aku berbaur dalam keramaian kota.
Ingar bingarnya tak terelakkan.
Kota merayakan semua yang bisa dirayakan.
Kota mengundang seluruh lapisan.
Tapi aku tak mengerti,
mengapa mereka melupakanku.
Aku duduk sendiri,
di bangku kayu dekat trotoar.
Kata orang "bertengger sangat manis".
Aku tersenyum.
Rasanya saat itu jalanan penuh sekali,
tapi yang ku dengar hanyalah desahan napas sendiri.
Rasanya saat itu jalanan penuh sekali,
tapi yang ku lihat hanyalah lapangan tak berpenghuni.
Rasanya saat itu jalanan penuh sekali,
tapi yang menghampiriku hanyalah seekor burung nuri.
Ku sandarkan bahu dan ku pandang kembang gula biru.
Beberapa busur bening dan uap air laut berterbangan.
Aku menerawang dalam keheningan.
Aku menembus dimensi ruang.
Sejenak ku berpikir, dan mulai berdiri.
Langkah kakiku menjauhi bangku kayu.
Berjalan memperhatikan dunia yang sedang mengabaikanku,
bersama seekor burung nuri yang hinggap di pundakku.
No comments:
Post a Comment