Tuesday, October 08, 2013

Secangkir Cerita Lalu

Secangkir teh yang kau hidu pagi ini
Muasal telapak rindu yang berbekas menjadi jejak

Secangkir teh yang kau terima siang ini
Suguhan berulang yang kau harap dapat menghilang

Secangkir teh yang kau kaca sore ini
Gerimis pukul 4 tak mampu sapu bayang kenang

Secangkir teh yang kau minum malam ini
Penanda masa lalu yang tak bosan merayu ingatan

Hingga nanti kau jengah dan ambruk
terlelap dihantam kelelahan.

Thursday, September 19, 2013

Tiga Jendela

1. 

Seperti sebuah tayangan dalam sinetron di televisi. Lelaki itu menghunus sebilah belati, dan menikam sebuah daging yang masih berdenyut di genggamannya. Menancap, hingga darah merah yang terus menderas berubah menjadi hitam pekat. Sadar tak sadar, yang berlumur itu adalah jantung milik istri yang sangat mencintainya.

2.

Pukul 10 pagi gadis itu melewati sebuah lapangan di wilayah halaman sekolah. Dilihatnya seorang murid yang dihina oleh gurunya sendiri. Direndahkan, tanpa ampun. Hati gadis itu bergetar. Teringat di waktu lalu akan kejadian yang sama, tempat yang sama. Telapak tangannya berkeringat. Ia bersyukur, telah memutuskan berhenti dari masa itu, walaupun harus kehilangan waktunya merasakan duduk di bangku di tempat tersebut.

3.

Pada hari Jumat sore aku memberanikan diri untuk berjalan-jalan sendiri. Di antara riuh lalu lalang pinggir jalan, ada sepasang lelaki dan perempuan disana. Si perempuan, yang buta, menari mengikuti irama yang berasal dari radio miliknya. Si lelaki tak jauh dari sana asyik melukis perempuannya hanya dengan dua jari yang tersisa di tangan kanannya. Di tengah-tengah mereka sebuah kotak terduduk berisikan koin-koin dan berlembar-lembar uang dari para pejalan yang lewat. Aku ingin memberikan beberapa koin milikku tapi kursi rodaku tak mampu menjangkau daerah itu. Dan secara tiba-tiba, aku harus segera pulang manakala jantungku mulai terasa tak baik.

Tuesday, September 17, 2013

Athena dan Beberapa Potong Biskuit

Tentang Athena yang sedang menghisap ujung biskuit coklat yang berada dalam genggaman. Terlihat asik dengan mata nanarnya menghadap langit-langit serta keadaan jalanan di taman sore itu. Separuh biskuit di mulutnya sudah mulai basah, ia pun segera melumatnya dan kaki kecilnya yang tergantung tak sampai ke jalan serta merta berayun riang. Ia pun melahap biskuit selanjutnya dengan menjilat krim coklat membeku didalamnya. Athena senang memakan biskuit kesukaannya dengan berbagai cara.

"Kenapa aku cuma dapat lima kak?!"

"Kakak cuma punya sepuluh. Kan sudah kakak bagi rata. Sekarang punya kakak sudah habis."

"Bohong! Pasti kakak tadi makan lebih banyak!"

"Ya ampun Natasha kau ini kenapa sih? Masih untung kakak bagi tadi! Sudah, kakak mau pulang!"

Athena melirik pasangan kakak-beradik yang sedang bertengkar kala itu. Setelah sang kakak pergi, anak yang lebih kecil dari umur si adik tiba-tiba menghampirinya.

"Kak, aku boleh minta permennya?"

"Aku cuma punya lima. Kalau kau minta, nanti jatahku berkurang. Maaf ya."

Anak kecil itu merengut dan pergi berlalu. Athena mengangkat sebelah alisnya dan menghampiri si adik yang terlihat lebih muda dibandingkannya.

"Halo dik, siapa namamu?"

"Natasha, kak. Kakak siapa? Kata kakakku aku tak boleh sembarangan berbicara dengan orang asing"

"Hahaha, aku Athena. Kau mau menemaniku ke kolam ikan disana? Aku mau memberi ikannya makanan!"

"Hmm ayo. Aku mau lihat."

Athena dan Natasha pergi menghampiri kolam ikan di tengah taman. Athena mulai mengeluarkan plastik biskuit dari saku baju terusannya yang hanya tersisa tiga buah.

"Satu buah biskuit untuk para ikan-ikan." Athena melemparnya dan segera saja biskuit itu dilahap ramai-ramai oleh ikan-ikan yang ada disana.

"Kakak memberinya dengan biskuit itu? Biskuit kakak tinggal dua sekarang."

Athena tak menghiraukan perkataannya, dan ia segera memanggil anak kecil yang sempat menghampiri Natasha. Si anak kecil datang bersama kucing peliharannya. Athena membelah biskuit coklatnya menjadi dua dan memberikan satu potong untuk si kucing dan satu potong untuk si anak. Anak kecil itu tersenyum riang dan segera berlari ke kejauhan.

Athena membalikkan badannya kepada Natasha dan mengeluarkan satu buah biskuit terakhir untuknya.

"Ini, satu buah biskuit terakhir untukmu, yang masih utuh."

"Kenapa kakak berikan biskuit ini padaku? Punya kakak sudah habis sekarang."

"Bukan itu Natasha. Tapi kau lebih beruntung dari yang lain. Di saat ikan-ikan itu harus berebut satu buah biskuit, dan anak kecil tadi hanya mendapat satu potong saja, kau mendapat seutuhnya. Apa kau belum merasa cukup?"

Natasha kecil pelan-pelan melipat bibirnya ke dalam dan memandang permen coklat dalam genggamannya yang hampir-hampir meleleh.

"Aku pulang dulu ya Natasha. Jangan lupa hampiri kakakmu yang baik itu di rumah. Besok kita berbagi lagi."

Athena tersenyum manis dan beranjak pergi sambil memutar-mutar plastik biskuit yang sudah lagi tak berisi.

Sunday, August 18, 2013

Sepi Hingga Diam

Jemari kecil yang urung mengetikkan kata.
Kata hambar tanpa nada pun irama.
Jiwa yang bingung memasukkan nyawa ke dalam hampa.
Hatinya mondar-mandir meneriakkan gurat penuh tanya.

Pukul 3 pagi.
diantara puisi yang menguapkan makna,
lampu ruang yang menenggelamkan nyala,
serta getaran rindu yang kian pincang,
sekali lagi, sebuah hati memilih diam.

Saturday, August 17, 2013

Dirgahayu 68th RI

Hari ini adalah HUT RI yang ke 68, tapi kok perayaannya gak meriah? Paling gak, gak semeriah dulu. Kenapa?

Sebagai anak yang selalu memeriahkan hari 17an (di zamannya), gue merasa makin ke sini ritual lomba-lombaan tersebut makin menghilang, khususnya di RT dan RW gue.

Dulu, beberapa hari sebelum hari H bendera sudah banyak di pasang dimana-mana. Setiap pulang sekolah waktu SD, gue selalu senyam-senyum lihat bendera yang berkibar di setiap rumah warga. Terlebih ada bendera yang dijahit nyokap gue yang di pasang di sepanjang RT. Walaupun warna-warni gak merah putih, tapi tetep seneng, iyalah buatan nyokap!

Pas udah hari 17an, biasanya di RT ada acara lomba. Mulainya dari jam 10 dan biasanya sampai siang. Persiapannya dilakuin sama ibu-ibu dari jauh-jauh hari. Mereka beli hadiah, siapin lombanya apa aja, makanan-minuman. Bapak-bapak siapin sound system. Anak-anak tinggal berpartisipasi. Yang masih gue inget sampai sekarang adalah lomba paling fenomenal se-RT, itu lomba buldozer. Jadi buldozer itu dibuat dari kardus, kita masuk didalamnya terus muterin buldozer kardus itu sampe ngelilingin RT kita. Ini buldozer battle, jadi ada 2 tim, dan yang bikin seru adalah pesertanya yang para ABG dan remaja. Jadi yang bocah-bocah cuma pada liatin sambil ngiri gitu. Dua tim ini berjuang mati-matian, udah sampe jatuh-bangun, ketawa-ketiwi, yang depan belakang megangin kardus bagian atas dan yang tengah bagian gangguin lawan. Sampai di garis finish buldozer kardusnya udah sebagian robek-robek; dan masih juga dimainin anak-anak kecil.

Dulu itu juga masa kejayaan gue bersama kawan-kawan se-gank, sampai SMP. Karena kita yang paling eksis dan paling solid, kita selalu diutus jadi dancer perwakilan RT, iyak walaupun tingkatan teratasnya cuma sampai RW -_- tapi jangan salah, RT 5 (RT gue) itu termasuk RT yang diwaspadai sama RT-RT yang lain, karena selalu kompak, dan selalu jadi juara. Waktu gue dan kawan-kawan tari tarian tradisional "Sajojo", kita juara 2, dan rasanya lebih bangga daripada waktu kita tari tarian modern yang isi lagunya remix dari barat dan juara 1. Biasanya acara lomba nari ini diadain malam minggu di taman RT 9. Dan acara ini juga selalu jadi ajang..... cuci mata. Terakhir perform waktu SMP kelas 2 itu cuman di RT dan gue gak mau lagi karena merasa udah tua dan udah gak pantes diliat. Tapi seribu sayang yang hobi nari di RT cuma gank gue itu, dan kita gak punya penerus lagi.

Kalau dipikir-pikir semangat nasionalis dimiliki setiap anak loh. Dulu gue selalu semangat tiap ada 17an. Pernah suatu hari gue pengen banget ikutan karnaval sepeda hias, tapi gak dibolehin karena nanti sepedanya jadi jelek bekas lem-leman. Gue nangis dan bilang "kenapa sih cuma mau bela negara aja gak boleh?! Cuma mau ikutan gitu aja gak boleh?!," I'm pretty sure I don't really understand with what I talked about, especially this >> kenapa sih cuma mau bela negara aja gak boleh?! Dan akhirnya gue dibolehin ikutan karnaval :D

Sekarang gue lagi posting blog dalam keadaan RT gue yang bersih gak ada perayaan apapun. Sedih sih. Masa iya cuma karena gank gue + anak-anak cowok yang lain udah pada dewasa sekarang kebiasaannya jadi berhenti? Rasanya anak-anak kecil di RT juga masih ada kok. Ini kan tradisi, kenapa menghilang?

Tapi diantara semua itu, apalah artinya gembar-gembor kangen upacara 17an tapi kalau di setiap ikut upacara selalu ngeluh kepanasan dan kecapean padahal paling lama cuma 3 jam. Apalah artinya teriak-teriak cinta Indonesia tapi Pancasila aja masih gak hafal. Apalah artinya ngucapin "Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia!" tapi bilangnya pakai bahasa Inggris :-p

Semoga jiwa nasionalis dan patriotis tidak benar-benar pudar di hati para calon pembetul dan penerus bangsa. Tidak cuma meneruskan, tapi harus ada yang dibetulkan terutama dari mental-mentalnya. Semoga mental benih-benih bangsa ini selalu tumbuh bersih, tidak tumbuh sebagai mental yang bobrok sebobrok pihak-pihak yang seharusnya amanah tapi justru malah mengecewakan.

Semoga Indonesia tidak bertahan sebagai negara berkembang. Semoga Indonesia semakin dewasa, mampu memilah apa dan siapa yang harus dilawan juga apa dan siapa yang harus diajak berkawan.

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA YANG KE 68!


Saturday, July 20, 2013

Aku Pernah Jatuh Cinta pada Lelaki yang ...

.... sering menertawakan dan mengejek kawannya dari sebuah ujung balkon lantai 2 sekolah. Pernah menjejalkan kawat giginya didekatku dan meninggalkan rasa benci yang lambat laun terulum menjadi cinta. Suatu kali Ia pernah mengirimkan pesan, "aku suka sama ka... kausmu" ke ponselku, padahal aku saat itu tidak datang ke sekolah. Setelah aku bertanya maksudnya, setelah itu pula kami tak pernah dipertemukan kembali.

--------------------------------------------------------

.... menjadi raja tunggal nan rupawan digilai banyak wanita, termasuk aku. Pacarnya saat itu cantik, baik, dan aku tak pernah kenal dengannya. Terlebih aku pernah mengejeknya dan menyisakan permusuhan beberapa minggu diantara kami. Mungkin itu sebabnya Ia tak pernah mencintaiku balik.

-------------------------------------------------------


.... selalu menghampiriku di chat Facebook dengan segala permainan sulapnya. Aku tahu Ia ahli matematika dan senang mengajakku bermain hitung-hitungan. Suatu kali Ia menyatakan perasaannya padaku, setelah kami sering kali berbalas pesan di ponsel tanpa ada hubungan lebih lanjut. Aku tertancap penyesalan tak terperi hingga lulus SMA karena tak pernah mengutarakannya. Aku pernah berjanji pada Tuhan ingin mengejarnya hingga ke perguruan tinggi. Siang itu, ada adu senyum tanda rivalitas di tengah lapangan, yang ternyata menjadi sapaan terakhirku sebelum semua rasaku menguap.

-------------------------------------------------------

.... namanya tidak berbeda jauh dengan namaku. Menyebabkan absen kami berdekatan. Ia tak pernah menghubungiku lewat pesan apapun, tapi Ia selalu mendekatiku di sekolah. Aku menyadari perasaanku tapi aku tak menyadari perasaannya. Ketika ada jadwal piket sepulang sekolah, giliranku menghapus papan tulis, dan belakangan aku baru tahu Ia tak kunjung pulang karena ingin membantuku membersihkan kelas dan menemaniku pulang hingga ke ujung jalan.

-------------------------------------------------------

.... disebut 'anak mami' di kelas. Diantar-jemput oleh ibunya dengan motor skuter. Aku menyukainya setelah menyadari Ia telah menyukaiku. Matanya selalu menghilang ketika tawa mengembang di wajahnya, dan Ia selalu menengok kesana kemari mencariku ketika sehabis tertawa. Pada saat olahraga di lapangan itulah favoritku, karena saat itu selalu matanya dan mataku dipertemukan angin sore.

-------------------------------------------------------

.... akhirnya aku benci. Aku ingat saat itu Ia memasukkan hiasan berbentuk hati dan diselipkan di tas ku pada saat jam olahraga. Surat minta maaf dan "Selamat Hari Valentine" tak lupa Ia masukkan didalamnya. Pada saat itu juga rasanya hendak ku buang. Ia membalaskan cintanya dengan cara berpacaran dengan sahabatku.

-------------------------------------------------------

.... menurut setelah aku menegurnya untuk tidak bersms-an pada saat berkendara, padahal aku belum jadi pacarnya. Dia pernah memberiku bunga pada saat Hari Kartini dan saat itu juga mengaku tidak mampu membeli lebih banyak lagi karena uangnya tidak cukup. Dia pernah memeluk pinggangku didepan ibuku dan mengakibatkan aku malu setengah mati. Kami pernah berencana untuk bersama-sama membeli baju tim bola favoritnya yang berwarna pink-hitam. Terakhir, aku menitipkan setrika yang masih baru di kamarnya dan tak pernah lagi kembali.

-------------------------------------------------------

.... pernah bercanda mengajakku untuk ditraktir ulangtahun olehnya, padahal saat itu aku tidak terlalu mengenalnya. Dia adalah tempatku untuk bertukar lagu-lagu bagus dan kawanku dalam berimajinasi. Aku pernah kesulitan dalam belajar suatu mata kuliah, lalu aku bertanya padanya, dan Ia menjelaskan melalui pesan suara yang mengakibatkan teman-teman terdekatku menggodaku dengannya. Dia pernah tidak mengaku saat ku tebak mengenai perasaannya padaku, namun pada beberapa saat itu pula Ia membelikanku sate kambing ketika aku sakit. Dia pernah mengorbankan uangnya lebih dari Rp 50.000 untuk tidak jadi pulang ke rumah hanya karena ingin menemaniku agar tidak kesepian. Dia mencintai dunia politik, untung dia tidak mencintai poligami, dan beruntung aku masih mencintainya.





*Inspired by: hurufkecil

Tuesday, July 09, 2013

Setengah Apel Di Teras Rumah

Pukul 16.05 WIB

Aku terbangun dari tidur panjang, dengan mimpi indah dalam perjalanan, dan hal-hal yang masih lekat dalam ingatan sebagai buah tangan. Tunggu, seseorang berkata bahwa ini mimpi paling nyata. Jadi, ini mimpi atau bukan?

Berratus juta jengkal yang membuat tunduk batin dan mengakui, bahwa aku resmi dinyatakan lumpuh. Lumpuh oleh jarak. Malu. Dan melalui puisi suka-suka tak tahu aturan (lagipula siapa yang butuh aturan?), aku membuang semua peluh suka, cinta dan duka dalam kata. 

Kalau aku katakan, aku rindu, kamu mau apa?

Aku sakit jiwa. Kamu sadar? Tapi kamu patut berlega hati, setidaknya aku menyadari. 

Ada suasana baru di luar sana, diantara riuh kendaraan dan asap yang mungkin mampu mengalihkan sejenak otakku yang telah memar, walaupun jadi makin lebam. Yah, setidaknya aku bisa bersyukur, bahwa otakku sebelumnya tidak terlalu parah. Apa yang ku dapat? Ah sudah, kamu tak perlu tahu.

Tanpa pesan -- kamu menjadikanku satu. Satu-sendiri. Berpikir dan menanti. Dini hari lalu, ku tinggalkan surat, yang ku tahu belum berbalas. Jadi, ku biarkan pena ada padamu. Aku menunggu surat cinta ke-sekianribu kalinya darimu. Lalu, diantara rentang jarum hitam yang berputar, keliaran pikiranku menjelajah hingga aku hampir limbung dan hilang keseimbangan. Jika semua itu salah, maafkan tingkah pikiranku yang jahat pada harimu. Jika memang itu benar, maafkan tingkah hatiku yang berani cemburu pada dirinya.

Ketidak-beranian ku menghadap kedua telapak tangan, karena banyak sekali yang bisa ku telusuri. Salah satunya bening kaca yang memberikan genangan diri yang lain. Egois. Tahukah kamu, atas kebersamaan ini, melahirkan rasa ego yang begitu dalam terpatri dan siap-siap memakanku kapan saja aku lengah. Ia bagai penyakit mematikan yang rasanya dalam hitungan waktu akan berubah menjadi virus tingkat tinggi. Hatimu milikku. Dan...

Surat kaleng -- banyak gelembung-gelembung kata yang ditiupkan oleh seorang perempuan ke udara. Di sela-sela waktu ketika Ia mampu menghadap langit. Satu penerima, dan hanya satu. Katanya, kamu. Ia memelukmu melalui hawa hangat diantara dingin yang kini menduduki bumi. Jauh jemarinya tak kuasa menyentuhmu, tapi cintanya yang melekat hingga menyatu pada sel-sel darahmu. "Hai gula, bahkan ketika kau merajukpun, aku masih mencintaimu," kata salah satu baris suratnya. Sudah ku silangkan kedua jari, ku katakan padanya aku takkan memberitahu siapa-siapa tentang surat-tanpa-pengirim yang tertuju padamu. Setelah itu, Ia tersenyum dan berlalu.

Aku masih merangkai gambar-gambar membingungkan dan akan selalu membingungkan di dalam pikiranku. Tentang hitam yang menjadi putih, dan putih yang menjadi abu-abu. Nantinya semua kembali menjadi tanya. Kapan aku berhenti bertanya? 


Kepada pembaca (jika ada yang membaca), jangan berlama-lama membaca tulisan ini. Akan selalu ada ketidak-mengertian kecuali yang mengalami. Karena aku tak menyediakan ruang bagi mereka yang memang tidak mengerti untuk menjadi mengerti. Mengapa? Aku pun terkadang tak mengerti. Banyak bagian-bagian yang ku tolak untuk ceritakan. Akhirnya, batu-bata yang bolong itu memberikan bangunan kopong yang tak punya rangka dan jika hancur nanti lagi-lagi meninggalkan....tanya.

Ketika fajar terlelap senja ini, disitulah terbit suara jiwa yang melantangkan cerita-cerita manis pahit yang tak mampu ku pungkiri keindahannya.
Senyum yang lahir di hati pada sore yang teduh ini menjadi payung untuk kisah-kisah selanjutnya, terlebih untuk memayungi jiwamu.



Sudah ya. Selamat sore, sayang :)