Monday, November 24, 2014

Ragu

Ia melangkah separuh pincang. Tertatih-tatih meniti arah.

Melantangkan kekuatan yang bahkan ia tidak tahu sebesar apa, atau sekecil apa.

Hatinya gamang dilimpahi hadiah(-hadiah) oleh Tuhannya.

Kata Tuhan, "Temukan yang sesuai, dan gunakan baik-baik,".

Ia beku dalam bimbang, menyeka pikiran yang hampir surut dari sadar.

Meragu pada Tuhan yang mungkin saja membawakannya sepaket pecundang.

Ambruk dalam kekecewaan, kakinya ngilu, hatinya kelu.

Bulir air di pelupuk mulai hangat mengalir.

"Tuhan, kembalikan yang hilang itu padaku,"

Dalam redup dan degup nadi yang saling menyahut,

Tuhannya hanya diam kali ini.

Monday, November 03, 2014

Dan Malam Ini, Aku Tumpah...

Ternyata saya rindu.
Rindu membicarakan banyak sekali hal. Dari, seperti, mengapa bangku bernama bangku? hingga kamu percaya surga dan neraka? Saya juga rindu diskusi mendalam tentang nasib, kebetulan-kebetulan lucu, hati, cinta, masa lalu, hingga takdir yang begitu senang memisahkan kami. 
Dan bagian ini yang paling saya rindukan.

Ternyata saya rindu.
Rindu berbagi lagu-lagu dengan lirik yang bermakna, atau lagu dengan lirik lucu sekalipun seperti Alcohol milik CSS. Rindu membicarakan musik apapun. Saya terima lagu atau musik apapun yang ia beritahukan, walau saya tidak tahu. Dan sebaliknya. 

Ternyata saya rindu.
Rindu kami dalam diam. Kalaupun ada hubungan paling aneh tapi nyata, itulah yang saya rasakan saat kami berdiam termenung di danau itu. Seperti kami yang disaksikan hewan dan tumbuhan disana. Dalam diam aku merangkai doa dan ceritaku sendiri, Ia juga diam seperti menerka namun tak pernah bisa. Saya selalu merasa mampu berbicara dengannya dalam hati. Mungkin ini berlebihan dan gila. Tapi ini nyata. Kunjungan di danau selalu berakhir dengan bunga yang saya sampirkan di dekat kaca spion motor miliknya. Dan saya senang Ia tak membuangnya.

Ternyata saya rindu.
Rindu seseorang yang bisa menerima seutuhnya. Utuh seperti adanya saya yang aneh, yang manja, yang maunya banyak, yang suka jalan-jalan, yang tahu semua keburukan sifat, yang bisa melihat kebaikan di diri saya, yang mau mendengar banyak cerita tidak penting yang saya lontarkan, yang sadar saya 'berbeda' dan tidak menjauh, yang bisa menjadi bapak-partner-kawan, yang menjadi kotak rahasia terbesar, yang menjadi kotak tertawa, yang tahu semua cerita masa lalu saya, yang bisa membuat saya merasa aman dan terlindungi, yang sadar saat saya sedih bahkan ketika tak berkata apapun dan pasang raut muka menipu, yang bisa jadi wikipedia berjalan pribadi, yang bisa tetap bijak sekalipun pada saat sulit, yang mau terima semua puisi-puisi amatiran, yang mau memuji hasil cerpen yang sebenarnya tidak jelas, yang begitu kuatnya ingin saya jadi penulis, yang mau membuka pikiran saya lebih luas lagi tentang dunia.

Mungkin kenangan kami sudah terlalu banyak, rasanya saya terjejal hingga remah-remah memori satu persatu menguap. Tapi saya masih banyak ingat yang manis, juga yang pahit, seperti:


  1. Ketika hujan badai mengguyur kota, kita pergi berjuang membawa setoples besar air gula yang sudah kita masak untuk dibawa dari tempatmu ke tempatku naik motor. Kita seperti power ranger, berjas hujan. Hujan memang amat kuat, tapi aku ingat jelas apa yang kamu teriakkan di tengah deras itu, "Ris, aku sayang sama kamu!"
  2. Di perjalanan pulang dari Solo ke Semarang, ada lagu tidak menyenangkan (karena bercerita tentang kisah kita) yang diputar di radio. Lalu kita diam, hanya diam. Sampai akhirnya kita sampai di Semarang dan kamu membicarakan hal itu dengan, "kamu denger lagu tadi? Aku benci lagu itu".
  3. Kita pernah berenang berdua di salah satu taman rekreasi air di Semarang. Berenang paling lucu karena kita bawa bekal satu plastik berisi gorengan dan rokokmu, yang kita simpan seperti harta karun dibalik batu dibawah jembatan di kolam renang. Kalau kita lapar, kita hampiri harta itu, dan sebaliknya.
  4. Dalam perjalanan petualangan menuju Pantai Bandengan - Jepara, kita diguyur gerimis yang agak keras. Kita hanya memiliki 1 jas hujan di bagasi motorku. Akhirnya kita membagi dua, dengan kamu memakai bajunya, aku celananya. Sampai di pantai kita dilihat banyak orang, seperti alien.
  5. Tahun lalu, perpisahan kita di bulan April. Lalu aku secara iseng membuka akun twitter kawanmu, dan menemukan kawanmu menulis hal-hal yang puitis, seperti dirimu. Ketika kita bersama lagi, lalu aku tanya, "Ternyata Planet puitis juga kaya kamu ya?", "maksudnya?", "waktu itu aku iseng buka twitternya kok isinya begitu", "hah? Itu aku tulis pesan buat kamu, tapi di twitter dia. Pertimbanganku, kalian gak follow-followan, jadi kamu gak mungkin tau", "tapi aku tau.....", "iya, dan aku bingung sama kebetulan yang aneh ini".
  6. Pesan singkat dini hari selalu berisi, "Ris, besok bangunin aku ya. Kalau kamu gak hampiri aku, aku gak mungkin sekolah." seperti anak kecil polos. Lalu aku datang dan melihatmu tergeletak di kasur. Tak jarang ketika aku membangunkanmu, aku pula yang dimarahi. Bahkan aku rindu pula membereskan kamarmu yang tak ubahnya kandang sapi. Melihatmu bergegas berpakaian sebelum kita ke kampus bersama. Seperti ibu yang mengurusi anak lelakinya, atau seorang istri yang melayani suaminya, entahlah semuanya sama. Sama-sama dengan cinta.
  7. Masih lekat di ingatan ketika kita tiba-tiba diatas motor yang sama sehari sebelum ulang tahunku. Juni lalu. Kau mengajakku tak tentu arah dan kita canggung dibawah langit malam. Karena hampir dua bulan kita tak bertemu. Obrolan hanya seputar mengingat dan merantai semua yang pernah kita lewati jadi satu. Dan aku sadar aku bahagia saat itu.
  8. Ketika kamu meneleponku pagi itu. Kamu di rumah di kotamu dan aku di perantauan. Kamu berharap kita bisa bercakap banyak, sedang aku tahu apa yang kamu perbuat semalam dengan seseorang lain. Kamu tahu ada yang tidak beres saat itu, dan kamu tahu aku melemparkan tweet bernada pisah ketika itu dan membalasnya dengan "salah paham berujung maut". Setelah itu aku tak melihatmu lagi berkeliaran di linimasa twitter. Sampai akhirnya ibu penjaga kosan memanggilku karena ada seorang lelaki mencariku di depan. Dan kudapati kamu yang lusuh dan lesu masih menggendong ransel kembali dari Purworejo menuju Semarang hanya untuk mengklarifikasi, dan sore itu pula kamu kembali. Menuju Solo.
  9. Ketika pasangan lain berpredikat "saling melengkapi", kita justru "saling menambahkan". Kamu dan aku sama-sama memiliki kemampuan yang dangkal menyoal arah jalan. Ingat ketika kita berniat ke Pecinan namun justru tersasar ke kondangan bahkan ke pasar malam? Bahkan aku masih ingat tawa akan kebodohan kita kala itu.
  10. Tak jarang kita mengobrol hingga berdebat ketika berdua. Kamu menganggap kita sedang beradu argumen, aku pangkas dua katamu menjadi berdebat. Pun ketika kita saling bercerita, dan aku tiba-tiba diam, kamu sesekali menyanyikan Mari Bercerita milik Payung Teduh. Dan aku selalu malu ketika kamu mulai bernyanyi lagu itu.
  11. Terlalu banyak takdir bernama "kebetulan" yang selalu membuat kita terganga. Terakhir adalah"kebetulan" saat pertemuan kita di Jogja. Ketika kamu dan teman-teman KKN mu begitu juga aku dengan teman-teman KKNku. Dengan keadaan kita yang berbeda kecamatan. Kita, di tempat nasi goreng itu, pertama kali aku kesana bersamamu. Sampai beranjak tidur aku tak habis pikir akan kecanggungan kita ketika bertegur sapa. Bisa-bisanya Tuhan mempertemukan kita bahkan di tempat sejauh itu?
  12. Kita bagai filsuf kelas teri. Atau aku yang kelas teri, dan kamu kelas moyangnya teri. Berdiskusi apapun. Terkadang kita terjerat dalam situasi obrolan dimana kita seperti mengobrol dengan cermin. Saling mengakali satu sama lain, dan saling waspada, serta takut "terjerumus", entah di lubang apa. Seringkali aku mendapati diri yang akhirnya kelaparan hebat sehabis mengobrol. Bisa dibayangkan seberapa berat bahan diskusi kita?
  13. Mungkin kita sepasang orang gila yang mengawali kedekatan dengan menghidupkan binatang buas imaji di benak kita. Kamu dengan nagamu, dan aku dengan bison terbang berbulu. Seperti keduanya hidup nyata di halaman rumah kita.
  14. Aku masih ingat bagaimana kita menyambung hidup kala itu ketika tak ada uang sepeserpun di dompet kita. Kamu dan aku sama-sama meraih receh-receh dari tempat-tempat tak terduga, untukmu membeli segelas kopi dan rokok di burjo dan aku untuk membeli makan. Namun kita tetap bahagia, dengan melabelkan diri kita sebagai "kere-hore".
  15. Ingat waktu kita sedang mencari tempat murah meriah yang nyaman hanya untuk tempat mengobrol? Dan kita masuk duduk di teras kosan teman kita tanpa ada teman kita disana. Santai aku membuatkanmu kopi, dan duduk sembari mengobrol. Kita memang sepaket manusia tidak punya malu.
  16. Penyakit dini hari masih menjangkitiku. Mencari-cari di tiap sudut jejakmu. Sudah jarang ku temui kau melagu dengan puisimu itu. Tentang apapun. Ku harap kau masih sama seperti penyair yang ku puja. Jangan pernah berubah.
Seringkali saya merasa pincang ketika berjalan. Berjalan mengarungi hari. Banyak sekali bagian diri yang rasanya terenggut paksa. Tentang kebiasaan, kebahagiaan, kepingan diri. Terkadang masih terasa ada yang mengerut dan perih, tiap teringat kebersamaan kami. Tak jarang saya menipu diri, mengulang kalimat bahwa saya utuh dan tak kehilangan suatu apapun. Demi untuk menenangkan diri. 

Saya tidak tahu harus peduli atau tidak menyoal perasaannya. Masih, hampir lupa, atau sudah punah. Saya tidak tahu. Dan saya tidak akan pernah tahu. Jika saya tahu pun saya tidak harus apa. Lagipula memang harus bagaimana?

Satu hal yang perlu kau tahu, saya tidak pernah sedih melihat segalanya yang berhubungan denganmu. Kau takkan pernah tahu lucunya bisa tersenyum saat melihat seseorang yang saya cinta bahagia. Saya tidak tahu apa itu cinta sejati, tapi itulah yang saya rasakan.

Saya tidak menyesal karena tidak menerimamu kembali kala itu, pun saya tidak menyesali keadaan ini. Saya cukup bahagia melihatmu akhirnya kembali pulang. Saya juga cukup bahagia kembali menapakki jalan dan bertualang sendiri, seperti dulu, tunawisma, tanpa arah.



Satu puisi milikmu sebagai penutup kerinduanku malam ini.

" Pencuri

Dulu ada dua pencuri yang saling melindungi dan saling mencuri
Mencuri tawa, kerling, cerita, duka resah dosa kelakar emas, hati
Hasilnya mereka gadaikan pada tuhan
Ditukar dengan arti yang kian tak dapat dimengerti." - FO.



I hope you good, Supertramp.

Thursday, October 16, 2014

Bukan Matahari

Mungkin beginilah akhirnya.
Sinar yang awalnya ku kira sebagai matahari, ternyata kembali membuatku mati

Matihari

Kembali, ada yg terbagi dua. Perempuan itu, hatinya.
Ke sekian kali

Patah


Sebelumnya rekat

Sekarang patah lagi

Rekat lagi

Patah lagi

Rekat lagi

Patah lagi

Patah lagi

Patah lagi

Sampai tiada lagi yang mampu direkatkan pun dipatahkan



Semarang, 1.21 AM

Saturday, September 13, 2014

Jatuh Pada Cinta

Mukanya malu-malu, bersemu sendu.
Lidahnya kelu, hatinya hancur.

Perempuan itu,
melepas pilu, lalu dirundung rindu.

Pilu akan masa lalu,
rindu dengan cinta baru.

Hidupnya hanya didatangi kehilangan,
yang tega membunuhnya berkali-kali.

Dan Semesta mengasihaninya,
Ia kembali jatuh hati.
Tapi Ia takut,
namun Ia jatuh.
Tapi masih takut,
namun sudah jatuh.

Padanya,
yang mampu mengubah matihari,
menjadi matahari.

Monday, August 25, 2014

Curug Lawe

I'm back as a travel writer, everyone! Kali ini cerita jalan-jalan datang dari Curug Lawe (16 Agustus 2014) yang terletak di Desa Muncar, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung.

Jadi, kenapa gue bisa mental ke Temanggung? Karena gue lagi ikut KKN (Kuliah Kerja Nyata) dan dibuang ditempatkan di Temanggung selama satu bulan. Di saat nganggur tanpa program kerja, akhirnya gue dan kawan-kawan langsung berangkat kesana. Satu hal yang sangat penting adalah tidak ada dari kami yang tahu kaya apa medan menuju air terjun tersebut.

Sekitar jam 2 siang, kalau gak salah, kita berangkat. Desanya dekat dari desa yang gue tempatin. Jalanannya sih sudah beraspal. Awalnya excited kaya biasanya. Antusias banget karena mau jelajah alam. Karena gak ada parkiran motor akhirnya kita titip motor di rumah warga. 

Habis itu kita jalan menembus tengah sawah. Dan akhirnya sampai di jalan pembuka,  jalan setapak yang mengantarkan gue pada kelelahan tiada akhir.

Jalan setapak ini benar-benar jalan setapak gais. Setapak = Se-tapak, Sebuah-tapak. Yes, satu tapak orang saja. Intinya? Benar-benar jalan yang hanya bisa dilalui satu tapak  kaki seseorang saja, saking sempitnya. Jalanan beralas tanah jadi bikin kaki suka kepleset kalau gak hati-hati. Semua anak hanya pakai sendal jepit, termasuk gue. Kira-kira setengah jam bahkan lebih kita masih juga belum sampai, bahkan suara gemericik airnya aja gak kedengeran. Gue mulai gedeg dalam hati karena jalanan yang menurun terus, jauh, dan gak kunjung sampai. Satu hal yang terbayang di otak gue hanya: ini apa kabar pulangnya? Kalau pas berangkat jalannya turun terus, kebayang dong baliknya kaya gimana? :')

Singkat cerita, sampailah kita di Curug Lawe. Senang sih, karena akhirnya paling gak punya tambahan daftar alam yang pernah dikunjungi selama hidup. Tapi sayangnya entah kenapa menurut gue kurang berkesan karena airnya yang kurang jernih dan suara air terjun pun kurang jelas. Jadi, rasanya rasa capek yang sebelumnya gilak aja (karena perjalanan setelahnya itu gilak banget) kurang terbayarkan. Mungkin cuma foto-foto (yang niatnya pengen dipamerin) yang bisa jadi moodbooster.

Berasa poster film. "5 km".

Diantara tahap perjalanan Curug Lawe, tahap pulangnya lah yang paling menguras emosi dan tentu saja tenaga. Medan yang naik terus dan jalanan yang tinggi dari satu undakan ke undakan yang lainnya jadi bikin tenaga lebih banyak terkuras. Keadaan sekitar dimana sebelahnya jurang dan sebelahnya tebing tinggi agak bikin lumayan was-was. Tapi yang lebih bikin was-was sebenernya adalah kondisi fisik diri sendiri. Gak pernah olahraga dan darah rendah langsung aja duet bikin gue hampir nyerah. Berkali-kali mandek karena gak kuat, muka gue yang katanya pucat dan pipi gue merah, jantung yang sakit, mulut sama hidung ga sinkron karena susah napas gegara capek dan suhu sore yang mulai mendingin, bikin gue jadi pusat perhatian diantara kawan-kawan. Beruntung banget mereka semua baik mau nungguin, mau maklumin orang yang kepayahan ini. Sejak saat itu gue sepakat gue gak cocok naik gunung. Fix banget.

Sampai rumah, dapet laporan muka gue udah kaya zombie saking capeknya. Dan yang paling konyol adalah karena ke Curug Lawe pula, kita ber12 sama sekali gak ada yang ikut upacara karena jaket KKN yang kotor dan dicuci.



The last, tau lagu Mahameru - Dewa 19? Lagu itu yang selalu dinyanyiin salah satu temen gue, Adit, pas lagi naik balik dari Curug. And it always takes me back to that time when I hear it, and I love the song anyway. 

Saturday, July 26, 2014

Semoga Malam Mampu Menguliti Ketidakbisaanku

Malam selalu tega menelanjangimu. Kesedihan berlapis kulit, kerinduan berlapis daging, kesalahan berlapis tulang. Malam mampu menguliti hingga kerut urat nadimu.


Athena, telapak tangannya beradu dengan duri mawar.
Harap yang terisak pecah di balik punggungnya.
Kalbu entah darimana bertanya, tak bosankah ia bertahan pada kembang itu.
Dengan darah yang mengering hingga lagi basah.

Tapi itu kemarin..
Sebelum melihat anak burung parkit itu berani terbang.
Berani terbang tanpa induknya.

Iya.
Sesederhana itu.

Friday, July 18, 2014

Laporan Akhir Smester Genap

Selamat malam rakyat dunia maya yang bermata pencaharian sebagai peselancar!

Gue melanjutkan hidup. Beberapa minggu kemarin menjadi waktu-waktu yang paling melelahkan sepanjang riwayat perkuliahan gue. Smester 6 adalah smester paling berat. Dari kuliah, tugas kuliah, sempro (ini paling menguras tenaga jasmani dan rohani), UAS, sidang sempro, LRK untuk KKN, survey untuk KKN. Semuanya gak berhenti bergantian minta diurus. Gilak smester 6 joss gandos!!!

Masih inget rasanya begadang ngerjain salah satu dari itu, mumet tiap abis bimbingan, pertama kali bikin kartu perpus sampe ibu penjaganya heran, bolak-balik rajin ke perpus, tiap online kerjanya buka google scholar atau portal garuda, ngeluh tiada akhir soal ketidaktertarikan akan KKN, nangis gulang-guling di kamar karena homesick mau pulang tapi kepentok segala tanggungan, survey ke Temanggung tapi bablas gak sahur (rasanya kering kek zombie) (padahal belom pernah jadi zombie), senengnya cover sempro ada tulisan acc, dan paling seneng adalah selesai sidang dan sempro gue berhasil di jilid dan diterima bapak dosbing, sekaligus LRK yang sudah beres dan besok malam siap pulang.

Kalo mundur sedikit ke seminggu yang lalu aja, masih inget juga tuh capeknya kaya apa dan kebayang-bayang hari semuanya akhirnya beres. Maksudnya ngebayangin hari ini. Akhirnya blogging dengan santai setelah kemarin-kemarin pengen blogging tapi gak napsu.

Tapi ini bukan akhir, justru gue udah membayangkan sebentar lagi masuk ke pintu dunia yang bisa bikin gue lebih hancur-lebur lagi dari ini. Skripsi.

Rabu 16 Juli kemarin memang patut diingat. Kebahagiaan absolut.


Selesai sidang

Buka puasa bersama ganja


Sampai bertemu smester 7. Semoga hasil akhir smester ini sama baiknya dengan smester lalu :)