"KAPAL KERTAS
Masih terngiang jelas rekaman kemarin sore.
Buliran air langit tak jadi turun.
Hausnya batin dan pergerakan roda,
membawa dua hati kembali ke rumah.
Aku dan kamu,
membeku ditelan suasana.
Sapaan alam yang ramah,
menghangatkan jiwa yang hampir koma.
Jendela indah panorama,
memperbaiki hati yang setengah porak poranda.
Dua pasang kertas sengaja ku bawa.
Aku bermaksud merangkai kapal,
untukmu, untukku.
Bersamaan dengan kapal yang dijalankan,
ada cinta dan cita yang ku alirkan.
Pasti kamu tak tahu.
Sampai pada senja yang mencolek pundakku,
tahu tidak,
kakiku terbenam di tanah sana;
mataku terpaku pada angkasa;
hatiku disandera ketenangannya.
Aku tak mau pulang.
Dan aku berjanji,
dengan riang hati akan berkunjung.
Dan satu asa,
semoga lagi bersamamu."
“Writing, then, was a substitute for myself: if you don't love me, love my writing & love me for my writing." ― Sylvia Plath, The Unabridged Journals of Sylvia Plath
Tuesday, April 01, 2014
Wednesday, March 26, 2014
Perayaan
Mungkin seperti sekarang ini dan berhari-hari sebelumnya yang sudah dilewati, berdiam di sebuah kotak berlapis bata menjadi sebuah pilihan diantara banyak pilihan, yang selalu saya pilih.
Merindu alih-alih menenangkan diri.
Menyendiri, kian lama seperti sebuah perayaan. Saya merayakan rindu tak bertepi, ketika alam tak menghadirkannya di sisi. Lantunan ayat suci, serta ayat cinta dari pengeras suara. Berharap semua bermuara menjadi doa dan terjabah. Atau berharap tertidur lelap, dan terbangun dengan lupa yang tumpah ruah.
Menyendiri, kian lama seperti sebuah perayaan. Saya lebih dekat dengan Tuhan dan ia secara bersamaan. Ketika menggapai ketiadaannya lebih sulit dari menggapai Tuhan.
Merindunya, merindumu, akan selalu berakhir pada sebuah perayaan.
Perayaan dengan lilin yang kekal.
Merayakan rindu yang tak kunjung padam.
Saya dan ketiadaannya.
Saya dan ketiadaanmu.
Tuesday, March 11, 2014
Tyson dan Bulan Maret
Siapa yang tak sedih ditinggalkan yang tersayang pergi ke haribaan Sang Pencipta?
Gue berkali-kali bangun saat tidur semalam dan setiap tidur lagi gue selalu mimpi buruk. Sampai pagi hari pun gue gak berminat kuliah. Dan gue gak sangka kalau 11 Maret 2014 ini, kucing kesayangan yang udah gue anggap seperti adik kecil gue sendiri telah pergi untuk yang selama-lamanya.
Memasukki 40 hari sebelum kepergian Tyson, dia udah gak mau makan. Muntah-muntah terus dan tingkahnya selalu aneh. Tyson udah gak bisa manjat pagar rumah untuk pipis diluar, akhirnya gak jarang dia pipis di dalam rumah. Yang gue sedihin, sering gue dengar Tyson dimarahi mamah atau papah karena pipis sembarangan. Biasanya gue yang berada di garda depan kalau-kalau Tyson dimarahi berlebihan.
Tyson adalah kucing yang gue rawat sejak dia baru lahir. Tyson itu anak ke 3 dari 3 bersaudara. Kakak-kakaknya gak ada yang bertahan pas kecil, cuma Tyson yang kuat. Tyson dan kakak-kakaknya sempat mengalami masa suram. Mereka dibuang di pasar karena mamah sempat gak membolehkan pelihara kucing lagi. Sebelumnya Meng-Meng, ibunya Tyson, gue rawat. Setelah Tyson besar, Meng-Meng pergi.
Karena gue sempet sakit soal Tyson dan saudaranya yang dibuang, akhirnya dipungut lagi. Tyson bertahan sampai besar. Dari sejak gue SMA kelas 1, sampai semalam sebelum dia meninggal.
Yang paling gue ingat dari Tyson jaman dulu adalah, Tyson selalu gangguin gue kalau lagi belajar. Dulu waktu SMA, kalau gue beresin buku pelajaran buat besok, Tyson selalu ikutan duduk diatas buku-buku yang bertebaran. Selain buku, Tyson itu senang sama plastik (re: kantung kresek); jadi kalau ada kantong kresek bunyi-bunyi, dia pasti langsung dateng; kalau plastiknya terbuka, dia suka main masuk aja terus duduk diam disana. Lainnya, Tyson itu suka nimbrung sama orang yang lagi ngobrol seru. Pokoknya kalau ada orang ngobrol, Tyson selalu main dateng dan duduk dengerin, walaupun yang lagi ngobrol itu ada di kamar atau di ruang tv. Lainnya lagi, Tyson itu senang nyeruduk kepala gue kalau gue lagi iseng nunduk sujud. Terus, kalau mamah habis pulang dari pasar, Tyson suka nyambut mamah di pintu, nungguin oleh-oleh organ dalam ikan yang mamah dapat dari pasar. Dan masih banyak lagi tingkahnya yang selalu bikin damai hati.
Tyson juga kucing yang mungkin mirip manusia banget. Dia itu senang makan roti, makan telur, makan kue, makan martabak keju. Yang paling aneh, dia pernah jilat ampas dari kopi bekas mamah minum, dan pernah minum minyak. Tyson juga suka ayam. Beda sama Meng-Meng yang makannya makanan kucing modern dari Swalayan, Tyson lebih mau makan kalau menunya nasi hangat + ikan cue yang dicampur. Dia emang kucing tradisional, sukanya ikan murni yang masih segar.
Tyson juga kucing paling terkenal di kalangan angkatan gue pas SMA. Sampai-sampai kalau lagi disapa teman dipanggilnya bukan Risty tapi, "hai Tyson!". Teman-teman waktu SMA sering banget main ke rumah cuma mau main sama Tyson.
Hal yang paling mengharukan dan akan selalu gue inget sampai kapanpun adalah, ketika gue beranjak kuliah di Semarang dan kakak gue di Bandung, lalu mamah harus ikut papah yang kerja di Jawa Timur, yang akhirnya mengharuskan rumah ditinggal kosong dan Tyson ditinggal sendirian. Gue dan keluarga udah pesimis dan ikhlas kalau-kalau Tyson mati atau pergi dari rumah karena udah gak ada yang urus. Pernah suatu kali ditinggal sampai 2 bulan lamanya, dan pas saat mamah pulang ke rumah, ternyata Tyson masih ada disana. Tyson gak pergi kemanapun dan masih setia nunggu rumah. Gue terharu banget karena punya peliharaan yang setia kaya gitu.
6 tahun Tyson hidup di bumi, 6 tahun pula Tyson masuk ke bagian keluarga gue. Dia jadi penghibur kalau suasana di rumah lagi gak menyenangkan. Dia yang selalu jadi penghibur kalau ada salah satu anggota keluarga yang lagi galau. Tyson pencair suasana. Keberadaannya diperhitungkan di rumah. Tyson juga motivasi terbesar gue kenapa selalu rindu rumah dan kenapa selalu gak sabar pulang ke rumah. Rasanya kaya punya adik kecil beneran.
Masih gak sangka, Tyson pergi saat gue jauh. Mungkin maksudnya biar gue gak sedih karena lihat jenazahnya secara langsung.
Terima kasih adik kecilku, udah setia sampai hari ini. Aku ikhlas Tyson pergi. Mungkin disana lebih banyak ikan dan ayam dan kue-kue enak yang bisa Tyson makan. Mungkin Tyson udah gak cocok sama makanan di bumi makanya Tyson udah gak suka makan belakangan ini. Kalau nanti aku sedih kesepian di rumah, semoga Tyson samperin aku di mimpi :'(
Tenang aja, Tyson sekarang aman. Ada Allah yang jagain Tyson. Allah aja bisa jagain aku dan bumi ini, Tyson pasti dijagain juga :)
Selamat jalan.
Aku sayang Tyson..
Sunday, March 09, 2014
Perempuan Tak Berwajah
Pada suatu hari. Bukan di hari Minggu.
Terkenang hidup seseorang. Jiwa yang sedang dalam perjalanan.
Kau hancurkan tembok bata yang ku bangun dengan penuh cinta kasih.
Meriam dan peluru-peluru besimu, menyisakan asap. Asap kebencian.
Aku tak percaya.
Kau membunuhku.
Aku tak percaya..
Setiap orang dapat berubah. "Ternyata, kau juga", kata kaca.
Ku pikir aku seperti rumput ilalang. Tak berguna dan terabaikan.
Namun, aku senantiasa berdiri pada akar bahkan ketika hujan badai.
Tapi kini, kau cabut paksa aku.
Aku bertanya, mengapa?
Mengapa kau cabut aku lebih awal?
Kau memang seperti pemburu liar di hutan.
Menginjak, memangkas, mencabut, membakar.
Kau lupa satu hal.
Kau lupa, ilalang ini, juga makhluk hidup.
Di ujung jalan,
perempuan tak berwajah menyelami kekalnya doa.
Ia yang diasingkan siang, diceraikan malam.
Berpuisi dan merajut cinta dengan bumi dan rahasia.
Hingga kata dan sabda telah diucapkan.
Hingga kesedihan berlaku seperti musim.
Selalu berakhir.
Dan terangkatlah ia ke pangkuan ibu bumi.
Perempuan tak berwajah, melangkah dalam damai.
Wednesday, February 26, 2014
Hujan Hari Rabu Di Depan Kolam Ikan
Rasanya aneh.
Seperti ada sesuatu yang berhamburan, berhambaran.
Hambur dan hambar.
Rindu yang terbayar dan menghilang.
Tunggu, terbayar dan menghilang adalah dua hal yang berbeda.
Melihatnya tertawa mampu membuat rindu ini terbayar.
Namun ada yang lain disana,
dan seketika rindu itu hilang.
Rasanya aneh.
Bertemu denganmu seperti mencampurkan kecap dan sambal bersama.
Atau memegang bunga mawar? Ah entah apa analoginya.
Seperti senang dan sedih yang berlomba duduk di relung.
Bingung.
Pagi tadi, ku kemas segala pernik kalimat cerita.
Supaya ada yang bisa kita celotehkan bersama.
Tapi lidah ini pahit, kelu. Lalu aku cuma diam.
Kau juga diam.
Jadi tadi itu apa?
Kecewa yang ku bungkus dan ku bawa pulang ini,
mungkin hasil dari harapan yang ku bentuk dari semalam.
Aku tahu kau sedih. Kau tahu aku juga?
Jadi mungkin benar, dari sejak awal kau kurung dirimu.
Tadi, ku lihat tiang-tiang besi terpancang di sekitaranmu.
Kau kaku dan sulit bergerak.
Untuk apa? Supaya kita berjarak ya?
Jika memang harus seperti itu,
ku amini semua langkahmu.
Akan ku bawa novel tragedi ini,
supaya kau tak perih lagi. Kau tak perlu takut dan tak perlu mengurung diri.
Biar aku yang baca, biar aku yang bawa.
Biar aku yang selesaikan.
Seperti ada sesuatu yang berhamburan, berhambaran.
Hambur dan hambar.
Rindu yang terbayar dan menghilang.
Tunggu, terbayar dan menghilang adalah dua hal yang berbeda.
Melihatnya tertawa mampu membuat rindu ini terbayar.
Namun ada yang lain disana,
dan seketika rindu itu hilang.
Rasanya aneh.
Bertemu denganmu seperti mencampurkan kecap dan sambal bersama.
Atau memegang bunga mawar? Ah entah apa analoginya.
Seperti senang dan sedih yang berlomba duduk di relung.
Bingung.
Pagi tadi, ku kemas segala pernik kalimat cerita.
Supaya ada yang bisa kita celotehkan bersama.
Tapi lidah ini pahit, kelu. Lalu aku cuma diam.
Kau juga diam.
Jadi tadi itu apa?
Kecewa yang ku bungkus dan ku bawa pulang ini,
mungkin hasil dari harapan yang ku bentuk dari semalam.
Aku tahu kau sedih. Kau tahu aku juga?
Jadi mungkin benar, dari sejak awal kau kurung dirimu.
Tadi, ku lihat tiang-tiang besi terpancang di sekitaranmu.
Kau kaku dan sulit bergerak.
Untuk apa? Supaya kita berjarak ya?
Jika memang harus seperti itu,
ku amini semua langkahmu.
Akan ku bawa novel tragedi ini,
supaya kau tak perih lagi. Kau tak perlu takut dan tak perlu mengurung diri.
Biar aku yang baca, biar aku yang bawa.
Biar aku yang selesaikan.
Friday, January 17, 2014
The Inspiring People
Dalam hidup ini pasti ada orang-orang yang berpengaruh dalam hidup kita. Dan gue habis merekap beberapa orang yang gue petik kebaikannya dan sangat berpengaruh dalam hidup gue sampai saat ini.
1. Mamah
Ini sudah pasti. Banyak banget yang diajarkan sampai gue nggak tau mau ngomong apa. Beliau yang mengajari tentang ilmu ikhlas, bukan ustad atau ustadzah atau siapapun. Beliau yang mengajari tentang ramah dengan siapa aja. Beliau yang mengajari tentang kreativitas bahkan ketika gue sendirian sekalipun. Beliau yang mengajari kalau jadi perempuan harus berani dan independen, biar mandiri dan para pria nggak suka sama perempuan manja. Beliau yang dulu suka nyuruh gue ngerjain pekerjaan rumah macem nyapu, nyuci piring, dan segala macemnya yang gue kira itu cuma kerjaan pembantu rumah tangga tapi ternyata bener-bener terpakai di masa depan. Beliau sumber inspirasi semua keceriaan gue hingga hari ini. Beliau adalah orang yang mau belajar bahkan sampai detail-detail perbengkelan sekalipun. Katanya, "belajar itu bisa darimana aja. Jangan tutup mata. Apa yang bisa kita pelajari maka pelajarilah. Nggak ada pelajaran yang sia-sia,"
2. Kakak
Hal yang paling gue inget dari kakak gue jaman dulu adalah dimana dia marah-marahin gue karena gue nanya mulu tentang arti bahasa inggris pas main playstation. Dia sampai cariin kamus dan ngasihin kamusnya ke gue sambil bilang, "tuh cari sendiri!". Belum selesai disitu, gue males pakai kamus, akhirnya gue pakai alfalink. Terus dia bertindak lagi, "kakak kasih tahu ya, pakai alfalink itu cuma bikin males, nggak ada usahanya, cepet lupa. Kalau kamus itu kan kamu nyari-nyari, sekalian nemuin vocab lain juga. Lebih inget kata-katanya sampai lama,". Terus gue nangis, kenapa kakak gue suka sok bener -_- Kakak gue juga termasuk yang berjasa dalam pelajaran bahasa inggris gue. Satu lagi, beliau yang dulu paling serius sama penanganan pembentukan badan gue. Dulu badan gue bungkuk dan bentuk kaki gue menyerupai "X", dan beliau yang mati-matian sambil marahin taruh beberapa buku diatas kepala biar duduk dan jalan gue tegap. Kalau dibonceng naik motor pun dia suka nengok-nengok ke belakang mau liat apa gue bungkuk atau nggak. Dan dulu gue pernah berantem di jalan karena diancem bakal diturunin kalau duduknya nggak mau tegap. Emang agak mengerikan, tapi tujuannya baik.
3. Adinda Kartika Putri
Dinda adalah sahabat gue sejak masuk XI IPS. Anaknya asik, bisa diajak curhat tentang apapun (note it, apapun), pendengar dan pemberi saran yang baik, punya selera humor yang baik yang setara sama gue, pintar, rajin, dan masih banyak lagi. Dinda jadi siswa berprestasi pas kelulusan dari jurusan IPS. Dinda adalah kawan yang sangat amat baik sepanjang gue punya kawan. Dia sangat peduli. Hal yang membekas di ingatan gue adalah saat dia udah lolos SNMPTN Undangan jurusan Manajemen di Universitas Indonesia, tapi dia masih mau bimbel bareng gue dan teman-teman yang lain cuma karena pengen bantuin ajarin kita. Gue dan yang lain saat itu kondisinya belum dapet tempat kuliah. Kalau gue jadi dia jelas banget gue udah males juga dateng ke bimbel apalagi tempatnya jauh. Dari Dinda gue juga belajar tentang pengertian sama teman dan mengerti keadaan orang tua. Dinda yang ngajarin gue buat nggak suka boros dan nggak suka nuntut ini-itu sama orang tua. Dinda itu patuh sama orang tuanya, makanya jalannya selalu lurus. Gue termasuk salah seorang yang beruntung bisa bersahabat sama Dinda.
4. Missfala Rahmatina
Missfala adalah kawan bro gue banget dari sejak smester 1 di masa kuliah. Dia kawan yang berbeda menurut gue. Pandangannya terhadap sesuatu selalu bikin gue kagum. Missfala yang bikin gue perhatiin "kemasan" pada saat mau ketemu Allah, mau sholat. Waktu itu gue pernah pakai mukena yang atas bawahnya berbeda, karena memang pada saat itu mukena yang lain habis. Terus dia bilang, "nggak tunggu mukena yang lain aja Ty?" gue jawab, "ah sama aja kan yang penting niatnya.", lalu dia jawab dengan nada yang tajem, "giliran ketemu manusia aja di matching-matchingin sampai rapih banget, kok ketemu Allah malah ngasal?" dan gue diem sampai sholat dan selesai sholat pun nggak konsen. Rasanya malu sendiri. Sampai sekarang gue selalu berusaha tampil yang baik ketika mau sholat. Missfala juga yang meginspirasi kalau jadi perempuan jangan cengeng. Missfala selalu ceria apapun keadaannya bahkan ketika galau sekalipun.
5. Ibu Sri Suryoko
Bu Sur adalah dosen gue. Beliau termasuk dosen favorit yang (kalau di kelas) sangat baik. Cara mengajarnya enak dan kalau ujian nggak macem-macem. Mungkin banyak temen gue yang justru meremehkan kebaikan dia, kayak ngobrol pas di kelas atau mungkin tidur atau bahkan titip absen. Tapi kalau di kelas, beliau itu tetep ceria, tetep ngasih yang terbaik yang beliau bisa kasih, mau gimanapun mahasiswanya. Tetep ngajar dengan baik dan total walau dalam keadaan sakit sekalipun. Pernah suatu waktu beliau susah payah berbicara di depan padahal saat itu dia sedang sakit. Beliau susah payah mengajar dan masih saja tetap ceria. Gue duduk paling depan dan tetap memperhatikan. Lalu sejenak gue lihat ke baris belakang, banyak yang absen dan beberapa yang hadir pada ngobrol. Nggak tahu sih pikiran mahasiswa yang lain gimana, tapi gue sedih aja. Dari beliau gue belajar untuk tetap ceria dan berikan yang terbaik ke orang lain bagaimanapun keadaan kita, bagaimanapun orang lain itu bersikap terhadap kita; intinya kita harus tetap baik. Dan tulus. Bu Sur itu contoh orang yang tulus. Bu Sur selalu mengingatkan gue sama mamah. Semoga beliau selalu diberi kesehatan.
6. Abi Rafdi Fadhilah
Abi adalah kakak kelas gue waktu SMA, waktu gue kelas X dia kelas XII. Orangnya asik, nggak jaim sama sekali, pendengar-pemberi saran-penyemangat yang total, dan masih banyak lagi. Pelajaran yang gue ambil sepanjang gue kenal dia dan sangat berpengaruh di hidup gue sampai sekarang adalah "membeli mimpi". Dari dia gue belajar yang namanya kalau mau sesuatu ya kita harus berusaha. Kak Abi itu kolektor sepatu, dan suka beli gadget. Dia bakal nabung dan jual barang yang emang mending dijual buat barang yang dia impiin. Dia nggak pernah beli handphone dan sepatu pakai uang orang tuanya. Dari dia gue belajar buat beli barang yang gue pengenin pakai uang sendiri. Kayak i-pod dan Blackberry Torch, itu semua adalah hasil dari gue nabung sendiri. Terbukti, rasanya lebih puas dan nagih banget buat nantang diri sendiri beli yang lain lagi. Kak Abi pernah bilang, "kalau emang pengen barang A, ya kejar. Kalau emang mesti jual salah satu barang kita ya nggak apa-apa, tapi yang kira-kira emang udah nggak butuh banget. Kan akan selalu ada yang datang, tapi juga selalu ada yang pergi"
7. Fallen Oktafian
Fallen adalah kawan sejurusan gue di masa kuliah. Gue baru kenal banget sama dia sekitar smester 3. Kawan diskusi yang baik, pendengar dan pemberi saran yang objektif, pengetahuannya luas, selalu bijak dalam menanggapi sesuatu dan seseorang. Objektivitas dan kebijakannya itulah yang berpengaruh dalam hidup gue menyoal cara pandang terhadap sesuatu dan seseorang. Dalam memandang suatu hal, terkadang gue pakai 2 sudut pandang yang berbeda, dan seperti dapet materi tambahan, cara Fallen menanggapi sesuatu itu bisa gue pakai sebagai "bantuan". Pemikirannya berbeda, yang jujur terkadang gue nggak bisa mengerti sekaligus gue kagumi. Fallen juga yang ngebuat gue jadi suka nonton berita. Kayanya dia selalu haus dengan berita masa kini. Maka gue juga nggak mau ketinggalan. Motivasinya sih sederhana, biar nyambung kalo diajak ngomong. Motivasi lainnya, biar gantian bisa kasih "pengetahuan" lain yang dia nggak tahu, kan bosen kalo gue mulu yang nggak tahu (walaupun sampe sekarang gue mulu yang nggak tahu apa-apa).
Kepada Tuhan dan waktu, gue berterima kasih karena telah dipertemukan dengan orang-orang tersebut. Semoga mereka-mereka ini selalu dalam perlindungan Tuhan.
Friday, January 03, 2014
Sebuah Catatan
Menyenangkan berada di dekatmu, karena kamu memang menyenangkan.
Kamu mungkin sebilah bambu kaku, bagi para awam. Tapi ada bayang kertas mengkilap yang membentang di tengahnya. Warna perak dan bening itu. Pantas saja mereka tidak tahu, mereka hanya tidak melihat dari dekat.
Kamu adalah buku yang lain. Buku cerita sekaligus buku harian. Dimana aku bisa membentangkan cakrawala dan menyadari bahwa aku tak tahu apa-apa. Lalu ku tuliskan apa yang aku tahu didalammu. Tidak jarang yang ku tahu sudah kamu ketahui. Lalu seringkali pula aku menuliskan hanya beberapa pilah kata-kata tak penting atau gambar-gambar tak jelas dalam lembaranmu. Sederhana, supaya kamu tahu aku, supaya kamu ingat aku.
Kamu juga, hati mungil yang dibungkus keangkuhan, keegoisan. Aku kenal dirimu. Aku kenal sosok itu. Pernah diantara malam ku lihat kau merenung di kegelapan. Perkataan mereka tentangmu yang segala rupa tak benar, semua meluruh, kau telanjang. Ingin ku duduk disampingmu dan memeluk menemani sepimu. Dan aku berharap supaya mereka bisa melihat ini.
Kamu seekor rubah. Aku tahu ini bukanlah gambaran yang baik. Hewan apa yang menyeramkan karena kecerdikannya? Aku seringkali takut dipermainkan. Kecerdikanmu seolah membawaku mundur, mundur dan mundur dan mampu menghimpitku. Sehingga terkadang aku takut terhadapmu. Kekhawatiran yang tak mungkin aku katakan. Lalu, menurutmu, aku ini hewan apa? Semoga kau menjawab apel.
Kamu sebuah pesawat ulang-alik yang mampu membawaku menembus batas. Kemanapun. Sampai terkadang aku takut kau tak membawaku pulang. Kau membawaku menembus batas lintas dunia, entah dunia mana saja. Terima kasih pernah mengajakku terbang. Aku harap suatu hari kau mau membawaku pergi lagi. Mungkin pesawat adalah kata yang terlalu mewah, aku lebih senang yang sederhana. Layang-layang.
Percayalah, aku selalu bahagia melihatmu tertawa. Sekalipun kau menertawai kebodohan atau kekurangan atau kejelekanku. Aku lebih sedih ketika kau bersedih, karena aku tak tahu harus lakukan apa untuk paling tidak membantumu mengangkat beban-bebanmu.
Percayalah, aku selalu senang melihatmu tertidur. Wajah yang akhirnya sejenak menemukan kedamaian di tengah karung keresahan yang akan kau temui ketika kau terbangun. Aku selalu mengecupkan doa kala itu. Kau tak pernah tahu.
Dan aku selalu senang membuat catatan tentang seseorang.
Apalagi, tentangmu.
Subscribe to:
Posts (Atom)

