The amateur travel-writer is back again! Kali ini gue jalan-jalan (bahasa kerennya fieldtrip) ke PT Djarum di Kudus. This event is presented by (HUMAS) HMJ Administrasi Bisnis 2013. Gue bukan panitia disini tapi (kayanya) penghibur peserta.
Sepengalaman gue ngurus fieldtrip tahun lalu, fieldtrip kali ini enak banget. Disini rundown segala macem udah diserahin ke pihak Djarum-nya sendiri. Destinasinya banyak, dapet ilmu banyak, dapet makanan banyak, yah worth banget lah dengan biaya Rp 75.000 yang belum terpotong dana PRKP. Dan gue cukup beruntung berkesempatan kesini :D
Jadi, destinasi pertama kita ke bagian Sigaret Kretek Tangan (SKT). Disini tempatnya rokok kretek dirakit langsung pake tangan. Ada 60.000 lebih pegawai disini, dengan 57.000 lebih sebagai buruh dan 4000 lebih bagian marketing, tapi katanya jumlahnya bisa naik-turun. Dan gilak banget, baru masuk aja udah bau tembakau kepala gue sampe pusing. Ada fasilitas masker cuma sayangnya karena peserta utamanya anak 2012 jadi gue memutuskan mengalah :')
Bisa diliat kan itu semua buruhnya wanita. SE-MU-A-NYA. Kenapa? Jadi dulu sebenernya pernah para buruhnya itu semua laki-laki, tapi ini masalah psikologis dimana kalo cowok dikasih tau sama mandornya (yang juga cowok) biasanya jadi emosi sendiri. Nanti bakal ngaruh ke pekerjaan bukan? Maka dari itu jadinya wanita semua. Lagipula kalo ngasih tau ke wanita juga lebih enak, katanya. Dan gokilnya lagi, gue beneran ketemu "ibu kepala gedeg" yang pernah diceritain dosen gue. Spontan gue ketawa dari jauh. Tapi kalo dipikir-pikir kasian juga. Soalnya itu efek dari mereka kerja disitu saking terbiasanya ngelakuin gerakan yang sama, makanya jadi gitu :|
FYI, PT Djarum ini adalah satu-satunya perusahaan rokok yang masih jadi perusahaan keluarga (Indonesia), karena yang lainnya udah dialih-kelola sama asing. Dan ternyata, para industri rokok ini dilarang buat menanam tembakau sendiri, alhasil yang diuntungkan (dan memang seharusnya begitu) adalah petani tembakau. Itu udah regulasi pemerintah. Omzet mereka udah triliunan, tapi gue lupa ini sehari atau seminggu. Kayaknya sehari deh. Ya gimana nggak, PT Djarum ini udah ekspor tembus ke seluruh benua.
Noted ya, gue disini nggak buat promosiin Djarum apalagi buat menghimbau untuk merokok. Dan gue bukan perokok. Boro-boro mau ngerokok, boro-boro mau ahli isep asap rokok, dikepung asap sate ayam aja gue udah semaput :V disini posisi gue sebagai si-ingin-tau dan sebagai pihak yang netral.
Nah gambar diatas ini pas pengerjaan pengeleman tembakaunya. Di lemnya pake tapioka. Gue sempet coba praktek langsung dan ternyata ya nggak susah. Tapi emang harus rapih betul. Proses seluruhnya ada di SKT ini, dari pengeleman sampe pengepakan hingga berkardus-kardus.
Setelah dari SKT ini kita lanjut ke bagian rokok filter. Jelas nggak ada dokumentasi karena ponsel dan bentuk alat elektronik apapun dilarang disini, karena disini udah bagiannya mesin. Gue bisa liat rokok-rokok itu dibuat dan pack-pack rokoknya jalan-jalan diatas gue gitu ada jalurnya. Bener-bener diatas gue persis. Ruangan pabriknya besar dan mahaluas (sampe kepikiran gimana cara nyapu ngepelnya). Suhu ruangannya 20 derajat celcius. Kalo di SKT tadi itu panas banget. Mesin-mesinnya dibeli dari Jerman. Yaelah harganya paling berapa sih ya itu mah geli-geli doang rasanya :V
Lalu setelah dari pabrik rokok filternya, kita ke Oasis. Disini tempat utamanya adalah tempat pembuangan limbah. Tapi ternyata lahannya luas banget sob. Masukkin 3 Dufan muat kali.
Blame my i-pod. Foto diatas itu tempat semacam kolam gitu deh, itu berisi limbahnya. Baunya nggak gitu ketara sih.
Dan yang gue takjub di lahan Oasis ini, dibuat semacam miniatur bola kok besar banget. Dan ada replika piala-piala dari Thomas-Uber Cup, Sudirman Cup, All England, dan masih banyak lagi yang sayangnya nggak gue foto karena sungguh matahari seperti mengecup ubun-ubun.
Mungkin karena kelebihan lahan terus bingung mau dibuat apa, makanya dibuat rumah adat Kudus :S and yes, exactly semua orang pada baru tau kalo Kudus punya rumah adat.
Selesai dari Oasis, destinasi selanjutnya adalah bagian office, dan disediakan ballroom buat kita. Masuk sekitar jam setengah 11an dan selesai jam 3. Disini ISOMA-nya dan tentunya presentasi.
Disinilah tempat dimana mbak yang presentasi jelas pro pada para perokok (dan dia juga perokok aktif), dan menurut pendapat gue ya dia atas nama pihak Djarum semacam mendoktrin bahwa merokok itu bukannya baik, tapi nggak buruk-buruk amat.
Yang lucu adalah, ketika si mbak bertanya "kalo memang rokok tidak aman, lalu apa yang bisa dikonsumsi secara aman, sehat, dan dalam jumlah yang banyak juga?" dan di slide bilangnya air putih. Ya betul. Tapi akhirnya statement "air putih = sehat + aman" itu terbantahkan karena ada data tentang yang meninggal karena keracunan kebanyakan minum air putih. Sebenernya menurut gue apapun yang dilakukan secara berlebihan itu tidak baik. Apapun. Semuanya bisa jadi racun. Tapi kalo dibandingkan dalam kadar yang seimbang, hehehe tetep aja rokok itu tidak baik dibanding air putih (kecuali air putihnya nggak steril).
But who am I to forbid? Semua punya pilihan masing-masing. Perkara sakit atau nggak ya sebenernya orang nggak merokok pun punya potensi sakit berat yang lain entah itu ada kontribusi dari asap rokok atau yang lainnya. Kalo ditanya gue pro rokok atau nggak, ya sebenernya sih nggak. Karena buat gue pribadi, jaga badan yang sehat tanpa rokok pun udah susah gimana ditambah rokok? Kalo mau sok-sokan bawa-bawa alasan global warming, hahaha I have to admit parfum gue aja masih parfum semprot. Ya jadi sejujurnya ini masih lingkup diri sendiri. Hal yang lain, (terserah mau bilang katro atau gimana), gue masih menganggap bahwa perempuan merokok adalah sesuatu yang tidak baik. Gue berada di lingkungan dimana kawan-kawan gue pun juga perokok. Yang masih gue bingung, jadi sebenarnya dalam kasus ini, jika merokok dan tidak merokok merupakan pilihan, maka siapa yang menghormati siapa? Kalo di tempat umum, si yang bukan perokok menghormati dengan cara tutup hidung atau menjauh atau kipas-kipas meanwhile para perokok kaya sepur; terus para perokok menghormati mereka dengan cara apa? From the bottom of my heart, I'm purely asking :D
Back on the track, gue mau kasih tau kenapa ada yang namanya rokok kretek. Rokok kretek itu terbuat dari campuran cengkeh. Jadi awalnya, (if I'm not mistaken) pak Haji Djamihari itu punya sakit sesak napas. Dia yang pertama kali coba meredakan sesak napasnya itu dengan pake tanaman cengkeh tapi cuma dari luar badannya aja. Lalu dia berpikir, gimana caranya cengkeh ini bisa sampe ke paru-paru, intinya bisa dikonsumsi lebih mudah lagi. Nah akhirnya dibuat deh jadi campuran rokok. Rokok kretek adalah campuran tembakau dan cengkeh. Sedangkan nama kretek sendiri berasal dari sumber suara yang dihasilkan ketika rokok tersebut dibakar. Makanya, pak Haji Djamihari adalah pencetus rokok kretek, dan itulah mengapa Indonesia bangga punya kretek, karena merupakan temuan anak bangsa.
Satu lagi sejarah yang baru gue tau. Kalian tau siapa perempuan yang jadi ikon SPG rokok? Bukan, bukan Cinta Laura :V dia adalah Roro Mendut. Lemme tell you the history. Jadi, Roro Mendut ini adalah perempuan yang terkenal karena kecantikannya. Cantik banget sampe akhirnya panglima besar kerajaan Mataram ingin meminangnya. Tapi Roro Mendut menolak, karena dia udah punya kekasih hati, dan selain itu dia cuma bakal dijadikan selir sama panglima ini. Terus akhirnya, si panglima ini marah kalo Roro Mendut nggak mau nikah sama doi, maka Roro Mendut harus membayar sejumlah pajak harian yang sangat besar. Roro Mendut emang miskin, tapi ternyata dia cerdik. Dia memanfaatkan kecantikannya buat jualan rokok di pasar. Tapi caranya nggak sama dengan para penjual rokok yang lain, walau yang lain juga sama-sama perempuan. Roro Mendut menjualnya dengan cara menawarkan rokok tersebut secara sensual, yaitu rokoknya di lem dengan jilatan darinya. Tambahan akal, ia juga menghisap rokok tersebut sekali-dua kali. Jadi, rokok yang dijual tersebut langsung dari mulut Roro Mendut sendiri. Praktis, siapa sih laki-laki yang nggak mau? Gue pribadi sih tetep aje ogah beli barang ada air ludah laki-laki walau ganteng sekalipun -_- Akhirnya dari situlah, Roro Mendut jual rokoknya dengan harga tinggi, dan berhasil deh buat bayar pajaknya. Dari situ pula Roro Mendut disebut SPG rokok pertama di Indonesia.
Rokok ini adalah rokok limited edition. Selain rasanya yang rasa buah, rokok ini hanya dipasarkan di luar negeri, (kalo nggak salah) Australi. Ada rasa cherri dan vanilla, tapi gambar diatas adalah rasa cherri. Tadinya sih mau ambil satu buat seseorang tapi nggak enak. Rokok ini sebenernya di jual di pasar luar untuk memenuhi demand dari konsumen wanitanya lho. Dan harganya muahal. FYI rokok-rokok yang di ekspor itu harganya mencapai Rp 70.000 lebih. Nggak mungkin dijual disini. Kalo mahal nggak ada yang beli, selain merugi untuk perusahaan, perekonomian Indonesia fix banget anjlok karena industri rokok penyumbang perekonomian terbesar. I'm wondering kalo penyumbang perekonomian terbesar kedua adalah beneran dari pulsa :V
Selesai dari office, the last but not least adalah GOR PB Djarum. Disini nggak ngapa-ngapain sih cuma liat ada calon atlet bulutangkis lagi pada latihan. Dari yang masih kecil udah jago banget, sampe yang gede-gede juga ada. And I officially pengen banget main badminton.
Then, we're now at the end of the show. I had a great time today. And I've done my work to report for the reader.
So, I'll catch y'all later on the next journey!
No comments:
Post a Comment