantara dingin yang kini menduduki bumi. Jauh jemarinya tak kuasa menyentuhmu, tapi cintanya yang melekat hingga menyatu pada sel-sel darahmu. "Hai gula, bahkan ketika kau merajukpun, aku masih mencintaimu," kata salah satu baris suratnya. Sudah ku silangkan kedua jari, ku katakan padanya aku takkan memberitahu siapa-siapa tentang surat-tanpa-pengirim yang tertuju padamu. Setelah itu, Ia tersenyum dan berlalu.

Aku masih merangkai gambar-gambar membingungkan dan akan selalu membingungkan di dalam pikiranku. Tentang hitam yang menjadi putih, dan putih yang menjadi abu-abu. Nantinya semua kembali menjadi tanya. Kapan aku berhenti bertanya? 


Kepada pembaca (jika ada yang membaca), jangan berlama-lama membaca tulisan ini. Akan selalu ada ketidak-mengertian kecuali yang mengalami. Karena aku tak menyediakan ruang bagi mereka yang memang tidak mengerti untuk menjadi mengerti. Mengapa? Aku pun terkadang tak mengerti. Banyak bagian-bagian yang ku tolak untuk ceritakan. Akhirnya, batu-bata yang bolong itu memberikan bangunan kopong yang tak punya rangka dan jika hancur nanti lagi-lagi meninggalkan....tanya.

Ketika fajar terlelap senja ini, disitulah terbit suara jiwa yang melantangkan cerita-cerita manis pahit yang tak mampu ku pungkiri keindahannya.
Senyum yang lahir di hati pada sore yang teduh ini menjadi payung untuk kisah-kisah selanjutnya, terlebih untuk memayungi jiwamu.



Sudah ya. Selamat sore, sayang :)

Friday, June 28, 2013

Catatan Pagi

Sekitar pukul 7 pagi di hari Jumat.

Bukan sebuah rencana, aku memposisikan diri pagi ini diantara senyum raja ufuk timur dan pemandangan gunung di sebuah kota. Di dataran tak tinggi, angin dingin berhembus membuat tirai kulit meremang. Kemilau cahaya terpancar dari matanya yang tajam namun hangat, membuatku malu-malu untuk bertegur pandang.

Suara keheningan menggaung melahirkan bisu-seribu-bahasa dari bibirku. Seperti biasa, alam membuat pikiranku berperilaku seliar hewan hutan.

Lagi, tentang perjalanan yang masih ku lakukan hingga ke-hari dimana aku sudah tak mampu mengingat kapan tepatnya hari pertama kali semua ini bermulai. Ini hari ke berapa? Tentang jatuh-bangun yang nyata sayatannya hingga mampu membuat jiwa juga duniaku merunduk memohon ampun. Telaga penuh kisah kasih yang kedinamisannya ku akui mampu menenggelamkanku. Serbuk jelaga dan keping pelangi, semua merias membuat dinding pipi kau dan aku merona.

Kau sebut tak ada pilihan yang benar ataupun salah, cerdas atau tidak lah yang menentukan. Maka dari sanalah titik tanyaku berakar. Jika kebodohan adalah sebutan yang tepat, maka aku tahu kepada siapa aku harus menanyakan maaf. Hal yang rasanya sudah biasa, ketika homofon dalam bisa menjadi bisa. 

Kepada jalan yang menjauh, sol sepatuku berbicara. Aku tak mungkin lagi mencapai ketiadaan di ujung sana. Dalam lingkaran dilematis ini, aku masih memeluk besi gerbang mengayunkan pandangan tertuju pada ujung helai rambutmu. Memasang telinga berusaha menghapus ucapan kalau-kalau selamat tinggal itu datang.

Aku masih disini, memastikan, bahwa punggungmu itu tidak ingin menghadap wajahku.

Thursday, June 27, 2013

Di Dalam Kamu

Ada sesuatu didalam suaramu,
yang selalu membuatku lupa tentang bising kegetiran hidup. Pelepas lelah, pelipur lara. Jaring nada yang menggema, suaramu adalah lagu-sebelum-tidur favoritku.

Ada sesuatu didalam tawamu,
yang selalu membuatku ringan dalam melangkah. Bahwa masih banyak hal-hal lucu di dunia yang patut ku coba untuk tertawai. Seperti duka yang mencoba untuk mengkristal, getaran candamu lamat-lamat mencairkannya. Tak ada yang lebih menarik, daripada melihat bulan sabit milikku tertawa.

Ada sesuatu didalam genggamanmu,
yang selalu membuat jiwa hingga dasar relungku hangat. Lapis-lapis tanganmu melingkar memeluk batin yang kian renta. Kerapuhan diri, kau berdiri dibelakang sana, menengadahkan pertolongan bagiku yang mudah terbenam. 

Ada sesuatu didalam matamu,
yang selalu membuatku mampu berkaca. Bahwa kau dan aku memiliki beberapa kata penghubung yang sama. Lentera disana menyala, meneduhkan pandangan sembari menyuarakan kasih sayang. Senyum yang mengilat dari matamu bagai pedang melumpuhkan tungkai kaki, merunduk, aku bertekuk lutut.  Semakin hari buatku tersadar, dari matamu, aku selalu jatuh mencinta.

Saturday, June 15, 2013

15 Juni

Tentang 15 Juni 20 tahun yang lalu, seorang anak perempuan lahir dari rahim seorang ibu yang luar biasa. Muncul ke dunia sebagai anak ke dua dari dua bersaudara. Tumbuh besar sebagai anak yang berlimpah kasih sayang. Anak yang dikenal manja, cengeng, dan pemalu.

Tentang 15 Juni 20 tahun mendatang terhitung dari tahun 1993, terdapat seorang anak yang jiwanya terkungkung dalam tubuh perempuan dewasa. Menyatakan pada dunia bahwa jiwanya bebas selepas layang-layang. Bertekad menunjukkan bahwa bukan sebuah kerugian semesta memilikinya. Gambaran melankoli di sekat-sekat keceriaan yang tak pernah mati.

Dua puluh tahun - pencarian akan tanda-tanda diri semakin jelas. Pencapaian yang tiada batas masih terus dilakukan. Aku mengingat-ingat apa yang sudah ku berikan pada keluarga, para sahabat, orang lain, dan dunia. Keberadaan diriku untuk orang-orang terdekat. Sumbangsihku pada negara. Kedekatanku yang tak terhingga dengan Sang Pencipta.

Waktu yang tak singkat hingga mencapai angka ini, berjalan bersama cita-cita yang masih mengiringi di kanan-kiri. Dan aku masih bersyukur diberi kesempatan menjejakkan kaki hingga hari ini, hari perayaan kehidupan, yang kata orang-orang adalah hari yang istimewa.

Dengan tanpa permintaan-permintaan remeh, aku mensyukuri apa yang ku terima dan ku miliki hingga detik ini. Segala tangis duka juga bahagia yang menghampiri, aku berterima kasih karena semuanya meninggalkan arti

Harapan sederhana dan terdengar biasa masih ku panjatkan, tak ada yang istimewa. Semoga aku mampu menjadi wanita yang jauh lebih baik dari perkataan maupun perbuatan, semoga aku mampu menjadi lebih berguna bagi siapa saja yang membutuhkan. 

Terima kasih - ku ucapkan pada segalanya yang ada di dunia ini. Kepada Tuhanku, yang begitu luar biasa menciptakan dunia yang tak habis-habis ku selami ceritanya. Kepada orangtuaku, yang sampai saat ini masih mau menghidupku. Kepada kawan-kawanku, yang senantiasa hadir menjadi bahu disaat duka menjadi tawa disaat suka. Kepada siapa saja yang datang, yang begitu baiknya menjadi tamu, mengetuk pintu kehidupanku, dan mampir di rumah hatiku. Kepada siapa saja yang pergi, yang pelan-pelan ataupun dengan cepat meninggalkan rumahku, menaruh jejak sejuta kisah yang dirasa tak akan lekang dilahap lupa.

Semoga masih ada kesempatan menyentuh hari ke dua puluh satu.



Masih banyak yang bisa kau cari, kau gali, kau selami, dan kau pelajari.
Selamat merayakan hari lahir, Risty.