Rasanya aneh.
Seperti ada sesuatu yang berhamburan, berhambaran.
Hambur dan hambar.
Rindu yang terbayar dan menghilang.
Tunggu, terbayar dan menghilang adalah dua hal yang berbeda.
Melihatnya tertawa mampu membuat rindu ini terbayar.
Namun ada yang lain disana,
dan seketika rindu itu hilang.
Rasanya aneh.
Bertemu denganmu seperti mencampurkan kecap dan sambal bersama.
Atau memegang bunga mawar? Ah entah apa analoginya.
Seperti senang dan sedih yang berlomba duduk di relung.
Bingung.
Pagi tadi, ku kemas segala pernik kalimat cerita.
Supaya ada yang bisa kita celotehkan bersama.
Tapi lidah ini pahit, kelu. Lalu aku cuma diam.
Kau juga diam.
Jadi tadi itu apa?
Kecewa yang ku bungkus dan ku bawa pulang ini,
mungkin hasil dari harapan yang ku bentuk dari semalam.
Aku tahu kau sedih. Kau tahu aku juga?
Jadi mungkin benar, dari sejak awal kau kurung dirimu.
Tadi, ku lihat tiang-tiang besi terpancang di sekitaranmu.
Kau kaku dan sulit bergerak.
Untuk apa? Supaya kita berjarak ya?
Jika memang harus seperti itu,
ku amini semua langkahmu.
Akan ku bawa novel tragedi ini,
supaya kau tak perih lagi. Kau tak perlu takut dan tak perlu mengurung diri.
Biar aku yang baca, biar aku yang bawa.
Biar aku yang selesaikan.
“Writing, then, was a substitute for myself: if you don't love me, love my writing & love me for my writing." ― Sylvia Plath, The Unabridged Journals of Sylvia Plath
Wednesday, February 26, 2014
Friday, January 17, 2014
The Inspiring People
Dalam hidup ini pasti ada orang-orang yang berpengaruh dalam hidup kita. Dan gue habis merekap beberapa orang yang gue petik kebaikannya dan sangat berpengaruh dalam hidup gue sampai saat ini.
1. Mamah
Ini sudah pasti. Banyak banget yang diajarkan sampai gue nggak tau mau ngomong apa. Beliau yang mengajari tentang ilmu ikhlas, bukan ustad atau ustadzah atau siapapun. Beliau yang mengajari tentang ramah dengan siapa aja. Beliau yang mengajari tentang kreativitas bahkan ketika gue sendirian sekalipun. Beliau yang mengajari kalau jadi perempuan harus berani dan independen, biar mandiri dan para pria nggak suka sama perempuan manja. Beliau yang dulu suka nyuruh gue ngerjain pekerjaan rumah macem nyapu, nyuci piring, dan segala macemnya yang gue kira itu cuma kerjaan pembantu rumah tangga tapi ternyata bener-bener terpakai di masa depan. Beliau sumber inspirasi semua keceriaan gue hingga hari ini. Beliau adalah orang yang mau belajar bahkan sampai detail-detail perbengkelan sekalipun. Katanya, "belajar itu bisa darimana aja. Jangan tutup mata. Apa yang bisa kita pelajari maka pelajarilah. Nggak ada pelajaran yang sia-sia,"
2. Kakak
Hal yang paling gue inget dari kakak gue jaman dulu adalah dimana dia marah-marahin gue karena gue nanya mulu tentang arti bahasa inggris pas main playstation. Dia sampai cariin kamus dan ngasihin kamusnya ke gue sambil bilang, "tuh cari sendiri!". Belum selesai disitu, gue males pakai kamus, akhirnya gue pakai alfalink. Terus dia bertindak lagi, "kakak kasih tahu ya, pakai alfalink itu cuma bikin males, nggak ada usahanya, cepet lupa. Kalau kamus itu kan kamu nyari-nyari, sekalian nemuin vocab lain juga. Lebih inget kata-katanya sampai lama,". Terus gue nangis, kenapa kakak gue suka sok bener -_- Kakak gue juga termasuk yang berjasa dalam pelajaran bahasa inggris gue. Satu lagi, beliau yang dulu paling serius sama penanganan pembentukan badan gue. Dulu badan gue bungkuk dan bentuk kaki gue menyerupai "X", dan beliau yang mati-matian sambil marahin taruh beberapa buku diatas kepala biar duduk dan jalan gue tegap. Kalau dibonceng naik motor pun dia suka nengok-nengok ke belakang mau liat apa gue bungkuk atau nggak. Dan dulu gue pernah berantem di jalan karena diancem bakal diturunin kalau duduknya nggak mau tegap. Emang agak mengerikan, tapi tujuannya baik.
3. Adinda Kartika Putri
Dinda adalah sahabat gue sejak masuk XI IPS. Anaknya asik, bisa diajak curhat tentang apapun (note it, apapun), pendengar dan pemberi saran yang baik, punya selera humor yang baik yang setara sama gue, pintar, rajin, dan masih banyak lagi. Dinda jadi siswa berprestasi pas kelulusan dari jurusan IPS. Dinda adalah kawan yang sangat amat baik sepanjang gue punya kawan. Dia sangat peduli. Hal yang membekas di ingatan gue adalah saat dia udah lolos SNMPTN Undangan jurusan Manajemen di Universitas Indonesia, tapi dia masih mau bimbel bareng gue dan teman-teman yang lain cuma karena pengen bantuin ajarin kita. Gue dan yang lain saat itu kondisinya belum dapet tempat kuliah. Kalau gue jadi dia jelas banget gue udah males juga dateng ke bimbel apalagi tempatnya jauh. Dari Dinda gue juga belajar tentang pengertian sama teman dan mengerti keadaan orang tua. Dinda yang ngajarin gue buat nggak suka boros dan nggak suka nuntut ini-itu sama orang tua. Dinda itu patuh sama orang tuanya, makanya jalannya selalu lurus. Gue termasuk salah seorang yang beruntung bisa bersahabat sama Dinda.
4. Missfala Rahmatina
Missfala adalah kawan bro gue banget dari sejak smester 1 di masa kuliah. Dia kawan yang berbeda menurut gue. Pandangannya terhadap sesuatu selalu bikin gue kagum. Missfala yang bikin gue perhatiin "kemasan" pada saat mau ketemu Allah, mau sholat. Waktu itu gue pernah pakai mukena yang atas bawahnya berbeda, karena memang pada saat itu mukena yang lain habis. Terus dia bilang, "nggak tunggu mukena yang lain aja Ty?" gue jawab, "ah sama aja kan yang penting niatnya.", lalu dia jawab dengan nada yang tajem, "giliran ketemu manusia aja di matching-matchingin sampai rapih banget, kok ketemu Allah malah ngasal?" dan gue diem sampai sholat dan selesai sholat pun nggak konsen. Rasanya malu sendiri. Sampai sekarang gue selalu berusaha tampil yang baik ketika mau sholat. Missfala juga yang meginspirasi kalau jadi perempuan jangan cengeng. Missfala selalu ceria apapun keadaannya bahkan ketika galau sekalipun.
5. Ibu Sri Suryoko
Bu Sur adalah dosen gue. Beliau termasuk dosen favorit yang (kalau di kelas) sangat baik. Cara mengajarnya enak dan kalau ujian nggak macem-macem. Mungkin banyak temen gue yang justru meremehkan kebaikan dia, kayak ngobrol pas di kelas atau mungkin tidur atau bahkan titip absen. Tapi kalau di kelas, beliau itu tetep ceria, tetep ngasih yang terbaik yang beliau bisa kasih, mau gimanapun mahasiswanya. Tetep ngajar dengan baik dan total walau dalam keadaan sakit sekalipun. Pernah suatu waktu beliau susah payah berbicara di depan padahal saat itu dia sedang sakit. Beliau susah payah mengajar dan masih saja tetap ceria. Gue duduk paling depan dan tetap memperhatikan. Lalu sejenak gue lihat ke baris belakang, banyak yang absen dan beberapa yang hadir pada ngobrol. Nggak tahu sih pikiran mahasiswa yang lain gimana, tapi gue sedih aja. Dari beliau gue belajar untuk tetap ceria dan berikan yang terbaik ke orang lain bagaimanapun keadaan kita, bagaimanapun orang lain itu bersikap terhadap kita; intinya kita harus tetap baik. Dan tulus. Bu Sur itu contoh orang yang tulus. Bu Sur selalu mengingatkan gue sama mamah. Semoga beliau selalu diberi kesehatan.
6. Abi Rafdi Fadhilah
Abi adalah kakak kelas gue waktu SMA, waktu gue kelas X dia kelas XII. Orangnya asik, nggak jaim sama sekali, pendengar-pemberi saran-penyemangat yang total, dan masih banyak lagi. Pelajaran yang gue ambil sepanjang gue kenal dia dan sangat berpengaruh di hidup gue sampai sekarang adalah "membeli mimpi". Dari dia gue belajar yang namanya kalau mau sesuatu ya kita harus berusaha. Kak Abi itu kolektor sepatu, dan suka beli gadget. Dia bakal nabung dan jual barang yang emang mending dijual buat barang yang dia impiin. Dia nggak pernah beli handphone dan sepatu pakai uang orang tuanya. Dari dia gue belajar buat beli barang yang gue pengenin pakai uang sendiri. Kayak i-pod dan Blackberry Torch, itu semua adalah hasil dari gue nabung sendiri. Terbukti, rasanya lebih puas dan nagih banget buat nantang diri sendiri beli yang lain lagi. Kak Abi pernah bilang, "kalau emang pengen barang A, ya kejar. Kalau emang mesti jual salah satu barang kita ya nggak apa-apa, tapi yang kira-kira emang udah nggak butuh banget. Kan akan selalu ada yang datang, tapi juga selalu ada yang pergi"
7. Fallen Oktafian
Fallen adalah kawan sejurusan gue di masa kuliah. Gue baru kenal banget sama dia sekitar smester 3. Kawan diskusi yang baik, pendengar dan pemberi saran yang objektif, pengetahuannya luas, selalu bijak dalam menanggapi sesuatu dan seseorang. Objektivitas dan kebijakannya itulah yang berpengaruh dalam hidup gue menyoal cara pandang terhadap sesuatu dan seseorang. Dalam memandang suatu hal, terkadang gue pakai 2 sudut pandang yang berbeda, dan seperti dapet materi tambahan, cara Fallen menanggapi sesuatu itu bisa gue pakai sebagai "bantuan". Pemikirannya berbeda, yang jujur terkadang gue nggak bisa mengerti sekaligus gue kagumi. Fallen juga yang ngebuat gue jadi suka nonton berita. Kayanya dia selalu haus dengan berita masa kini. Maka gue juga nggak mau ketinggalan. Motivasinya sih sederhana, biar nyambung kalo diajak ngomong. Motivasi lainnya, biar gantian bisa kasih "pengetahuan" lain yang dia nggak tahu, kan bosen kalo gue mulu yang nggak tahu (walaupun sampe sekarang gue mulu yang nggak tahu apa-apa).
Kepada Tuhan dan waktu, gue berterima kasih karena telah dipertemukan dengan orang-orang tersebut. Semoga mereka-mereka ini selalu dalam perlindungan Tuhan.
Friday, January 03, 2014
Sebuah Catatan
Menyenangkan berada di dekatmu, karena kamu memang menyenangkan.
Kamu mungkin sebilah bambu kaku, bagi para awam. Tapi ada bayang kertas mengkilap yang membentang di tengahnya. Warna perak dan bening itu. Pantas saja mereka tidak tahu, mereka hanya tidak melihat dari dekat.
Kamu adalah buku yang lain. Buku cerita sekaligus buku harian. Dimana aku bisa membentangkan cakrawala dan menyadari bahwa aku tak tahu apa-apa. Lalu ku tuliskan apa yang aku tahu didalammu. Tidak jarang yang ku tahu sudah kamu ketahui. Lalu seringkali pula aku menuliskan hanya beberapa pilah kata-kata tak penting atau gambar-gambar tak jelas dalam lembaranmu. Sederhana, supaya kamu tahu aku, supaya kamu ingat aku.
Kamu juga, hati mungil yang dibungkus keangkuhan, keegoisan. Aku kenal dirimu. Aku kenal sosok itu. Pernah diantara malam ku lihat kau merenung di kegelapan. Perkataan mereka tentangmu yang segala rupa tak benar, semua meluruh, kau telanjang. Ingin ku duduk disampingmu dan memeluk menemani sepimu. Dan aku berharap supaya mereka bisa melihat ini.
Kamu seekor rubah. Aku tahu ini bukanlah gambaran yang baik. Hewan apa yang menyeramkan karena kecerdikannya? Aku seringkali takut dipermainkan. Kecerdikanmu seolah membawaku mundur, mundur dan mundur dan mampu menghimpitku. Sehingga terkadang aku takut terhadapmu. Kekhawatiran yang tak mungkin aku katakan. Lalu, menurutmu, aku ini hewan apa? Semoga kau menjawab apel.
Kamu sebuah pesawat ulang-alik yang mampu membawaku menembus batas. Kemanapun. Sampai terkadang aku takut kau tak membawaku pulang. Kau membawaku menembus batas lintas dunia, entah dunia mana saja. Terima kasih pernah mengajakku terbang. Aku harap suatu hari kau mau membawaku pergi lagi. Mungkin pesawat adalah kata yang terlalu mewah, aku lebih senang yang sederhana. Layang-layang.
Percayalah, aku selalu bahagia melihatmu tertawa. Sekalipun kau menertawai kebodohan atau kekurangan atau kejelekanku. Aku lebih sedih ketika kau bersedih, karena aku tak tahu harus lakukan apa untuk paling tidak membantumu mengangkat beban-bebanmu.
Percayalah, aku selalu senang melihatmu tertidur. Wajah yang akhirnya sejenak menemukan kedamaian di tengah karung keresahan yang akan kau temui ketika kau terbangun. Aku selalu mengecupkan doa kala itu. Kau tak pernah tahu.
Dan aku selalu senang membuat catatan tentang seseorang.
Apalagi, tentangmu.
Thursday, October 10, 2013
Patah Hati
Jadi, patah hati itu bukan sesuatu yang mengenakkan pun mengasyikkan. Pun aku rasanya tidak ingin mengenal kata "patah hati".
Ia membuatmu sakit, tiba-tiba rindu rumah, tiba-tiba malas bergerak, tiba-tiba ingin sendiri, tiba-tiba hilang percaya, tiba-tiba tidak ingin bertemu orang tertentu, tiba-tiba ingin menghilang, tiba-tiba mual, tiba-tiba perih, tiba-tiba bimbang, tiba-tiba menyalahkan diri, dan yang lain-lain yang semuanya serba tiba-tiba.
Kali ini aku berusaha mencoba, dengan semua hal yang datang tiba-tiba itu; bagaimana caranya peristiwa patah hati bukan membuatmu sekarat tapi justru lebih hidup.
Bagaimana?
Tuesday, October 08, 2013
Surat Untuk Layang-Layang
Hai riasan langit,
sudah seberapa jauh kau terbang?
ku rasakan arah angin tak menentu musim ini,
dan ku lihat kau terombang-ambing diatas sana.
Kau mau kemana, sayang? Kau mau kemana?
Lihat tanganku, benang gelas ini mulai melonggar.
Kertas perakmu bergerak tak karuan, ketenanganmu terusik.
Bambu penopang itu masih kokoh, namun tidak dengan jiwanya.
Ku kaitkan benangnya makin erat, makin kencang hingga kau tak hilang arah?
Atau biar saja ku lepaskan? Agar kau leluasa menjelajah dunia, mencari pelari yang lebih hebat.
Kepada Layang-Layang,
ini, terima suratku.
sudah seberapa jauh kau terbang?
ku rasakan arah angin tak menentu musim ini,
dan ku lihat kau terombang-ambing diatas sana.
Kau mau kemana, sayang? Kau mau kemana?
Lihat tanganku, benang gelas ini mulai melonggar.
Kertas perakmu bergerak tak karuan, ketenanganmu terusik.
Bambu penopang itu masih kokoh, namun tidak dengan jiwanya.
Ku kaitkan benangnya makin erat, makin kencang hingga kau tak hilang arah?
Atau biar saja ku lepaskan? Agar kau leluasa menjelajah dunia, mencari pelari yang lebih hebat.
Kepada Layang-Layang,
ini, terima suratku.
Cayman Island, October 8th 2013
-Your Kite Runner-
Secangkir Cerita Lalu
Secangkir teh yang kau hidu pagi ini
Muasal telapak rindu yang berbekas menjadi jejak
Secangkir teh yang kau terima siang ini
Suguhan berulang yang kau harap dapat menghilang
Secangkir teh yang kau kaca sore ini
Gerimis pukul 4 tak mampu sapu bayang kenang
Secangkir teh yang kau minum malam ini
Penanda masa lalu yang tak bosan merayu ingatan
Hingga nanti kau jengah dan ambruk
terlelap dihantam kelelahan.
Muasal telapak rindu yang berbekas menjadi jejak
Secangkir teh yang kau terima siang ini
Suguhan berulang yang kau harap dapat menghilang
Secangkir teh yang kau kaca sore ini
Gerimis pukul 4 tak mampu sapu bayang kenang
Secangkir teh yang kau minum malam ini
Penanda masa lalu yang tak bosan merayu ingatan
Hingga nanti kau jengah dan ambruk
terlelap dihantam kelelahan.
Thursday, September 19, 2013
Tiga Jendela
1.
Seperti sebuah tayangan dalam sinetron di televisi. Lelaki itu menghunus sebilah belati, dan menikam sebuah daging yang masih berdenyut di genggamannya. Menancap, hingga darah merah yang terus menderas berubah menjadi hitam pekat. Sadar tak sadar, yang berlumur itu adalah jantung milik istri yang sangat mencintainya.
2.
Pukul 10 pagi gadis itu melewati sebuah lapangan di wilayah halaman sekolah. Dilihatnya seorang murid yang dihina oleh gurunya sendiri. Direndahkan, tanpa ampun. Hati gadis itu bergetar. Teringat di waktu lalu akan kejadian yang sama, tempat yang sama. Telapak tangannya berkeringat. Ia bersyukur, telah memutuskan berhenti dari masa itu, walaupun harus kehilangan waktunya merasakan duduk di bangku di tempat tersebut.
3.
Pada hari Jumat sore aku memberanikan diri untuk berjalan-jalan sendiri. Di antara riuh lalu lalang pinggir jalan, ada sepasang lelaki dan perempuan disana. Si perempuan, yang buta, menari mengikuti irama yang berasal dari radio miliknya. Si lelaki tak jauh dari sana asyik melukis perempuannya hanya dengan dua jari yang tersisa di tangan kanannya. Di tengah-tengah mereka sebuah kotak terduduk berisikan koin-koin dan berlembar-lembar uang dari para pejalan yang lewat. Aku ingin memberikan beberapa koin milikku tapi kursi rodaku tak mampu menjangkau daerah itu. Dan secara tiba-tiba, aku harus segera pulang manakala jantungku mulai terasa tak baik.
Subscribe to:
Posts (Atom)