Saturday, September 13, 2014

Jatuh Pada Cinta

Mukanya malu-malu, bersemu sendu.
Lidahnya kelu, hatinya hancur.

Perempuan itu,
melepas pilu, lalu dirundung rindu.

Pilu akan masa lalu,
rindu dengan cinta baru.

Hidupnya hanya didatangi kehilangan,
yang tega membunuhnya berkali-kali.

Dan Semesta mengasihaninya,
Ia kembali jatuh hati.
Tapi Ia takut,
namun Ia jatuh.
Tapi masih takut,
namun sudah jatuh.

Padanya,
yang mampu mengubah matihari,
menjadi matahari.

Monday, August 25, 2014

Curug Lawe

I'm back as a travel writer, everyone! Kali ini cerita jalan-jalan datang dari Curug Lawe (16 Agustus 2014) yang terletak di Desa Muncar, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung.

Jadi, kenapa gue bisa mental ke Temanggung? Karena gue lagi ikut KKN (Kuliah Kerja Nyata) dan dibuang ditempatkan di Temanggung selama satu bulan. Di saat nganggur tanpa program kerja, akhirnya gue dan kawan-kawan langsung berangkat kesana. Satu hal yang sangat penting adalah tidak ada dari kami yang tahu kaya apa medan menuju air terjun tersebut.

Sekitar jam 2 siang, kalau gak salah, kita berangkat. Desanya dekat dari desa yang gue tempatin. Jalanannya sih sudah beraspal. Awalnya excited kaya biasanya. Antusias banget karena mau jelajah alam. Karena gak ada parkiran motor akhirnya kita titip motor di rumah warga. 

Habis itu kita jalan menembus tengah sawah. Dan akhirnya sampai di jalan pembuka,  jalan setapak yang mengantarkan gue pada kelelahan tiada akhir.

Jalan setapak ini benar-benar jalan setapak gais. Setapak = Se-tapak, Sebuah-tapak. Yes, satu tapak orang saja. Intinya? Benar-benar jalan yang hanya bisa dilalui satu tapak  kaki seseorang saja, saking sempitnya. Jalanan beralas tanah jadi bikin kaki suka kepleset kalau gak hati-hati. Semua anak hanya pakai sendal jepit, termasuk gue. Kira-kira setengah jam bahkan lebih kita masih juga belum sampai, bahkan suara gemericik airnya aja gak kedengeran. Gue mulai gedeg dalam hati karena jalanan yang menurun terus, jauh, dan gak kunjung sampai. Satu hal yang terbayang di otak gue hanya: ini apa kabar pulangnya? Kalau pas berangkat jalannya turun terus, kebayang dong baliknya kaya gimana? :')

Singkat cerita, sampailah kita di Curug Lawe. Senang sih, karena akhirnya paling gak punya tambahan daftar alam yang pernah dikunjungi selama hidup. Tapi sayangnya entah kenapa menurut gue kurang berkesan karena airnya yang kurang jernih dan suara air terjun pun kurang jelas. Jadi, rasanya rasa capek yang sebelumnya gilak aja (karena perjalanan setelahnya itu gilak banget) kurang terbayarkan. Mungkin cuma foto-foto (yang niatnya pengen dipamerin) yang bisa jadi moodbooster.

Berasa poster film. "5 km".

Diantara tahap perjalanan Curug Lawe, tahap pulangnya lah yang paling menguras emosi dan tentu saja tenaga. Medan yang naik terus dan jalanan yang tinggi dari satu undakan ke undakan yang lainnya jadi bikin tenaga lebih banyak terkuras. Keadaan sekitar dimana sebelahnya jurang dan sebelahnya tebing tinggi agak bikin lumayan was-was. Tapi yang lebih bikin was-was sebenernya adalah kondisi fisik diri sendiri. Gak pernah olahraga dan darah rendah langsung aja duet bikin gue hampir nyerah. Berkali-kali mandek karena gak kuat, muka gue yang katanya pucat dan pipi gue merah, jantung yang sakit, mulut sama hidung ga sinkron karena susah napas gegara capek dan suhu sore yang mulai mendingin, bikin gue jadi pusat perhatian diantara kawan-kawan. Beruntung banget mereka semua baik mau nungguin, mau maklumin orang yang kepayahan ini. Sejak saat itu gue sepakat gue gak cocok naik gunung. Fix banget.

Sampai rumah, dapet laporan muka gue udah kaya zombie saking capeknya. Dan yang paling konyol adalah karena ke Curug Lawe pula, kita ber12 sama sekali gak ada yang ikut upacara karena jaket KKN yang kotor dan dicuci.



The last, tau lagu Mahameru - Dewa 19? Lagu itu yang selalu dinyanyiin salah satu temen gue, Adit, pas lagi naik balik dari Curug. And it always takes me back to that time when I hear it, and I love the song anyway. 

Saturday, July 26, 2014

Semoga Malam Mampu Menguliti Ketidakbisaanku

Malam selalu tega menelanjangimu. Kesedihan berlapis kulit, kerinduan berlapis daging, kesalahan berlapis tulang. Malam mampu menguliti hingga kerut urat nadimu.


Athena, telapak tangannya beradu dengan duri mawar.
Harap yang terisak pecah di balik punggungnya.
Kalbu entah darimana bertanya, tak bosankah ia bertahan pada kembang itu.
Dengan darah yang mengering hingga lagi basah.

Tapi itu kemarin..
Sebelum melihat anak burung parkit itu berani terbang.
Berani terbang tanpa induknya.

Iya.
Sesederhana itu.

Friday, July 18, 2014

Laporan Akhir Smester Genap

Selamat malam rakyat dunia maya yang bermata pencaharian sebagai peselancar!

Gue melanjutkan hidup. Beberapa minggu kemarin menjadi waktu-waktu yang paling melelahkan sepanjang riwayat perkuliahan gue. Smester 6 adalah smester paling berat. Dari kuliah, tugas kuliah, sempro (ini paling menguras tenaga jasmani dan rohani), UAS, sidang sempro, LRK untuk KKN, survey untuk KKN. Semuanya gak berhenti bergantian minta diurus. Gilak smester 6 joss gandos!!!

Masih inget rasanya begadang ngerjain salah satu dari itu, mumet tiap abis bimbingan, pertama kali bikin kartu perpus sampe ibu penjaganya heran, bolak-balik rajin ke perpus, tiap online kerjanya buka google scholar atau portal garuda, ngeluh tiada akhir soal ketidaktertarikan akan KKN, nangis gulang-guling di kamar karena homesick mau pulang tapi kepentok segala tanggungan, survey ke Temanggung tapi bablas gak sahur (rasanya kering kek zombie) (padahal belom pernah jadi zombie), senengnya cover sempro ada tulisan acc, dan paling seneng adalah selesai sidang dan sempro gue berhasil di jilid dan diterima bapak dosbing, sekaligus LRK yang sudah beres dan besok malam siap pulang.

Kalo mundur sedikit ke seminggu yang lalu aja, masih inget juga tuh capeknya kaya apa dan kebayang-bayang hari semuanya akhirnya beres. Maksudnya ngebayangin hari ini. Akhirnya blogging dengan santai setelah kemarin-kemarin pengen blogging tapi gak napsu.

Tapi ini bukan akhir, justru gue udah membayangkan sebentar lagi masuk ke pintu dunia yang bisa bikin gue lebih hancur-lebur lagi dari ini. Skripsi.

Rabu 16 Juli kemarin memang patut diingat. Kebahagiaan absolut.


Selesai sidang

Buka puasa bersama ganja


Sampai bertemu smester 7. Semoga hasil akhir smester ini sama baiknya dengan smester lalu :)

Thursday, June 19, 2014

Ini Misiku, Apa Misimu?

Mungkin memang benar teknologi memiliki efek samping. Menjadi candu dan belenggu bagi manusia. Saya contohnya, termasuk seseorang yang susah bila jauh dari handphone. Padahal kalau pegang handphone pun hanya membuka media sosial yang tidak penting. Seperti ketergantungan. Sungguh mengerikan.

Saya pun juga memperhatikan, kecenderungan ini mulai merasuki anak-anak. Tangan kecil mereka sibuk dengan benda kotak penuh radiasi yang mereka genggam erat. Matanya terpaku, dari yang matanya masih sehat, hingga mata yang sudah butuh bantuan.

Saya suka membaca. Mungkin bisa dibilang memiliki gangguan mental, karena lebih memiliki tendensi pembelian impuls di dalam toko buku dibanding toko baju, tidak seperti perempuan lainnya. Tapi saya sedih jika melihat anak kecil, yang masih bersih pemikirannya dan butuh digali dan diasah bakatnya hanya terpentok di sebuah handphone, tablet, kapsul, puyer, apalah namanya itu. Imajinasinya kurang berkembang. Saya punya contoh kasus dari seorang teman. Dalam pembuatan tugas akhir, ia kesulitan dalam menemukan buku untuk menggali teori berkaitan dengan penelitiannya. Dia bilang, "aku tuh gak seneng baca Ty. Kamu seneng baca ya, enak." berbicara sambil matanya yang terpaku pada game di handphone-nya. Saya tertawa meringis sambil berpikir. Fatal juga dampak tidak suka membaca, bukan?

Saya pun juga memilih kalau mau membaca buku. Tidak suka yang serius ala orang dewasa, seperti bau pencampuran ruangan kantor, bapak-bapak berkumis, beserta kemeja dan pulpennya, serius. Saya tidak suka. Tapi kesenangan membaca paling tidak memudahkan kita untuk hal-hal penting seperti itu.

Saya penggila genre fantasi, film maupun buku. Penyuka fiksi yang bukan picisan. Saya penulis yang tingkatnya bahkan masih dibawah amatir. Berkali-kali menulis novel tapi selalu gagal karena banyaknya distraksi. Pernah membuat banyak sekali cerita pendek tapi dibuang begitu saja oleh ibu saya (dan saya akan selalu ingat kesedihan yang satu ini, sampai kapanpun). Tapi saya punya misi, mengenalkan budaya membaca pada anak-anak dengan jalan membuat cerita fantasi, yang sekaligus membuka imajinasi mereka. Walau saya belum tahu eksekusinya bagaimana karena status "mahasiswi tingkat akhir" yang cukup menganggu ini.


Tapi yang paling penting, semoga dengan keluarnya tulisan ini, ada banyak orang yang tergerak hatinya untuk sama-sama membantu mencerdaskan bibit bangsa. Apapun misinya, bagaimanapun caranya, seberapa kecil atau besar dampaknya, pasti akan bermanfaat.
Selamatkan generasi bangsa dengan caramu.

Ini misiku, mana misimu?

15 Juni 2014

Jadi begitulah tanggal 15 Juni 2014 kemarin aku habiskan. Sederhana dan menyenangkan. Satu hal: bersyukur.

Dimulai pagi hari aku mengejutkan dikejutkan oleh 5 kawan Ganja yang sedang ada dalam kamar kosan (dimana pemiliknya sedang menginap di kamar temannya). Cukup satu kotak donat meleleh hangat yang terasa enak karena dicampur rasa syukur, senang, dan kekesalan dari pembuat kejutan, topi lucu, beserta lilin diatas donatnya.


Mungkin aku satu-satunya anggota Ganja yang dilumuri lelehan donat karena saking kesalnya dibuat menunggu selama 2 jam. 


Salah satu kawan, Yuniar berkata, "ini Ty kita hadiahin sendal biar kamu gak pake itu terus" sambil nunjuk sendal jepit keyboard kesayangan yang dipake kemanapun. Catat, kemanapun.


Sayangnya momen kebersamaan cepat sekali hilang hanya sampai jam 11 siang, karena kawan-kawan punya urusan masing-masing. Dan hawa kesepian mulai merasuk. Aku masih ingat rasanya seperti apa. 



Lalu aku hubungi salah satu kawan, Fallen. Aku bilang mau jalan-jalan, tolong bawa aku kemanapun. Habis dia berenang, kami baru pergi sekitar jam 3. Mendung menghias langit, aku bingung mau kemana. Akhirnya? Balon sabun sebagai pengobat sepi sekaligus sebuah perayaan. Senang, kenapa? Karena hujan ingin sekali turun tapi Tuhan berusaha menahannya, juga karena dengan siapa aku menghabiskan hari, juga karena balon sabun dan tawa anak-anak kecil yang juga gembira karena banyak gelembung sabun bertebaran di sekitaran mereka.




Hari mulai malam, dan aku berencana menghadiri sebuah acara jazz bersama Fallen. Tapi apa mau dikata, kami menghabiskan tenaga dan waktu hanya untuk tersasar berpetualang. Kami masuk ke wilayah Pecinan dan bertemu sebuah kondangan aneh dimana ada seorang wanita bernyanyi dan berjoget diatas panggung sambil memakai celana mini dan kaos tanpa lengan. Di sekitarannya hanya ada beberapa penonton namun semua seakan terhipnotis dengan si wanita tersebut. Sebagai catatan, penonton tersebut adalah para lelaki.

Setelah itu kami tersesat kembali hingga ke sebuah pasar malam. Aku dan Fallen saling bingung karena kami diantara para tukang jualan dan lalu lalang orang sedang kami terus melaju diatas motor. Ya, di tengah kerumunan. Kami tertawa bingung bersama.

Akhirnya kami sepakat, kami gagal. Dan akhirnya pulang.




Aku ingat doa seperti apa yang diucapkan keluarga dan kawan-kawan pada saat hariku itu. Tapi ada satu doa yang lekat diingatan, satu-satunya beda, satu-satunya doa yang seakan tahu aku seperti apa, dan menjadi motivasi di hati kecil ini.

"Semoga kamu bisa jadi penulis ya Ris. Kamu harus jadi penulis, minimal satu bukumu terbit. Nanti aku mau beli" - Fallen.


Sekali lagi, Alhamdulillah.
Tuhan tidak pernah memberikan kekecewaan padaku setiap bulan Juni.
Sampai bertemu di 15 Juni pada tahun selanjutnya.
Aamiin.

Catatan Pada 20 Tahun

Saya punya catatan di malam menjelang hari ulang tahun tanggal 14 Juni kemarin. Yang akhirnya saya lupa publikasikan karena diajak seseorang menghabiskan malam menuju pergantian usia. Jadi, ini tulisannya.


21.

Apa arti 21? Banyak. Bisa nama bioskop, bisa angka abad yang sering disebut di film Doraemon. Tapi tidak, ini menyoal...usia. Usiaku.

"Time flies when you're having fun. You wake up, another year is gone. You're twenty-one" (The Click Five - Happy Birthday)

Hari esok aku menginjak 21 tahun. Sudah melebihi jari-jari yang ku punya. Sudah lama juga aku hidup, atau mungkin yang lebih tepatnya berapa lama lagi waktuku untuk hidup?

Tahun ini berbeda. Belenggu yang pernah hinggap sekarang sudah seutuhnya lepas. Pergantian tahun pun berbeda dengan tahun sebelumnya. Aku masih ingat bagaimana menghabiskan hari pertama di umur 20 waktu itu. Aku dan empat kawan pergi berlibur ke luar kota. Magelang. Beberapa hari setelah itu aku diberi kejutan (re: balas dendam tradisi) dengan cara diikat di pohon dan disiram berbagai ramuan.

Perayaan tahun 2012 pun masih lekat dalam ingatan. Aku dikerjai lagi-lagi di kampus. Namun yang satu ini dengan banyak sekali pasukan. Kepalaku dibungkus kantung plastik hitam, badanku diikat tali rafia, dan digiring dengan sangat hewaniawi. Sadar saat itu yang membawaku pasti laki-laki semua, kalaupun ada perempuan itu adalah kawan perempuan bertenaga kuda. Karena tahu aku akan disiksa, aku meronta-ronta seperti sapi mau dikurban. Masih ingat juga aku mencakar tangan salah satu kawan laki-laki ku. Kasihan. Akhirnya aku dibawa ke belakang kampus dan diberikan cairan yang lebih mirip muntahan dengan penuh kebrutalan kasih sayang.

Dan tahun ini, entah kenapa, tapi harus ku akui hawanya berbeda. Ini bukan menyoal hari ulang tahun saja, tapi rasanya seperti menginjak ke hari baru. Ini tentang hidupku. Beberapa minggu belakangan ada yang berbeda dan berkembang. Ada suatu pencapaian yang aku lakukan, dan aku menganggap itu adalah pencapaian yang dilakukan orang dewasa. Dan aku memilih untuk menjadi dewasa; tentunya dengan tidak menghilangkan keceriaan ala bocah yang lekat pada karakterku. Ada kepasrahan dalam diri yang aku juga tidak tahu datang darimana. Aku mulai melepaskan kekhawatiran akan hal-hal di luar kuasa, seperti masa depan, juga perasaan. Segala bentuk perasaan: sedih, senang, cinta, sakit, semua aku serahkan dan lebih milih ku kembalikan pada-Nya. Karena semua perasaan itu hanya sementara, Ia yang berikan, maka kepada-Nya pula seharusnya kembali. Masa depan yang berada diluar jangkauanku, aku mulai memasrahkan pada Mpu takdir. Dan kakiku mulai ringan. Aku memang sendiri, tapi ternyata tidak sendiri.

Ada satu permintaan yang setiap kali aku layangkan pada Tuhanku. Aku berharap semoga Allah tahu apa yang ku minta adalah apa yang ku butuhkan, bukan saja yang ku inginkan. Dan jikalau Ia berkenan mengabulkan, maka itulah hadiah terindah yang aku dapatkan di tahun ini.



Aku bersyukur masih memiliki teman-teman yang begitu lucu dan baik dan masih setia sampai hari ini ku hidup. Teman-teman dimanapun.
Aku bersyukur masih memiliki keluarga, rumah, yang selalu menjadi tempatku kembali, tempatku melarung duka.
Aku bersyukur masih diberi napas hingga hari ini, detik ini. 


Semoga aku bisa jadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain, dalam bentuk apapun, sekecil apapun. Itu adalah harapan terbesar tahun ini, dan setiap tahunnya.