Saat ini, sebuah kotak yang ku bawa semakin menganggu.
Kotak besar, gelap, dan penuh pilu.
Awalnya aku mudah menaklukkan.
Mengelusnya perlahan, membelainya lembut.
Dengan mudah ia menjinak, dengan mudah ia melunak.
Semakin hari semakin buas.
Terkadang berhasil menguasainya,
walau berakhir dengan goresan;
terkadang menyerah dibuatnya,
dan diakhiri selimut air mata.
Aku tak punya kuasa, aku tak punya apa-apa.
Tanganku hampa oleh daya, hatiku hampa oleh asa.
Teriakan ku terlalu pelan,
tak akan ada yang mendengar.
Ku sadari, tiada sandaran ku miliki,
seutuhnya.
Benar, tak ada yang melindungi.
Benar, aku berjuang sendiri.
Aku berjuang bangkit dengan kakiku sendiri.
Aku berjuang mencari obat perihku sendiri.
Aku berjuang menyembuhkan sakitku sendiri.
Dan aku berjuang kembangkan senyumku sendiri.
Ku tundukkan kepala dan ku peluk kain pelapis satu-satunya,
sedalam-dalamnya aku memejamkan mata.
Akhirnya, dalam isakan, aku berdoa,
memohon genggaman,
memohon pelukan
memohon kekuatan.
No comments:
Post a Comment