Ada gumpalan kerisauan yang terus menyesakkan dada. Ini bukan sajak, ini curahan.
Tak pernah aku seapatis ini. Aku mengapatiskan diri pada suatu hal yang tak bisa aku tangani. Semua diluar kekuasaanku, dan suaraku tak dibutuhkan
Ini tentang kehidupan kami.
Aku mengenakan topeng ketidakpedulian dan berkicau ceria. Ku buang jauh-jauh rasa gundah yang hampir-hampir merusak ukiran topeng ini. Aku menyumbat telingaku kuat-kuat. Aku tahan linangan air mata yang sewaktu-waktu meronta keluar. Aku sendiri di baris belakang, menjadi pengamat. Aku mengamati, dan berdoa akan adanya pergerakan. Kesedihan melanda ketika ternyata pergerakan belum juga menandakan keberadaan.
Aku risau, gundah, sesak. Mereka bercerita kegundahannya pada seseorang yang berusaha menelan habis kegundahannya sendiri. Mereka tidak tahu bahwa mereka bercerita pada seseorang yang setiap hari terus berusaha mengendalikan nafasnya agar tetap bertahan dari kehidupan, tetap bertahan dari rasa abu-abu yang selalu mencoba mematikan. Seseorang ini menelan dua buah bongkah karang resah, bulat-bulat, seorang diri.
Jika boleh meminjam pintu, aku ingin pergi ke suatu tempat tak ada siapapun. Hanya aku dan alam, hanya aku dan binatang tak berakal, hanya aku dan tumbuhan penuh warna. Itulah mengapa kesendirian kadang menyenangkan. Itulah mengapa terkadang aku menyukai kesendirian. Walau dibalik kesendirian aku disiksa bayangan keresahan, tapi dibalik kesendirian itu pula aku didamaikan oleh kekosongan.
Pertanyaanku, jiwa mana yang bisa mendengar suara lirih ini dengan jelas?
No comments:
Post a Comment