Tuesday, January 15, 2013

Never Ending High School Memories

Diantara dinginnya kamar, nyamannya kasur, dan tenangnya hari di Selasa sore ini, gue berpikiran untuk posting tentang masa-masa SMA. Tetiba keinget karena selesai nonton You're The Apple of My Eye.

Masih terekam jelas gimana gue bisa menghabiskan masa-masa kelas 1 SMA. Dengan segala suka duka yang ada. Gue enggak pernah nganggep semuanya duka; semuanya suka. Suka cita. Gue bukan anak bandel pada saat itu. Ya cuma belajar, main. Cerita lainnya paling cerita persahabatan yang keren banget, dan cerita cinta pastinya :p

Masih enggak habis pikir sampai detik ini sewaktu kelas 1 SMA gue punya geng bernama "D'Jambaners". Plis banget jangan tanya gue tentang filosofinya. Jadi geng dengan sebutan "Jembi" ini berisikan 10 orang dengan nama masing-masing yang sangat memalukan, sama kaya kelakuan orang-orangnya. Jembi ini suatu saat bisa berubah nama jadi "Pasukan Berani Jajan". Pasukan ini bekerja ketika di jam-jam kosong enggak ada guru atau pas gurunya lagi keluar kelas sebentar, kita langsung ngacir ke kantin dan bawa jajanan masuk ke kelas padahal sang kalas (re: kacung ketua kelas) udah wanti-wanti biar pada makan diluar, tapi teteeep aja. Dan yang gue enggak habis pikir, temen-temen yang lain mendaulat gue sebagai ketua PBJ. Prestasi (tidak) membanggakan.

Kalo melirik ke kisah cinta nih, ada satu orang yang dulu tanpa disadari menjadi spy. Wah itu salah satu moment ter-gak-nyangka juga sih. Berlangsung beberapa bulan lamanya tanpa ada peresmian. Dia menyatakan. Sebenernya gue juga cukup nyesel kenapa dulu juga enggak bilang. Yah intinya gitu deh. Lalu kami hilang kontak dan ketemu tiba-tiba di chat facebook. Masih inget moment kelas 2 SMA dimana kelas dia menang lawan pertandingan dari kelas gue. Karena sebelumnya kita tebak-tebakkan siapa yang menang, lewat chat itu juga. Senyum simpul gaya khasnya rasanya kaya nampar gue di seberang lapangan, dan kami beradu pandang sambil tertawa. Enggak ada yang sadar. Dan gue masih inget semuanya. Gue menyebutnya "moment lapangan".

Berbeda di kelas 2, gue berpisah sama Jembi. 2 dari 10 memutuskan ke IPS, sisanya ke IPA. Dari sejak itu kita jarang main. Udah enggak ada lagi yang namanya tiap pulang cepet langsung enggak pake mikir cabut ke XXI. Jadwal kita udah beda. Dan teman bergaul juga beda. Dan lucunya di kelas 2 ini gue kayanya enggak deket sama siapa-siapa ahaha. Risty siswa baru yang waktu itu di kelas 1 SMA, dalam kurun waktu setahun banyak banget deket sama cowok. Dari kakak kelas sampe seangkatan. Anjir gue aja bingung. Dan kakak kelas itu semuanya 2009 yang notabene beda 2 tahun. Okelah never mind.

Di kelas 3 SMA ada orang lain yang sudah merebut hati, dan ini resmi. Setahun perjalanan kelas 3 ini ditemani dia hingga gue kuliah. Jatuh bangun urusan mental gue alamin di tahun ini. Permasalahannya enggak jauh-jauh dari urusan perguruan tinggi. Capeknya fisik dan batin juga ada. Tapi disini juga enggak terlupakan. Ini tahun terakhir dimana Alience semua berubah jadi kekanak-kanakan. Kaya enggak mau jadi dewasa, tiap jam istirahat sekolah ada aja ulahnya. Yang paling bikin kangen ya itu sih, nyebur-nyeburin anak-anak. Niatnya nyeburin yang ulang tahun, tapi lama-lama merembet yang lagi cengo enggak salah apa-apa tau-tau ditarik, diangkut, diceburin ke kolam depan health center. Yang ranking 1 juga diceburin. Yang ulangan dapet bagus juga suka dapet ancaman diceburin. Wah gila hidup enggak aman banget. Kami, Alience, minoritas dominan. 42 orang rasa 80 orang; ya powernya; ya bacotnya. Dan gue bangga banget bisa jadi bagian dari mereka, calon-calon orang sukses :)

Dan kuliah? Wah harus gue akuin hidup gue berubah 180 derajat disini. Terlalu banyak rasanya buat bisa diceritain. Dari hidupnya, temen-temennya, rasa kekeluargaannya, dosen-dosennya, kampusnya, love life-nya. Semuanya.

Kalo boleh berangan-angan, gue mau balik ke SMA lagi. Kalo ngikutin teori di Organisasi Manajemen Bisnis, disitulah tahap gue berkembang, dan mulai berubah di tahap perkuliahan ini. Cheers for high school memories! :D

Saturday, January 12, 2013

10 Januari 2013

Tanggal 10 Januari 2013 kemarin entah kenapa jadi salah satu dari sekian banyak hari menyenangkan yang gue alami. Mungkin karena jadi hari terakhir UAS juga di smester 3. Tapi kayaknya enggak se-sederhana itu deh.

2 hari perubahan terlalu ekstrim sempat gue lewatin di sebelum tanggal 10 itu. Mungkin karena udah terlalu terbiasa dan rasa nyaman yang dirasa, yang akhirnya ngebuat gue jadi kacau dan kehilangan dan nelangsa dan menyedihkan dan sedikit malu-maluin kayaknya. I have to admit, I'm lost

Mungkin orang lain enggak tau apa yang terjadi, ya enggak penting juga sih mau tau atau enggak. Tapi gue yang ngalamin, ngerasa beberapa hari kemarin itu kaya jungkir balik. Dan di tanggal 10 itu semua kembali dan rasanya bersyukur dan bahagia enggak ketulungan. Beberapa pihak yang enggak ngerasain mungkin nganggep semuanya berlebihan; tapi enggak perlu lah ditanggapin.

Menyadari bahwa proses kehilangan adalah salah satu hal dari sekian banyak hal yang menyakitkan. Kemarin-kemarin gue coba menghalau segala cara buat menolak rasa kehilangan yang datang, tapi enggak bisa, sama sekali :') sepintar-pintarnya gue menutupi apa yang dirasa, tapi pasti ada bagian dimana gue enggak bisa memungkiri untuk menutupi dan jadi kaya dead woman walking. Lalu ketika akhirnya kami kembali, gue bisa ngerasain rasa kayak seorang Ibu yang udah lama kehilangan anaknya, atau seorang sahabat yang atas nama waktu harus berpisah dan atas nama waktu pula mereka kembali, atau mungkin seorang pasangan yang udah lama pacaran terus putus terus menemukan jalan lagi; seneng banget; informal tapi terikat.

Ada beberapa hal yang gue rasa selama satu hari itu, macem-macem dan semua kumpul jadi satu. Tapi yang gue enggak habis pikir sih tentang beberapa kebetulan. Kebetulan yang lucu namun direncanakan.Ya bukan direncanain gue yang jelas -_-

Pada hari itu semesta berkonspirasi, mengaitkan kami. Mulai dari mimpi yang jadi kenyataan; buka pager kosan dan cengo tapi pura-pura kalem karena baju kita warnanya sama; langit yang kayanya enggak tahan pengen bocorin hujan tapi karena ada kita seakan mereka jadi menahan semuanya; surat dengan pena pinjaman darinya yang seharusnya enggak diketahui malah entah kenapa bisa sampe di gue; dan kayanya masih ada tapi itu yang paling mencolok.

Mungkin keliatannya sederhana, tapi menurut gue sih enggak. Terlalu banyak kebetulan hanya dalam sehari, gimana gak gue amazing coba? Sekarang semuanya kembali. Gue kembali ceria, kembali seperti sedia kala, dan entah sampai kapan. Semuanya balik lagi jadi lucu, setelah beberapa hari dunia seakan kehilangan hal-hal yang bisa ditertawakan.

And I officially thank to the universe. That day really belongs to me.We belong to that day! :D

Sunday, December 30, 2012

Secangkir Teh Pengingat

Secangkir teh setengah hangat pagi ini mengingatkan,
menjadi musim tidaklah menyenangkan.
Ia hanya sementara, terkadang diinginkan, terkadang tidak.
Ketika membawa badai, Ia dicaci.
Ketika membawa sejuk, Ia dipuji.

Aku? Aku tidak pernah bermimpi menjadi musim.
Harus tegar dan kokoh disaat orang-orang membicarakan atau menginginkan musim lainnya.
Namun sepersekian detik melayang dibuai kata-kata manis memuji.
Ketika musim memiliki perasaan, apa iya Ia merasa dipermainkan?

Diantara ketiada-abadian, setidaknya masih ada teman sepanjang waktu, sepanjang hidup.
Udara?
Diinginkan atau tidak, Ia tetap dibutuhkan.
"Sang Surya Menyinari Dunia" pun memiliki masa untuk menghilang.
Aku rasa tidak dengan udara.
Keberadaannya tidak terlalu nyata, tapi dapat dirasakan.

Lalu aku ingin jadi apa? Tidak tahu.
Aku ingin menjadi nyata. Senyata-nyatanya, untuk seseorang.
Ada, sampai akhir hayat, selamanya.
Bukan hadir, untuk dilupakan.

Saturday, December 29, 2012

Another Spontaneous Post

First, I don't know why I should post at this time (5.09 AM). Second, I don't know why (again) those damn things such as thoughts attack my whole mind and I can't possibly continue my sleep and have to throw it all away -_-

Semakin hari gue semakin menyadari bahwa, tidak banyak orang bisa mengerti apa yang gue rasakan. Gue enggak tau apa ini rumit aja apa rumit banget atau enggak ada rumit-rumitnya acan, tapi maksudnya..apa yang gue alami sekarang adalah masalah psikologis yang gue sadari sendiri (barusan) itu kacau banget.

Gue baru saja menyadari bahwa ternyata gue memang move tapi bayang-bayang itu susah lepas. Masalahnya yang keinget bukan yang manis tapi yang pait, gimana dong? Semua tindakan orang lain, siapapun itu, bisa bikin otak gue konslet sendiri dan keinget bahwa apa yang dilakukan orang tersebut pernah dilakukan seseorang di masa lalu. Catat, perlakuan pait. Di sisi lain gue menantang diri sendiri untuk bisa lawan itu semua. Iya kok gue lawan. Dan di sisi lain gue jadi kaya, "kok rasanya gue pernah diginiin". Gue udah enggak ada urusan dengan kenangan manis masa lalu, tapi orang sakit cacar emang bekasnya cepet hilang? Ya walaupun gue enggak pernah cacar sih -___- okedeh analogi yang lain. Lo dilempar pake batako segede gaban dan itu tepat kena di dada lo. Bolong, sakit. Ya itu. Ketika gue pake analogi "batako", percayalah gue sama sekali enggak hiperbola.

Tapi sekali lagi, luka lebamnya itu di kulit dan cacat sampe dalem, maksudnya ya masih bisa ditutupin baju. Ya kan? Dan gue mencoba pake baju baja, yang enggak tau beli dimana.

Bayang-bayang itu kaya dementor yang selalu ngikutin, kecuali gue tidur, dan kecuali gue sama dia. Kita suka ketawa, kita suka diskusi, kita berimajinasi, kita lucu. Dementor itu kerjanya menyedot kenangan manis, sedangkan dementor yang ini mengeluarkan kenangan buruk yang bisa bikin :) jadi :( atau jadi :| juga bisa.

Gue udah lakuin hal-hal itu. Gue udah pasrah (saat itu), dan berdamai dengan keadaan, berdamai dengan waktu dan rasa sakit. Gue udah berdamai dengan duka. Gue membiarkan mereka masuk karena rasa sakit semakin kita melawan semakin dia menjadi-jadi. Tapi itu kemarin. Gue tau saatnya sekarang bukan waktunya lagi gue menya-menye diisengin dementor. And I'm on my way to fight it.

Ada perasaan bersalah ketika gue merasa diluar kontrol, membandingkan secara enggak sadar orang yang saat ini dengan yang dulu. Karena gue tau rasanya nyakitin banget. For you to know, I apologize for what I've done, I didn't mean to do that.

Di sisi lain, ada semacam monolog yang selalu muncul disaat orang mungkin merendahkan atau menganggap sepele, "Kalian enggak pernah ngerti apa yang aku rasain. Semuanya. Sedalam apa, sehitam apa, selebam apa. Kalian enggak akan pernah mengerti. Karena kalian hanya melihat permukaannya. Mungkin sebagian mengerti, sebagian tidak (mau) mengerti. Tapi percayalah, aku mencoba melepaskan diri dari itu semua. Aku mencoba menyembuhkan diriku sendiri. Dan pada akhirnya kalian enggak akan pernah tau hasil nanti seperti apa. Yang jelas, aku enggak akan ngecewain seseorang selanjutnya dengan 'hal bodoh semacam itu'. Dan aku harap kalian mendukungku,".

Well, half of my godamn thoughts has just came out. Sleepy slowly comes and attacks.

And for the epilogue.. umm it might be a little off topic..
Thank you for staying beside me. Thank you for helping me.
Good morning, the-cold-one.
Good morning, universe!

Wednesday, December 26, 2012

Mu

Aku jujur atas semua rasa
Aku tidak bermain, Aku tidak bersembunyi
Aku tidak menutup mata, Aku tidak memalingkan hati

Aku pasrah
Aku tidak berani melawan
Kecintaan ini terlalu mulia untuk diperangi
Ketulusan ini terlalu jahat untuk dihitamkan
Aku pasrah dalam keadaan

Aku mencoba siap,
jika kau ingin pergi;
jika kau ingin membunuh;
jika kau ingin berlari

Kamu..
Rumah yang selalu menjagaku di saat-saat terakhir
Samudra yang tak habis untuk diselami
Pesulap yang lihai memetik bulan sabit
Cermin yang tak lelah menggali yang ada dalam diri
Secangkir teh yang selalu menghangatkan pikiran dan imaji hati
Alunan nada yang kerap menemani perjalanan
Kotak tawa pemecah pilu

Layang-layang yang setia terbang di angkasa hati

Sejenak, lupakan semua gundah, lupakan semua duka
singkirkan batu penghalang, dan perhatikan baik-baik

Hitam diatas putih, Aku mencintaimu.




(Bekasi, 26 Desember 2012. 16.15 WIB. Hujan. Dingin. Kamar biru)

Friday, December 21, 2012

Kata

Pelan-pelan. Dia. Kami. Peduli. Menyayangi. Walaupun.

Saturday, December 01, 2012

The Unsaid Thing

Dua kali aku mendapat posisi ini
Dua kali aku dihantam berbagai perasaan tak terlukis
Dua kali mendapat komentar tak terayak
Dua kali terjebak dalam perasaan bersalah
Dua kali bertanya-tanya tentang semua yang terjadi

Ya, hidupku sangat berwarna

Mengais sedikit dukungan diantara cibiran yang datang perlahan
Mengais gumpalan kekuatan, menambal bagian-bagian yang rapuh
Mengais berbagai tawa menyamarkan raut duka

Namun diantara sekian banyak rasa, aku bersyukur
Aku masih bersyukur
Bersyukur dengan segala sekelumit perasaan yang hadir
Bersyukur dengan rasa cinta ini
Bersyukur dengan semua jalan cerita ini
Bersyukur dengan kehadiranmu yang menghalau masa lalu, menempatkanku pada masa kini

Dan diantara semua ini, ada yang ingin aku sampaikan,
Tuhan, semoga kecintaan yang hadir ini tidak pernah salah, semoga Engkau membawaku selalu pada jalan yang benar, semoga aku tidak menyakiti hati orang lain
Namun jikalau semua ini salahku, aku minta maaf
Semoga Kau melindungi orang yang ku sayang, dan semoga Kau memaafkanku
Aamiin