Wednesday, February 13, 2013

Kapak Emas dan Kapak Perak

Dahulu kala, hidup seorang penebang kayu.
Ia gendut, dan miskin.
Selepas bekerja, ia beristirahat.
Duduklah ia di tepi danau, dan memakan roti bekalnya.

Lalu ia menghampiri bibir danau dan membungkukkan badan,
ia minum, dan sesuatu terjadi.
Kapak yang diselipkan di pinggang celananya terjatuh ke dasar.

Sedih dan bingung.
Ia meratap dipinggir danau, ia tak bisa berenang.
Ia kehilangan kunci penyambung nyawa.

Seketika sesosok dewa penjaga danau muncul ke permukaan.
Lelaki tua terbalut dalam jubah putih.
Melayang anggun diatas air.
Janggut berwarna gading menyamai rambutnya yang terurai bebas.
Tangannya berkeriput menyembunyikan kekuatan tak terkira.

Penebang kayu yang malang ini ternganga.

"Apa yang terjadi, nak?"
"...aku... kehilangan kapakku, tuan. Tanpanya aku tak dapat bekerja "
"Dimana kapakmu jatuh?"
"Tepat di dasar danau ini....tuan.."
"Baik, tunggu sebentar"

Sang dewa melesat ke dalam dan tak lama membawakan sebuah kapak emas.
"Nak, ini kapakmu?"
"Bukan tuan.. Kapak ini terlalu indah untuk ku miliki. Kapakku hanya sebuah kapak besi biasa.."
"Baik kalau begitu, tunggu sebentar"

Sang dewa kembali menuju dasar, dan lekas ke permukaan bersama sebuah kapak perak yang bersinar.
"Pasti ini milikmu bukan?"
"Bu...bukan tuan. Kapakku tidak bersinar. Kapakku hanya kapak tua sederhana, bergagang kayu"
"Apa? Bukan ini? Hmm, baiklah"

Sang dewa lagi kembali ke dalam air. Butuh waktu kali ini. 
Beberapa saat ia kembali bersama kapak lusuh nan gagah.
"Itu milikku tuan! Itulah kapak milikku!"
"Barang buruk ini milikmu?"
"Iya tuan. Namun kapak ini telah berjasa membantuku hidup. Terima kasih tuan! Terima kasih banyak"
"Kau pemuda yang jujur. Kapak emas dan kapak perak ini pantas untuk kau miliki"
Sambil terharu bahagia, penebang yang jujur dan tak lagi malang ini akhirnya mendapatkan 3 kapak sekaligus.

Mendengar cerita si penebang jujur, lalu datanglah seorang penebang tamak.
Dengan sengaja ia melemparkan kapak lusuh miliknya ke dalam danau.
Berharap apa yang menimpa penebang jujur juga dialaminya.

Seketika dewa penjaga danau datang dan menanyakan hal yang sama.
"Kapakku...jatuh tepat di dasar danau ini tuan... Ibuku sakit. Tanpanya aku tak bisa bekerja,"
sambil menangis ia menceritakan kisah bohongnya.
Sang dewa mengetahui apa yang terjadi.
Ia masuk ke dalam air dan benar, ia kembali bersama kapak emas yang bersinar.
"Inikah kapak milikmu?"
Dengan mata berbinar ia mengulurkan tangan, "Benar tuan! Itulah kapak milikku! Kapak emas itu!"
Sang dewa pun marah dibuatnya, dan memunculkan kapak asli miliknya.
"Dasar penipu! Ini kapakmu yang buruk!"

Dewa penjaga melesat masuk ke danau bersama 2 buah kapak tersebut.
Dan ia tak kembali.
Penebang tamak penipu itu akhirnya benar-benar mengalami kehilangan.
Kehilangan kapak buruk yang berharga, sekaligus kehilangan pekerjaannya.

No comments:

Post a Comment