Friday, January 18, 2013

Elegi Seorang Saksi

Aku bingung,
melirik ke fenomena sebuah pertalian dari yang dulunya sepasang kekasih;
Apa yang sebenarnya dulu mereka janjikan?
Apa yang sebenarnya dulu mereka lihat?
Mereka buta? Tidak?

Di awal peradaban, kumbang dan kupu-kupu begitu riang menghinggapi bunga cantik nan harum.
Siang malam berganti, seharusnya bunga masih cerah, tetapi perlahan gugur.
Belum waktunya kiamat, bunga itu sudah hancur,
tinggalah batang yang kurus kering, bersama anak lebah yang enggan mendekat.

Dengan mata telanjang, aku menjadi saksi
perang tiada henti,
penjajahan tak terkendali,
penyiksaan batin, pembunuhan karakter, pembatasan ruang gerak;
juga seperangkat kalimat meluncur membombardir bagian terrapuh seorang jiwa.
Aku menjadi saksi, tapi aku tak bersaksi.

Serangan halimun dikeluarkan Kutub Utara,
sungguh mensunyikan.
Kutub Selatan tak berkutik.
Bumi kehilangan sang surya, tak ada cahaya.
Dari radio rusak, nada berbahasa sengaja digaungkan.

Aku sedih.
Dua kata konklusi ini cukup menjadi penutup.
Semoga nanti tak ada lagi yang tersakiti. Walau rasanya tidak mungkin

No comments:

Post a Comment